
"Lalu, bagaimana dengan ibunya?" potong Rena tak sabaran.
"Maafkan kami, Ibunya tidak berhasil kami selamatkan," ucap sang Dokter penuh penyesalan.
"A-apa yang Anda katakan, Dok? Jangan bercanda denganku di saat seperti ini," sergah Rena sambil mencengkram erat lengan Dokter yang ikut terkejut dengan perbuatan Rena.
"Maaf, Nona. Kami tidak pernah bercanda dengan nyawa orang lain. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi, Tuhan berkehendak lain dan kami tidak bisa melakukan apa-apa," jawab sang Dokter.
"Rena, sudahlah. Jangan seperti ini, Rena!" Embun melepaskan cengkraman Rena yang untungnya segera melembut.
Embun menuntun Rena untuk kembali ke kursi tunggu, dia mengelus punggung Rena yang terlihat sangat terpukul.
Jelas saja dia sangat sedih, Amanda adalah orang terdekatnya baru-baru ini.
Bagai tersandung dan terperosok ke jurang terdalam, Rena ingin meraung sekuat mungkin. Namun percuma, orang yang diinginkannya tetap menjauh pergi darinya. Perlahan tapi pasti, jiwa pergi dari tubuh yang pernah ditinggalinya.
Membuat orang-orang terdekat menjadi sesak dan menitikkan banyak air mata. Tak sedikitpun memberikan kesempatan untuk menyunggingkan senyuman barang seinci pun.
Sekilas, bayang-bayang kebersamaan selama ini berkelebatan di dalam pikirannya. Sukma seakan melayang jauh tatkala bayang-bayang semu itu mulai memenuhi isi kepala. Diri seakan ingin berontak, merasa tak terima dengan takdir yang datang karena telah terpisahkan dengan orang terkasih.
Namun apa mau dikata, takdir semua berasal dari sang pencipta. Kita tak pernah kuasa untuk menolak. Meski mengeluh sekuat tenaga, takdir tetap menjalani garisnya.
Mengambil apa yang telah dikehendaki sang pencipta itu adalah tugasnya.
Rena menyugar rambutnya yang seakan mau rontok karena dia menariknya sangat kuat. Dan sebuah suara menyadarkannya dari lamunan.
"Keluarga Nona Amanda?" panggil sang suster. Ada bayi kecil di gendongannya.
Mendengar ada yang mencari keluarga Amanda, Rena langsung berdiri dari duduknya.
"Saya, Sus." Rena berjalan ke arah Suster dan melihat bayi yang matanya masih terpejam itu. Terlihat sangat polos dan lucu. Namun sayang, takdir perih sedang menimpanya.
"Nona, ini anak Nyonya Amanda berjenis kelamin perempuan," ucap sang Suster setelah bayi mungil itu berpindah tangan.
"Terima kasih, Sus!" ucap Rena.
Rena menimang-nimang bayi mungil itu dengan sepenuh hatinya. Dia menatap lekat-lekat bayi yang sangat mirip dengan wajah Ibunya itu.
Apakah kelahiranmu menjadi pengganti Ibumu, Nak? Setelah Ibumu berpulang, mungkinkah kamu yang menggantikannya di sisi kami? Jika memang itu benar, jadilah anakku dan tumbuhlah dengan baik. Aku akan merawatmu dengan sebaik-baiknya.
"Sus, bisakah kami melihat Amanda untuk yang terakhir kalinya?" tanya Rena.
__ADS_1
"Boleh, Nona. Silahkan masuk. Tapi masuknya bergantian, ya?"
Rena hanya mengangguk. Yang pertama kali masuk tentulah Rena dengan bayi mungil itu.
Rena melihat wajah Amanda yang terlihat tenang dalam tidur panjangnya. Dengan sedikit senyuman menghiasi wajah pucatnya. Seperti merasa tenang telah menitipkan buah hati yang belum sempat tersentuh oleh raganya sekalipun kepada Rena, orang yang sangat ia percayai.
"Nak, ini Ibumu. Dia telah tertidur panjang. Kamu jangan marah padanya karena telah meninggalkan kamu, ya? Berterima kasihlah padanya karena telah melahirkan kamu sesehat dan secantik ini ke dunia," ucap Rena berbisik seraya membagi perhatiannya antara Amanda dan bayi mungil itu.
"Perhatikan wajah Ibumu yang sepuasmu, agar kamu bisa selalu mengenang wajah malaikatmu di hatimu nanti. Tataplah ia, karena setelah ini kamu tidak akan pernah bisa melihatnya lagi secara langsung, Nak. Tapi kamu tenang saja, aku telah diberikan mandat oleh Ibumu untuk menjagamu sepenuh hati. Aku pasti akan menyayangimu sepenuh jiwaku," imbuhnya. Sambil berucap, dia juga menyelipkan senyuman untuk menghalau air matanya yang siap mengalir deras.
Kini, Rena mengalihkan pusat perhatiannya pada Amanda. "Amanda, kamu tidak perlu khawatir. Bayi mungil ini akan aku rawat sepenuh hati." Rena mengatur nafasnya sebelum kembali berucap, "Jadi, jangan lagi mencemaskan apapun yang menyangkut dunia," tangis Rena pecah saat mengucapkan kata-kata terakhirnya.
Dia langsung berlalu keluar, dengan sejuta air mata yang siap mengalir kapan saja.
"Rena, di mana Amanda?" tanya Rey dan Ibunya yang baru saja tiba.
"Di dalam, Bu." Rena menunjuk ke arah ruangan yang baru saja ia masuki.
Ibunya Rey langsung masuk ke dalam.
"Rena, ini anaknya Amanda?" tanya Rey sembari lekat memperhatikan wajah bayi mungil yang masih tertidur.
Rena hanya mengangguk sebagai jawaban, tak lagi sanggup ia untuk bersuara.
Tumpahlah air mata Rena, membasahi baju Rey. Namun tak digubris oleh keduanya. Sekarang, yang mereka pedulikan hanyalah menumpahkan rasa sedih.
Tak lama, sebuah Brankar di dorong keluar. Di atasnya ada seseorang yang seluruh tubuhnya telah tertutup dengan kain. Dan mereka semua meyakini itu adalah Amanda.
Rena, Rey dan Embun hanya mengamati Brankar yang mulai menjauh dari pandangan mata mereka.
"Nak, setelah ini kita tidak akan pernah lagi bertemu dengan Ibumu." Rena kembali berbisik pada bayi mungil yang masih setia dengan tidurnya.
"Rena, jadi kamu kau bagaimana dengan bayi ini?" tanya Rey.
"Aku akan merawatnya, Om. Aku akan menjaganya seperti anakku sendiri," jawabnya sungguh-sungguh. "Kamu tidak keberatan, kan?" tanyanya pada Rey meminta pendapat. Karena, kelak Rey lah yang akan menjadi suaminya.
"Aku sama sekali tidak keberatan. Kita bisa menjaga dan merawatnya seperti anak kita sendiri," sahut Rey dengan senyum termanis. Menenangkan perasaan Rena.
"Ibu juga akan merawatnya, memperlakukannya seperti cucu Ibu sendiri. Membantu kalian menjaganya. Jadi, kalian tidak perlu merasa khawatir," sahut Ibu Rey yang tiba-tiba datang memeluk Rena.
"Kamu ingin menamai anak ini apa?" tanya Rey.
__ADS_1
"Amanda Valerie!" jawab Rena, dia seperti sudah menyiapkan nama itu dari jauh-jauh hari.
"Amanda untuk mengenang Ibunya yang telah meninggalkan kita, namun tetap terasa dekat di hati. Dan Valerie, artinya kekuatan dan kesehatan," ucapnya menjelaskan.
Mereka semua mengangguk setuju, bayi mungil berjenis kelamin perempuan itu sekarang telah diberi nama Amanda Valerie.
...*****...
Setelah acara prosesi pemakaman selesai, Rena yang sudah beberapa bulan ini tidak bertemu dengan Rey karena tidak diizinkan oleh Mika, merasa senang karena akhirnya dapat bertemu.
Di dalam mobil dalam perjalanan pulang, bibirnya terus menerus melengkung. Membentuk senyuman yang terlihat terus berkembang.
"Kamu kenapa, sih, Rena?" tanya Rey heran. Dia bukan tidak tahu kalau Rena sedari tadi terus melirik ke arahnya sambil tersenyum tak jelas.
"Kenapa?" Rena malah balik tanya dengan wajah datar. Senyumannya yang tadi terus berkembang entah lenyap ke mana.
Rey heran, kembali melirik wanita aneh di sampingnya yang sebentar lagi akan menjadi istrinya itu.
"Tadi senyum-senyum sendiri. Sekarang cemberut," sindir Rey.
Rena tak mengindahkan perkataan Rey. Dia sibuk bermain dan mengajak bicara Valerie yang sedang digendongnya. Padahal bayi itu masih terlelap dengan sangat nyenyak.
Merasa tak dipedulikannya, Rey menghela nafas kasar tak beraturan.
"Kamu kenapa, sih, Rena?" tanya Rey lagi.
"Om, kamu tidak merindukan aku? Sudah lebih dari tiga bulan kita tidak bertemu. Tapi, saat bertemu denganku kamu terlihat biasa saja," cerocos Rena kesal.
Pengakuan Rena membuat Rey tersenyum. Dia tidak menyangka, Rena mau berterus terang tentang perasaan rindunya.
"Tentu saja aku tidak--"
"Tidak rindu? Kan, hanya aku yang merasa rindu padamu. Tapi kamu tidak sama sekali!" sungut Rena.
"Kenapa memotong pembicaraanku, Rena?"
"Tentu saja aku merindukanmu. Jika bukan rindu padamu, lalu siapa lagi yang harus aku rindukan?" balas Rey. Entah pengakuan atau hanya sekedar gombalan pujian untuk menenangkan, namun Rena langsung tersenyum mendengar kata-kata itu.
Dukung karya ini dengan berikan like, komentar, gift dan vote sebanyak-banyaknya.
Berikan juga rate 5 ya guys ❤️❤️❤️
__ADS_1
Terima kasih atas dukungan dari kalian semua. Dukungan kalian sangat berharga untuk Author ❤️❤️❤️❤️