Istri Miskin Presdir

Istri Miskin Presdir
SIAPA DEVA SEBENARNYA??


__ADS_3

"Audrey, ternyata tingkah lakumu tidak berubah sama sekali. Kau masih saja murahan seperti biasanya." Ucap orang itu.


Mendengar suara orang yang dikenalinya, Audrey menatap orang itu, matanya ikut menyipit. Tapi, dia masih tak bergeming dari posisinya. Dia melihat orang itu dengan tatapan datarnya.


"Cih, ternyata kau, Deva! Mau apa kau datang ke sini?" Audrey tersenyum mengejek.


"Aku hanya melihat, aktris yang digosipkan di bawah tadi kau atau bukan. Ternyata memang kau!" Ejek Deva lagi sambil menatap sinis.


"Lalu, apa maumu?"


"Aku tidak ingin apa pun, aku hanya mau melihat kehancuranmu saja." Sahut Deva santai.


"Hahaha. Sekarang aku yang hancur. Tapi aku yakin, sebentar lagi kau akan ikut hancur sepertiku."


"Hahaha, kenapa aku harus ikut hancur bersamamu. Lagi pula, sebentar lagi aku akan menjadi Nyonya di rumah Bara Wirastama! Kau tahu, Istri Tuan Bara sedang pergi dari sisinya, jadi ini adalah kesempatan emas untukku. Sedangkan kau, hanya bisa meratapi nasib sialmu!" Seru Deva sambil menyeringai.


Embun pergi? Ini memang kesempatanku untuk mencarinya dan menghancurkannya!


"Lakukan saja apa yang kau mau. Karena aku yakin, cepat atau lambat, Bara juga akan tahu siapa dirimu yang sebenernya!" Ucapnya membuat amarah Deva timbul.


Deva setengah berjongkok dan mensejajarkan dirinya dengan Audrey. Dia menarik rambut wanita itu ke belakang hingga kepala Audrey ikut menengadah.


"Jika kau berani mengatakan sesuatu padanya. Akan ku pastikan, kau akan membusuk di apartemenmu itu!" Deva menghempaskan tubuh Audrey, dia meludah ke arah Audrey setelah itu pergi dari sana.


Deva hanya tidak tahu saja, sedari tadi ada orang yang mencuri dengar ucapannya dari balik tembok.


"Belle, cepat kita sembunyi!" Embun buru-buru menarik tangan Belle untuk ikut bersembunyi dengannya.


"Kak, kenapa kita harus bersembunyi dari Deva?" Tanya Bella tak mengerti.


"Ssstt, pelankan suaramu, Belle." Embun mendekap mulut Belle agar wanita itu tak terlalu besar bersuara.


Setelah dikira Deva sudah pergi menjauh, mereka baru keluar dari ruang tangga darurat tempat mereka bersembunyi.


"Kak, kenapa kau harus takut dengan Deva? Dia hanya sekretaris kak Bara." Lagi-lagi Belle bertanya, dia tak mengerti kenapa Embun harus repot-repot bersembunyi dari Deva.


"Belle, siapa Deva sebenarnya?" Tanya Embun membuat Belle semakin bingung.


"Kak, kan barusan aku sudah bilang, Deva itu hanya sekretaris Kak Bara saja." Sahut Belle lagi.


"Ayo, kita bicarakan di mobil saja." Lagi-lagi Embun menyeret tangan Belle agar mengikutinya ke mobil.


Kenapa hari ini tanganku dijadikan uji tarik menarik, untung saja tanganku tidak putus.


Belle menatap ke tangannya, tapi dia tidak ada kesempatan untuk menyela. Karena orang yang menariknya seperti tidak ingin mendengar bantahan. Jadi dia hanya menurut ke mana pun si penarik pergi.


Setelah masuk ke dalam mobilnya, mereka belum beranjak pergi, Embun memilih untuk berbicara di dalam mobil.


"Belle, apakah kalian kenal dengan keluarga Deva?" Tanya Embun.


"Tentu saja kami kenal, Kak. Deva adalah anak dari paman Albert, Paman Albert itu adalah Adik dari almarhumah Ibuku." Sahut Belle.


"Anak dari paman Albert?"

__ADS_1


"Ya. Sebenarnya aku dan Kak Bara tidak suka dengan kehadiran Deva. Tapi, Paman Albert selalu memohon pada Kak Bara agar Deva dijadikan sekretarisnya." Ujarnya lagi.


Embun mengangguk, dia seperti berpikir sesuatu. Tapi, dia juga masih bingung dengan pikirannya sendiri.


"Apakah Paman Albert masih hidup?"


"Masih, Kak. Tapi beliau tidak tinggal di sini."


"Lalu, di mana Paman Albert tinggal selama ini?" Tanyanya lagi, Embun sekarang lebih mirip seperti seorang detektif yang sedang bertugas memecahkan masalah.


"Di Amsterdam! Sejak orang tuaku meninggal dunia, dia pindah ke Amsterdam. Katanya, kalau dia tinggal di sini, dia akan bersedih karena selalu terkenang dengan Ibuku." Jelas Belle.


"Alasan yang cukup masuk akal." Ucap Embun.


"Memangnya kenapa, Kak? Kenapa tiba-tiba kamu bertanya tentang ini?" Belle kembali bertanya.


"Apakah kamu tidak merasa ada sesuatu yang aneh dengan Deva?" Tanya Embun yang menatap Belle serius.


"Aneh? Apa yang aneh dengannya?"


"Kamu tidak mendengar ucapannya tadi? Dan, apakah selama ini dia selalu berusaha mendekati Bara?" Tanya Embun lagi.


"Ya, Kak. Semenjak Paman Albert membawanya ke rumah kami, dia selalu mencoba mendekati Kak Bara."


"Membawa? Berarti, kalian tidak mengenalnya sedari kecil?" Imbuh Embun, rasa penasarannya benar-benar semakin meluap sekarang.


"Ibu pernah mengatakan, kalau Deva adalan anak dari hasil percintaan Paman Albert dengan kekasihnya. Deva anak di luar pernikahan."


"Apakah kamu tidak merasa heran, Deva adalah anak Paman Albert. Berarti, dia ada ikatan tali persaudaraan dengan kalian. Tapi, kenapa dia selalu saja mendekati Bara?" Tanya Embun, sebenarnya Embun sedang memberi tahukan fakta yang diselimuti pertanyaan.


"Benar! Kami tidak pernah memikirkan itu, karena kami tidak perduli dan tidak suka dengan kehadiran Deva. Kamu hebat, Kak. Bisa menyadari keanehan ini." Ujar Belle.


"Kita harus mencari tahu dengan perlahan, Belle. Kita tidak bisa tergesa-gesa dan membuatnya menyadari kalau kita sedang memperhatikannya. Jangan sampai dia berhasil melancarkan aksinya." Ucap Embun sungguh-sungguh.


"Benar, Kak. Dari sekarang aku akan lebih menjaga sikapku padanya."


********


Di toko, Rey yang ingin bertemu dengan Rena pun datang ke toko. Dia berusaha mencari Rena disetiap sudut tapi tak menemukan wanita idamannya itu.


"Permisi, apakah aku bisa bertemu dengan Rena?" Tanya Rey pada Ranti yang sedang menyusun roti.


"Tunggu sebentar, aku akan memangilnya." Ucap Ranti sopan, dia meninggalkan pekerjaannya sejenak dan pergi ke dapur untuk memanggil Rena.


"Rena, ada yang mencarimu." Seru Ranti.


"Siapa? Katakan padanya aku sedang tidak mau diganggu. Pekerjaanku sedang menumpuk." Sahutnya yang masih fokus membuat kue pesanan customer.


"Baik! Aku akan menyampaikannya." Sahut Ranti lagi.


Melihat Ranti yang hanya datang seorang diri, Rey sudah tahu kalau Rena pasti tidak mau menemuinya.


"Di mana dia?"

__ADS_1


"Maaf, Tuan. Rena sedang tidak mau diganggu. Dia berpesan, pekerjaannya sedang banyak sekarang." Ucapnya menyampaikan pesan.


"Kalau begitu, biar aku yang menghampirinya. Di mana dia sekarang?" Tanya Rey kemudian.


"Di dapur, Tuan."


Tanpa menjawab apa-apa lagi, Rey langsung melangkahkan kakinya menuju dapur.


"Eh, eh, eh, Tuan. Anda dilarang masuk ke area dapur."


Rey mengambil dompetnya dari saku, kemudian dia mengeluarkan beberapa lembar uang dan memberikannya kepada Ranti sebagai upah untuk tutup mulutnya.


"Begini juga boleh. Silahkan, Tuan." Setelah menerima uang suapan, Ranti langsung berubah pikiran dan mempersilahkan Rey masuk.


Rey masuk dengan perlahan-lahan dan mengendap-endap. Kebetulan, posisi Rena sekarang sedang membelakanginya pintu dapur. Jadi, dia tidak tahu kalau ada yang masuk dengan cara seperti pencurian begitu.


Tiba-tiba Rey memeluknya dari belakang, membuatnya terkejut dan tidak sengaja mengoleskan adonan tepung ke wajah Rey.


"Ahhh ... kenapa kau mengagetkanku?" Tanya Rena kesal.


"Aku tidak mengagetkanmu. Kau saja yang terkejut." Sangkal Rey yang tak mau mengaku.


"Jadi, bagaimana caramu masuk ke mari? Kau terbang atau berjalan?" Tanya Rena berkacak pinggang.


"Tentu saja aku berjalan. Aku manusia, bukan iblis. Mana bisa aku terbang." Ucap Rey.


"Kalau kau berjalan. Kenapa tapak kakimu saat menyentuh lantai tidak mengeluarkan suara?" Tantangnya.


"Hahaha. Kenapa kau jadi menanyaiku sedetail itu? Aku masuk ke sini bukan ingin mencuri tepung dan mentegamu." Rey malah terkekeh kecil.


"Jadi?"


"Karena aku ingin bertemu denganmu. Dan aku juga merindukanmu, dan merindukan ini…."


Rey menyerang bibir Rena secara mendadak, membuat sang empu mendadak mendelik karena terkejut. Dia berusaha menolak tubuh Rey. Tapi, bukannya bergeser, tubuh itu malah semakin mempererat pelukannya dan semakin menekan tengkuk Rena.


"Hem ... Hem ...." Rena memukul-mukul pundak Rey karena dia merasa hampir kehilangan nyawanya.


Mengerti Rena sudah kehabisan nafas, Rey melepaskan pagutan mereka. Kemudian dia melihat wajah Rena yang sudah memerah. Rey menganggap itu karena Rena merasa terkesima. Padahal yang sebenernya, wajah Rena memerah karena sudah kehabisan nafas.


"Kau ingin membunuhku?" Rena kembali menatap Rey sinis.


"Mana mungkin aku membunuh gadis yang memiliki bibir semanis milikmu." Rey menyapu bibir Rena dengan Ibu jarinya. Rena mau menggigit tangan Rey, tapi secepat kilat Rey menarik jarinya dan kembali tertawa.


Saat mereka masih bertengkar kecil di dapur. Ada suara kegaduhan di luar, terdengar suara seorang wanita yang memanggil-manggil Embun dan Rena secara bergantian.


"Rena, Embun, keluar kalian! Cepat temui aku!" Teriak sang wanita.


"Siapa itu?" Tanya Rey sambil melihat ke arah depan.


Jangan lupa tinggalkan like, komentar, gift dan vote. Berikan rate 5 dan tambahkan ke daftar favorit kamu ya.


Jangan bosan-bosan sama cerita ISTRI MISKIN PRESDIR ya. Maaf kalau aku kurang bisa buat adegan yang iya-iya, jadi feel nya kurang ngena di kalian🤭🙏😅

__ADS_1


__ADS_2