
"Aku sempat depresi berat, karena tak kunjung menemui tanda-tanda keberadaannya. Hingga aku bangkit kembali, aku tidak lagi percaya pada wanita. Mempermainkan wanita sesukaku, melampiaskan segala emosiku pada makhluk yang bernama wanita." ucapnya menjelaskan masalalu yang pernah dialaminya.
Rey memang pernah depresi berat karena kekasih masa kecilnya pergi meninggalkannya begitu saja tanpa ada kabar atau sepucuk surat pun yang datang padanya. Karena Rey begitu mencintai Amanda, dia mencari wanita itu keliling dunia. Ke mana pun tempat yang disukai oleh wanita itu pasti didatangi oleh Rey, tujuannya hanya satu, yaitu menemui keberadaan Amanda.
Dia hanya tidak tahu, alasan dia tidak bisa menemukan Amanda adalah karena wanita itu telah bersembunyi di dalam hati yang lain. Makanya, peluang untuk menemukan wanita itu sangat minim. Semakin Rey berusaha mencari, Amanda pun semakin menyembunyikan dirinya agar tidak terdeteksi oleh kacamata Rey.
Karena dia tidak kunjung menemui Amanda, Rey seakan berubah menjadi orang lain. Yang dulunya penyayang dan sangat menghargai wanita, berubah menjadi singa buas pemangsa wanita. Dia seolah menjadi Casanova diantara para wanita-wanita yang siap menjadi budak ranjangnya.
Orang-orang disekelilingnya tidak menyangka dia akan berubah begitu drastisnya. Hingga memainkan wanita seperti tissue, habis digunakan tidak akan layak pakai lagi. Namun dia tidak pernah memaksa. Dia hanya akan menerima wanita yang dengan sukarela melemparkan tubuh murahannya pada Rey saja. Dan pastinya, sudah melewati serangkaian tes. Karena dia tidak mau asal-asalan, takut terjangkit penyakit.
Sangat ironis bukan? Suka bermain, tapi tidak mau terkena hukumannya.
Semua itu terus berlanjut sampai akhirnya dia menemukan Rena, semuanya berhenti di situ. Rey sang singa wanita berubah kembali menjadi laki-laki sejati.
Kepolosan Rena dan ketegasan wanita itu membuat Rey berusaha menghargai setiap keputusan wanita itu. Meskipun, setiap kali bertemu dengan Rena, dia kerap tersiksa karena menahan gejolak panas dalam dirinya. Sang perkutut yang sudah lama tidak menemui sarang-sarangnya seakan berontak ingin menemui sarang baru yang sempit milik Rena.
Namun, dia juga selalu berusaha menyadarkan dirinya sendiri. Jangan sampai itu terjadi, bisa-bisa nyawanya langsung meninggalkan raga karena dihilangkan dari muka bumi ini oleh Bara.
"Om, kenapa termenung?" Rena melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Rey bermaksud untuk membangunkan pria itu dari lamunannya.
Rey terkejut tapi langsung menunjukan senyumannya. "Ah, maaf. Tidak sengaja," jawabnya sambil tersenyum.
"Lalu, kenapa sekarang dia kembali dan mendeklarasikan kalau dia tunanganmu, Om?" tanya Rena heran.
"Mungkin dia masih terbawa oleh janji masa kecil kami saat itu. Tapi, aku juga tidak tahu pasti, Rena. Alasan kepergiannya saja aku tidak tahu. Apa lagi alasan dia kembali. Lagipula, itu semua tidaklah penting untukku," ucap Rey.
"Apa karena dia masih mencintaimu, Om?" terka Rena.
Rey menggelengkan kepalanya perlahan. "Aku juga tidak tahu, Rena. Yang aku tahu, aku sangat mencintaimu!" akunya, membuat wajah Rena bersemu merah.
Rena hanya diam. Mendengar pernyataan cinta Rey, membuat jantungnya tak dapat dikondisikan. Namun, bibirnya terkunci rapat. Dia sendiri bingung bagaimana dia harus menyikapi pernyataan cinta dari Rey.
Logikanya memintanya untuk langsung menerima pria yang telah mewarnai hari-harinya itu. Namun, hatinya justru memberikan pilihan yang berbeda.
"Rena, aku tidak berbohong padamu. Aku memang sangat mencintaimu, Rena!" Rey kembali mengungkapkan isi hatinya. Dia memegang tangan Rena dan bersimpuh di hadapan gadisnya itu. Matanya menunjukkan isyarat harapan yang besar.
__ADS_1
Namun, mata berbinar harapan itu harus berganti menjadi sayu tatkala Rena menarik tangannya dari genggaman Rey. Membuat pikiran pria itu berkecamuk seakan harapannya telah pupus. Matanya mulai memerah, entah apa yang sedang ia rasakan. Hanya dirinya lah yang tahu.
"Maaf, Om Rey. Aku bukan tidak percaya pada semua penjelasan yang kamu katakan. Namun, sejak kejadian kemarin, hatiku mulai meragu padamu," tutur Rena mengungkapkan isi hatinya juga.
"Apa maksudmu, Rena? Kamu juga mau pergi meninggalkan aku seperti yang Amanda lakukan?" tanya Rey yang masih dengan posisi bersimpuh.
Rena menggeleng, menyangkal ucapan Rey. "Bukan, bukan seperti itu maksudku. Aku memang meragu padamu, Om. Jika kita terus melanjutkan hubungan seperti ini, entah berapa kali lagi aku harus sakit hati karena didatangi oleh wanita-wanita masalalu mu,"
"Untuk saat ini, aku ingin memantapkan hatiku dulu, Om! Jadi, bisakah kita menjaga jarak?" imbuhnya lagi.
Rey menggelengkan kepalanya cepat. Dia tidak terima dengan ucapan Rena yang meminta dirinya menjaga jarak. "Tidak! Aku tidak mau seperti itu. Itu tidak akan terjadi!" pekik Rey dengan mata memerah.
Rey menarik lengan Rena dan menariknya ke arah ranjang. Tubuh Rena terjerambab ke atas ranjang, hingga lututnya terbentur sudut ranjang.
Rena memekik, tapi dia tidak mempedulikan lututnya yang sakit. Dia hanya memperhatikan Rey yang sedang melepaskan ikat pinggangnya. Setelah melepaskannya, Rey meraih tangan Rena dan mengikat kedua tangan Rena ke atas menggunakan ikat pinggangnya.
"Om, apa yang kau lakukan? Lepaskan aku! Jangan seperti ini," teriak Rena yang mulai panik dan merasa dirinya terancam.
"Aku tidak akan pernah melepaskanmu! Kau mau aku menjauh darimu? Bermimpilah!" ketus Rey sambil menyunggingkan senyuman smirk khasnya.
Dia mengelus pipi Rena sambil memandangi wajah yang sudah dibanjiri air mata itu dengan senyuman manisnya. "Sayang, kamu benar-benar sangat polos, ya? Jangan asal bergerak. Kamu bisa semakin membangkitkan milikku ini," ujar Rey sambil menunjuk adik kecilnya yang sudah terlihat membengkak.
"Om, kumohon jangan seperti ini. Tidak bisakah kita bicara baik-baik?" keluh Rena.
"Bicara baik-baik? Kurasa, tadi kita sudah melakukannya. Bagaimana kalau sekarang kita berbicara dengan cara lain, cara yang membuatmu tidak akan pernah bisa terlepas dariku!"
Rey mulai menyes*p bibir merah itu, dikecupnya berulang kali dan tangannya mulai menggerayangi tubuh Rena.
"Hiks ... kau jahat, Rey! Jangan lakukan ini padaku!" serunya saat Rey telah melepaskan kecupannya.
"Lalu, apa yang harus aku perbuat Rena? Aku harus membiarkanmu menjauh dariku begitu saja? Itu tidak akan bisa kulakukan. Tidak akan bisa!" jawabnya dengan mata yang ikut memerah.
"Apa kamu ingat dengan yang barusan kamu katakan padaku? Kamu akan menjelaskannya padaku. Setelah itu, apapun keputusanku kamu akan menerimanya. Jangan mengingkari kata-katamu sendiri, Rey!" ucap Rena lirih.
...*******...
__ADS_1
Di luar, acara pertunangan Belle dan Daniel sudah hampir dimulai. Para tamu undangan yang hadir sudah mulai berkumpul dan duduk di tempat yang sudah disediakan.
MC yang memandu acara itu juga sudah naik ke atas pentas, para pemusik yang diundang guna memeriahkan acara malam itu sedari tadi juga sudah mulai mengalunkan melodi indahnya dan membuat suasana semakin semarak.
Namun, diantara orang-orang yang sedang bersuka ria, ada seseorang yang sedang kebingungan karena tidak mendapati seseorang di manapun.
"Bara, kenapa Rena belum juga datang ke sini? Acara sebentar lagi sudah akan dimulai," keluh Embun dengan kegusaran yang melandanya.
"Embun, sabarlah sedikit. Mungkin ada sesuatu yang harus dilakukannya sehingga dia telat berkumpul bersama kita," ucap Bara menenangkan.
Namun Embun tak kunjung tenang. Kekhawatiran tak kunjung menyurut pula dari dirinya. Dia terus saja celingak-celinguk mencari keberadaan Rena. Berharap adiknya itu bisa terlihat walau hanya sepintas.
Melihat istrinya yang masih saja diterpa kecemasan, Bara mengelus punggung Embun. "Coba kamu hubungi dia," usulnya.
"Sudah, tapi tak dijawab olehnya."
Embun tidak bisa meninggalkan kursi yang didudukinya. Karena sebentar lagi acara akan segera dimulai. Sebagai perwakilan dari keluarga Belle, dia harus duduk di sana sampai semuanya selesai.
Terlebih lagi, kedua anaknya yang tidak mau lepas darinya. Membuat dia kesulitan kalau harus memboyong si kembar ke sana-sini.
"Panggil ART saja. Minta mereka panggilkan Rena," ucap Bara.
Embun mengangguk. Dia memanggil seseorang yang berdiri tidak jauh darinya.
"Coba kamu panggilkan Rena. Mungkin dia berada dalam kamar. Kalau sudah ketemu, langsung suruh dia datang ke sini!"
Dukung karya ini dengan berikan like, komentar, gift dan vote sebanyak-banyaknya.
Berikan juga rate 5 ya kak ❤️🥰
Dukung juga karya Author yang lain. Maaf kemarin tidak update. Dikarenakan kondisi tubuh kurang sehat 🙏🙏🙏
Terima kasih yang sudah berkenan mampir dan selalu membaca karya recehku ini ❤️❤️❤️
Dukungan kalian sangat berharga untuk author.
__ADS_1