Istri Miskin Presdir

Istri Miskin Presdir
KESAN BURUK


__ADS_3

"Rena, Embun, cepat keluar! Temui aku sekarang!" Teriak sang wanita.


"Siapa itu?" Tanya Rey sambil melihat ke arah depan.


Mendengar namanya diteriaki seperti maling, Rena bukannya marah, dia malah sedikit takut. Dia tahu siapa wanita yang sedang berdiri di depan sana. Dia takut kalau wanita itu akan berulah di toko ini, pastilah Embun yang kembali menjadi sasaran wanita itu nantinya.


"Rena, kamu kenapa?" Rey tadi hanya fokus melihat ke depan. Setelah kembali melihat Rena, dia terkejut karena melihat wajah Rena yang sudah pucat pasi.


"A-aku tidak apa-apa. Kau tunggu di sini saja. Aku akan menemui orang itu di luar." Rey dapat melihat dengan jelas, Rena sedang gemetaran sekarang.


"Aku akan ikut denganmu!" Kekeh Rey yang ingin menemani pujaan hatinya. Mengingat orang itu berteriak-teriak seperti itu, pasti ada yang aneh. Dia juga takut kalau ada sesuatu yang menimpa Rena jika dia tak berdiri di samping wanita itu.


"Tidak perlu, kamu tunggu di sini saja, Om. Jangan coba-coba keluar dari sini!" Tegasnya dengan nada sedikit mengancam.


"Kenapa kau takut? Apakah wanita itu adalah Istri sah dari pacarmu?" Tanya Rey yang berusaha menebak-nebak. Tapi sebenarnya dia hanya bercanda.


"Apa maksudmu?" Tanya Rena, tampak kerutan di dahinya.


"Tidak apa-apa. Jangan terlalu serius." Rey mencuil hidung Rena gemas.


"Rena, Embun! Kenapa kalian belum keluar? Apa kalian mau aku menghancurkan toko ini dulu baru kalian mau keluar?" Teriak lagi si wanita itu membuat Rey lagi-lagi membagi fokusnya.


"Om, kau tunggu di sini. Jangan lupa untuk mencuci wajah jelekmu itu." Ucap Rena, memberikan sekotak tissue pada Rey. Kemudian dia keluar untuk menemui wanita yang sedari tadi meneriaki namanya dan Embun.


Rena keluar ingin menemui Ibunya agar berhenti berbuat masalah. Terlihat beberapa orang pegawai sedang menghadang Mika agar tidak masuk terlalu dalam.


"Nyonya, Anda tidak boleh bersikap tidak sopan seperti ini." Ucap Ranti.


"Lepaskan aku, Aku ingin menemui Anakku. Kalian tidak berhak menghalangiku, ini adalah toko milik Anakku. Kalian akan dipecat jika memperlakukan aku seperti ini." Teriaknya yang masih saja berusaha menerobos masuk.


"Nyonya, mohon tenangkan diri Anda. Saya akan memanggilkan Rena." Ucap yang lain.


"Aku juga ingin bertemu Embun. Dia memang anak kurang ajar, aku sudah membesarkannya seperti anak kandungku sendiri. Tapi setelah dia menikah dengan keluarga kaya malah tidak mengingatku, tidak mau mengirimkan sepeser pun uang untukku dan Ayahnya." Teriaknya tak berkesudahan.


Rena kini sudah berdiri dihadapan wanita yang tak lain adalah Ibunya itu. Dia berdoa dalam hati semoga Embun tidak bertemu dengan Ibunya sekarang.


Melihat kemunculan Rena, Mika langsung tersenyum sinis, usahanya untuk berteriak-teriak akhirnya membuahkan hasil juga.


Kak Embun, aku mohon kamu jangan kembali dulu. Semoga setelah Ibu pergi baru kamu kembali, batinnya.


Rena hendak mengatakan sesuatu pada Ibunya. Dia sudah memegang tangan wanita itu dan mau membawanya keluar, agar bisa lebih leluasa untuk berbicara.


Tapi, sebelum dia sempat menarik tangan Mika, ada seseorang yang masuk ke tengah-tengah mereka dan memutuskan pegangan mereka.


"Nyonya, tolong sopan lah sedikit. Tidak baik orang seusia Anda berteriak-teriak di depan umum seperti ini." Ucapnya yang entah sejak kapan sudah menggenggam tangan Rena.


"Om, apa yang kau lakukan? Cepat lepaskan aku!" Bisiknya tapi dengan nada memerintah.


"Tidak. Aku tidak akan membiarkan kau dilukai oleh wanita gila ini!" Sahutnya dengan suara lantang sambil menatap ke arah Muka dengan sorotan tajam bak elang yang ingin menerkam mangsanya.


"Aku tidak ada urusannya denganmu." Mika berusaha meraih tangan Rena, tapi kembali dihalangi oleh Rey. "Menyingkirlah Anak muda." Ucap Mika berdecih.


"Kau yang seharusnya menyingkir. Aku tidak akan membiarkan kau melukai dia!" Tegas Rey yang masih saja menjadi tameng untuk Rena. Sedangkan Rena hanya diam kikuk melihat adegan di depannya.


"Siapa kau? Jangan menghalangi jalanku!" Ucap Mika tak sabaran. Dia ingin buru-buru minta uang pada Rena dan Embun, karena arisan sedang menunggunya sekarang.


"Aku adalah pacarnya. Jadi, ku harap Anda bisa lebih sopan sedikit." Pungkas Rey yang membuat Mika menganga. Tapi, sedetik kemudian, secercah senyuman tersungging dari bibirnya.


"Kau pacarnya?" Tanya Mika mulai memperhatikan Rey. "Sepertinya kau Anak orang kaya." Mika bertanya sambil tersenyum dan menyentuh dasi yang dikenakan Rey.


Rey yang merasa risih dengan sikap Mika langsung mundur beberapa langkah, dan tidak sengaja punggung Rey menabrak wajah Rena, karena sedari tadi Rena berdiri di belakang laki-laki itu.


"Bu, tolong jaga sikapmu. Ayo kita bicara di luar." Ucap Rena memperingatkan, dia tidak suka melihat sikap Ibunya yang semena-mena.


"Apa? Ibu? Jadi, dia adalah Ibumu?" Mendengar pengakuan Rena, mata Rey langsung terbelalak kaget, jantungnya hampir melompat keluar. Dia tidak tahu, orang yang dipanggil wanita gila adalah calon mertuanya.

__ADS_1


"Ya. Kenapa? Apakah ada yang salah?" Tanya Rena heran karena mengamati raut wajah Rey yang berubah jadi aneh.


"Kenapa tidak mengatakannya?" Tanya Rey dengan nada panjang.


"Untuk apa aku mengatakannya padamu?" Sahut Rena sekenanya.


Rena langsung menarik Ibunya keluar dari toko, meninggalkan Rey yang masih diam terpaku di tempatnya berdiri. Dia seperti telah kehilangan dirinya sendiri.


Entah apa yang sedang dipikirkannya, tiba-tiba dia meninju udara dengan kuat.


Sial! Kesan pertama bertemu dengan calon mertua saja sudah seperti ini. Aku bisa yakin seratus persen kalau hubunganku tidak direstui oleh Ibunya


Sepertinya aku harus mengambil jalan ninja dengan bertanya pada Bara sialan itu. Atau, aku bisa mulai dari mendekati Embun terlebih dahulu.


Ide-ide aneh agar hubungannya direstui mulai terbayang dan berseliweran di kepalanya dengan lancar tanpa jeda. Padahal, belum tentu juga kalau Rena mempunyai perasaan yang sama sepertinya. Kelihatanya, Rey harus bergabung dengan Bara, membentuk kelompok untuk sama-sama memperjuangkan cinta mereka.


Di luar, Mika menghempaskan tangan Rena agar melepaskannya. Dia langsung mendekap dadanya dan menatap Rena menuntut penjelasan.


"Bu, Kak Embun baru memulai usahanya, kalau Ibu berulah dan berteriak-teriak seperti tadi, nanti orang-orang pasti akan malas untuk datang lagi ke tokonya." Rena pelan-pelan mencoba memberi pengertian pada Ibunya.


"Apa katamu? Aku berbuat ulah?" Ucap Mika sambil menunjuk dirinya sendiri, sedangkan Rena diam saja. Dia kembali mengatakan, "Aku tidak akan datang ke sini kalau kalian mengirimkan uang yang cukup kepadaku!" Ketus Muka lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Bukankah dua Minggu yang lalu kami sudah mengirimkan uang untuk Ayah dan Ibu?" Ujar Rena.


"Dua Minggu yang lalu? Tentu saja sudah habis. Ayahmu memakai untuk bermain judi. Dan aku juga harus membayar arisan perhiasanku." Ucapnya tanpa rasa bersalah.


Lagi-lagi Rena hanya bisa menghela nafasnya. Dia tak habis pikir dengan tabiat Ibunya yang tak pernah berubah sama sekali. Sudah tahu diri sendiri tak mampu, tapi masih saja memaksakan kehendak. Masuk ke pergaulan orang kaya, yang selalu menghambur-hamburkan uang tiada habisnya.


"Bu, tolong lah berhemat sedikit. Kak Embun sedang mengandung, dia juga harus memikirkan biaya untuk persalinannya nanti. Tolong mengerti, Bu. Sudah baik dia ma ikut memberikan uang untuk Ibu." Nasihat Rena.


"Dia kan tidak perlu memikirkan biaya apa pun lagi, dia sudah punya suami terkaya nomor satu di negeri ini. Dan, dia memang harus selalu mengirimkan uang untukku, karena aku lah yang merawatnya sedari kecil." Ucapnya menggebu-gebu tak mau mengalah. Merasa paling benar karena pikirannya sudah tertutup oleh uang dan uang.


Rena diam saja, saat Mika sedang berbicara. Berhentilah sebuah mobil tepat di samping Mika dan Rena. Rena mendengus karena tahu siapa pemilik mobil itu, dan siapa yang berada di dalam mobil itu.


CEKLEK


Embun turun dari mobil dengan mata berbinar. Dia sangat bahagia karena melihat kehadiran Mika di sana. Dia turun dan langsung menuju tempat Mika berdiri.


Tuhan, kenapa hari ini doaku tidak ada yang Engkau kabulkan. Apakah karena aku berdoa yang tidak baik ya


"Bu, Ibu sudah lama berada di sini?" Tanya Embun yang masih berdiri dekat dengan Muka. Dia ingin memeluk, tapi masih merasa ragu.


"Kenapa? Jika aku sudah lama berada di sini, kau ingin mengusirku?" Dia malah balik bertanya dengan sinisnya.


"Bukan, Bu. Kenapa Ibu berdiri di sini. Ayo kita masuk ke dalam." Ajak Embun karena dia tak tahu kalau awalnya Mika datang dengan teriak-teriak.


"Kau tanyakan saja padanya." Mika melirik pada Rena. Yang dilirik hanya diam saja. "Sudahlah, aku tidak ingin berbasa-basi lagi dengan kalian. Cepat, berikan aku uang." Dia sudah menjulurkan tangannya.


"Berapa yang Ibu perlukan?" Tanya Embun.


"Yang banyak! Karena kebutuhanku banyak." Sahutnya ketus. Dasar tidak tahu diri, sudah minta malah ngelunjak.


Embun memberikan beberapa ikat uang yang berada di dompetnya. Dia memberikan sambil tersenyum, tapi tidak dengan Mika. Dia menerima dengan wajah cuek.


"Kak...." Rena hendak mencegah Embun, namun gelengan kepala dari Embun membuat Rena kembali bungkam.


"Baguslah. Seharusnya, setiap hari kau memberikan uang sebanyak ini untukku. Jadi aku juga tidak perlu jauh-jauh ke sini." Ucapnya yang cepat-cepat memasukkan uang yang diberikan Embun ke dalam tasnya. Kemudian berlalu pergi begitu saja tanpa sepatah kata apa pun.


"Kak, kenapa kamu memberikan uang sebanyak itu untuk Ibu?" Rena kembali mengeluarkan pendapat tak setujunya.


"Tidak apa-apa, Rena. Sudah jangan dipikirkan."


"Tapi besok dia pasti akan datang dan meminta lagi, Kak. Aku tidak setuju kamu memberikan sebanyak itu untuk Ibuku." Seru Rena.


"Rena, aku bukan sedang memberi uang untuk Ibumu, tapi aku memberikan untuk Ibu kita." Embun meralat ucapan Rena yang dianggapnya salah.

__ADS_1


"Belle, maaf atas semua yang telah kau lihat tadi." Ucap Embun.


"Tidak apa-apa, Kak. Aku mengerti." Sahutnya memaklumi.


Mereka sama-sama kembali masuk ke dalam toko. Rena seolah melupakan kehadiran Rey, mungkin juga dia mengira laki-laki itu pergi meninggalkan toko.


Saat dia masuk, dia melihat Rey masih setia duduk di dalam sambil menunggu Rena.


"Kak Rey, apa yang kamu lakukan di sini?" Tanya Belle.


"Aku ingin menemui dia. Kenapa? Aku tahu kau tidak suka dengan kehadiranmu." Ujar Rey yang sudah bisa menebak isi kepala Belle.


"Benar, aku memang tidak suka melihatmu. Lebih baik kau pulang saja sana." Usirnya.


"Aku tidak perduli kau suka atau tidak dengan kehadiranku. Yang penting, Rena ku suka aku berada di sini." Sahutnya tak tahu malu, jawabannya membuat Embun melirik ke arah Rena sambil senyum-senyum.


"Nona, bolehkah aku berbicara sebentar?" Seru salah satu pegawai Embun.


"Boleh, ayo kita bicara di sana." Embun mengajak pegawainya untuk duduk di kursi yang tersedia di dalam agar lebih enak untuk berbicara.


"Kenapa? Apakah kamu mempunyai keluhan?" Tanya Embun dengan raut wajah tersenyum.


"Nona, besok akhir pekan. Bolehkah aku mengambil cuti?" Tanya sang pegawai itu hati-hati. Dia takut kalau Embun marah tidak mengizinkannya lalu memecatnya. Kalau harus dipecat, lebih baik dia tidak jadi ambil cuti saja. Karena dia sudah nyaman bekerja di sana. Dia takut karena selama ini tidak ada yang meminta cuti, karena saking nyamannya bekerja, jadi mereka tidak berpikiran untuk mengambil cuti.


"Cuti? Aku tidak ingat besok adalah akhir pekan." Sanggah Embun tampak berpikir.


"Hem, kalau Anda tidak mengizinkannya, sa-saya tidak jadi ambil cuti, Nona." Imbuh sang pegawai yang bisa menangkap raut keraguan di wajah Embun.


"Loh, kenapa? Aku kan belum mengatakan tidak mengizinkan?" Embun sengaja sedikit mempermainkan pegawainya, dia ingin melihat seberapa segankah pegawainya terhadap dirinya.


"Jadi, bagaimana, apakah Anda mengizinkan?" Tanyanya lagi.


"Tentu saja. Dan aku juga berpikir, sepertinya kita memang tidak pernah libur ya? Sepertinya seru juga kalau kita sesekali mengambil cuti bersama." Ujarnya kemudian sambil tersenyum.


"Ma-maksud Anda, Nona?"


"Nanti, setelah memberikan gaji, aku akan meliburkan kalian selama dua hari. Istirahat lah dengan baik." Ucapnya membuat pegawai tadi langsung tersenyum bahagia.


"Terima kasih, Nona." Pegawai itu menunduk dan langsung berlari kembali bekerja. Dia juga menyampaikan kabar baik itu kepada teman-temannya, membuat teman-temannya semakin bertambah semangat.


"Sepertinya, inilah waktunya kita jalan-jalan, Sayang. Merilekskan tubuh." Ucapnya sambil mengelus-elus perutnya.


"Kak, aku ikut ya." Belle sangat antusias, dia telah mencuri dengar tadi saat pegawai itu meminta cuti.


"Aku baru mau mengajakmu. Ternyata kau duluan yang minta ikut." Embun terkekeh pelan.


"Hahaha. Kalau mau jalan-jalan, aku adalah jagonya."


"Ajak Rena juga, kita pergi bersama." Ucapnya.


Saat mereka sedang berbincang, Rena juga menyela ucapan mereka. Dia juga sangat antusias karena sudah lama dia tidak berpergian walaupun hanya sekedar melepas penat.


"Tentu saja aku ikut dong." Ucapnya sambil memeluk Embun dengan erat karena bahagia.


"Tapi, jangan coba-coba untuk mengajak Bara! Awas saja kalian kalau sampai dia tiba-tiba hadir di sana." Ancamnya.


Belle dan Rena saling pandang. Mereka saling tatap seperti menukar telepati, kenapa Embun bisa berkata seperti itu.


"Aku sudah tahu rencana terakhir kali yang kalian lakukan!" Seru Embun karena mengerti arti dari tatapan mata adik-adiknya.


"Hehehehe." Belle dan Rena kompak tertawa.


Tapi, aku tidak berjanji untuk tidak mengajak kak Bara ya, Kak. batin Embun mengejek.


Jangan lupa tinggalkan jejak like, komentar, gift dan vote.

__ADS_1


__ADS_2