
Bara memegangi jantungnya yang berdegup cukup kencang. Bukan karena dia sedang terkejut, tapi karena dia merasa takut dengan sikap psikopat Istrinya itu. Lalu, selama ini dia menyakitinya, kenapa Embun hanya diam dan menurut saja?
Mereka pun mulai menyusun rencana. Mereka harus nekad agar rencana yang mereka susun tidak berantakan atau ketahuan. Jika sampai rencana ini ketahuan, mungkin saja mereka tidak akan punya kesempatan untuk menyusun rencana lain lagi kedepannya.
Setelah semuanya pulang, Embun dan Bara masuk ke dama kamarnya. Malam ini, Embun minta untuk tidur bersama kedua si kembar, Hansel dan Hilsa.
Setelah menidurkan Hansel dan Hilsa di dalam box bayi, mereka masih berdiri di dekat box bayi.
Bara menyelusupkan wajahnya ke leher Embun. Dia menghirup dalam-dalam aroma strawberry Embun yang kini membuatnya candu.
Memang sangat-sangat manis. Rasanya ... aku sangat ingin menggigitnya
Saat Bara mulai membuka mulutnya mau menggigit kecil leher Embun, Bara kembali teringat dengan keganasan kata-kata Embun tadi. Membuatnya mengurungkan niatnya untuk menggigit leher jenjang putih nan mulus itu.
"Jingga, mereka sudah tidur. Sekarang waktunya kita untuk tidur juga." Ujar Bara sambil menggenggam jari jemari Embun.
"Kamu tidur saja duluan. Aku masih merindukan mereka. Masih ingin melihat mereka." Sahutnya sambil memalingkan wajahnya melihat Bara, dan...
CUPP
Pipi Bara terkena hidung Bara. Seketika wajah Embun pun memerah, dia merasa sangat malu.
"Kamu sengaja, hum?" Tanya Bara sengaja, padahal dia tahu kalau Embun tidak sengaja karena ingin melihatnya.
"Ti-tidak. Kamu saja yang terlalu dekat." Alibi Embun yang langsung melepaskan genggaman tangan mereka dan duduk di tepi ranjang.
Bara pun mengikuti Embun dan ikut duduk di tepi ranjang. "Kamu malu?" Tanya Bara sengaja karena dapat melihat wajah Embun yang memerah.
"Hahaha. Tentu tidak." Embun tertawa dibuat-buat.
Entah kenapa rasa malu dan merona masih saja dirasakannya sampai saat ini. Jika mereka tidak sengaja bersentuhan seperti tadi, Embun pasti akan langsung memerah.
Bara kembali menggenggam jemari Embun dan menciumnya, membuat wajah yang tadi memerah, bertambah merah seperti habis kena tinju.
"Manisnya, rasanya aku tidak sabar menunggu satu bulan lagi." Gumam Bara yang gemas melihat tingkah Istrinya.
"Jingga, apakah kamu yakin dengan rencana kita tadi?" Tanya Bara, sebenarnya dari tadi dia ingin menanyakannya. Tapi karena masih ada teman-temannya, dia mengurungkannya.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Kamu meragukanku?" Embun malah bertanya balik.
"Tidak. Aku tidak pernah meragukanmu sedikitpun. Aku hanya bertanya, seberapa yakin kamu dengan rencana kita, itu saja." Jelas Bara.
"Aku sangat yakin." Jawab Embun mantab.
"Kamu benar-benar yakin? Ini juga menyangkut Ayahmu. Jika kamu tidak yakin, kita bisa mengganti rencana atau tidak perlu membuat rencana apa pun." Bara mengatakan itu sambil menatap mata Embun lekat.
"Bara, aku sangat yakin. Kita memang harus menghabisi mereka. Jika kita membiarkan rencana mereka berhasil, aku yakin semua itu akan berimbas pada Hansel dan juga Hilsa. Karena itulah, aku sangat kekeh dengan ini semua. Tolong mengertilah, Bara." Embun mengatakan itu dari hatinya, karena memang itulah yang hanya dipikirkan olehnya.
"Kamu tidak akan mengubah apa pun meskipun Ayahmu yang memohon padamu, berlutut di kakimu?" Tanya Bara sekali lagi untuk memastikan.
__ADS_1
Embun terdiam sejenak, dia kembali menerawang jauh bagaimana selama ini Pras bersikap semena-mena padanya. Dan bahkan, berniat melenyapkan nyawanya. Buliran bening jatuh dari pelupuk matanya.
"Aku yakin. Jangan tanya apa-apa lagi. Jangan lagi meragukan aku. Sekarang, aku hanya memikirkan kedua anak kita dan juga orang-orang yang menyayangiku saja." Ucapnya.
Bara mengangguk dan menarik Embun ke dalam pelukannya. Sebenarnya, bukan tanpa alasan dia menanyakan ini semua. Bukan karena dia meragu akan yakinnya Embun. Dia hanya tidak mau, karena hati Embun goyah, bukan hanya rencana mereka yang berantakan, tapi juga semua yang terlibat akan terluka. Termasuk kedua Anaknya. Jadi, sebisa mungkin dia meyakinkan Embun. Jika memang wanita itu masih merasa ragu, lebih baik mereka tak memulai apa pun.
☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️
TOKK TOKK TOKK
"Siapa yang mengetuk pintu pagi-pagi sekali begini!" Dengusnya sambil menguap dan menggaruk tengkuk yang tak gatal.
CEKLEK
Pras membuka pintu yang sedari tadi digedor-gedor dari luar. Saat dia sudah melebarkan pintu rumahnya, dia sangat terkejut dengan kedatangan tiga orang polisi yang sudah berdiri tegak di depan pintu rumahnya.
"A-ada yang bisa sa-saya bantu, Pak?" Tanya Pras terbata-bata karena kini jantungnya sudah berdetak kencang tak karuan.
"Apakah Anda Prastyo?" Tanya petugas polisi dengan nada datar dan tentunya wajah yang datar juga.
"I-iya saya sendiri." sahutnya gemetaran, bisa terlihat dari bibirnya yang bergetar saat menjawab.
"Anda saya tahan, Pak." Ucap polisi itu dan mau mengeluarkan sebuah borgol untuk menahan tangan Pras.
"A-apa kesalahan saya, Pak?" Tanyanya pura-pura tidak tahu. Padahal, dia sendiri sudah sangat jelas apa kesalahannya sehingga polisi bisa mendatangi rumahnya pagi-pagi seperti ini.
"Itu bukan saya, Pak!" Sangkalnya yang masih gemetar dan badannya pun mulai mengeluarkan keringat dingin.
"Anda bisa menjelaskan di kantor!" Polisi itu langsung memborgol tangan Pras dan mulai menyeretnya di untuk masuk ke dalam mobil. Namun Pras terus saja melawan karena dia tidak mau ditangkap.
Mika yang baru pulang sangat syok kala melihat Suaminya di seret oleh para aparat kepolisian. Dia memang baru pulang malam karena semalam dia sibuk cabut slot arisan, Wkwkwk.
"Ada apa ini? Kenapa kalian membawa suami saya? Apa kesalahannya?" Tanya Mika berkacak pinggang tak terima. Meskipun mereka sering cek-cok, tapi dia tetap tak terima saat Suaminya dibawa oleh aparat kepolisian seperti itu. Membuat wajahnya bertambah malu karena para tetangga sudah melihat dari balik pohon.
"Maaf, Nyonya. Tolong kooperatif! Kami hanya menjalankan perintah. Jika Anda ingin mengetahui kejelasannya, Anda bisa bertanya di kantor polisi nanti." Sahut tegas sang polisi.
Tanpa menunggu ucapan Mika lagi, mereka langsung membawa Pras yang sudah pasrah. Pras meraih ponselnya, dia bisa melakukannya karena tangannya hanya sebelah yang di borgol. Dia menghubungi orang yang menyuruhnya melakukan itu.
Namun, dia tidak menloudspeaker takut polisi mendengarnya. Saat berbicara pun dia berbisik-bisik.
"Ada apa?" Tanya orang dibalik telepon.
"Tuan, aku ditahan oleh polisi karena kasus menabrak orang. Kau harus melepaskan aku! Aku tidak mau ditahan." Mohonnya dengan sangat.
Orang itu terkejut. Dia membenarkan posisi duduknya. Lalu berdehem beberapa kali untuk kembali menstabilkan suaranya.
"Jangan pernah mengungkap kalau kau bekerja untukku. Dan jangan pernah menghubungiku lagi." Ucap orang itu penuh penekanan.
"Kau! Kenapa kau malah melepaskan tanggung jawab seperti ini? Jika kau tidak menjebakku, aku tidak akan berada di posisi ini sekarang!" Pekik Pras berang karena merasa marah.
__ADS_1
"Hahahaha! Menjebakmu? Bukankah kau sendiri yang mau untuk membunuh anakmu? Kenapa sekarang kau malah melimpahkan kesalahanmu padaku, Pras?" Tampik orang itu yang jelas tidak mau disalahkan.
"Kau memang brengsek! Pengecut! Karena kau memintaku untuk melakukannya! Lihat saja, aku akan mengungkapkan mu pada polisi. Agar mereka juga menyeretmu ke penjara dan mendekam sampai membusuk bersamaku!" Decih Pras marah.
"Coba saja! Jika kau berani berkata satu kata saja tentangku. Aku akan langsung menghabisimu. Tapi jika kau bisa tutup mulut, aku akan membuatmu hidup damai dalam penjara. Camkan itu!" Hardik orang itu
TUTT
Orang dibalik telepon langsung mematikan sambungan teleponnya, membuat Pras menggeram marah dan membanting ponselnya.
Sial! Dia benar-benar sudah menjebakku. Dia yang memintaku melakukannya, tidak memberikanku upah. Dan sekarang, aku ditangkap dan dia tidak mau bertanggung jawab, Huh!
Pras begitu kesal. Dia berulang kali mengacak-acak rambutnya karena merasa frustasi dengan apa yang sedang menimpanya.
Saat dia termenung, tiba-tiba dia tersenyum seperti orang gila.
"Pak, siapa yang telah melaporkan aku?" Tanya Pras pada polisi yang duduk di sampingnya.
"Nanti kau akan tahu sendiri. Dia menunggumu di kantor polisi." Jawaban polisi yang berbentuk teka-teki itu malah membuat Pras semakin dilanda kebingungan.
"Kenapa tidak langsung mengatakannya saja?" Tanya Pras dengan intonasi nada tak sabaran.
"Harusnya kau tahu, pada siapa kau bersalah. Sudah diamlah!" Polisi itu masih enggan untuk menjawab.
Pras pun menutup mulutnya. Sepanjang perjalanan dia hanya diam saja tidak mengatakan apa pun lagi.
Sesampainya di kantor polisi, Pras kembali sibuk karena minta bertemu dengan orang yang melaporkannya.
"Mana orang yang menggugatku? Cepat pertemukan aku dengannya!" Teriaknya yang tidak sabaran.
"Sebentar, kami sedang menghubungi mereka." Pras tak lagi berkata apa pun. Dia memilih diam dan menunggu.
Aku yakin, pasti Bara atau Embun yang melaporkan aku. Jika memang Embun, itu akan sangat mudah bagiku. Aku tinggal memohon saja, pasti dia akan langsung iba dan mencabut gugatannya, hahaha!
TAK TAK TAK
Terdengar suara pantofel membentur lantai, semakin lama suaranya semakin dekat dengan tempat Pras duduk sekarang.
Pras ternganga setelah melihat siapa yang datang. Dia merasa tidak mengenali orang yang berdiri di depannya sama sekali.
"Si-siapa kau?" Tanya Bara sambil menunjuk Wajah orang yang kini berdiri dihadapannya. Dia cekungan seperti sedang mencari seseorang. Namun, tak menemukan siapa pun selain mereka berdua.
Pras yang semula duduk menunggu dengan tenang, kini seperti cacing yang disiram dengan air garam. Orang yang baru saja menemuinya itu duduk dihadapannya dengan tenang dan menatap Pras lekat.
DUKUNG AUTHOR DENGAN LIKE, BERIKAN KOMENTAR, BERIKAN GIFT, DAN JUGA VOTE.
BERIKAN RATE 5 DAN TAMBAHKAN KE DAFTAR FAVORIT KAMU YA. AGAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT 💪
TERIMA KASIH❤️❤️❤️❤️❤️
__ADS_1