
"Jadi, apakah kau menerima lamaran kami?" tanya mereka yang lagi-lagi secara bersamaan. Seperti sudah pernah latihan di rumah agar semuanya serba kompak.
Bara diam, dia menatap Rey dan Daniel dengan tatapan mengintimidasi. Hati dan pikirannya sedang berperang. Hatinya berkata untuk segera menerima lamaran mereka. Tapi logikanya, mengatakan untuk menolak, karena Rey dan Daniel hanya melamar untuk mempermainkan Rena dan Belle.
"Rey, aku takut Rena akan tersakiti dengan wanita-wanita tidak jelasmu itu. Apakah kau bisa membuktikan, kalau mereka tidak akan menyakiti Rena sama sekali?" Bara telah berhasil mengeluarkan uneg-unegnya. Embun pun begitu terharu karena ternyata Bara sangat memikirkan perasaan Adiknya.
"Bara, aku tahu, sebagai seorang Kakak kamu sangat mengkhawatirkan masa depan mereka. Tapi, aku sudah berjanji pada diriku sendiri, aku akan berubah. Merubah semua kebiasaan burukku, agar aku pantas bersama Rena," jawab Rey mantap.
"Rena, apakah kau dipaksa agar mau menerima lamaran ini?" tanya Bara.
Rena menggeleng pelan, "Tidak, Kak. Aku sama sekali tidak dipaksa olehnya." jawab Rena sambil menatap Rey dengan tersenyum.
Bara melihat itu semua. Namun, dia tidak menunjukkan ekspresi apapun, gak ingin membuat Rey dan Daniel merasa besar kepala.
"Belle, bukannya kamu sudah punya pacar? Kalau kau menikah dengannya, bagaimana dengan pacarmu?" tanya Bara lagi. Sebagai seorang Kakak, sudah tugasnya memastikan kalau semua berjalan dalam kendali dan baik-baik saja.
"Kami sudah putus, Kak. Dari awal, aku memang hanya mencintai Kak Daniel seorang." Belle pun sama, dia mengatakan cinta, sambil melihat ke arah Daniel yang juga sedang menatapnya.
"Kalau begitu, menikahlah kalian," ucap Bara sambil melihat Daniel, Belle, Rey dan Rena bergantian.
"Kamu menyetujuinya?" tanya mereka serempak membuat Bara bingung mau mengangguk ke arah mana.
"Jadi, kalian mau menikah secara bersamaan juga?" tanya Embun menggoda mereka semua.
"Hem, kurasa tidak. Nanti, siapa yang lebih siap, boleh menikah duluan. Jawaban Daniel disetujui oleh semua orang di sana. Belle langsung merapat ke samping Daniel. Bara melihat adiknya yang seperti cacing tersiram air garam, langsung berdehem sekuat mungkin.
"Hem....!" dehemannya sangat panjang dan kuat. Untung Hilsa dari Hansel sudah pindah ke kamar.
"Jingga, bukankah ini hanya lamaran saja? Tapi, adikku itu kenapa sudah seperti pengantin baru saja?" Dia berbicara dengan Embun, namun tertuju untuk Belle. Sungguh aneh caramu, Bara.
Sebelum Embun menyahut, Belle sudah kembali ke tempatnya dengan mendengus kesal karena ulah Kakaknya. Tapi, dia tetap menyahuti.
"Ckck, seperti tidak pernah muda saja," umpatnya kesal.
"Sudah, ayo kita makan. Makanannya sudah dipanaskan. Jangan sampai harus kembali dipanaskan!" Embun berdiri dan menuju meja makan, diikuti yang lainnya.
Kali ini, mereka makan dalam diam. Hanya terdengar dentingan sendok yang beradu dengan piring. Dan, ada juga yang saling bertukar pandang dan saling mengirim sinyal cinta.
Setelah selesai makan, mereka berbincang di ruang keluarga. Tidak ada yang membahas masalah pekerjaan, semuanya bercerita tentang diri mereka sendiri dan pengalaman-pengalaman pribadi mereka.
☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️
Pagi datang menyingsing, sinar matahari menerobos masuk. Cahayanya juga berkilau kuat, menyilaukan orang-orang yang sedang beraktivitas. Hari ini, Belle juga sudah membulatkan tekadnya untuk pergi ke kampus, menguatkan fisiknya untuk melakukan serangan balik kepada mantan pacarnya yang belum resmi putus.
"Untung saja Kak Bara belum mengurus kepindahanku. Kalau tidak semuanya akan runyam dan susah untuk ku kendalikan," gerutunya sambil mengaplikasikan mascara ke bulu matanya yang memang sudah lentik.
"Belle, Daniel sudah menunggu di bawah! Cepat keluar!" teriak Bara di depan pintu kamar adiknya.
"Iya!" jawabnya dengan berteriak juga.
__ADS_1
"Kenapa Kak Bara bawel sekali sih pagi ini. Seperti malas melihat Kak Daniel saja!" gumamnya sambil berjalan dan keluar.
"Ayo, Kak. Kita pergi sekarang."
"Kamu tidak sarapan dulu, Belle?" tanya Embun sambil melayani suaminya.
"Tidak, Kak. Kami sarapan di luar saja nanti." setelah berpamitan, Belle dan Daniel menuju kampus.
"Mau sarapan di mana, Sayang?" tanya Belle sambil bergelayut manja di lengan Daniel yang sedang mengemudi.
Daniel tersenyum mendengar panggilannya yang sudah berubah. Dia juga senang dengan sikap manja Belle padanya. Daniel mengelus kepala Belle dengan sebelah tangannya.
"Di mana saja juga boleh," sahut Daniel tanpa menambahkan panggilan sayang untuk Belle, membuat wanita itu memberenggut kesal dan melepaskan pelukannya.
"Kenapa dilepas?" tanya Daniel sambil menahan tawa.
"Kenapa tidak memanggilku sama seperti aku memanggilmu?" tanyanya sembari mengerucutkan bibirnya manja.
"Aku tidak mengerti dengan yang kamu katakan," kilah Daniel mengelak.
"Panggil aku seperti aku menyebutmu tadi, cepat!"
"Panggilan apa? Aku tidak tahu."
"Sayang!" pekik Belle.
"Kau sangat menyebalkan, Kak. Aku tidak mau memanggilmu dengan sebutan aneh itu lagi," ketusnya.
Daniel memberhentikan mobilnya di depan sebuah restaurant favorit Belle. Mereka langsung memesan semua makanan kesukaan Belle.
"Ini, untukmu!" Daniel menyodorkan sebuah kotak berwarna putih ke hadapan Belle yang sedang memainkan gadgetnya.
"Apa ini?"
"Hadiah dariku untukmu," jawab Daniel.
Belle mengambil kotak itu dan melihat isinya. Dia langsung tersenyum cerah saat melihat isi dari kotak putih yang diberikan oleh Daniel.
"Itu untukmu, agar kau bisa melihat jam. Jadi, tidak membuatku menunggu selama tadi," tutur Daniel membuat Belle kembali kesal.
"Jadi, Kakak tidak mau menungguku? Aku berdandan juga untukmu, agar dilihat olehmu dan agar kau tidak malu membawaku yang cantik ini." Belle mengibaskan rambutnya yang kebetulan hari ini ia gerai.
"Bukan begitu maksudku, Belle. Semoga kamu menyukainya," ucap Daniel.
"Tidak bisakah kamu memberikan sesuatu dengan cara yang lebih romantis? Tapi, aku sangat suka. Terima kasih, Kak." Dia memang terlihat sangat senang.
"Akan ku coba," jawab Daniel.
Belle melepaskan jam miliknya, dan langsung memakai jam yang baru diberikan Daniel untuknya. "Bagus kan, Kak?" Dia menunjukkan pergelangan tangannya.
__ADS_1
"Lumayan." Jawaban Daniel membuat Belle berdecak. Memang begitulah jika berhubungan dengan orang yang irit bicara.
*****
Sampai di kampus, saat masih di dalam mobil pun, Belle sudah dapat melihat keberadaan Kevin dan teman-temannya.
"Sini! Aku ingin melakukan hal yang sama." Daniel menarik tengkuk Belle dan menyesap bibir mungil itu perlahan.
"Sudah, Kak. Nanti aku terlambat." Belle mengambil tasnya dan langsung berlari keluar.
"Kevin!" panggil Belle seperti biasa, seperti tak terjadi apa-apa.
Daniel melihat semua tingkah Belle. Belle berlari dan duduk di tengah-tengah antara Kevin dan Nita, pacarnya.
"Nita, tidak apa-apa, kan? Aku menggeser posisimu?" tanya Belle dengan wajah tak enak.
"Hehe, tidak apa-apa, Belle." jawab Nita kikuk.
"Iya, aku sangat merindukan pacarku. Jadi, geserlah sedikit, sangat sempit." Belle langsung masuk dan duduk diantara mereka tanpa sungkan.
Dia tahu, Nita melihatnya dengan tangan mengepal dan tatapan membunuh. Namun, dia tidak peduli, dia masih harus kembali berakting dengan baik.
"Belle, kenapa kamu berada di sini?" tanya Kevin gugup.
"Aku kemarin hanya becanda denganmu. Mana mungkin aku pindah dan meninggalkan pacarku di sini. Nanti, kalau pacarku diganggu wanita lain, bagaimana?" Belle memasang wajah sedih, sengaja berkata dengan suara keras. Ingin memperkenalkan pada dunia, kalau Kevin adalah miliknya.
"Kenapa tidak mengabariku? Harusnya, aku bisa menjemputmu di bandara," seru Kevin sambil menggenggam tangan Belle.
Cih, totalitas sekali aktingmu, pria sialan! Tenang saja, aku juga akan melakukan hal yang sama.
"Kevin, coba lihat ke sana. Di mading banyak sekali orang berkumpul," seru teman Kevin.
"Ayo kita lihat!" ajak temannya.
"Tidak. Kalian saja yang pergi," tolaknya.
"Kevin, kita juga harus lihat. Bagaimana kalau berita penting? Ayo kita lihat sekarang." Belle menarik tangan Kevin agar mau melihat Mading, hadiah awal yang telah ia persiapkan.
Sampainya di depan Mading, mata Kevin dan Nita terbelalak kaget. Wajah mereka sama-sama terkejut. Wajah Nita berubah padam dan panik. Namun berbeda dengan Belle, wajahnya terlihat tersenyum puas dan menyeringai.
Tapi, sejurus kemudian, dia langsung merubah wajahnya menjadi terkejut dan bersedih.
"Nita, ini ka-kamu, kan?" ucapnya dengan suara lantang sambil menunjuk ke arah Nita. Membuat seisi kampus melihat ke arah Nita.
Dukung karya ini dengan like, komentar, gift dan vote. Berikan juga rate 5 agar novel ini terus berkembang ya guys, dan author juga tambah semangat🤎💚🤍
Dukung juga karya baru author, SAHABATKU SUAMIKU MUHALLILKU. 🙏
Terima kasih untuk setiap dukungan yang kalian berikan ❤️❤️❤️
__ADS_1