Istri Miskin Presdir

Istri Miskin Presdir
MENGUKIR KENANGAN BERSAMAMU


__ADS_3

"Aku akan menepati janjiku. Tapi, untuk hari ini, jadilah istriku yang sesungguhnya. Meskipun hanya berpura-pura saja ... untuk hari ini saja." Pintanya lagi. Setetes air mata jatuh melewati hidung mancungnya.


Ada rasa iba di hati Embun. Dia mengangguk mengiyakan. Mungkin, sesekali dia juga harus mengalah. Merasakan bagaimana hangatnya kasih sayang seorang suami pada Istrinya yang sedang mengandung. Merasakan hangatnya tangan Bara kala ia mengelus perutnya dan disambut senyuman oleh Embun.


☀️Terkadang, sesuatu yang kita anggap salah, belum tentu benar-benar salah.☀️


"Baiklah." Embun mengangguk dan tersenyum mengiyakan.


Tapi, saat dia duduk di samping Bara seperti ini, tubuhnya terasa kaku. Seperti ada benteng tinggi yang menjadi pembatas diantara mereka. Mungkin, karena selama menikah, Embun tidak pernah sedekat ini dengan Bara. Dan selama berpisah ini, membuat tembok penghalang antara mereka menjadi lebih tinggi dan kokoh.


"Jadi, ke mana kita akan pergi?" Tanya Bara. Sebenarnya, dia tidak menginginkan ini. Tapi, dia kembali menata suasana hatinya agar tak membuat Embun kecewa. Sudah dia yang minta agar Embun berpura-pura menjadi istrinya, tapi malah dia yang tak bisa mengimbangi.


"Sekarang aku merasa sangat lapar. Bisakah kita pergi makan terlebih dahulu?" Usul Embun. Perutnya memang terasa sangat lapar sekarang.


"Tentu. Kamu ingin makan di mana?" Tanya Bara pada Embun.


"Aku di mana saja bisa. Tapi harus yang pedas, ya. Kalau tidak, aku tidak berselera." Jawab Embun sambil melihat ke kiri dan ke kanan berusaha mencari restaurant bisa menggugah seleranya.


Saat mencari-cari, tidak sengaja Embun melihat restauran bintang lima khas makanan Korea Selatan. Dia buru-buru meminta Bara untuk berhenti di sana. Melihat papan iklannya saja, membuat Embun menelan saliva-nya.


"Di sini?" Tanya Bara.


"Ya, kamu merasa keberatan?" Tanya Embun sebelum dia benar-benar turun dari mobil.


"Tidak. Aku hanya memastikan. Agar tidak salah memarkirkan mobil." Sahutnya.


Mereka masuk beriringan. Bara menggandeng tangan Embun. Melihat tangannya di genggam, Embun juga ikut mengenggam jari jemari Bara. Melihat hal itu, jangan tanyakan bagaimana perasaan Bara, dia senang bukan kepalang. Ingin melompat, tapi sadar dia juga harus menjaga citranya. Tapi, jika sudah bersama dengan Embun, dia tak lagi peduli dengan pandangan orang-orang.


Tapi, jika mengingat kalau ini hanya sementara dan hanya sebuah kepura-puraan, dia menjadi seperti dedaunan kering yang tertiup angin ****** beliung. Terbang jauh, tapi tak tentu arah.


Saat mereka masuk ke restaurant itu, Bara ingin masuk ke ruang VVIP, dia tidak ingin Embun merasa tak nyaman. Tapi Embun menghentikannya, dia hanya ingin di tempat umum saja. Banyak pasang mata yang menyoroti mereka, sedari mereka masuk hingga mereka duduk pun masih di soroti oleh semua orang yang berada di sana.


Tapi, untung saja restaurant itu sangat menjaga privasi tamunya, jadi setiap orang yang berada di sana, tidak dibolehkan menganggu orang lain meski sekedar memotret gambar orang lain tanpa seizin orang tersebut. Jadi, tidak ada yang berani memotret Embun dan Bara, takut dikenakan sanksi oleh pihak restaurant.


"Kamu ingin memesan apa?" Tanya Bara yang menyerahkan buku menu ke Embun.


"Aku ingin memesan semua makanan yang pedas. Apa saja, yang penting pedas!" Jawab Embun sambil tertawa riang.


"Baiklah, Nyonya." Sang pelayan mulai mencatat setiap pesanan Embun. "Anda, Tuan?" Tanya sang pelayan pada Bara.


"Aku menu utama di sini." Sahut Bara tanpa mengalihkan perhatiannya dari wajah Embun.


Pelayan itu undur diri setelah membungkukkan badan. Tidak berselang lama, makanan yang mereka pesan datang. Embun mulai menyantap makanannya dengan lahap. Sesekali Bara menyuapi Embun, agar hubungan mereka terasa lebih romantis.


"Ayo, buka mulutmu!" Embun sudah menggantung sendoknya di udara, menunggu Bara membuka mulutnya.

__ADS_1


Nyam!


Bara menelan setiap makanan yang disuapi Embun dengan perlahan. Dia begitu meresapi setiap makannya. Baru kali ini, dia sangat menikmati makanan yang di makannya, selain masakan Embun.


"Suapi aku lagi!" Pinta Bara sambil membuka mulutnya lebar-lebar.


"Tidak mau! Kalau aku terus menyuapimu. Lalu, aku makan apa?" Embun mendelik melihat Bara. Dia begitu takut kalau makanan dihadapannya akan habis.


Mendengar keluhan Embun, Bara langsung melihat ke arah meja. Ternyata masih sangat banyak makanan yang tersedia. Sejurus kemudian Bara terkekeh pelan dan menggosok pucuk kepala Embun gemas.


"Sayang, lihatlah itu! Makanannya masih sangat banyak. Tidak akan habis jika kamu menyuapiku sedikit lagi saja." Bara tetap tertawa gemas melihat tingkah Embun lucu yang terkesan rakus.


"Ini semua punyaku! Kalau kamu mau, pesan saja yang lain untuk dirimu sendiri!" Embun berbicara dengan mulutnya yang masih penuh dengan makanan. Wajahnya berubah jadi bulat karena makanannya sudah menggumpal di pipinya.


"Makan pelan-pelan, Sayang. Tidak ada yang merebutnya darimu," Ucap Bara gemas.


Setelah menghabiskan makanannya, mereka keluar dan masuk ke mobilnya. Embun melihat ke sekeliling seperti sedang mencari sesuatu. Bara yang memperhatikannya pun menjadi keheranan.


"Kamu mencari apa, Sayang?" Tanya Bara.


"Aku sedang mencari makanan pinggir jalan. Kira-kira makanan apa yang enak?" Kini Embun mengalihkan perhatiannya pada Bara, dua bertanya sambil terlihat berpikir.


"Kamu masih lapar?" Tanya Bara, dia memaklumi karena Ibu hamil pasti selalu merasakan lapar. Terlebih lagi, Embun sedang hamil kembar, dan kandungannya juga sudah membesar.


Bara langsung menghentikan mobilnya tepat dihadapan orang yang sedang menjajakan dagangannya. Embun meminta permen kapas yang rasanya manis. Dia meminta Bara untuk memborong semuanya, karena dia juga ingin membagikannya dengan para pegawai di toko rotinya.


Di kampus Belle, wanita itu sibuk dengan menunggu taxi di depan kampusnya. Dia tidak membawa mobilnya karena rusak dan mobilnya di bawa ke bengkel. Saat dia sedang menunggu, tiba-tiba ada sebuah mobil yang berdiri dihadapannya. Mobil itu menurunkan kaca dan menampakkan wajah pengemudinya.


"Kevin? Kenapa berhenti di sini?" Tanya Belle pada laki-laki yang memberhentikan mobilnya dihadapan Belle. Pria itu bernama Kevin, Kakak seniornya di kampus.


"Kamu sedang apa di sini?" Kevin malah bertanya balik.


"Aku sedang menunggu taxi." Jawab Belle seadanya.


"Mobil kamu ke mana?"


"Masuk bengkel." Ketusnya yang tak suka berbasa-basi dengan laki-laki itu.


"Ayo aku antarkan!" Ajaknya sambil tersenyum.


"Tidak usah, Kak. Aku menunggu taxi saja." Tolak Belle halus.


"Kamu mau menunggu sampai kapan? Ayo cepat naik!" Kevin sedikit memaksa, karena dia memang menyukai Belle.


Dengan sangat terpaksa dan berat hati, Belle naik ke mobil Kevin. Dia bingung harus menuju ke mana. Tapi, dia langsung ingat, dia akan meminta Kevin untuk mengantarnya ke toko Embun saja.

__ADS_1


"Kalah kita makan dulu, bagaimana?" Tanya Kevin sambil melirik ke arah Belle.


"Hem, sepertinya aku tidak bisa. Kakak iparku sudah menunggu untuk makan bersama. Kami sudah membuat janji terlebih dahulu." Alasannya.


Kevin hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Belle hanya memfokuskan perhatiannya ke depan, dia malas untuk melihat ke arah Kevin yang sedari tadi selalu saja memperhatikannya.


Tak sengaja dia melihat mobil Bara yang berdiri di samping orang yang sedang menjual gulali, dia langsung bersyukur karena bisa lari dari Kevin.


"Itu mobil Kakakku. Aku turun di sini saja." Pinta Belle.


"Aku antarkan kamu sampai rumah saja, ya?" Tentu Kevin tak ingin kehilangan kesempatan. Kalau dia tahu rumah Belle, dia pasti akan sering-sering berkunjung.


"Jangan! Kakakku tidak mengizinkan aku pacaran. Kalau dia tahu kamu mengantarku, aku pasti akan langsung dimarahi habis-habisan olehnya." Bohongnya yang memasang wajah memelas. Padahal, Bara sama sekali tak peduli adiknya mau berpacaran dengan siapa, selama laki-laki itu orang yang baik.


"Lalu, bagaimana?"


"Kamu turunkan aku di sini saja. Agar tidak kelihatan oleh Kakakku." Ucapnya dan Kevin pun mendengar usulan Belle. Sebenernya, Belle hanya tidak mau kalau Kevin sampai tahu, kalau Kakaknya adalah seorang Bara Wirastama, takut kalau pria itu akan menyebarkannya pada orang lain. Karena dia sudah memalsukan identitasnya.


Belle turun dari mobil, dia melihat Embun sedang membeli gulali. Dia juga mendengar percakapan Embun dan Kakaknya.


"Bara, gulali nya terbang ke jalan. Pegang yang ini biar aku ambilkan," Ucap Embun.


"Tidak perlu, pesan saja yang lain. Jangan ambil yang itu."


"Aku juga mau yang itu. Jangan membuang-buang makanan." Embun langsung berlari ke tengah jalan untuk mengambil gulalinya.


Kebetulan, jalan sedang senggang saat itu. Tapi, dalam kesenggangan itu, tiba-tiba ada mobil dari arah Utara yang melaju sangat kencang di atas rata-rata.


Belle yang melihat itu langsung berteriak kencang.


"Kak, awas ada mobil!" Tubuhnya seakan kaku. Jaraknya dengan Embun juga sangat jauh.


Tempat Embun berdiri sudah sangat dekat degan mobil itu, karena mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi. Dan...


BRAKK!!!


Mobil itu menghantam tubuh seseorang hingga orang itu melayang jauh.


"Tidak...! Kak...!" Belle menjerit sekencangnya. Kevin yang kebetulan belum pergi dari sana juga menjadi saksi tragedi itu, dia sampai meringis dan menutup matanya.


Jangan lupa tinggalkan jejak like, berikan komentar, gift dan juga vote.


Maksa nih! 🤭 Biar author tambah semangat 🤣


Thank you ❤️

__ADS_1


__ADS_2