
Sementara itu Marwa sudah di jemput oleh supir pribadinya, dia terlihat bergembira layaknya siswa sekolah pada umumnya. Didalam perjalanan, Marwa meminta sang supir untuk menelpon Lucas dan menanyakan keberadaannya, apakah sudah tiba di rumah atau masih di kantor.
Lucas dan Marwa memang belum mendapatkan kabar tentang baby Aiden yang masuk rumah sakit. Setelah sambungan telepon diangkat oleh Lucas, sang supir langsung menanyakan keberadaannya saat ini.
Rupanya Lucas sedang lembur karena masih banyaknya pekerjaan yang tanggung bila ditunda. Marwa menyuruh sang supir untuk mematikan teleponnya.
"Ya wis, puter arah ke kantor ya pak supir!" pinta Marwa.
"Loh tapi tadi ditelepon Tuan Lucas meminta saya untuk segera antarkan nona pulang ke rumah!" kata supir.
"Sampean dibayar untuk anter jemput aku toh?" tanya Marwa.
"Iya nona," kata supir.
"Ya wis, sekarang aku minta dianter ke kantor suamiku, ora usah protes pikir," kata Marwa.
Dengan berat hati, supir pun memutar arah menuju ke perusahaan Anderson group sesuai keinginan Marwa. Entah kenapa semenjak darah suci sudah mengalir akibat bombardir Lucas, Marwa jadi sering sekali merindukannya.
Marwa pun tiba di perusahaan Anderson group, lalu buru-buru untuk naik ke ruangan Lucas dan memberikannya kejutan. Saat memasuki loby utama, resepsionis dan juga karyawan yang sudah mendengar pernikahan Lucas dan Marwa anak berseragam SMA itu, mereka melihat Marwa dengan tatapan sinis dan kesal.
Bagi mereka Lucas tidak pantas menikah dengan gadis kecil, dan norak seperti Marwa. Sangat disayangkan dulu wanita-wanita cantik dan modis yang dikencani Lucas, kini malah dapat gadis belia kampung yang masih sekolah.
"Waduh pie si iki! Kok mba-mba karo tante-tante kabeh kaya melototti aku ya? Emange aku ada salah pake baju? Perasaan aku ndak pake yang aneh-aneh." Gumam Marwa.
Bukan Marwa namanya kalau tidak cuek-cuek saja dan tetap lurus ke depan untuk menemui Lucas. Begitu saat berada di dalam lift, karyawan-karyawan wanita cantik dan modis banyak yang iri dengan Marwa, harusnya bukan Marwa yang menjadi isteri dari Lucas, tapi salah satu diantara mereka.
Semua terang-terangan berbisik membicarakan penampilan Marwa, hingga membuat Marwa terusik.
"Wis to daripada kalian bisik-bisik tapi tetep kerungu sama kupingku iki! Mending pada meneng aja, kalau ndak aku laporin kalian semua! Nah kebetulan iki ada nametagnya, wis lah aku catet-catetti," kata Marwa sengaja membuat mereka yang berada di lift panik.
"Ma-maaf, kita engga bermaksud untuk membicarakan kamu! Maafin kita ya! Please jangan laporin kita!" ujar salah seorang karyawan wanita itu.
"Aduh gimana ya? Tapi saiki perutku berikut penghuni-penghuninya kayae kelaperan! Aku kalo laper itu suka reseh loh! Aku minta maaf yo, kalau nanti keceplosan laporin kalian-kalian iki," kata Marwa, padahal memberikan kode agar mereka yang sudah terlanjur membicarakannya, memberinya sogokan.
"Kamu laper? Nanti kita belikan makanan di cafe depan," ujar seorang karyawan wanita.
__ADS_1
"Iya kita belikan dessert enak juga nanti! Tapi please jangan laporin kita ya! rengek seorang karyawan wanita lain.
Pintu lift pun terbuka! Sudah semakin dekat dengan ruangan Lucas. Dan para karyawan wanita itu makin kalang kabut mengikuti Marwa dan membujuknya berkali-kali.
"Emm gimana yo!" kata Marwa semakin menggoda para karyawan wanita menyebalkan itu.
"Kita akan belikan minuman yang seger-seger juga," ujar karyawan wanita lainya.
"Iya, nanti kita bungkusan kue-kue yang terkenal di sini!" bujuk karyawan wanita lainya.
"Stop! Baik, karena aku adalah wanita cantik yang baik hati, aku akan maafkan kalian dan tidak akan melaporkan ini pada suamiku, tapi!" kata Marwa.
Sontak semua karyawan wanita tadi melongo karena masih ada kata tapi dibaliknya.
"Tapi apa?" tanya serempak.
"Tapi, apa yang sudah kalian janjikan sama aku, secepatnya harus sampai ditangan ku! Aku kasih waktu kalian satu jam, gimana deal?" tanya Marwa.
"Deal," kata mereka yang langsung kocar-kacir untuk membeli makanan yang enak-enak.
Sadar bahwa seorang pria dewasa tengah menatapnya, Marwa pun berhenti tertawa. Gerry akhirnya memberanikan diri untuk menyapa Marwa.
"Hai, sapa Gerry.
"Iya Hai om," kata Marwa.
"Kamu masih sekolah, kenapa di sini?" tanya Gerry.
Rupanya Gerry tidak mendengar gosip yang tengah booming di perusahaan ini, bahwa Lucas menikahi gadis belia yang masih sekolah, bahkan keduanya bermesraan malam-malam di perusahaan ini.
"Dia isteriku!" suara lantang Lucas terdengar.
"Mas Lucas!" panggil Marwa yang langsung menghampiri Lucas.
Lucas menggenggam tangan kanan Marwa, seketika Gerry melirik kearah tangan Lucas.
__ADS_1
"Oh kamu sudah menikah rupanya! Dengan anak sekolahan? Apa kakakmu tidak melarang perbuatanmu itu? Wah dia jelas bukan kakak yang baik yah," kata Gerry.
"Aku ingin sekali mencabik-cabik tubuhmu lalu aku lemparkan pada ikan-ikan piranha peliharaanku di rumah! Tapi kakakku selalu melarangku! Tapi mendengarmu bicara tentang kakakku didepan wajahku, maka aku tidak akan tinggal diam lagi," kata Lucas.
"Mas uwis toh! Ayo kita masuk ruanganmu aja!" kata Marwa yang takut akan terjadi keributan.
"Oh satu lagi! Kakak iparku sangat mencintai kakakku, dan saudara jauhnya yaitu gadis berseragam disampingku ini sangat mencintaiku. Bagaimana, kami keluarga sangat sempurna dan bahagia kan!" sindir Lucas agar Gerry semakin panas.
Mendengar Lucas bicara gadis pelajar yang cantik itu adalah saudara jauh Ellea, Gerry menjadi tidak heran mengapa gadis belia itu sangat cantik seperti Ellea.
"Lucas dan Anderson terlalu sombong, dan kenapa setiap wanita yang aku sukai malah mereka yang dapatkan! Terutama kamu Ellea, aku sudah berubah sekarang, hidupku jauh lebih baik, tapi kenapa kamu tidak mau memberikanku kesempatan untuk bersamamu kembali?" Kata Gerry dalam hatinya.
Gerry menjadi semakin tidak sabar menunggu Ellea kembali bekerja di kantor ini. Di dalam ruangan kerja Lucas, Marwa masih penasaran dengan sosok laki-laki yang tadi menyapanya.
"Mas Lucas, itu tadi siapa?" tanya Marwa.
"Duduklah!" perintah Lucas.
Marwa pun menurut lalu duduk di sebuah sofa, diikuti oleh Lucas yang duduk disampingnya.
"Tidak usah tanyakan hal tidak penting! Laki-laki tadi tidak penting, untuk apa kamu mendatangiku?" tanya Lucas.
"Emm, memangnya mas Lucas ndak kangen sama aku?" tanya Marwa sembari senyum-senyum.
Lucas lalu menarik pinggang Marwa hingga tubuh Marwa terpelanting ke pelukannya. Keduanya saling berpandangan dari jarak yang sangat dekat.
"Aku kangen, aku juga ingin mencobanya di sofa tempat kerjaku!" bisik Lucas ditelinga Marwa.
Visual Lucas
Visual Marwa
__ADS_1