
"Aku sedang tidak menginginkan itu semua. Yang aku inginkan hanya kamu." ucap Audrey sambil memegang bibir Bara.
"Maksudmu?" tanya Bara tak mengerti.
"Aku ingin kamu menghilangkan rasa kesalku dengan tubuhmu, Sayang. Aku sedang menginginkannya. Bisa, kan?" Audrey berbisik di telinga Bara dengan lembut.
Setelah mengatakan itu, dia menggigit kecil telinga Bara. Kemudian, dia beralih dan menciu* bibir Bara, dia ********** hingga mengecap. Tapi berbeda dengan yang dirasakan Bara, pria itu hanya diam saja, tidak merespon sedikitpun dengan apa yang sedang dilakukan Audrey.
Karena merasa Bara tidak bereaksi, Audrey mulai menggerayangi tubuh Bara, dia sudah terlihat seperti pelacu* yang kehausan akan sentuhan. Dituntunnya tangan Bara untuk memegangi sisi sensitifnya juga.
Bara ingin mencoba untuk menerima sentuhan-sentuhan yang diberikan Audrey, namun reaksi tubuhnya berkata lain. Saat Bara masih diam saja, Audrey tersenyum dalam hatinya.
Tidak apa-apa dia masih kaku, yang terpenting aku harus berhasil membuatnya menjadi milikku malam ini. Lama-lama dia juga akan terbiasa, batinnya.
Namun, sedetik kemudian, Bara malah menolak pelan tubuh Audrey yang tadinya lengket dengan tubuhnya.
"Bara, apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu menolakku?" tanya Audrey kesal.
"Audrey, jangan seperti ini." ucap Bara.
"Ah maaf, kamu pasti terkejut karena aku terlalu agresif, ya? Mungkin kamu mau, kamu yang memimpin permainan kita, begitu, kan?" tanyanya lalu merentangkan tangannya seolah akan menerima pelukan.
"Tidak, Audrey. Dengarkan aku, aku tidak bisa melakukan hal itu denganmu." ucap Bara yakin.
"Tapi kenapa, Bara? Kenapa kamu tidak bisa melakukannya denganku, tapi bisa sangat sering melakukannya dengan istrimu! Kenapa, Bara?" pekiknya kesal.
Aku juga tidak tahu, entah kenapa tubuhku tidak bereaksi dengan Audrey. Bahkan, tubuhku menolaknya. Tapi, jika dengan wanita itu, aku selalu menginginkannya.
"Bukan seperti itu, Audrey. Mungkin aku butuh waktu agar kita bisa melakukan hal yang lebih intim." Bara masih mencoba untuk menjelaskan.
"Sampai kapan? Sampai kapan, Bara? Kita sudah bersama selama bertahun-tahun, tapi kau tidak pernah menyentuhku sekalipun. Bahkan, aku yang selalu berinisiatif untuk menciu*mu. Sekarang, aku ragu kalau kau benar-benar mencintaiku." tandas Audrey yang matanya sudah memerah karena ingin menangis.
"Aku mencintaimu, Sayang. Aku mencintaimu. Jangan ragukan cintaku ini." ucap Bara sambil meraih tangan Audrey.
"Kalau kau memang benar-benar mencintaiku, coba buktikan sekarang. Ayo, buktikan." ucap Audrey sambil membuka kancing baju yang ia kenakan.
__ADS_1
"Maafkan aku. Tapi, aku belum bisa untuk berbuat sejauh ini denganmu." Bara menutup kembali kancing-kancing baju wanita itu.
"Katamu, kau mencintaiku. Tapi, kenapa tidak bisa berhubungan denganku? Kau mengatakan tidak mencintai istrimu itu, tapi aku selalu melihat tanda cinta kalian di lehernya. Kau munafik, Bara! Aku membencimu." teriaknya kesal sambil menangis.
"Maafkan aku, Audrey. Tenangkan lah dirimu terlebih dahulu. Hubungi aku jika kau sudah merasa lebih baik." ucapnya mengecup kening wanita yang sedang mengamuk itu kemudian berlalu pergi.
Audrey semakin memanas melihat Bara yang memilih pergi dari pada melakukan yang dia inginkan, atau sekedar membujuknya agar amarahnya mereda.
"Akkhhh!" teriaknya sambil menggeser dan membanting barang-barang yang berada di sekitarnya
"Ini semua karena kau, Embun! Tidak ada yang boleh merebut pria mainanku. Lihat saja, aku akan menghancurkanmu." ucapnya.
Bara pulang ke rumahnya dengan perasaan kacau. Dia berulang kali meremas kemudinya karena rasa kesal yang sedang bersarang di hatinya.
"Kenapa harus seperti ini. Aku sudah mengecewakan, Audrey. Apakah ada yang salah dengan tubuhku, kenapa sudah bertahun-tahun tubuhku tidak bereaksi dengannya. Tapi, malah selalu seperti gigolo jika sedang berhasil dengan wanita itu." ucapnya kesal mengumpat tubuhnya sendiri.
Setibanya dia di rumah, rumahnya terasa sepi. Tidak tampak adiknya dan Embun, hanya nampak beberapa orang pembantu yang berlalu-lalang yang sedang mengerjakan pekerjaan rumah
"Dimana, Belle?" tanyanya pada security rumahnya yang kebetulan lewat dihadapannya
"Kemana?"
"Saya tidak tahu, Tuan. Mereka tidak berpesan apapun." jawabnya lagi
Bara langsung pergi dan naik ke lantai atas tempat dimana kamarnya berada, dia mencoba menghubungi Belle. Namun sudah beberapa kali dia menghubunginya, tidak ada jawaban sama sekali dari adiknya itu
*****
Disebuah toko roti dan kue yang baru saja dibuka, sudah banyak sekali orang yang mengantri yang ingin mencicipi banyaknya varian rasa dari toko roti tersebut. Dan juga, sudah ada seutas pita berwarna merah yang siap dipotong sebagai tanda bahwa toko itu sudah resmi dibuka.
"Silahkan, untuk para pasangan atau keluarga, bisa langsung masuk dan mencicipi roti dan kue yang sudah kami sediakan. Roti dan kue disini kami produksi sendiri, dan untuk hari ini semua gratis. Tapi, mulai besok, kita akan buka seperti biasanya, ya." ucap Belle memakai pengeras suara.
Para orang-orang yang sedari tadi sudah mengantri mulai menyerbu masuk ke dalam. Walaupun mereka berdesakan, tapi mereka tetap menikmati aneka ragam roti yang sudah tersedia
"Enak, ya. Bisa ni kita jadikan sebagai langganan." ucap seseorang.
__ADS_1
"Ya, benar. Rasanya sangat enak. Kebetulan aku sedang mencari toko langganan untuk bisnis dalam jumlah besar. Sepertinya, toko ini sangat cocok." sahut orang yang lain.
"Toko ini sangat rekomendasi sekali." bisikan-bisikan mereka selalu terdengar. Pujian-pujian demi pujian mereka lontarkan dengan senang hati.
Embun dan Belle tersenyum mendengar ucapan dari orang-orang yang tampak senang dengan rasa dari roti dan kue yang mereka makan. Mereka juga ikut senang karena sepertinya kesuksesan sudah berdiri tegak di depan mata
"Brandon, kamu tidak mau roti atau kuenya?" tanya Embun
"Tidak. Aku masih kenyang. Tapi, aku ingin membawa pulang beberapa." jawabnya yang masih fokus dengan gamenya
"Baiklah, kamu pilihkan saja yang mana yang kamu ingin. Kakak akan membantu bungkus."
"Terserah yang mana saja, sepertinya semua terlihat mengunggah selera. Pilih saja secara acak." ucapnya yang masih fokus dengan gamenya
Embun hanya berdehem mengiyakan, dia tersenyum dan merasa senang, karena setidaknya, Brandon sudah mau berbicara banyak dengannya walau masih agak ketus
Embun mulai memilihkan beberapa varian rasa roti untuk adiknya itu.
Setelah cahaya matahari mulai tampak menjadi jingga, yang artinya matahari sudah kembali masuk ke peraduannya, orang-orang yang berkunjung juga kian menyurut. Mereka juga menutup toko dan memutuskan untuk kembali ke rumah
"Kak, kamu sudah menghubungi Rena untuk membantumu esok?" tanya Belle
"Belum, kita masih baru buka. Takut tidak seramai tadi. Tetapi, jika besok seramai tadi, akibatkan segera menghubunginya." jawab Embun
"Baik. Tapi, kamu harus yakin kalau toko kita akan sangat ramai, Kak. Pasti akan sangat banyak pemintanya. Ramainya toko pasti sesuai dengan keyakinanmu juga. Kalau kamu yakin besok akan ramai, maka besok akan ramai. Percayalah." jelas Belle panjang lebar.
Setelah mereka sampai di rumah, hari sudah hampir malam. Embun langsung masuk ke kamarnya berniat menbersihkan dirinya. Tapi, dia melihat Bara yang menatapnya berang.
"Dari mana kamu? Membawa adik-adikku, karena aku tidak menafkahimu, kamu malah mencari pria lain diluar untuk mencukupi kebutuhanmu dan keluargamu itu?" tanya Bara langsung menuding.
"Dengarkan dulu aku ingin membantah." ucap Embun jengah.
"Membantah katamu?" ujar Bara makin berang.
"Maksudku menjelaskan." jawab Embun sambil tersenyum menampakkan deretan giginya.
__ADS_1