
Di kamar, Belle masih termenung karena masih memikirkan hal yang baru saja terjadi. Dia berpikir, siapakah pelaku yang sudah sangat berani berbuat seperti ini.
"Apakah benar, dia yang telah melakukan itu?" gumam Belle
Belle mencoba menghubungi Daniel. Dia ingin bertanya karena rasa penasarannya telah menyelimuti hati dan pikirannya saat ini. Dan, gara-gara ini, Embun lah yang menjadi sasaran empuk mereka melampiaskan hal yang sama sekali tidak dilakukanya
TUTT TUTT
Terdengar beberapa kali nada sambung, barulah Daniel mengangkat panggilan itu, terdengar juga suara Rey di seberang telepon
"Ada apa, Belle?" tanya Daniel
"Kak, kamu sudah tahu perihal kabar yang sedang memanas akhir-akhir ini mengenai, Kak Bara?" tanya Belle
"Tentu saja aku tahu, bahkan kabar itu sudah tersebar ke segala penjuru dunia. Karena kabar itu menyangkut Presdir perusahaan Wirastama dan aktris yang baru-baru ini terkenal. Bagaimana mungkin aku tidak tahu." jawab Daniel sekenanya
"Ya. Kamu benar, Kak. Apa aku boleh bertanya sesuatu padamu?" tanya Belle gusar
"Tentu. Tanyakan saja apa yang mau kamu tanyakan." jawab Daniel
"Apakah kamu, yang membuat berita itu?"
"Ya. Memang aku yang menyebarkan foto itu. Kenapa, Belle?"
"Tapi kenapa, Kak?"
"Aku sudah cukup muak melihat sikap Kakakmu yang berperilaku seperti orang yang tidak mempunyai rasa malu. Dia sudah menikah dengan wanita baik, tapi masih saja menyia-nyiakan istrinya dan memilih wanita yang jelas-jelas sudah meninggalkannya." jawab Daniel
"Aku tahu bagaimana rasa kesal mu, Kak. Tapi, sepertinya ini bukanlah waktu yang tepat." ujar Belle
"Kenapa, Belle? Kau sudah berbalik dan mendukung perbuatan salah Kakakmu itu?"
"Buka begitu, Kak Daniel. Karena berita itu, Kak Embun lah yang menjadi kambing hitam kemarahan, Kak Bara. Bahkan, Audrey juga ikut-ikutan menamparnya dihadapan semua orang." jelasnya
"Sialan! Dasar wanita tidak tahu diri. Lihat saja, aku akan membuat hidupnya berada seperti di neraka." ujarnya
"Kak, apakah kamu bisa membantuku? Aku sudah membukakan toko kue untuk, Embun. Bisa, kan kamu merekomendasi dan mempromosikan toko kami agar banyak peminatnya!" pinta Belle sekaligus memerintah
"Itu bukan bidangku. Maaf, aku tidak bisa membantumu kali ini." jawab Daniel
"Ayolah, Kak. Aku tahu, kamu banyak koneksi. Atau, minta lah anak-anak buah mu untuk membeli di toko kami." Belle memaksa
"Kenapa minta tolong mu itu terselubung kata-kata memerintah dan seolah tidak mau dibantah, ya?" ujar Daniel
"Hahaha. Aku tidak mau tahu, kamu harus membantu. Nanti sore kami akan mengadakan acara potong pita untuk peresmian bukanya toko kue kami. Dan, besok toko kami mulai buka, toko kami harus ramai!" titahnya
__ADS_1
"Dasar Belle si putri dongeng, selalu saja memerintah."
Bara termenung dengan keberanian Embun mengutarakan isi hatinya, dadanya bergemuruh karena marah. Bara meninju angin untuk melampiaskan kekesalannya lalu dia pergi meninggalkan Embun yang masih terpaku di tempatnya
BRAKK
Bara membanting pintu kamarnya, hal itu terdengar oleh adik-adiknya karena kamar mereka berdekatan. Belle terjingkat kaget karena mendengar suara bantingan pintu yang cukup keras
Dia cepat-cepat berlari ke kamar kakaknya. Namun, saat ia masih berada di depan pintu, dia melihat Bara sudah menuruni anak tangga dengan cepat dan terburu-buru. Dia tidak memperdulikan itu, dia buru-buru berlari ke dalam kamar Embun dan melihat kondisi wanita itu, dia khawatir sesuatu yang buruk terjadi pada kakak iparnya itu
"Kak, apa yang sudah dilakukannya padamu?" tanya Belle menangkup wajah Embun.
"Aku tidak apa-apa. Kamu jangan cemas, ya!" ucapnya
"Wajahmu menjadi memar begini, Kak. Maafkan aku tidak bisa membantumu tadi."
"Sudahlah. Semuanya sudah terjadi, aku tidak apa-apa." Padahal Embun mengatakan itu bukan untuk menghilangkan rasa cemas Belle, melainkan untuk menghibur hatinya sendiri. Bagaimana tidak, hatinya begitu hancur saat ini, mantan pacar suaminya malah menamparnya di depan suaminya, tapi suaminya malah diam saja dan membiarkannya begitu saja
"Ayo, Kak. Aku bantu kamu mengobati memar ini. Besok saja kita membuka toko kuenya, ya?"
"Jangan, Belle. Aku tidak apa-apa. Jangan di undur lagi." jawab Embun cepat
"Tapi Kak, keadaanmu seperti ini. Sangat tidak memungkinkan." bantah Belle
"Baiklah, dasar keras kepala."
Embun hanya tersenyum saja, dia memang sudah tidak bisa berdiam diri saja. Keadaan seperti ini sangat tidak menyenangkan untuknya, dia harus mencari penghasilan sendiri untuk membiayai kehidupannya dan juga memberikan uang untuk kedua orang tuanya.
Bara mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia tidak memperdulikan klakson yang berbunyi sepanjang jalan sebagai bentuk protes orang-orang atas kesalahannya dalam mengemudi sekencang itu.
Tentu saja itu bukan hanya membahayakan dirinya sendiri, tetapi juga membahayakan nyawa orang lain juga. Dia mengemudikan mobilnya ke arah apartemen elite tempat tinggal Audrey
Sesampainya Bara di depan unit apartemen mewah milik Audrey, dia menelepon wanita itu untuk membukakannya pintu agar dia bisa masuk
"Kenapa kamu di sini? Seharusnya kamu sedang bersama istrimu itu, kan?" ucap Audrey yang masih berdiri di ambang pintu sambil melipat tangannya di depan dada
"Kamu tidak memintaku untuk masuk?" ujar Bara sambil tersenyum
Audrey hanya menggeser sedikit tubuhnya, Bara mengerti kalau wanita yang sedang berdiri di hadapannya itu sedang mempersilahkannya untuk masuk ke dalam
"Sayang, kenapa kamu tidak memberitahukan pin rumahmu padaku, agar aku lebih mudah untuk masuk lain kali." ucap Bara sambil memeluk tubuh Audrey dari belakang
"Lepaskan aku! Katakan padaku, apakah kamu sudah memberikan pelajaran pada istrimu itu?"
Bara hanya diam tak bergeming. Entah kenapa, ada rasa kasihan dalam hatinya saat ia ingin menyakiti istrinya itu. Makanya dia melampiaskan kekesalannya pada angin, bukan pada Embun
__ADS_1
Melihat Bara tak menjawab, Audrey membalikkan tubuhnya agar saling berhadapan dengan Bara. Dia menatap manik mata pria itu dengan lekat
"Bara, dia sudah berani-beraninya berbuat sejauh itu. Aku yakin, dia menyewa orang lain untuk menyebarkan foto pernikahan kalian pada media, agar namanya tidak terekspos." ucap Embun sambil memegang kera baju Bara
"Tapi aku tidak yakin dia berani berbuat sejauh itu." ujar Bara meragu
"Kenapa kamu malah membelanya? Lalu, untuk apa kamu datang kemari, apakah ingin menjelaskan bahwa istrimu itu tidak bersalah, Begitu?" seru Audrey sangat kesal dan berjalan menjauhi dari Bara
"Tidak, tentu saja bukan. Aku datang hanya untukmu, untuk menenangkan hatimu." sahut Bara
"Aku bisa tenang kalau kamu sudah memberikan pelajaran untuknya, kalau tidak aku masih saja kesal padanya!" ucapnya sembari mengerucutkan bibirnya kemudian duduk di sofa nya
"Sayang, sudahlah. Jangan membahas masalah ini lagi, ya? Sudah, jangan marah lagi." bujuk Bara
"Kamu kenapa sih, Bara? Kenapa kamu ikut-ikutan seperti Belle yang terus-menerus membelanya. Kamu tidak mengerti perasaanku! Aku sudah di marahi habis-habisan di media, Bara! Mereka mengatakan kalau aku ini adalah orang ketiga dalam hubungan kalian." teriak Audrey
"Padahal, mereka tidak tahu yang sebenarnya. Dia lah yang menjadi orang ketiga diantara kita, dia yang merebutmu dariku. Dia menjadi duri dalam hubungan kita. Aku tidak terima ini, aku dengan susah payah menciptakan citra nama baikku. Dia ingin menghancurkan aku, Bara!" teriaknya yang bertambah kesal
"Sayang, kita bisa membersihkan namamu. Kita bisa mengklarifikasi pada media kalau itu hanyalah foto palsu yang disebarkan oleh musuh Bisnisku." bujuk Bara
"Tapi, dia tetap saja tidak mendapatkan ganjaran atas perbuatannya. Kau harus segera menceraikannya!"
"Aku akan menceraikannya, segera! Aku berjanji padamu. Tapi, setelah itu, kamu harus menikah denganku." ujar Bara
Mendengar Bara yang lagi-lagi memintanya untuk menikah dengan laki-laki itu, dia merasa kikuk dan terdiam
Kalau aku menikah denganmu, bagaimana aku bisa dekat memanfaatkan laki-laki lainnya. Karirku juga bisa hancur karena aku sudah menikah. Aku harus membalikkan keadaan
"Maaf, Bara. Jawabanku masih sama, untuk saat ini aku belum bisa menikah denganmu. Lupakan saja ucapanku barusan, aku berkata seperti itu hanya karena sedang marah saja." ucapnya sambil membelai wajah Bara
"Aku mengerti." jawan Bara
"Tapi, aku masih merasa kesal. Kamu harus memberikan kompensasi untukku agar rasa kesalku hilang." ucapnya membelai wajah Bara
"Katakan saja, bagaimana aku bisa menghilangkan kesalmu. Kamu ingin uang, perhiasan atau apartemen baru?" tanya Bara
"Aku sedang tidak menginginkan itu semua. Aku hanya ingin kamu." ucap Audrey memegang bibir Bara
"Maksudmu?"
"Aku ingin kamu menghilangkan rasa kesalku dengan tubuhmu, Sayang. Aku menginginkannya. Bisakan?" Audrey berbisik di telinga Bara
Jangan lupa untuk tinggalkan like, komentar, gift dan vote. Berikan rate 5 dan tambahkan ke daftar favorit kamu, ya!!
Terima kasih ❤️❤️ ❤️
__ADS_1