
"Cepat buka!" titahnya lagi.
"Tidak!" Belle memeluk dirinya sendiri agar Daniel tidak dapat membuka Bathrobenya.
Tanpa basa-basi, Daniel langsung menarik Bathrobe yang dikenakan Belle sampai terlepas. Daniel langsung tercengang melihat Belle yang menggunakan lingerie berwarna hitam, yang warnanya sangat kontras dengan kulit putihnya.
Glek!
Daniel menelan ludahnya yang sempat tercekat di tenggorokannya. Dalam hatinya, dia mengutuk dirinya sendiri karena sudah terlalu agresif, sampai membuka Bathrobe Belle.
Sial! Apa yang kau lakukan Daniel! Sekarang, apa kau bisa menenangkan yang sedang mengajak bertempur?
"Kak Daniel?" panggil Belle yang juga baru tersadar. Dia merasa risih karena Daniel menatap tubuhnya tanpa berkedip.
Tanpa aba-aba, Daniel mengukung tubuh Belle, Daniel mendorong tubuh yang lebih kecil darinya itu ke ranjang. Dia menindih tubuh Belle dan berkali-kali menyesap bibir ranum itu.
Belle terkejut bukan main dengan hal gila yang dilakukan Daniel. Dia berusaha mendorong tubuh kekar itu sekuat tenaga. Tapi sayang, tubuh itu tidak bergerak sedikitpun.
Daniel semakin menjadi-jadi. Dia semakin liar, seolah sedang melampiaskan hasr*t tertundanya. Tangan Belle yang sedang menolaknya, seperti tidak menimbulkan efek apapun pada pria itu. Yang ada, hasratnya semakin naik karena saat menolak tubuhnya, tangan Belle mengenai area sensitifnya, yaitu put*Ng dadanya.
Dengan kasar dan tidak sabaran, Daniel mengangkat lingerie milik Belle, melepaskannya dan membuangnya ke sembarang tempat. Kabut ga*rah semakin menguasainya. Membuatnya semakin gila dan lepas kendali.
Dia menatap tubuh polos Belle, yang membuatnya tidak bisa mengontrol diri. Bukit merah muda yang sangat menggodanya itu, benar-benar sangat menghilangkan akal sehatnya. Tubuh Belle sudah polos, hanya G-string yang masih melekat di tubuhnya.
Dia mulai menyesap bukit kembar yang ujungnya berwarna merah muda itu dengan rakus. Tidak peduli dengan penolakan-penolakan Belle yang memukulinya, mencakar tubuhnya dan berteriak histeris.
"Aw, Kak Daniel sakit! Lepaskan aku!" teriak Belle keras sambil menangis.
Apakah ini akhir dari semuanya? Aku tidak mau melakukan hal ini sebelum menikah. Tapi, apa aku harus mengingkari janjiku sendiri.
Puas bermain di bagian atas, kini Daniel memusatkan pandangannya ke bagian inti Belle yang masih tertutup dengan kain tipis. Mengerti tatapan Daniel, Belle menggeleng kuat. Kembali memukul dada bidang pria itu membabi buta.
"Tidak-tidak. Jangan lakukan itu, atau aku akan membencimu, Kak!" teriak Belle.
Namun, seperti tuli, tidak mendengarkan teriakan-teriakan histeris Belle, yang malahan semakin membangkitkan ga"rah prianya. Dia mulai memegang G-string itu dan hendak menariknya.
__ADS_1
Tapi, sebelum Daniel berhasil menarik kain tipis itu, tiba-tiba...
PLAK!
Belle menampar Daniel sekuat tenaga. Membuat laki-laki yang akal sehatnya sudah terbang jauh itu, kembali tersadar. Dia terkejut, melihat wajah Belle telah dibanjiri air mata.
Kemudian, dia beralih ke arah tubuh Belle yang sudah polos akibat ulahnya. Rasa perih akibat dari cakaran tajam kuku Belle, barulah terasa perih.
Melihat wanita yang sangat dicintainya bersimbah air mata karena dirinya, membuat hatinya terluka.
Tuhan, apa yang telah kulakukan! Aku hampir saja....
"Kak, kamu...." Belle tak melanjutkan kata-katanya.
Daniel bangkit dari atas tubuh Belle, menarik selimut guna menutupi tubuh polos wanitanya. Tanpa mengatakan apa-apa lagi, dia langsung keluar dari kamar itu. Meninggalkan Belle yang masih linglung dan menangis.
BRAK!
Daniel membanting pintu kamar dengan sangat keras. Membuat tangis Belle yang tadinya terisak, kini tangisannya pecah.
"Kenapa, kenapa dia pergi tanpa mengatakan apa-apa? Apakah aku yang bersalah di sini? Apakah dia marah?" banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang bermunculan satu persatu di kepala Belle. Namun, dia tak kunjung mendapatkan jawaban pasti yang bisa membuatnya berhenti menangis.
Lelah menangis, Belle akhirnya tertidur dengan tubuh polos yang masih tertutup selimut tebalnya.
Di luar, Daniel berjalan dengan kepala yang kalut. Pikirannya tumbuh berbagai macam pikiran-pikiran aneh. Hingga tanpa sadar, dia sudah berjalan sangat jauh dari area villa.
Daniel berhenti di bibir pantai, ombak malam yang bergelung manja mengenai kakinya. Air laut yang terasa dingin itu tak membuat Daniel berdiri menjauh dari sana. Malahan, dia menjatuhkan tubuhnya dan duduk di tepi pantai, saat air itu mulai menerpa lagi, baju yang dikenakannya basah.
"Sial! Apa yang sudah aku lakukan!" Daniel mengumpat dirinya sendiri sambil meninju angin yang tak bersalah. Pikirannya benar-benar kacau saat ini.
"Bagaimana kalau dia marah, membenciku karena tindakan setanku barusan? Aku hampir saja menghancurkannya!" Daniel kembali berbicara sendiri seperti orang gila.
"Tuhan ... apa yang harus aku lakukan. Bagaimana kalau dia memutuskan hubungan kami? Bagaimana kalau dia pergi menjauh dariku, dan bagaimana hidupku kedepannya tanpa dia," gerutunya. Sangat banyak spekulasi yang bermunculan tanpa arah di kepalanya.
Daniel duduk melamun di pinggir pantai. Angin dingin yang terus menerpanya, tak dipedulikan sedikitpun. Dia masih saja sibuk dengan berbagai macam pemikirannya sendiri. Sampai tanpa sadar, dia telah memeluk dirinya sendiri.
__ADS_1
Daniel tersadar, karena dia sangat takut dengan kemarahan Belle, dia melarikan diri dan meninggalkan Belle yang sedang menangis begitu saja. Padahal, itu semua juga karena ulahnya.
"Kau terlalu pengecut Daniel. Harusnya kau tak menambah luka di hatinya!" entah sudah berapa ratus kali dia mengumpat dirinya sendiri.
Angin semakin dingin, air pantai juga semakin naik. Baju yang dikenakan Daniel semakin basah, membuat tubuhnya pun semakin menggigil.
Daniel melihat jam yang melekat di lengannya. Ternyata hampir tengah malam, dia memutuskan kembali ke kamar. Namun, perasaan takut itu kembali menghinggapinya.
"Bagaimana kalau saat bertemu nanti, dia malah akan memutuskan hubungan kami?" gumamnya ragu.
"Tapi, kalau aku tidak pulang. Tidak mungkin aku tidur di sini. Terlebih lagi, bagaimana mana kalau ada laki-laki yang diam-diam masuk ke kamarnya?
Pikiran takut dan pikiran-pikiran negatif sedang berperang jadi satu. Pikiran negatif menang, dengan langkah gontai karena perasaan takut masih menghantuinya, Daniel memutuskan untuk kembali ke kamarnya.
Sepanjang jalan, banyak pasang mata yang melihatnya. Meskipun waktu sudah larut, tapi di tempat-tempat tertentu, masih banyak orang yang berkumpul. Ada yang bersama keluarganya, atau dengan teman-teman serta pacarnya.
Daniel tak menghiraukan tatapan dari mereka. Dia terus berjalan. Sampai tiba di depan pintu, tangannya sudah menggenggam handle pintu, tapi masih ragu untuk membukanya.
Membulatkan tekad untuk memberanikan diri, Daniel membuka pintu dan masuk. Kamarnya terlihat senyap, ruangan pun belum menggelap.
Daniel menerawang ke setiap sudut ruangan, namun dia mendapati Belle sudah tertidur. Dengan sangat perlahan-lahan Daniel melangkah masuk ke dalam, dia berjalan mengendap-endap persis seperti pencuri.
"Jangan sampai dia terbangun, aku masih belum siap menghadapi semuanya. Aku juga tidak tahu harus mengatakan apa."
Daniel langsung menuju ke kamar mandi. Dia hanya melakukan ritual mandi bebek, yaitu mandi cepat.
Setelah memakai pakaiannya, dengan sangat perlahan-lahan Daniel naik ke atas ranjang, dia tak berani menyentuh Belle barang sedikitpun. Takut wanita itu akan terbangun.
Tapi, semua tidak sesuai keinginannya. Saat dia sudah duduk sempurna di atas ranjang dan ingin menidurkan tubuhnya. Tiba-tiba mata bulat Belle terbuka sempurna, dan Daniel tak dapat mengelak untuk sekedar berpura-pura tidur.
"Be-belle? Ka-kamu sudah bangun? Kenapa bangun?" tanya Daniel dengan tergagap.
Dukung selalu karya ini dengan berikan like, komentar, gift dan vote sebanyak-banyaknya.
Berikan juga rate 5, karena dukungan sekecil apapun dari kalian sangat berarti untuk author.
__ADS_1
Dukung juga karya baru author SAHABATKU SUAMI MUHALLILKU 🙏🙏
Terima kasih❤️❤️❤️