
Kenapa denganku ini, perutku sudah sangat lapar sekali. Aku sangat ingin mencicipi makanan kesukaanku ini, tapi kenapa aku juga merasa jijik dengan makanan ini. batinnya, tapi dia tidak mengatakan apapun pada adik-adiknya.
Setelah toko akan tutup, mereka juga bersiap-siap untuk pulang. Pusing yang dirasakan Embun tidak juga mereda, dan bahkan sekarang jika ada wangi-wangian yang terlalu mencolok, dia akan merasa mual dengan sendirinya.
"Kak, kamu bawa roti ini untuk siapa?" tanya Brandon.
"Untuk, Kakak. Kamu mau juga?" sahut Embun.
"Tidak. Sebenarnya aku ingin, tapi bukan varian yang ini." jawab Brandon menggeleng.
Setelah sampai di rumah, Embun memutuskan untuk mandi, dia terkejut saat melihat Bara yang sedang duduk di sofa kamarnya sambil terus memperhatikannya.
"Ahh, kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Embun sambil terjingkat.
"Ini kamarku. Kalau bukan di sini, lalu aku harus berada dimana?" Bara bertanya balik.
"Kamu memakai parfum, Tuan?" tanya Embun sambil mengendus-endus mencari apa yang sedang dia cium. Bara biasanya memang selalu memakai parfum, parfum yang dia pakai saat di kantor dan di rumah selalu berbeda-beda. Dan parfum milik seorang Bara, tidak mungkin tidak berkelas.
"Memang biasanya aku memakai parfum ini. Apakah ada yang aneh?" Bara kembali mencium baju yang dia gunakan sendiri, karena dia melihat wajah Embun seperti menunjukkan isyarat kalau parfum yang dia pakai sangat tidak pantas untuk digunakan.
"Sepertinya selera Anda sudah menurun, Tuan. Cepat gantilah aroma parfum milikmu yang seperti bau kencing kuda itu." ucap Embun jujur, tapi Bara malah menyalahartikan ucapan istrinya itu.
"Apa maksudmu?" tanya Bara kesal.
"Kau mungkin salah memilih parfum. Jadi, kau harus segera menggantinya." setelah mengatakan itu, Embun langsung menutup pintu kamar mandi.
"Apa yang salah. Bahkan ini parfum kelas dunia. Dia malah mengatakan seperti kencing kuda, mungkin hidungnya sedang tersumbat." gumamnya.
Bara melirik ke barang bawaan Embun tadi, dia mengambil dan melihat. Ternyata ada beberapa buah roti. Dia tahu, roti itu sedang terkenal akhir-akhir ini dikalangan karyawan karntornya yang selalu membicarakan roti ini.
Karena penasaran, Bara mencoba rasa roti yang sedang terkenal itu. Baru satu gigitan saja dia sudah sangat ketagihan untuk makan lagi dan lagi. Tanpa sadar roti yang dimakannya pun habis.
"Pantas saja sangat terkenal dimana-mana, ternyata memang seenak ini rasanya," ucapnya memuji.
"Habis? Bagaimana ini." Bara kelimpungan sendiri. "Pura-pura tidak tahu saja." dia segera membereskan jejak agar perbuatannya tidak ketahuan.
Setelah selesai mandi, Embun keluar dari kamar mandi sudah mengenakan pakaiannya. Dia mencium aroma tubuhnya sendiri dan merasa bangga karena dia merasa, aromanya lah yang memang paling enak dan tidak aneh.
"Segar sekali." ucapnya sambil mencium aromanya sendiri. "Aku sangat lapar, makan roti tadi saja. Untung aku ada bawa untuk persediaan." ucapnya pada dirinya sendiri.
"Dimana rotiku, aku menaruhnya disini." Embun mencari-cari sampai membongkar isi tasnya.
Bara pura-pura memeriksa laporan kantornya, sebenarnya dia memang sedang bekerja. Karena hari ini dia tidak bekerja jadi kerjaannya jadi bertambah.
"Tuan, apakah kamu melihat rotiku?" tanya Embun yang sudah kelelahan mencari.
"Roti apa? Aku tidak melihat apapun." jawab Bara santai.
__ADS_1
"Aku menaruhnya di sini, Tuan. Aku sangat ingin makan itu, sekarang sudah tidak ada." Embun terlihat kecewa, dia terduduk di atas ranjangnya dengan lesu.
Entah kenapa Bara merasa sangat sangat bersalah karena dialah yang sudah memakan roti milik Embun tadi. Namun, dia tetap tidak ingin mengaku.
"Dimana kamu beli roti itu? Katakan saja, biar aku menyuruh supir yang membelikannya untuk menggantikan yang tadi." ujar Bara yang masih duduk di tempatnya.
"Tokonya sudah tutup, Tuan. Tidak buka malam. Jadi percuma saja." jawab Embun masih lesu.
"Kalau begitu, beli roti yang lain saja. Kan sama saja." Bara hendak memanggil supirnya untuk menyuruh membelikan roti di toko manapun.
"Tidak mau. Aku ingin yang itu." jawab Embun mengerucutkan bibirnya.
"Kalau kau bisa, buat saja sendiri. Sudahlah, aku mau lanjut bekerja." ucap Bara yang sudah bingung.
"Ah, benar juga. Belikan bahan-bahannya saja, Tuan. Cepat!" tanpa sengaja Embun berdiri dan memegang tangan Bara karena merasa senang dengan ide yang dicetuskan oleh Bara.
Bara melihat ke arah tangannya yang di pegang oleh Embun. Kemudian dia berdehem.
"Kenapa? Aku tidak boleh memegang tangan suamiku sendiri, ha? Hanya pacarmu itu yang boleh?" ucap Embun sambil melayangkan tatapan tajamnya.
"Kenapa kau seberani itu berbicara denganku?" tanya Bara yang tentu saja merasa heran.
"Kenapa aku harus takut dengan suamiku sendiri. Sudah, cepatlah! Aku tidak mau menunggu lama." ujar Embun melepaskan genggaman tangannya dan berlalu pergi.
Reaksinya sangat berbeda, aku pikir dia akan mengatakan 'maaf, Tuan. Aku bersalah.' ternyata dia malah berani menentangku, batin Bara
Bara menuju dapur, terlihat Belle dan juga Brandon sudah duduk dengan rapi untuk siap makan malam. Bara juga duduk di tempatnya, Embun mengambilkan makan untuk semua orang, tapi tidak untuknya.
"Tidak. Aku sangat tidak berselera. Kalian makanlah." jawab Embun sambil menopang dagunya dengan punggung tangannya.
"Dia sedang menunggu, Pak Ahmad." sela Bara.
"Kenapa harus menunggu Pak Ahmad? Tak paham lah." jawab Belle.
"Dia minta dibelikan bahan-bahan untuk membuat roti." jawab Bara lagi.
Bahan-bahan sudah sampai, setelah meletakkan bahan-bahan itu, Pak Ahmad permisi untuk kembali pulang.
"Boleh kami bantu, Nyonya?" tanya seorang koki dapur.
"Tidak perlu. Aku akan melakukannya sendiri." jawab Embun ramah seperti biasa.
Embun memulai membuat rotinya. Tapi saat dia ingin mencampurkan telur ke dalam adonannya, dia merasa sangat mual karena amisnya telur.
"HUEKK HUEKK!" Embun menutup mulutnya menahan rasa mualnya. Untung saja Bara dan adik-adiknya sudah selesai makan.
"Kak, kamu kenapa?" Belle langsung beranjak berlari ke arah Embun.
__ADS_1
"Tidak tahu, kenapa telurnya sangat amis sekali? Biasanya tidak seperti ini." jawab Embun yang masih menutup mulutnya.
Belle mengendus bau telur yang sudah masuk ke dalam adonan, namun dia merasa kalau bau telurnya masih seperti biasa. "Tidak terlalu, Kak. Masih seperti biasa." ujarnya.
"Tidak, Belle. Ini berbeda. Kamu tidak menciumnya?"
Belle hanya menggeleng saja. "Mungkin kamu masuk angin, Kak."
"Mungkin juga, aku tidak mau melanjutkannya lagi." ucap Embun.
Embun meninggalkan semuanya begitu saja dan langsung masuk ke dalam kamarnya. Setelah itu, semua juga masuk ke kamarnya masing-masing. Keriuhan yang sudah dibuat oleh Embun, dibereskan oleh para pembantu.
DRTT DRTT
"Halo, Kak Daniel. Tumben menelepon." Belle terlihat senang karena Daniel menghubunginya.
"Bagaimana kabarmu?"
"Baik, sangat baik." jawab Belle.
"Bagaimana dengan Kakak iparmu? Apakah Bara masih menyia-nyiakannya?" tanya Daniel lagi.
"Tidak tahu, Kak. Sikapnya sudah agak berbeda dari biasanya. Tapi, kalau untuk lepas dari wanita ular itu, sepertinya belum." ujar Belle.
"Aku juga sudah melihat konferensi pers mereka."
"Apakah kamu akan bertindak lagi, Kak?"
"Bagaimana denganmu? Apakah kamu tidak mau bertindak." Daniel malah balik bertanya.
"Aku bukan tidak mau. Hanya saja, wawasanku tidak seluas dirimu. Pemikiranku tidak secanggih kamu, yang bisa menggunakan identitas orang yang sudah mati untuk menutupi identitasmu yang sebenarnya." sindir Belle, tapi apa yang dikatakannya memang benar.
"Hahaha. Jadi, apakah kamu tertarik denganku, gadis dongeng?"
"Tidak. Aku malah takut denganmu, Kak. Hahaha." jawab Belle bercanda.
"Aku tidak yakin." sangkal Daniel.
"Kak, sepertinya hari ini ada yang berbeda dengan Kak Embun." Belle mengalihkan percakapan mereka, karena dia tidak kau membahas yang akan jauh-jauh.
"Berbeda apa?" tanya Daniel menyatukan alisnya.
"Dia hari ini pusing, tidak selera makan. Bahkan, biasanya dia sangat suka dengan suatu makanan, tadi dia tidak mau, Kak. Bahkan, dia ingin muntah karena mencium bau amis telur." Belle mengatakan semua keanehan yang terjadi pada Embun.
"Lalu, menurutmu?"
"Apakah kak Embun menderita suatu penyakit?"
__ADS_1
"Aku rasa, ada kemungkinan besar, dia hamil!" ucap Daniel.
"Hamil?" Belle seketika langsung menganga saat mendengar penuturan Daniel.