Istri Miskin Presdir

Istri Miskin Presdir
MEMPERMALUKAN KEVIN


__ADS_3

"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau menyakiti Belle?" teriak Kevin dengan marah.


"Kenapa? Itu semua karena dia telah merebutmu dariku! Kau memutuskan hubungan kita hanya karena dia! Wanita berwajah dua," teriak Nita tak kalah keras di depan wajah Kevin.


"Apa yang kau katakan, Nita? Jangan sembarangan bicara di depan umum! Kita memang tidak pernah ada hubungan apa-apa selain teman. Pacarku hanyalah Belle, bukan kamu!" pekik Kevin keras membuat air mata yang sudah berusaha dibendung oleh Nita, berhasil merambah keluar.


"Kau masih mau menyangkal? Aku yakin, kau datang ke sini karena Vidio keburukanmu sudah tersebar di Ghossip, kan?" ejek Nita sambil tertawa mengejek.


"Ya, aku ingin mengklarifikasi kalau itu bukan aku. Itu pasti hanya Vidio yang diedit olehnya," teriak Kevin pada semua orang, mengklarifikasi agar orang-orang tak salah paham padanya.


"Kevin, ini bukan editan. Ini asli berasal dari mulutmu sendiri," kekeh Nita.


"Aku setuju dengan apa yang diucapkan Nita!" teriak seorang wanita. Kevin menoleh ke arah suara. Ternyata Belle lah yang mengeluarkan pendapat itu.


"Belle, kamu tidak percaya padaku?" tanya Kevin dengan suara rendah.


Nita menatap pemandangan di depannya nanar. Kevin berbicara dengannya sangat kasar. Tapi dengan Belle, intonasi suaranya pun sangat rendah. Bahkan, dia rela terlihat menyedihkan di depan Belle.


Dia memperlihatkan sisi menyedihkannya itu, entah karena memang telah jatuh hati pada wanita yang bernama Belle ini, atau masih berada dalam keadaan ingin memanfaatkan? Nita pun tak tahu pasti. Yang pasti, sekarang dia sudah merasa tidak ada lagi yang bisa ditolerir. Dia harus membuang jauh-jauh perasaan yang pernah terbingkai dengan indah dalam hatinya itu.


Membuang segala asa yang pernah mereka rajut bersama. Karena sepertinya, tujuan awal dia dan Kevin memanglah salah. Tapi, menurut pandangan Nita, kehadiran Belle di tengah-tengah mereka justru lebih salah dan menimbulkan banyak masalah.


Belle maju mendekati Nita dan Kevin yang berjarak sedikit jauh dengannya. Mereka berada di tengah-tengah kerumunan yang sudah dipadati oleh banyak orang.


"Bagaimana mungkin aku bisa percaya padamu, Kevin," ucap Belle dengan air mata yang mulai menetes. "Apakah kamu bisa membuktikan, kalau itu hanyalah rekayasa semata? Kalau kamu bisa membuktikannya sekarang, aku akan mempercayai mu," lanjutnya lagi.


"A-aku, aku...." Kevin gelagapan saat menjawab pertanyaan yang dilontarkan Belle.


"Apa? Cepat jawab aku!" sela Belle dengan suara yang semakin melemah.


"Belle, aku memang tidak bisa membuktikannya. Tapi, itu semua tidak benar. Aku memang mencintaimu, sejak awal kita saling mengenal, kita semakin dekat dan sampai kita menjalin kasih," ucap Kevin sambil memegang tangan Belle yang masih berurai air mata.


"Menjalin kasih?" Belle yang mulanya menunduk, kini menengadahkan wajahnya, menatap setiap inci wajah yang pernah singgah ke relung hatinya. Belle menghempaskan kasar tangan Kevin, dia kembali mengatakan, "Aku tidak pernah merasa pernah menjalin hubungan yang melebihi dari kata teman denganmu," sarkas Belle sambil menyipitkan kedua matanya. Kalimatnya terdengar tegas di telinga siapapun. Dan kata-kata Belle, mampu menggetarkan tubuh Kevin yang semulanya santai karena menganggap, Belle akan sangat mudah percaya padanya seperti yang sudah-sudah.

__ADS_1


Namun ternyata dia salah, bukan hanya tak mempercayainya lagi, dia membantah hubungan mereka, dan Belle juga mulai menyudutkan posisi Kevin agar dibenci oleh semua orang.


"Tidak. Belle, kamu mungkin lupa. Bukankah aku pernah menyatakan cinta padamu di malam itu? Dan kau...."


"Dan aku?" Belle langsung menyela, tak ingin Kevin si buaya muara ini membongkar semuanya. Karena hari ini, Belle yang harus mempermalukan Kevin, bukan malah sebaliknya. Jadi, lebih baik dia membungkam mulut laki-laki itu.


"Dan kau menerima cintaku, Belle!" pekik Kevin yang mulai hilang kesabaran.


"Aku? Menerima cintamu?" Belle tertawa meremehkan, dia menghapus jejak air matanya. Menatap lagi wajah Kevin, menghafal setiap incinya, dan menyimpan di otaknya. Agar dia selalu ingat, kalau itulah wajah yang pernah dicintai tapi malah menyakiti.


"Sepertinya kau sudah salah paham, Kevin. Aku selalu menganggapmu teman baikku. Karena kau selalu mau menggenggam tanganku ke manapun kau pergi. Tak lebih dari itu!" kecam Belle. "Jika kau pernah menyatakan cintamu padaku, dan mengatakan kalau aku menerima cintamu, kurasa itu tidak mungkin! Bukannya kau juga tahu, aku menyukai seseorang, dan yang pasti itu bukan dirimu."


Berkilah sedikit tidak apa-apa kan. Lagi pula, tidak ada saksi malam itu yang bisa membuktikannya.


"Hubungan antara kita hanyalah teman belaka, tak ada yang spesial. Tapi itu dulu! Sebelum aku tahu kebusukanmu, yang hanya mau berteman denganku karena aku adalah Belle Wirastama, dan kau mencoba mendekati aku hanya karena taruhan dengan teman-temanmu,"


"Apalagi, setelah insiden yang menimpa Nita. Kau meninggalkan dia sebagai temanmu. Ah, sepertinya aku masih keliru. Kau sudah berpacaran dengan Nita, tapi masih menyatakan cinta padaku, kau sengaja ingin mempermainkan aku? Aku ingat ... itu semua terjadi karena aku adalah wanita taruhanmu, kan? Kau jahat, Kevin!" pekik Belle.


"Tapi, untung saja aku menganggapmu sebagai teman, jadi rasa sakit hati tak pernah terukir di sini." Belle menunjuk ke arah letak hatinya. "Sepertinya, kau kalah dalam taruhan. Dan pertemanan kita juga sudah berakhir di sini, sekarang kau sudah bukan lagi temanku!" ucap Belle dengan senyum sendu.


"Belle ... itu semua tidak benar. Aku hanya mencintaimu saja. Aku dan Nita hanya berteman saja," Kevin masih berusaha mati-matian membela diri. Entah apa yang membuatnya begitu percaya diri kalau Belle bisa ditipu seperti dulu lagi.


Tidak bisa begini. Aku tidak mau dipermalukan di depan umum. Aku harus membuat Belle mengakui kalau kami memang punya hubungan spesial. Dan aku juga tidak akan melepaskannya. Nita sudah tidak berguna, reputasinya hancur. Aku harus mendapatkan Belle kembali agar semua orang kagum padaku karena aku bisa mendapatkan Belle.


"Aku yakin, semua teman-teman kita juga sudah melihatnya di Vidio itu. Kalian memang sepasang kekasih. Kevin, kumohon ... jangan permainkan aku lagi," mohon Belle sembari mengatupkan kedua tangannya.


"Aku benar-benar mencintaimu, Belle. Tidak pernah sedikitpun berniat mempermainkan kamu,"


Kenapa jadi begini. Belle seperti berubah menjadi orang lain. Tidak masalah aku kalah taruhan, yang penting aku bisa mendapatkan Belle kembali. Setelah bersama Belle, aku bisa mendapatkan yang lebih dari apa yang aku mau.


Belle hanya diam. Dia sudah tahu kalau sebentar lagi sudah waktunya mereka masuk. Belle merasa sudah puas mempermalukan harga diri Kevin hari ini. Jadi dia tidak mau lagi berargumen.


"Sudah, Belle. Tidak perlu pedulikan laki-laki seperti ini lagi. Dosen sudah hampir masuk, kita jangan sampai kalah cepat." teman Belle langsung menarik tangan Belle, meninggalkan Kevin yang masih terdiam dan mendengar ucapan orang-orang disekelilingnya mulai mengolok-olok dirinya, mencemooh dan mencibir.

__ADS_1


Bahkan tak sedikit yang menertawakan kepercayaan diri Kevin yang menganggap kalau dirinya adalah pacar dari Belle Wirastama.


"Kalian lihat wajahnya? Sangat menyedihkan. Kepercayaan diri dari mana tadi, bisa-bisanya memaksa seorang Belle Wirastama untuk menjadi pacarnya, cih!" umpat orang-orang itu.


"Ya, percaya dirinya sangat tinggi!" cibir mereka lagi.


"Aku tidak menyangka, orang terkenal seperti Kevin, bisa sememalukan itu hanya karena seorang wanita kaya!"


Mereka terus saja menertawakan Kevin yang dianggap sangat tidak masuk akal oleh mereka. Kevin diam, bukan karena dia tidak mendengar atau menerima saat dia jadi bulan-bulanan teman-temannya seperti itu. Tapi dia hanya sedang mengikrarkan janji pada dirinya sendiri.


Terus saja menertawakan aku! Aku akan membuat kalian kembali bungkam. Aku akan membuktikan pada kalian kalau aku memanglah kekasih Belle Wirastama. Saat kalian mengetahui itu, bahkan untuk menyentuh ujung sepatuku saja, tidak akan aku izinkan!


"Sudahlah, jangan terlalu berkhayal dan berharap terlalu tinggi! Batu kerikil seperti kita memang tidak akan pernah bisa menggapai bulan di langit," seru teman Kevin yang mengusulkan taruhan.


"Aku tidak percaya aku tidak bisa menaklukkan dia. Dan aku memang sudah berpacaran dengannya. Tapi kenapa dia tidak mau mengakui itu," kesal Kevin sambil mengepalkan tangannya.


"Mungkin dia malu, coba kamu ajak dia untuk bicara berdua. Mungkin, dia aja jujur padamu," usul temannya yang lain. Sebenarnya, mereka juga kasihan dengan nasib temannya ini. Tapi mau bagaimana lagi, Kevin itu tipekal orang yang keras kepala. Jadi percuma kalau mereka berusaha menasehatinya.


"Kalau tidak, balikan saja sama Nita. Bukannya kalian sudah sering celup-celup?" seloroh teman Kevin.


"Ya, benar! Aku akan memintanya untuk bicara berdua saja. Lihat saja, akan ku buktikan, aku bisa mendapatkannya!" ucapnya pada dirinya sendiri. Teman-temannya hanya saling pandang dan angkat bahu.


.


Dukung karya ini dengan berikan like, komentar, gift dan vote. Berikan rate 5 juga ya agar Author tambah semangat nih 💪🥰


Lope-lope di udara ❤️❤️❤️


Dukung juga karya baru author SAHABATKU SUAMI MUHALLILKU


masih sepi guys


terima kasih banyak atas dukungan dari kalian.

__ADS_1


Dukungan sekecil apapun yang kalian berikan, itu adalah nyawa untuk novel ini akak-akak syantik. Jadi, tolong berikan waktu satu menit aja untuk tap like dan ketik komentar 🤣


Maaf ya, tapi aku maksa loh


__ADS_2