
Bara mengeraskan rahangnya karena sedari tadi Deva tak kunjung memindahkan lengannya dari benda pusaka miliknya.
Bara langsung menghempaskan tubuh Deva kasar, hingga punggung wanita itu terhantuk dengan pintu mobil. Deva merasa nyeri pada bagian punggungnya karena terbentur tadi.
"Jaga kelakuanmu! Kalau kau mengulangi hal yang sama seperti tadi. Aku tidak akan segan-segan untuk langsung memecatmu!" Ancam Bara dengan tatapan membunuhnya.
"Maaf, Tuan. Aku benar-benar tidak sengaja." Seru Deva dengan wajah menunduk.
"Cih, ternyata kau juga pintar bermain trik. Aku sudah meremehkan mu." Ucap Bara berdecih.
Deva hanya menunduk, dia tidak menduga kalau rumor-rumor tentang Bara, itu semua memang benar adanya. Bara memang benar-benar kejam dan tak berperasaan.
Dia memang sudah sangat lama menjadi sekretaris laki-laki gua es itu, tapi hubungan mereka terkait hanya sebatas pekerjaan saja. Baru ini lah dia mendapat kesempatan untuk merayu, tapi sudah langsung disingkirkan oleh Bara tanpa perasaan.
Mereka sampai di kota tujuan. Langsung mengistirahatkan tubuh mereka di kamar yang sudah diboking oleh Deva sebelumnya.
"Aku rindu dengan suaranya. Meskipun hanya mendengarkan suaranya saja, tapi bisa mengobati rasa rinduku." Gumamnya sambil mencoba menghubungi Embun.
Tapi, saat dia ingin menelepon nomor istrinya itu, malah terlihat kalau nomor ponselnya sudah diblokir oleh wanita itu.
Sementara dilain tempat, Belle baru saja pulang dari kampusnya. Seperti biasa, dia akan mengunjungi toko kue untuk membantu Rena dan pegawai yang lainnya.
Dia memarkirkan mobil miliknya di tempat parkir khusus karyawan. Lalu dia turun, ada Embun yang kebetulan sudah berdiri di ambang pintu dan ingin membeli stok buah-buahan untuknya.
"Kak, kamu mau ke mana?" Tanyanya.
"Aku mau membeli beberapa jenis buah, Belle. Ini aku baru mau mencari taxi." Jawabnya.
"Ayo pergi bersama denganku saja. Aku sedang senggang." Tawar Belle.
"Mari!" Tentu saja Embun menerima ajakan Belle.
Ternyata, dari kejauhan ada sebuah mobil yang terus mengamati mereka. Mobil itu adalah milik Eson dan anak buahnya, yang kebetulan lewat dari sana dan melihat mobil Belle yang memasuki area parkiran toko itu.
"Tuan, bukankah itu mobil Nona Belle?" Ucap salah seorang bawahannya.
"Benar, tapi mungkin saja dia ke situ hanya untuk membeli beberapa kue saja. Ayo jalan lagi." Ucapnya mengabaikan.
"Tuan, lihatlah di sana. Bukankah itu Nona Embun?" Mereka tampak sangat kegirangan karena menemukan Embun sedang bersama dengan Belle.
__ADS_1
"Benar, tapi apa yang mereka bicarakan?" Sahut bawahannya yang lain.
"Entahlah, kita tunggu dan lihat saja." Jawab Eson yang mulai memperhatikan tanpa berkedip.
"Bos, mereka mau pergi. Apakah kita ikuti juga?" Tanya bawahannya yang bertugas mengemudikan mobil.
"Ikuti saja!" Jawabnya.
Belle dan Embun mulai melajukan mobilnya. Mereka sibuk berbincang-bincang hingga tidak sadar kalau di belakang mereka ada mobil Van hitam yang sedang mengikuti.
"Kak, pagi tadi Kak Bara sudah pergi ke luar kota." Ucap Belle sambil mengemudikan mobilnya.
"Hem." Embun hanya menanggapi seadaanya saja.
Belle langsung terdiam karena Embun tidak memberikan respon lebih, seperti yang dia harapkan. Jadi, dia tidak tahu harus berkata apa lagi.
"Bagaimana dengan hari pertama kuliahmu?" Tanya Embun yang tahu kalau Belle sudah merasa canggung.
"Aku sudah sangat banyak mendapatkan teman baru, Kak. Tapi, aku tidak mengungkapkan kalau aku adalah adik dari Kak Bara Wirastama."
"Kenapa bisa begitu?"
"Tidak apa-apa, Kak. Rasanya lebih menyenangkan kalau berteman tidak memandang apa pun. Dan, aku ingin punya teman yang seperti itu." Seru Belle.
"Kurasa tidak, Kak. Karena aku sudah meminta mengurus semuanya. Termasuk mengubah identitasku." Ujarnya.
Embun hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Orang kaya memang beda, bisa melakukan apa pun sesukanya, begitu pikirnya.
"Kak, kenapa Rena tidak ikut kuliah saja sih? Kan pasti seru kalau ada Rena juga?"
"Aku juga sudah membujuknya. Tapi dia mengatakan kalau dia sedang ingin fokus membantuku saat ini. Mungkin, dia tidak ingin membebaniku lagi." Ujarnya pada Belle.
"Kak, di mall depan sana saja ya kita beli buah. Sekalian beli pakaian bayi untuk dia."
"Tidak perlu, Belle. Nanti saja kita beli saat sudah sedikit lebih besar. Sekarang masih terlalu rawan."
"Aduh, padahal aku sudah sangat gemas setiap melihat pakaian-pakaian bayi yang sangat lucu-lucu. Rasanya, aku ingin memborong semuanya." Belle merayu Embun dengan merengek dan menggoyang-goyangkan tangan Embun seperti anak kecil.
"Kenapa kau malah jadi seperti anak kecil? Padahal, sudah bisa memproduksi sendiri!" Tandas Embun mengejek.
__ADS_1
Belle langsung melepaskan genggamannya dan mengerucutkan bibirnya. Wajahnya juga bersemu merah. Entah kenapa, saat Embun mengatakan itu, dia langsung membayangkan sesuatu hal yang terlarang bersama Daniel.
"Ahhh, Kak Embun!" Pekiknya sembari menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Hahahaha. Kau sedang malu, ya? wajahmu merona, Belle. Hayo, kamu sedang membayangkan yang iya-iya, kan?" Embun tambah menggodanya.
"Sudahlah, Kak. Ayo kita pergi sekarang." Belle langsung menggandeng tangan Embun dan menariknya dari sana.
"Tuan, apakah kita perlu mengikuti mereka?" Tanya bawahannya.
"Tentu saja. Dan jangan lupa mengambil beberapa gambar Nona Embun. Dan ingat, jangan sampai ketahuan." Ucapnya pada salah satu bawahannya yang ditugaskan untuk membuntuti Embun. Karena, kalau Eson langsung yang mengikuti mereka, bisa saja akan langsung ketahuan. Karena Embun sudah sering melihat Eson.
"Baik, Tuan."
Bawahan Eson langsung mengikuti mereka. Dia banyak sekali mengambil gambar Embun. Dari saat wanita itu sedang memilih buah, persediaan makanannya untuk di toko bersama Rena, dan saat sudah di restaurant juga diikutinya.
Setelah mengambil gambar, mereka memutuskan untuk pulang. Karena, Eson berpikir, besok mungkin dia bisa mengawasi Embun mulai dari toko itu.
KRING KRING KRING
Ponsel Eson berbunyi, tertera nama Bara pada layar benda pipihnya. Dia langsung mengangkat panggilan dari bosnya itu.
"Halo, Tuan?"
"Bagaimana, apakah sudah ada perkembangan dari hasil pengawasanmu hari ini?" Tanya Bara dari balik telepon dengan tidak sabaran.
"Ada, Tuan. Kami mengikuti Nona Embun yang pergi bersama dengan Nona Belle." Jawabnya.
"Belle? Apa kalian sudah menemukan tempat tinggal Jingga?"
"Belum, Tuan. Tadi kami melihat, sepertinya Nona Embun tidak sengaja bertemu dengan Nona Belle disebuah toko roti." Ucapnya menceritakan apa yang dia lihat.
Toko roti? Sepertinya, mereka sering menyebut toko. Toko apa yang dimaksud?
"Kenapa kamu tidak membawanya pulang?"
"Saya tidak tega, Tuan. Melihat perut Nona Embun yang sudah membesar, saya takut terjadi sesuatu pada bayi yang berada dalam kandungannya." Jujur Eson.
"Kalau begitu, terus awasi toko itu. Jangan sampai lengah. Jangan biarkan ada orang yang mencurigakan disekitar Jingga."
__ADS_1
"Baik, Tuan."
Toko? Sebenarnya itu toko milik siapa. Apakah itu toko tempat Jingga bekerja?