Istri Miskin Presdir

Istri Miskin Presdir
KEPERGIAN BELLE


__ADS_3

"Belle, memang seperti yang kukatakan tadi. Setiap orang mempunyai privasinya tersendiri. Tapi, alangkah baiknya, jika kita mempunyai sebuah beban yang tak sanggup kita pikul sendiri, kita bisa membaginya pada orang yang kita percayai. Dengan begitu, kita bisa mengurangi sedikit beban itu, dan mendapatkan saran yang bagus." seru Embun.


"Huaaa, hiks." Belle malah menangis.


Apa aku memang harus menceritakan pada Kak Embun?


"Kak, aku harus bagaimana? Apa yang harus aku lakukan?" Belle menangis dalam pelukan Embun.


Embun menyisir rambut-rambut Belle menggunakan jari-jarinya. Dia masih belum tahu apa permasalahannya, tapi dia tetap berusaha menenangkan wanita yang selalu ada untuknya dikala susah itu. Dan dia tidak akan melupakan hal itu.


"Ada apa?" tanya Embun lembut.


"Kak, kak Daniel memaksaku untuk menjadi Istrinya." Embun terkejut mendengarnya, dia merasa antara percaya dan tidak.


"Benarkah? Coba ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi."


Belle mendongakkan wajahnya yang telah dibanjiri air mata. Dia melepaskan pelukannya dan mulai menceritakan semuanya.


Dari saat dia mencintai Daniel, laki-laki itu tak peduli, Belle mulai melupakan cintanya, bertemu dengan Kevin dan kejadian malam ini.


"Mungkin, Daniel memang mencintai kamu. Tapi, sikapnya itu tidak dibenarkan." sahut Embun.


"Lalu, apa yang harus aku lakukan, Kak? Aku menjawab seperti itu, karena aku takut, Kak Daniel akan melakukan sesuatu yang tidak aku inginkan." jelasnya sambil menangis. Hatinya sedang diselimuti kebingungan yang begitu besar.


"Jadi, langkah yang mau kamu ambil adalah lari dari ini?" tanya Embun menatap wajah cantik Belle.


Belle mengangguk, dia mengatakan, "Aku tahu ini salah, Kak. Tapi, kalau aku tidak menuruti ucapannya, bisa saja dia membahayakan Kevin. Aku tidak mau itu terjadi, Kak."


"Apa Kevin tahu tentang ini?"


Belle menggeleng. Dia memang belum mengatakan apapun pada Kevin.


"Kalau begitu, jangan katakan apapun. Cukup kita saja yang tahu. Kalau Kevin tahu, takutnya dia juga akan melakukan hal-hal di luar dugaan pada Daniel. Dan itu, akan membahayakan dirinya sendiri." usul Embun, karena mereka tahu benar siapa Daniel.


"Kak, aku mohon, jangan beritahukan perihal ini pada Kak Bara. Aku tidak mau hubungan persahabatan mereka hancur hanya gara-gara ini." mohon Belle.


"Iya, aku janji."


"Sekarang, aku mau berkemas, Kak. nanti jam-jam tujuh, aku mau langsung berangkat." ucapnya yang mulai mengambil koper dan memasukan barang-barang yang dia perlukan selama di sana.


"Biar aku bantu." Embun pun mulai membantu Belle mengemasi barang-barangnya.


"Kak, boleh aku pinjam ponselmu?"


"Ponselku di dalam. Jika aku mengambilnya, Bara tidak akan mengizinkan aku keluar lagi." jawab Embun.


Belle melihat jam dindingnya, dia mendesah pelan. "Ya sudah, nanti pagi aku pinjam, Kak. Aku mau menghubungi Kevin." ucapnya.


*******

__ADS_1


Pagi datang, mereka semua sudah bangun. Bara kini menatap barang bawaan Adiknya.


"Belle, kamu yakin mau pindah?" tanya Bara dengan raut wajah sedih.


"Iya, Kak. Aku akan menginap dulu di hotel untuk beberapa hari ini. Setelah mendapatkan fakultas yang bagus, aku akan tinggal di asrama kampus." jelasnya.


"Sudah ada rencana mau masuk fakultas mana?" tanya Bara.


"Belum, Kak. Aku masih mencari yang terbaik." Belle menjeda sebentar kalimatnya. "Aku pergi sekarang, Kak." Dia berulang kali melihat jam tangannya. Setelah waktunya sudah dekat, dia langsung pamitan pergi. Takut, kalau tiba-tiba Daniel datang dan mengetahui dia hendak melarikan diri dari janjinya.


"Tidak sarapan dulu?"


"Nanti aku sarapan di bandara saja, Kak." sahutnya.


Setelah berpamitan pada semua orang, Belle pergi dengan tergesa-gesa. Saat di dalam mobil pun, dia meminta agar supirnya mengebut.


"Sayang, jangan katakan pada siapapun negara tujuan Belle, termasuk teman-temanmu." ultimatum Embun mulai memperingatkan suaminya di depan semua orang. Agar orang lain juga dapat menjaga mulutnya.


"Kenapa?" tanya Bara mengernyit heran.


"Itu pesan dari Belle. Kalau mau tahu lebih jelas, tanyakan saja padanya. Mungkin, dia hanya tidak mau diganggu siapapun." jawabnya asal.


Meski merasa janggal dengan alasan Embun, tapi Bara hanya mencoba paham saja.


"Belle?" panggil seorang pria yang baru saja datang.


"Kevin?" sapa Embun.


"Dia sudah berangkat ke bandara." jawab Embun.


"Bandara?" Kevin terkejut mendengar Belle ke bandara.


"Iya. Belle minta pindah kampus, karena tidak nyaman di kampus di sini."


"Ponselnya kenapa tidak aktif, Kak?"


Apa Belle terpaksa menerimaku semalam? Dan dia pindah karena ingin menghindariku?


"Ponselnya hilang, setelah sampai di sana, dia akan segera menghubungimu." alasan Embun yang menutupi alasan sebenarnya.


"Terima kasih, Kak. Kalau begitu, aku permisi."


Embun hanya mengangguk dan tersenyum. Dia begitu kasihan dengan nasib percintaan Belle.


Saat mobil Kevin keluar dari pekarangan rumah keluarga Wirastama, mobilnya berpapasan dengan mobil Daniel. Danie mengenali mobil Kevin, tapi tidak dengan Kevin.


"Cih, mau apa dia ke sini. Apa mau menjemput calon Istriku?"


Daniel langsung memarkirkan mobilnya. Dia masuk dengan wajah ceria karena mau menjemput sang pujaan hati yang sebentar lagi akan menjadi istrinya.

__ADS_1


"Bara, di mana Belle?" tanya Daniel sumringah.


"Dia sudah pergi ke bandara." jawabnya sambil main dengan Hansel.


"Bandara? Untuk apa? Dia menjemput siapa?" begitu banyak pertanyaan yang dilontarkan oleh Daniel.


"Tidak menjemput siapapun. Dia minta pergi ke luar negeri." jawab Bara lagi. Jawaban itu membuat wajah sumringah Daniel seketika berumah muram.


"Ke negara mana?" tanyanya menyelidik, karena dia pasti akan menyusul. Dia tahu, Belle pasti melarikan diri darinya.


"Aku juga tidak tahu. Dia mengurus semuanya sendiri."


Bagus, Sayang. Jangan beritahukan siapapun.


"Kalau begitu, aku pulang sekarang."


"Kenapa cepat sekali? Tidak mau duduk sebentar lagi?"


"Tidak apa-apa. Aku lupa, masih ada pekerjaan yang belum selesai." tanpa menunggu persetujuan Bara, Daniel langsung pergi dari rumah keluarga Wirastama dengan perasaan marah.


"Belle, kau tidak akan bisa lari dari genggamanku. Aku akan mencarimu di sudut mana pun. Persembunyianmu tidak akan berguna!" ucapnya lirih sambil mengepalkan tangannya.


Sesampainya di Rex Club, Daniel langsung mengumpulkan orang-orang kepercayaannya.


"Aku ingin kalian menemukan dia secepatnya. Kalian harus cari di pelosok mana pun. Aku tidak mau tahu!" tegasnya kesal.


"Baik, Tuan."


*******


"Rena, kamu mau pergi ke mana?" tanya Rey yang baru turun dari mobilnya.


"Ke supermarket. Membeli beberapa stok bahan yang baru saja habis." jawan Rena sambil menunggu taxi.


"Ayo pergi denganku. Aku antar." tawar Rey.


"Tidak usah, Om. Aku pergi menggunakan taxi saja." tolaknya.


"Tapi maaf, aku tidak menerima penolakan." ucapnya yang langsung menarik tangan Rena masuk ke dalam mobilnya. Rena hanya pasrah.


*******


Di supermarket, Rena sedang memilih-milih tepung dan bahan-bahan lain yang diperlukannya. Dan Rey, berdiri di samping Rena memajang troli.


"Rey!" panggil seorang wanita, menghampiri Rey dan mencium pipi Rey lalu meluma**bibir Rey sekilas.


DUKUNG KARYA INI DENGAN BERIKAN LIKE, KOMENTAR, GIFT DAN VOTE. BERIKAN RATE 5 DAN TAMBAH KE DAFTAR FAVORIT ❤️ AGAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT BUAT UPDATE ❤️


DUKUNG KARYA BARU AUTHOR SAHABATKU SUAMI MUHALLILKU. MASIH ANGET GUYS...!

__ADS_1


TERIMA KASIH ❤️❤️❤️


__ADS_2