
Tapi, semua tidak sesuai keinginannya. Saat dia sudah duduk sempurna di atas ranjang dan ingin menidurkan tubuhnya. Tiba-tiba mata bulat Belle terbuka sempurna, dan Daniel tak dapat mengelak untuk sekedar berpura-pura tidur.
"Be-belle? Ka-kamu sudah bangun? Kenapa bangun?" tanya Daniel dengan tergagap.
"Kak Daniel? Kamu sudah kembali?" tanya Belle sambil mengucek matanya yang masih terasa perih dan susah dibuka karena masih merah dan bengkak akibat terlalu lama menangis.
"Iya," jawab Daniel. Hati Daniel kembali teriris saat melihat keadaan Belle. Sangat jelas terlihat kalau Belle habis menangis terlalu lama. Dan Daniel juga cukup sadar diri, itu semua karena dirinya.
"Belle, maafkan aku!" ucap Daniel, dalam pikirannya dia harus bisa mendapatkan maaf dari Belle.
"Aku mau...." belum sempat dia mengucapkan apa yang hendak dia katakan, Daniel sudah memangkas kalimatnya.
"Belle, aku mohon maaf!" pintanya lagi dengan wajah yang penuh gurat kekhawatiran.
"Kenapa kamu melakukannya, Kak? Kamu tahu kan bagaimana prinsipku selama ini?" hardik Belle.
"Iya, aku tahu aku salah, Belle. Aku benar-benar gelap mata sudah melakukan hal itu padamu. Aku berjanji tidak akan melakukan hal itu lagi," ujar Daniel.
"Maafkan aku juga, karena menemuimu dengan pakaian itu," Belle menunjuk lingerie yang masih teronggok di lantai. "seharusnya, aku tidak usah keluar. Cukup tidur di kamar mandi saja," imbuhnya lagi dengan wajah yang tak bisa diartikan.
"Lalu, kenapa kamu memakai pakaian itu? Untung saja aku, jika pria lain, kamu akan bagaimana? Mungkin, tidak akan melepaskanmu begitu saja," berang Daniel.
"Itu sudah menjadi kebiasaanku, Kak. Aku sedari kecil kalau tidur memang selalu menggunakan pakaian terbuka seperti itu," tegas Belle apa adanya.
"Dan lagi, itu juga tidak sepenuhnya kesalahanku. Siapa suruh kak Daniel tiba-tiba datang ke sini? Aku kan tidak tahu kalau harus sekamar denganmu!" celetuknya yang tidak mau disalahkan sepenuhnya.
"Siapa suruh kamu berbohong dan ketahuan? Aku hanya tidak ingin ada yang mengganggu wanitaku. Memangnya salah?" Daniel membalikkan ucapan Belle, membuat wanita itu tersungut tidak terima karena dipojokkan.
"Jadi, di hotel sewaktu kita di Turki, kenapa kamu tidak memakai jaring tipis itu?" tanya Daniel menunjuk menggunakan dagunya ke arah Lingerie yang masih teronggok di lantai akibat ulahnya itu.
"Karena di almari kamar hotel Kakak ada piyama yang bisa aku gunakan. Di sini tidak ada, jadi aku harus bagaimana?"
"Bagaimana kalau kita segera menikah saja? Rasanya, aku sangat ingin sekali menerkam mu. Tubuhmu, sangat menggoda," goda Daniel sambil mendekatkan wajahnya dengan wajah Belle.
"Me-menikah?" tanya Belle memastikan, takut pendengarannya salah.
"Ya. Kamu mau kan menikah denganku?" tanya Daniel sambil tersenyum manis.
"Tentu aku mau. Tapi, aku kan sedang kuliah, Kak."
"Memangnya kenapa? Bukannya tidak masalah?" Daniel mengernyit heran melihat raut wajah Belle. Seperti ada sesuatu yang sedang ia pikirkan.
__ADS_1
"Sebenarnya apa yang sedang kamu pikirkan? Kam tidak mau menikah denganku? Katakan saja, aku tidak akan memaksakan kehendakku padamu," ucap Daniel. Begitu besarnya cintanya pada Belle. Meskipun dia sangat mencintai wanita itu, tapi jika tak bisa memilikinya, dia tidak mempermasalahkannya.
"Bukan, bukan begitu, Kak. Aku sangat mencintai Kak Daniel. Pasti mau menikah denganmu," ucap Belle buru-buru menyangkal tuduhan Daniel barusan padanya. Kepalanya menggeleng cepat seiring dengan ucapannya.
"Lalu, apa yang sedang kamu cemaskan? Katakan saja terus terang," pinta Daniel.
"Kak, aku kan sedang melakukan pembalasan pada Kevin. Mana mungkin tiba-tiba aku menyebarkan undangan." akhirnya kekhawatiran Belle terungkap juga. Daniel menghela nafas mendengar kekhawatiran tak penting Belle.
"Ternyata hal tak penting itu!" cetusnya.
"Itu penting, Kak. Laki-laki bajingan itu telah menyakitiku, aku harus membalaskan rasa sakit itu padanya," tegas Belle.
"Biar aku yang bereskan. Kamu tidak perlu pusing-pusing lagi untuk membuat rencana ini dan itu. Dan kita, bisa segera menikah," ucap Daniel memberikan saran terbaik menurutnya.
"Aku menolak. Dendamku, tetaplah harus aku yang membalaskannya. Harus aku yang membuat dia tersiksa," kekeh Belle.
"Tapi, kamu juga tidak boleh melupakan kebahagiaanmu, Belle!"
"Melihatnya hancur secara perlahan-lahan sudah membuatku sangat bahagia, Kak," jawabnya.
"Intinya, kamu tidak mau menikah denganku. Ya sudah, aku lelah dan mau tidur!" Daniel memanyunkan bibirnya dan langsung masuk dalam gulungan selimut. Entah benar-benar marah, atau hanya sedang pura-pura merajuk saja.
Melihat Daniel yang merajuk, Belle buru-buru merayu pria itu. Dia sampai melupakan, kalau sekarang tubuhnya terekspos jelas karena selimut yang menutupi tubuhnya tadi sudah ditarik oleh Daniel.
"Kak Daniel, buka sedikit matamu, lihat aku!" Belle menambahkan tenaganya menggoyangkan tubuh Daniel. "Ya sudah, setelah pulang dari sini, kita langsung temui Kak Bara dan langsung merencanakan acara pernikahan kita. Menyiapkan segala sesuatunya bersama-sama," ucap Belle kembali merayu Daniel. Tapi Daniel masih enggan untuk membuka matanya.
"Jangan bicara padaku! Aku sedang marah padamu!" ucap Daniel sambil diam-diam tersenyum.
"Kak, buka matamu, lihat aku! Cepat lihat aku. Kamu tidak diizinkan untuk marah padaku!" kecam Belle.
Daniel membuka matanya, namun pandangan matanya langsung bertabrakan dengan gunung kembar merah muda milik Belle. Membuat Daniel meneguk kembali saliva-nya dengan susah payah.
"Belle, kamu sengaja, mau merayuku? Mau melakukan malam pertama kita sekarang?" goda Daniel. Dia mati-matian mengendalikan hasratnya agar tak mengulangi hal tadi lagi.
Belle melihat tubuhnya yang polos. Dia langsung menutup mata Daniel menggunakan kedua tangannya, menghalangi pandangan Daniel agar tak lagi melihat tubuh polosnya.
"Ini salahmu, Kak. Kakak yang sengaja menarik selimut ini!" gerutunya.
"Tidak apa-apa. Aku sudah merasakan semuanya. Yang belum ... lubang nikmat itu saja, hahahaha." Daniel kembali menggoda Belle. Hobinya sekarang sudah bertambah, menggoda wanitanya, menjadi hobi barunya.
"Kak Daniel!" teriak Belle sambil menutup wajahnya, tapi melupakan tubuhnya yang masih polos.
__ADS_1
"Sini, tidur di sampingku." Daniel menepuk-nepuk tempat di sampingnya.
"Tidak, nanti Kakak macam-macam."
"Tidak akan, kan sudah berjanji. Kamu juga harus menepati janjimu barusan. Kalau tidak, aku akan melakukan malam pertama kita sekarang juga!" ancam Daniel.
"Terserah, setelah pulang dari sini, Kakak tidak akan bisa menagihnya." Belle menjulurkan lidahnya mengejek Daniel.
"Kau menantangku? Kalau kamu tidak segera menepati janjimu, aku akan membawamu dan akan memperk*samu. Aku akan merekam semua kegiatan panas kita. Agar kau tidak lagi bisa lari dariku. Dan akan menunjukkannya pada Bara, agar dia langsung menikahkan kita," ucapnya enteng. Dia tidak tahu, Belle sudah menahan nafas mendengar rencana Daniel.
**********
Di depan Rex Club, Nita sedang mondar-mandir. Entah kenapa dia terlihat resah seperti itu.
Dia berjalan masuk ke dalam Rex Club, banyak pasang tangan-tangan pria nakal yang mencolek tubuhnya dan gencar merayunya. Dan Nita hanya tersenyum pada semua laki-laki itu.
Mereka berani melakukan hal itu karena tahu kalau Nita juga salah satu wanita yang bekerja menjadi pemuas n*fsu para pria hidung belang di sana.
Ada seorang pria gendut yang menjadi langganan Nita menghampirinya. Merem*as bokong Nita dan menggenggam buah dada Nita.
"Nita, sudah lama kau tidak melayaniku. Aku sudah sangat merindukanmu kehangatan tubuhmu ini," ucap laki-laki itu sambil sesekali ******* bibir Nita, dan Nita juga membalas ******* itu.
"Emhh, Tuan." Nita mendesah. "Maafkan aku. Masih ada pekerjaan lain yang harus aku selesaikan. Semoga kamu bisa sabar menunggu sebentar, dan tidak mencari penggantiku. Setelah aku menyelesaikan pekerjaan ini, aku pasti akan segera kembali ke dalam pelukanmu," jawab Nita.
Tentu saja dia tidak akan melepaskan pria tua itu. Karena itu adalah salah satu pria yang sangat royal padanya. Akan sangat rugi kalau dia harus kehilangan mata uangnya.
"Tentu saja, aku akan menunggumu."
"Kalau begitu, aku permisi dulu," ujar Nita. Dia kembali melanjutkan perjalanannya, menuju ruangan Manager.
Seperti kebiasaan lamanya, tanpa mengetuk pintu dan tanpa mengucapkan sepatah katapun. Nita langsung menerobos masuk ke dalam. Namun, saat pintu ruangan itu berhasil terbuka, dirinya benar-benar sangar terkejut.
"Kau siapa?" tanya Nita pada seorang pria yang sedang duduk di kursi kebesaran di ruangan manager itu.
"Aku manager baru di sini. Dan kau, siapa? Tidak punya sopan santun, masuk tanpa mengetuk pintu!"
Dukung selalu karya ini dengan berikan like, komentar, gift dan vote sebanyak-banyaknya.
Berikan rate 5 juga ya guys...
Dukung juga karya baru Author *sahabatku suami muhallilku 🙏**🙏*
__ADS_1
Terima kasih ❤️❤️❤️