
"Tentu saja aku merindukanmu. Jika bukan rindu padamu, lalu siapa lagi yang harus aku rindukan?" balas Rey. Entah pengakuan atau hanya sekedar gombalan pujian untuk menenangkan, namun Rena langsung tersenyum mendengar kata-kata itu.
Tersipu malu dengan pipi yang memerah bak tomat matang, membuat wjahnya tambah menggemaskan.
"Om, bisakah kita berhenti di supermarket terdekat? Aku mau membelikan susu dan perlengkapan bayi lainnya untuk Valerie," pinta Rena yang masih dalam keadaan mabuk kepayang karena kata-kata Rey barusan.
"Om? Kita akan segera menikah, kan? Dan kita juga sudah punya anak. Tapi, kenapa kamu masih saja memanggilku dengan sebutan kuno itu? Kamu berencana mau memanggilku dengan sebutan itu berapa lama? Apa sampai kita punya anak cucu nanti? Tidak lucu, kan?" cecar Rey dengan wajah datar.
Setiap kali mendengar sebutan anarkis yang jelas tak ia sukai, jengkel merambat di jiwa Rey. Namun, baru kali ini dia menyuarakan isi hatinya yang sama sekali tidak suka dengan panggilan yang menurutnya aneh itu.
"Om, kamu sedang merajuk?" goda Rena sambil menaikkan sebelah alisnya dan menahan tawa.
Rasanya, keluhan Rey barusan begitu menggelitik perutnya. Sebisa mungkin dia menahan tawa, takut suara tawanya yang terlalu besar mengganggu bayi mungil yang sedang di dekapnya.
"Aku merajuk karena panggilanmu itu, Rena! Tapi, berani-beraninya kamu mengulanginya lagi?" tegur Rey yang bertambah kesal. Bukannya merubah panggilan tak wajar itu, tapi Rena malah mengulangi kesalahannya dan kembali memanggil Rey dengan sebutan yang tak layak didengar sama sekali.
"Hahahaha!" tawa Rena yang susah payah disimpan akhirnya meruah. Saking tak tahannya dengan sikap Rey yang menurutnya lumayan imut untuk ukuran seorang pria tua.
"Ckck, kau memang sedang mencari masalah, ya?" cibir Rey yang semakin menekuk wajahnya ke dalam.
"Lalu, kamu mau dipanggil apa? Daddy? Begitu?" tanya Rena yang terlihat mempermainkan Rey dengan panggilan-panggilan aneh yang dilayangkannya.
"Terserah kamu saja. Yang penting enak didengar dan layak untuk seorang pasangan," tukas Rey cepat.
"Aku jadi bingung sendiri karenamu," ucap Rena sembari menghela nafas panjang dan menyandarkan punggungnya.
"Kenapa? Bukankah permintaanku masih dalam batas kewajaran?" ucap Rey lirih.
"Memang dalam batas kewajaran. Tapi, kamu hanya menuntut, tidak memberikan solusi sama sekali! Coba kamu katakan, panggilan seperti apa yang kamu inginkan?" tanya Rena sambil melihat jalanan yang lumayan padat.
"Kamu mau aku ikut memberikan usulan?" tanya Rey sambil memperhatikan Rena yang terlihat sudah pasrah.
Rena hanya mengangguk, belum juga melihat wajah Rey. Pemandangan jalan di depannya, lebih menarik perhatiannya.
"Yakin?" tanya Rey lagi.
"Hum!" jawab Rena hanya dengan deheman sambil memutar bola matanya malas.
"Kalau begitu, mulai sekarang panggil aku dengan sebutan Sayang! Bagaimana, kamu setuju?" ucap Rey membuat Rena langsung berpaling. Menatap manik pria itu, berusaha mencari keseriusan di sana. Namun, dari mata pria itu memang memancarkan keseriusan yang sangat lekat.
"Om, kamu jangan bercanda!" sanggah Rena yang tak sadar kembali mengucapkan panggilan itu lagi.
Rey menghela nafasnya dan mengusap wajahnya.
"Rena? Bisakah berhenti dengan panggilan konyolmu itu?"
__ADS_1
"Sayang, bukankah aku harus mulai membiasakan diriku terlebih dahulu?" cetus Rena sengaja.
Telinga Rey langsung membesar, giginya juga langsung terlihat karena senyumannya begitu lebar. Dia merasa senang dengan panggilan yang diucapkan oleh Rena barusan.
Tangan Rey terulur mengusap kepala Rena dengan senyum sumringah yang tak kunjung menyurut.
"Jadi, tujuan kita ini ke mana, Sayang?" tanya Rey yang juga ikut-ikutan memanggil Rena dengan sebutan Sayang.
Rena bergidik ngeri, matanya berputar sambil mengerucutkan bibirnya.
"Kenapa aku merasa geli, ya?" ucapnya lirih.
"Nanti lama-lama kamu juga akan terbiasa dengan panggilan romantis kita ini," sahut Rey.
"Jangan lupa ke supermarket," ucap Rena.
"Sertakan panggilan Sayang. Baru aku akan singgah ke tempat yang kamu mau," Titan Rey.
Rena menggemeretakkan giginya. Ingin mengumpat dalam hati tapi segera diurungkannya.
"Sayang, jangan lupa singgah ke supermarket terdekat, ya!" ucap Rena yang mendikte setiap kata-katanya agar Rey mendengar panggilan Sayangnya itu.
"Siap, Sayang!" jawab Rey semangat.
Setibanya di supermarket, mereka berdua mulai memilah-milah barang yang akan mereka beli uang keperluan Valerie. Bayi mungil itu terus saja tidur sambil sesekali menggeliat manja ala bayi imut.
"Kita juga harus membeli pakaian untuknya. Tidak mungkin dia selalu terbalut kain seperti ini, kan?" tutur Rena.
"Ya sudah. Ayo sekarang kita ke mall. Beli pakaian untuknya dan beli perlengkapan lainnya juga," ajak Rey.
Rena mengangguk. Setelah membayar diapers dan susu formula milik Valerie, mereka kembali membelah jalanan menuju mall.
Saat memasuki toko perlengkapan bayi, mata Rena melihat ke sekeliling. Dia sangat gemas dengan perlengkapan-perlengkapan yang sangat menggemaskan di matanya.
Rasanya, dia ingin membeli semua barang yang ada di sana.
"Rasanya aku ingin membeli semua ini untuk Valerie. Sangat-sangat menggemaskan," ucapnya tanpa sadar.
"Kalau begitu aku akan mengurus administrasinya. Tunggu di sini!" sahut Rey.
"Om, kamu mau ke mana?" tanya Rena yang telah sadar dengan ucapan anehnya tadi.
"Om?" Rey bertanya sambil menaikkan sebelah alisnya dengan raut wajah tak bersahabat. "Sayang, Rena!" ucap Rey kembali menegaskan.
"Maaf. Kamu mau ke mana, Sayang?" tanya Rena mengulang.
__ADS_1
"Bukankah kamu mau membeli semua barang yang ada di toko ini? Aku hanya menuruti permintaanmu saja," sahut Rey yang ingin kembali mengangkat langkah.
Namun, langkahnya tak berangsur maju karena Rena menarik ujung bajunya.
"Kenapa?" tanya Rey heran.
"Aku tahu uangmu banyak. Tapi, tidak perlu menuruti permintaan konyolku. Tadi aku hanya bercanda saja," seri Rena.
"Baiklah-baiklah. Kalau begitu, ayo mulai pilih-pilih yang bagus untuk anak kita," ajak Rey sembari mengaitkan tangannya dengan tangan Rena.
Mereka mulai berkeliling dan melihat-lihat. Sebenarnya ada banyak sekali yang menggugah mata Rena, namun dia hanya membungkam mulutnya rapat-rapat. Takut salah berkata dan menimbulkan kesalahpahaman yang lebih dari tadi lagi.
"Sini!" Rena berbelok ke tempat baju-baju menggemaskan terpajang rapi.
"Sayang, bagaimana dengan ini? Sepertinya ini sangat bagus kalau dikenakan oleh Valerie," ucap Rena sambil membolak-balik pakaian bayi perempuan yang sedang dipegangnya.
Sepertinya dia mulai terbiasa. Bahkan, tanpa sadar bisa memanggilku seperti itu.
"Bagus. Pilih yang lain lagi. Pilih yang banyak," ucap Rey.
"Rena, aku ke toilet sebentar, ya? Sudah tidak tahan," bisik Rey.
Rena hanya mengangguk, dia seakan tak peduli dengan sekelilingnya karena terlalu sibuk memilih-milih.
Rey meninggalkan Rena begitu saja.
Saat Rena masih sibuk memilih-milih pakaian yang bagus untuk bayi mungilnya, tiba-tiba bayi kecil itu menangis kencang.
Karena sudah pernah menjaga dua keponakan twinsnya, Rena tak lagi bingung. Dia segera meraih botol susu yang berada dalam tasnya dan memberikan Valerie susu.
Dan benar saja, setelah bibir bayi itu tersenyum dengan susu, tangisan kencangnya langsung melemah dan hilang.
Saat dia sedang memberikan susu pada Valerie, ada seorang wanita yang menghampiri mereka. Memperhatikan Valerie dengan seksama.
"Wah, bayi ini cantik sekali," ucap wanita itu sembari tersenyum. Namun, matanya masih fokus ke arah Valerie yang masih menyusu.
"Ini anak kamu?" tanya wanita paruh baya itu.
"I-iya," jawab Rena.
"Cantik sekali. Mirip dengan anak perempuanku. Sangat mirip," ucapnya sambil mengusap pipi Valerie.
Dukung karya ini dengan berikan like, komentar gift, dan vote sebanyak-banyaknya.
Berikan juga rate 5 ya guys ❤️❤️❤️
__ADS_1
Terima kasih ❤️❤️❤️