
Embun berhenti, saat setelah kembali dari kamar kecil. Dia berdiri di tempat karena tercengang melihat Bara yang sudah memegang sebuah benda yang seharusnya dia rahasiakan dari pria itu.
Bagaimana ini. A, apa yang harus kulakukan? batin Embun yang terdiam terpaku di tempatnya.
"Apa aku harus balik badan dan masuk ke kamar lalu pura-pura tidur saja, ya?" gumamnya berbicara sendiri sambil terus meremas ujung bajunya karena merasa sedang gugup.
"Tapi, jika aku melarikan diri sekarang, dia pasti akan kembali minta penjelasan saat bertemu denganku besok pagi. Tidak ada cara lain, aku harus menjelaskannya." Embun berjalan perlahan mendekat ke arah Bara berdiri yang masih melihat kertas hasil pemeriksaan milik Embun tadi.
Saat mendengar ada suara langkah kaki yang mendekat, dia berbalik dan melihat. Dia langsung menatap Embun dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Milik siapa ini?" tanya Bara pada istrinya setelah wanita itu berdiri tegak tepat dihadapannya.
"Itu, itu...." Embun tergugu karena masih merasa bingung harus jujur atau bagaimana, tapi bukti yang kuat sudah dipegang oleh Bara, mana mungkin dia bisa mengelak lagi.
"Cepat jawab aku! Milik siapa ini?" tanya Bara yang sudah berteriak, terlihat urat-urat yang bermunculan di lehernya karena besarnya suara yang dia keluarkan.
"Tuan, itu adalah milik...."
"Jawab aku, Jingga! Milik siapa ini?" Bara melemahkan suaranya dan berjalan mendekati Embun, kini deruan nafas masing-masing dari mereka pun sudah terasa berhembus mengenai kulit.
Mendengar ribut-ribut, Belle yang baru selesai mandi langsung buru-buru berlari ke lantai bawah untuk melihat ada kejadian perang apa di rumahnya. Namun, dia juga membelalakkan matanya karena melihat sebelah tangan Bara memegang tespack, dan sebelahnya lagi memegang hasil USG Embun.
Jika tuhan sudah menakdirkan untuk tidak menyembunyikannya, bagaimana pun caranya, tuhan sendirilah yang akan menunjukkannya. Aku harap kak Embun bisa berkata dengan jujur, batinnya.
Belle hanya berdiri di anak tangga karena menurutnya ini adalah masalah keluarga mereka, jadi biar mereka sendirilah yang menyelesaikan. Dia tak perlu ikut campur, namun jika Bara sudah melakukan hal yang salah, barulah dia turun tangan.
Embun menghembuskan nafasnya kuat-kuat untuk mempersiapkan diri atas sikap yang diperlihatkan Bara nantinya. Dia sebenarnya bukan tak ingin memberitahu, tapi dia hanya belum siap dengan sikap Bara, yang mungkin nanti tidak mau menerima kehadiran anak mereka.
"Itu milikku! Bukankah Anda bisa membacanya dengan jelas, Tuan? Tertera namaku disitu, kenapa Anda masih saja bertanya dan berteriak-teriak?" jawab Embun.
"Apa maksudmu dengan ini adalah milikmu?" tanya Bara yang terlihat lemah, tidak seperti tadi.
"Apa maksudku? Bukankah sudah jelas itu adalah hasil USG milikku?" ujar Embun pelan.
"Aku hamil! Aku hamil anakmu, Tuan Bara Wirastama!" ucap Embun tegas yang menatap Bara tajam.
__ADS_1
Seketika Bara tercengang mendengar pengakuan Embun. Dia tidak bisa berkata apapun. Karena dia sadar, kalau dialah laki-laki pertama yang telah merenggut kesucian wanita itu, menghancurkan masa depannya dan menjamahnya setiap saat. Bahkan, dia selalu lupa untuk memakai pengaman setiap dia menginginkan istrinya itu.
Embun menatap Bara nyalang, sepertinya alasan-alasan atau tuduhan-tuduhan Bara sudah berputar-putar dan berseliweran di dalam kepalanya.
"Kenapa Anda terdiam? Anda ingin menuduhku kalau ini bukanlah anakmu, karena aku wanita malam? Begitu?" ucapan Embun mencelos begitu saja karena pemikirannya tadi.
"Apakah isi kepalaku terlihat jelas? Memangnya, bukan seperti itu?" ucap Bara sambil tertawa mengejek.
PLAKK
Satu tamparan mendarat di pipi Bara, Embun menatap Bara dengan mata yang sudah memerah, dan air matanya juga sudah menggenang di pelupuk matanya.
"Itu adalah tamparan karena Anda sudah menuduhku tanpa bukti!"
"Kau berani menamparku? Aku ini suamimu, harusnya kau menghormatiku." emosi Bara juga sudah terpancing.
"Aku memang harus menghormatimu. Tapi, aku juga berhak membela diriku sendiri, apalagi dari tuduhan tanpa bukti seperti itu." tegas Embun.
"Aku ini suamimu. Jangan pernah berteriak dihadapanku." pekik Bara.
"Anda suamiku? Jadi sekarang Anda sudah tahu dengan jelas, kan? Anak siapa yang sedang ku kandung ini. Jadi, kuharap tidak akan ada lagi tuduhan-tuduhan tak berdasar padaku untuk kedepannya nanti." ucap Embun, dia mengambil tasnya lalu pergi. Karena emosinya sudah memuncak, rasa laparnya pun hilang.
"Kak?" tegur Belle.
"Belle? Kamu pasti sudah tahu tentang kehamilannya, kan?" tanya Bara.
"Ya, aku sudah tahu. Kami juga baru mengetahuinya siang tadi karena aku yang memaksa kak Embun untuk periksa." jawab Belle.
Bara terlihat gusar, dia menghembuskan nafas kasar berkali-kali. Perasaannya sedang bercampur aduk sekarang. Antara senang, sedih, atau takut kehilangan.
"Kak, aku harap setelah kamu tahu tentang kabar kehamilan kak Embun, kamu bisa memutuskan hubunganmu dengan wanita itu." ujar Belle.
"Tidak. Aku tidak bisa. Aku mencintainya, Belle. Aku tidak bisa melepaskannya." Bara menggeleng cepat.
"Kak, coba sadarlah. Wanita itu sudah meninggalkan kamu, Kak. Sekarang sudah ada kak Embun yang menggantikannya, bahkan sudah mengandung anakmu, cucu papa dan mama, Kak." Belle masih berusaha untuk menyadarkan Bara dari kebodohannya.
__ADS_1
"Tidak akan ada yang bisa menggantikannya, Belle. Dia hanyalah istriku sebagai status saja."
"Aku lelah menasehatimu, Kak. Semua keputusan ada di tanganmu. Kamu akan segera menjadi seorang Ayah. Aku harap kamu bisa lebih bijak dalam mengambil keputusan, sebuah penyesalan itu tidak akan ada gunanya." ujar Belle kemudian.
Setelah mengatakan itu, Belle pergi ke kamarnya. Dia lelah menasehati Kakaknya yang telah dibutakan Cinta atau hanya obsesi semata.
Bara juga membawa mobilnya menuju Rex Club. Di sanalah dia bisa menenangkan dirinya yang kadang sedang kacau balau atau merilekskan pikirannya yang sedang terbalut kabut tebal.
"Rey, tuangkan minuman untukku." ucap Bara yang baru datang dan sudah duduk bersandar di sofa di Rex Club milik Daniel.
"Kenapa kau terlihat kacau sekali, Bara?" tanya Rey yang terus menuangkan minuman untuk sahabatnya itu.
"Jingga hamil." ucapnya seperti terlihat frustasi.
"Jingga? Siapa itu, Jingga? Kau menghamili wanita lain lagi? Segeralah nikahi dia. Tapi, bagaimana dengan istrimu, Embun?" ucap Rey yang terkesan heboh sendiri.
PLAKK
Sebuah pukulan mendarat di kepala Rey, tentu saja pukulan itu berasal dari Daniel yang kesal melihat sahabatnya yang terlalu bodoh dan lambat.
"Jingga itu adalah istrinya Bara, bodoh." ucap Daniel.
"Apa? Bukankah istri Bara hanya Embun saja?" tanyanya pada Daniel. "Sejak kapan kau menikah dengan Jingga juga? Kenapa tidak mengundangku, sialan!" tanyanya yang sudah mengalihkan perhatiannya pada Bara.
"Embun Jingga Prameswari! Kau yang memanggilnya, Embun. Sedangkan dia memanggilnya, Jingga." ucap Daniel menjelaskan.
"Kenapa kau memanggilnya berbeda? Aku kan jadi bingung." ucap Rey tersenyum malu.
"Kau saja yang bodoh!" ejek Daniel.
"Terserah aku lah. Memang apa masalahnya denganmu. Dia istriku, aku mau memanggilnya apa, itu urusanku." jawab Bara ketus.
"Istrimu sudah hamil?" tanya Rey yang terlihat antusias.
"Ya." jawab Bara.
__ADS_1
"Kau aneh sekali. Istrimu hamil, kenapa kau terlihat frustasi. Bukankah seharusnya kau senang, karena sebentar lagi akan menjadi seorang Ayah?" tanya Rey yang mulutnya memang selalu ceplas-ceplos tanpa melihat kondisi.
Jangan lupa tinggalkan like, vote, komentar dan gift. Terima kasih ❤️❤️