
"Amanda, semua yang kamu lakukan itu adalah sebuah kesalahan."
"Aku tahu, Rena. Sebenarnya aku sangat takut saat menemuimu hari itu, namun aku harus mengegoiskan diriku untuk anak yang belum lahir ini," tuturnya.
"Mungkin, itu bukanlah sebuah keegoisan yang kamu paksakan. Tapi, itu adalah pengorbanan seorang Ibu untuk kebahagiaan anaknya," cetus Rena yang mulai merasa prihatin pada Amanda. Wanita itu terlihat sedih, namun tak bisa berbuat apa-apa untuk merubah nasibnya.
"Ya, aku tahu Rena. Sekarang aku sadar, tidak seharusnya aku melimpahkan kesalahanku pada orang lain. Meskipun Rey masih mencintaiku, tidak seharusnya juga aku membawa anak ini ke dalam hubungan kami. Malah sekarang, melihatku saja dia sudah sangat muak."
"Apalagi, aku ingin membuat Rey menjadi Ayah dari anakku kelak. Padahal aku sudah tahu kalau dia sudah tidak mencintaiku lagi dan memiliki kamu. Aku benar-benar wanita yang sangat jahat," Amanda merutuki dirinya sendiri.
"Maka dari itu, aku minta maaf padamu karena sudah merusak hubungan baik kalian. Aku akan menjaga anak ini sendiri, anak ini tidak salah, aku akan merawatnya dengan baik." Amanda memohon dengan sambil mengatupkan kedua tangannya di depan Rena, dia memang benar-benar merasa menyesal.
"Tidak apa-apa, Amanda. Aku mengerti kenapa kamu melakukan itu semua." Rena menggenggam tangan Amanda dan menurunkannya.
Kemudian, dia pun menyunggingkan senyumnya.
"Tapi, Rena. Apakah yang dikatakan oleh Tante tadi semuanya benar?" tanya Amanda.
"Yang mana?"
"Kau meminta Rey untuk menjauhimu gara-gara diriku," tutur Amanda dengan kepala yang kembali tertunduk dan menggigit bibir bawahnya. Merasa tak enak hati karena telah melakukan hal jahat pada Rena.
Rena hanya menanggapinya dengan tersenyum. Tidak bermaksud untuk menjawab apapun.
"Rena, Rey itu adalah lelaki yang baik. Aku yakin, kau merasa ragu padanya setelah kehadiranku di tengah-tengah kalian, kan? Sekarang kau telah mengetahui semuanya, bisakah kamu kembali memikirkannya? Aku bisa lihat, Rey sangat mencintaimu dan keluarganya juga sangat menyayangimu, Rena!" mohon Amanda.
Benar apa yang dia katakan, semua penyebab keraguanku telah diperjelas semua. Tapi, apakah aku harus kembali mempertimbangkannya?
"Amanda, sudah berapa bulan umur kehamilanmu?" tanya Rena mengalihkan.
"Sudah lima bulan," jawabnya sembari tersenyum sumringah. Amanda mengelus perutnya dan wajahnya terlihat riang.
"Tapi, kenapa perutmu sangat kecil? Seperti sedang tidak mengandung," ucap Rena lirih merasa heran.
"A-aku memakai korset. Biar perutku tidak terlihat membuncit," jawabnya dengan suara yang sangat pelan.
"Apa? Apa kau sudah gila, Amanda? Barusan kau mengatakan kalau kau sangat menyayangi bayimu itu. Tapi sekarang, perbuatanmu malah mencelakainya. Dasar tidak waras!" umpat Rena geleng-geleng kepala.
"A-aku terpaksa, Rena. Itu semua aku lakukan untuk--"
__ADS_1
"Ya, sekarang kau sudah tidak memerlukannya. Jadi, kau bisa ke toilet dan melepaskannya!" titah Rena.
Amanda tersenyum, dia mengangguk menyetujui perintah Rena. Karena dia pun tahu, apa yang sedang dia lakukan itu memang membahayakan kandungannya.
Amanda cepat-cepat beranjak ke toilet. Setalah melepaskan korset yang dia gunakan untuk membuat perutnya terlihat lebih datar, Amanda membuang benda itu ke tempat sampah. Dia mencuci mukanya di air kran dan menatap wajahnya di cermin besar.
Amanda menghela nafas sambil membuang rasa penatnya. Dia kembali mengingat saat hari dia menemui Rena, mempermalukannya di depan umum dan menampar wanita itu.
Dia meringis, merutuki tindakan bodohnya yang tentu sangat keterlaluan.
"Kenapa setelah aku memperlakukannya sejahat itu, dia masih bersedia berbaik hati padaku? Menjadi tempat curhatku dan tidak menjahatiku balik."
"Dan aku, tanpa tahu malu masih berani menemuinya bahkan minta makan padanya! Dasar wajah tembok!" umpatnya pada dirinya sendiri.
Rasa bersalah menyeruak dalam hati Amanda, tapi apa lagi yang bisa dia lakukan selain menjalani kehidupannya seperti biasa. Karena sekarang, dia tidak punya lagi orang yang mempedulikannya. Tidak ada lagi teman, keluarga atau cinta yang menemaninya.
Amanda kembali menarik nafas dalam-dalam. Dia keluar dan kembali menemui Rena.
Saat pertama kali melihat perut Amanda, Rena sampai dibuat menganga dan tak percaya.
"Wah, perutmu sangat menggemaskan!" seru Rena yang merasa gemas.
Amanda hanya tersenyum. Baru kali ini dia memperlihatkan perut buncitnya di depan umum.
"Kemarin-kemarin aku chek-in di hotel. Tapi, sekarang uangku sudah menipis. Jadi, aku sendiri belum tahu harus tinggal di mana nantinya," jawabnya sambil mengangkat bahu.
Rena terdiam, menatap Amanda dari atas ke bawah. Seperti ada yang ingin ditanyakan namun merasa ragu.
"Tanyakan saja. Kenapa ragu seperti itu?" tukas Amanda.
"Orang tuamu, di ma-mana?"
Amanda tercebur sesaat. Setelah itu dia tersenyum kecut. Entah sedang menertawakan siapa.
"Mereka adalah tipe orang tua ideal," ucap Amanda, membangkitkan senyuman Rena.
"Oh ya? Kalau begitu bagus dong," celetuknya.
"Ideal di mata orang lain tapi tidak untuk anak-anak mereka," imbuhnya membuat Rena langsung kembali menarik senyumannya tadi.
__ADS_1
"Sejak kecil, kami selalu diajarkan untuk menjadi sempurna. Tidak boleh ada kesalahan sekecil apapun yang boleh kami perbuat, apalagi sampai tercium keluar. Mereka pasti akan sangat marah."
"Apalagi sekarang aku sedang mengandung dan tidak ada yang bertanggung jawab. Sebelum aku datang pun aku sudah tahu, mereka pasti sudah mengusirku dan menutup pintu rumah mereka rapat-rapat," jawabnya seraya tersenyum miris.
Ingatannya pun kembali berpetualang ke masa-masa dia kecil. Selalu dikekang oleh orang tuanya, selalu diatur. Bahkan, sampai berteman dengan siapapun harus diatur. Hal-hal kecil di luar nalar selalu mereka awasi. Tujuannya hanya satu, mereka tidak ingin kecolongan dan membuat mereka kehilangan muka di depan publik.
Orang lain pasti berpikir, bukankah semua itu dilakukan untuk kebaikan anak-anaknya? Tentu saja itu salah! Mereka melakukan itu agar publik bisa menangkap kebaikan mereka, bisa memuji tanpa celaan sedikitpun.
Sedari kecil Amanda memang selalu menurut. Tapi, setelah dewasa dia melarikan diri dari kukungan itu dan memilih hidup bebas di luaran sana sampai nasibnya seperti sekarang.
Cara dia melampiaskan trauma masa kecilnya juga tidak bisa dianggap benar. Namun semuanya kembali pada diri kita masing-masing. Hanya kita yang bisa mengontrol diri sendiri.
"Bagaimana kalau kamu tinggal di toko?" usul Rena.
"Di toko?" tanya Amanda balik.
"Ya. Kebetulan di toko itu ada sebuah kamar. Kamu bisa tinggal di sana untuk sementara waktu," lanjutnya.
"Tapi, Rena...."
"Tenang saja, kamar itu layak pakai kok. Bahkan sangat bagus. Kamu pasti nyaman di sana," potong Rena.
"Bukan itu maksudku. Aku sangat berterima kasih jika kamu mau memberikan aku tempat tinggal. Tapi, kamu tidak takut orang lain akan mencibirmu?"
"Mencibir? Kenapa?" tanya Rena dengan kening mengerut heran.
"Karena kejadian waktu itu," sahut Amanda sungkan. Merasa malu jika harus kembali mengungkit perihal itu.
"Kita tidak perlu dengan hal yang tidak perlu untuk kita dengar, kan? Biarkan mereka berbicara semaunya. Jangan bebani diri kita dengan hal yang menyakitkan. Itu sangat berlaku untukmu yang sedang hamil, Amanda!" kecam Rena.
"Kau sedang hamil, jika kau terlalu banyak mendengar ucapan yang tak enak di maka kau akan merasa tidak nyaman. Itu tidak baik untuk kandunganmu. Nyamankan lah dirimu. Apakah kau paham?"
"Tapi, apakah Kakak mu mengizinkan orang asing sepertiku tinggal di tempatnya?" tanya Amanda cemas.
"Tenang saja. Selama kamu tidak melakukan hal yang aneh-aneh, semua bisa kita bicarakan," ucap Rena menenangkan perasaan Amanda.
"Terima kasih karena sudah mau menerima orang asing yang jahat sepertiku. Aku terharu, kau malah membalas semua perlakuan burukku dengan semua kebaikan." Air mata Amanda menetes, dia benar-benar malu terhadap dirinya.
Dukung karya ini dengan berikan like, komentar, gift dan vote sebanyak-banyaknya.
__ADS_1
Berikan juga rate 5 agar Author tambah semangat untuk update.
Terima kasih untuk setiap dukungan yang sudah kalian berikan. Itu sangat berarti untuk Author ❤️❤️❤️