Istri Miskin Presdir

Istri Miskin Presdir
DIGANTUNG


__ADS_3

"Kalau begitu katakan saja. Apa?" tanya Bara sambil melipat lengan kemejanya dan bersandar di sofa.


"Aku mau melamar, Rena!"


"Aku ingin melamar, Belle!"


ucap mereka secara bersamaan.


"Apa?" Bara sampai berdiri dari duduknya. Dia memelototi Daniel dan Rey secara bergantian. Nafasnya terasa sesak, kepalanya terasa pusing sampai dia harus memijatnya berulang kali.


"Apa kalian sudah gila, ha?" teriak Bara pada teman yang sebentar lagi akan menjadi adik iparnya, jika disetujui oleh Bara sih.


"Kami tidak gila, Bara. Kami hanya sedang melamar...."


"Melamar kedua adikku, kan?" selanya yang masih tak habis pikir dengan kenyataan yang baru saja diterimanya.


"Kalian jangan main-main!" Bara sampai mengancam kedua sahabatnya karena mengira kalau itu hanyalah sebuah lelucon yang mereka gunakan untuk melengkapi kelucuan.


"Apakah kau melihat tanda-tanda candaan di wajah kami?" kini Daniel angkat bicara. Dia serius, kenapa bisa dianggap becanda oleh Bara.


"Jangan terburu-buru, kalian pasti belum saling mengenal. Perlahan-lahan saja. Jangan buat adik-adikku syok karena kalian tiba-tiba melamar mereka," ucap Bara sambil memijit keningnya yang memang tiba-tiba pusing karena ulah kedua sahabatnya. Tapi kini suaranya sudah mulai merendah.


"Kami sudah saling mengenal, Bara. Bahkan, kami datang ke sini juga mereka sudah tahu. Iya kan, Rey?" Daniel menyenggol bahu Rey meminta persetujuan Rey agar ucapannya terdengar sama.


"Apa?" Bara kembali meninggikan suaranya. Sekarang, dia bukan hanya tak habis pikir karena kedua sahabatnya. Tapi, kedua adiknya juga membuatnya tak bisa mengatakan apa-apa.


"Kalian sudah lama saling mencintai? Tapi, kenapa aku tidak pernah melihat kedekatan mereka," ucapnya lirih.


Ternyata mereka berdua tamu penting Belle dan Rena. Jangankan, Bara. Aku pun tak pernah melihat mereka dekat. Sekarang dua-duanya tiba-tiba datang melamar, bukankah sangat menggegerkan dunia?


Embun sampai bermonolog sendiri dalam hatinya. Dia juga sama seperti Bara yang tak habis pikir dengan keduanya.


Dan Belle, bukankah dia melarikan diri dari Daniel? Lalu, kenapa sekarang Daniel melamarnya dia tidak membantah apapun. Bahkan, diam-diam tersenyum saat bertukar pandang dengan Daniel. Lalu, bagaimana dengan Kevin, pacarnya?


Banyak pertanyaan-pertanyaan yang bermunculan dalam benak Embun yang harus ditanyakan pada kedua anak itu nanti. Dia melihat Belle dan Rena bergantian dengan tatapan tajam, seolah sedang bertanya 'apa-apaan ini? kenapa tidak pernah mengatakan apapun padaku, dan tiba-tiba begini?' Namun, kedua adiknya itu kompak menunduk.


"Aku mandi dulu! Mau menyegarkan pikiran yang kalian buat beku," ucapnya yang langsung berdiri, tanpa memperdulikan tatapan mengiba kedua sahabatnya yang berharap Bara tetap berada di situ dan langsung menyetujui lamaran mereka. Agar pikiran mereka bisa langsung tenang, dan kegugupan di hati juga segera menghilang.

__ADS_1


"Kak Bara?" panggil Belle, tapi sama sekali tidak di pedulikan oleh Bara. Laki-laki itu terus melangkah dengan langkah besar, seolah ingin segera menghilang dari pandangan orang-orang yang telah membuat kepalanya panas.


"Kak Embun, bagaimana ini? Kak Bara tidak mau menoleh lagi." Belle sudah hampir menangis karena ulah Kakaknya.


"Aku rasa, ini bukan salah Bara. Tapi salah kalian yang begitu mendadak," jawabnya yang membenarkan sikap Suaminya dan memojokkan mereka. Embun mengalihkan perhatiannya pada dua laki-laki yang masih memilih diam. "Dan kalian, bukankah kalian sahabatnya? Kenapa Bara bisa tidak tahu kalau kalian menyukai adik-adiknya? Tiba-tiba langsung datang melamar seperti ini! Apakah setelah Bara menyetujuinya, kalian juga minta dinikahkan secara bersamaan lagi?" Embun juga memojokkan Daniel dan Rey. Ingin menilai, sampai di mana keseriusan mereka.


"Maaf, Kak Embun. Kami memang sangat menutupi perasaan kami. Kami kira, kami hanya butuh restu dari Kak Bara saja." jawab Belle yang mulai dihinggapi rasa bersalah.


"Kalian memang membutuhkan restu darinya. Tapi, bukan berarti harus menutupi segala sesuatunya juga." Embun beranjak meninggalkan mereka yang masih terpaku di sana.


Dia masuk ke kamarnya, terlihat Bara Yanga baru selesai mandi dan duduk di tepi ranjang. Seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Sayang...?" panggil Embun menyadarkan Bara dari lamunan.


"Sayang, aku ingin bicara," ucap Embun lagi.


"Katakan saja, Sayang," jawab Bara tanpa melihat Istrinya itu.


"Sayang, kenapa kamu tidak langsung menjawab mereka saja? Kenapa malah melarikan diri dan berdiam diri di sini?" tanya Embun baik-baik. Karena dia tahu, Bara pasti sedang mengemban beban sebagai seorang Kakak.


"Sayang!" Embun menggenggam tangan Bara dan meletakkannya di pahanya.


"Kalau itu yang mengganggu pikiranmu, semua itu tentu salah. Jika kamu ragu, kenapa tidak langsung bertanya pada mereka saja? Kenapa malah lari dan memikirkannya sendiri di sini? Kita tidak bisa berpikir seperti itu dan mengambil keputusan yang salah, Sayang. Bagaimana kalau mereka memang benar-benar mencintai? Kita tidak bisa menghalangi perasaan mereka hanya karena persepsi kita sendiri," Embun berusaha menjelaskan pendapatnya pada Bara agar laki-laki itu mau turun ke bawah, tidak mengecewakan dua Adiknya.


"Lebih baik, sekarang kita turun ke bawah dan menanyakan dengan jelas pada mereka," imbuhnya.


Bara terdiam sejenak. Mungkin dia sedang mencerna dengan baik apa yang barusan ia dengar dari perkataan Istrinya.


"Baiklah, ayo kita turun sekarang." ajaknya pada Embun.


"Begini?" Embun melihat bara dengan tatapan yang tak bisa diartikan.


"Apa yang salah?" tanya Bara seolah tak sadar diri


"Tidak memakai baju dan celana. Kau mau turun dan memberikan kesan berwibawa pada mereka? Kamu ingin mencoreng wajahmu sendiri?" Embun sampai terkekeh karena melihat Bara tidak sadar kalau dia hanya memakai handuk pendek.


Bara melihat ke bawah, dia menepuk keningnya kesal. Langsung berjalan ke arah almari untuk mengambil baju, tanpa mau mempedulikan Embun yang masih menertawai kebodohannya.

__ADS_1


"Sudah, ayo!" ajaknya.


"Hem, begini batu terlihat pantas jika mengeluarkan aura berwibawa. Jangan gugup, Sayang!" ucap Embun mengingatkan.


Bara tak menjawab apa-apa. Saat mereka turun, terlihat kedua adik dan kedua sahabatnya sedang sama-sama terdiam, seperti sedang memikirkan sesuatu. Saat melihat kedatangan Belle dan Rena, mereka begitu antusias.


"Kak...?" panggil Rena. Dan hanya dibalas senyuman oleh Embun.


Bara duduk, meninggalkan kesan seramnya pada kedua sahabatnya yang sudah menatapnya horor. Lutut mereka pun ikut gemetaran karena merasa gugup.


Sial! Baru kali ini aku melihat Bara seseram ini. Terlihat sangat berwibawa. Tidak bisakah dia memperlihatkan keadaan bersahabat sedikit? Wajahnya yang tanpa ekspresi itu, sangat menyeramkan!


umpat mereka dalam hati.


"Aku ingin bertanya pada kalian." Bara menatap Daniel dan Rey bersamaan, karena mereka memang duduk bersebelahan.


"Kapan kalian mulai mencintai Adikku?"


"Saat kau berencana menerobos kamar Embun saat itu. Pertama kali aku melihatnya, aku langsung jatuh hati padanya," jawaban Rey, membuat Bara malu. Karena mengingatkan kisah konyolnya.


"Aku mencintai Belle, sejak dia berumur tujuh tahun. Saat kau pertama kali membawanya ke rumahku," jawab Daniel.


"Apa? Kau menyukai adikku dari saat dia berumur tujuh tahun? Apakah kau pedofil?" sindir Bara yang merasa ngeri dengan Daniel.


"Jika kau mengira begitu, boleh juga," jawabnya asal.


"Pantas saja kau tidak pernah dekat dengan wanita manapun. aku kira kau homo, ternyata pedofil. Ckck."


"Jadi,, apakah kau menerima lamaran kami?" tanya mereka yang lagi-lagi secara bersamaan. Seperti sudah pernah latihan di rumah agar semuanya serba kompak.


Dukung karya ini dengan meninggalkan 👣 like, komentar, gift dan vote.


berikan rate 5 juga, agar author tambah semangat.


Dukung juga karya baru author SAHABATKU SUAMI MUHALLILKU.


Terima kasih untuk setiap dukungan kalian ❤️❤️❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2