
Tapi, aku tidak berjanji untuk tidak mengajak Kak Bara ya, Kak. batin Belle mengejek.
"Jadi, ke mana kita akan pergi besok, Kak?" Tanya Rena.
"Bagaimana dengan...." Embun menjeda kalimatnya sesaat sambil kembali berpikir.
"Taman bermain!" Ucap mereka bertiga serempak. Kemudian saling pandang dan tertawa aneh.
"Kalian juga ingin pergi ke taman bermain?" Tanya Embun sambil menatap Rena dan Belle secara bergantian. Dia tak menyangka kalau pemikirannya bisa sejalan dengan kedua adiknya itu.
"Ya. Aku tidak pernah pergi ke taman bermain, Kak. Sejak kecil, orang tuaku kalau liburan selalu membawaku ke pantai, atau keluar negeri. Mereka mengira, taman bermain itu adalah sebuah tempat yang mengerikan." Belle menjelaskan dengan wajah tertunduk. Dia memang sangat ingin pergi ke sana seperti anak-anak pada umumnya.
Setiap pergi ke mana pun, setiap kali melewati taman bermain, Belle selalu merengek pada orang tuanya.
Tapi, Ibunya selalu berkata, "Belle, wahana itu sangat mengerikan, bagaimana kalau kamu terjatuh dan terluka? Dan di sana juga sangat mudah terjadinya penculikan, Sayang. Lebih baik kita pergi ke tempat lain saya, ya?" Ucap Ibunya sambil mengelus kepala Belle kecil.
"Tapi, Bu. Aku sangat ingin naik roller coaster. Ayo, Bu, kita naik sekarang." Pinta Belle kecil.
Belle menceritakan masa lalunya dengan menirukan gaya antara Ibunya dan dia. Saat kalimat terakhir, Embun dan Rena dibuat terbahak-bahak olehnya.
"Kenapa kalian tertawa? Aku kan sedang menceritakan masa kecil yang paling tidak menyenangkan versiku. Kenapa kalian malah merasa lucu?" Belle bersungut-sungut karena menurutnya Embun dan Belle tidak ada rasa prihatin pada dirinya. Padahal dia sudah menceritakan dengan raut sedih, tapi mereka masih saja tertawa.
"Belle, kau menyadari sesuatu tidak?" Tanya Rena setelah mengehentikan tawanya.
"Apa?"
"Bagaimana mungkin Ibumu mengizinkan kau pergi ke taman bermain. Sedangkan yang kau minta, kau ingin naik roller coaster!" Sahut Embun yang tadinya juga ikut tertawa sampai bayi di dalam bergerak-gerak lincah.
Mendengar penuturan Embun, Belle terbelalak. Dia juga ikut membenarkan ucapan Kakak iparnya itu. Dia tercengir kuda, yang menampakkan sederet giginya kemudian menggaruk tengkuknya yang tak gatal karena merasa malu.
Pantas saja Ibu selalu mengatakan itu wahana yang mengerikan! Hahaha. Kenapa aku tidak menyadarinya selama ini, memang bodoh kau Belle!
Dia mengumpat dirinya sendiri karena dia memang bodoh. Tak ingin berlama-lama melihat Embun dan Rena yang selalu menertawakannya, dia kembali bertanya pada mereka. Masa kecil apa yang tidak menyenangkan bagi mereka, agar dia bisa membalas tertawaan mereka tadi.
"Lalu kalian, apakah masa kecil kalian ada yang tidak menyenangkan sepertiku?" Tanya Belle merasa antusias mendengarnya. dia sudah menyiapkan suara terbesarnya untuk menertawakan Embun dan Rena.
"Masa kecilku tidak ada yang tidak menyenangkan. Semuanya terasa menyenangkan." Sahut Rena menimpali.
"Yah, pasti itu karena orang tua kalian menuruti semua keinginan kalian, kan? Tidak asik!" Ketusnya yang sudah mengerutkan bibirnya.
Melihat sikap Belle, Rena dan Embun saling pandang. Mereka tersenyum,. karena mereka tahu, Belle pasti sudah berpikiran berbeda dengan kenyataannya.
"Masa kecil kami dihabiskan untuk berjualan kue dan bekerja sampingan." Sahut Embun memberikan jawaban yang pasti.
"Kalau kami menginginkan sesuatu, kami pasti akan berusaha sendiri. Menyisihkan sedikit uang hasil bekerja kami untuk ditabung. Lama sekali, baru keinginan kami bisa tercapai." Rena kembali menimpali.
"Sampai pernah suatu kali, kami terpaksa berbohong pada Ibu dan Ayah. Memberikan mereka hanya sedikit uang. Karena dia menginginkan baju baru." Embun mengatakan itu sambil melirik ke arah Rena. Karena, memang Rena lah yang dimaksud Embun. Dan Rena hanya terkekeh pelan tersipu malu.
"Bukankah semua itu adalah masa kecil yang tidak menyenangkan sama sekali?" Rena heran melihat Kakak adik itu, seharusnya mereka menceritakan itu semua dengan raut yang menyedihkan. Tapi, kenapa malah sambil tertawa riang seperti itu.
Rena tertawa, kemudian dia kembali menjelaskan cerita masa kecilnya, "Awalnya, aku juga berpikir sama sepertimu. Aku selalu menangis tak menerima kenyataan. Ketika orang bisa bermain, tapi aku tidak. Orang lain bisa membeli apa yang mereka inginkan, aku juga tidak bisa. Dan orang lain mendapat kasih sayang dari orang tuanya, kami juga tidak mendapatkan itu. Tapi, Kak Embun selalu menasehatiku untuk selalu senantiasa bersyukur dengan keadaan kita yang sekarang." Ujarnya panjang lebar.
"Saat kita bisa makan, belum tentu orang lain bisa, kan? Saat kita bisa berlindung di dalam sebuah bangunan yang disebut rumah, yang penuh kehangatan, belum tentu orang lain juga bisa. Maka dari itu, sejak saat itu aku selalu bersyukur atas apa yang diberikan Tuhan padaku. Dan yang paling aku syukuri adalah, kehadirannya, Kakakku yang selalu menguatkan aku dan menjabarkan arti hidup dengan penuh kesabaran." Tambahnya, Rena melihat ke arah Embun, kemudian memeluknya dan tersenyum.
☀️Jadi, apakah kita sudah bersyukur hari ini? Atau, tidak sama sekali!?☀️
__ADS_1
Belle yang awalnya ingin membalas menertawakan mereka, dia menjadi haru. Bukan tertawa, dia malah dibuat menangis karena mendengar cerita seperti itu. Dia merasa terpukul, tertampar, dan tertendang dari kenyataan.
"Sudah cukup, Kak. Jangan lanjutkan cerita dramatis kalian. Aku sudah tak sanggup mendengarnya." Belle memaksa mereka untuk berhenti bercerita, karena dia memang tak sanggup lagi mendengar.
Pantas saja Kak Embun begitu kuat selama ini. Ternyata, pelajaran hidup yang telah mengajarinya. Aku harus berguru padanya, agar aku juga bisa sekuat Rena! Tekad Belle.
Sore hari, para pegawai sudah berbaris rapi, di tangan mereka masing-masing sudah memegang sebuah amplop yang berisikan uang gaji serta bonus bulanan mereka yang terbilang besar. Mereka dikumpulkan seperti itu karena Embun ingin menyampaikan perihal libur untuk dua hari ke depan.
Meskipun para pegawainya sudah tahu, tapi mereka tetap ikut berkumpul dan wajah mereka terlihat sangat menantikan hari libur seperti ini. Ada yang berencana menggunakan hari libur untuk sekedar istirahat, berkencan, menghabiskan uang gajinya atau mengunjungi orang tua mereka. Karena, ada beberapa orang yang merantau, memperjuangkan hidupnya ke kota, dan beruntungnya mereka dapat bekerja di toko milik Embun.
"Kalian pasti sudah tahu, kalau besok kita akan libur selama dua hari. Gunakan waktu libur ini dengan sebaik-baiknya. Dan, kembali bekerja setelah itu. Semangat!" Pekiknya sambil tersenyum senang.
******
☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️
Keesokan paginya, Bara, Belle dan Brandon sedang makan sarapan bersama. Sedari kemarin Belle bingung bagaimana caranya dia menyampaikan kalau hari ini dia dan Embun akan pergi berlibur. Lalu, tiba-tiba sebuah ide yang menurutnya sangat cemerlang melintas begitu saja di kepalanya saat dia menggigit roti berselai kacang kesukaannya.
"Brandon, kamu mau ikut denganku?" Tanya Belle pada Brandon yang juga sedang menyantap makanannya.
Belle melihat Bara yang masih fokus dengan makanannya. Seperti tidak peduli dengan percakapan dua orang di depannya itu.
"Ke mana, Kak? Kebetulan aku juga sangat bosan di rumah." Sahutnya sambil mengunyah.
"Ke taman bermain. Kita tidak hanya pergi berdua saja nanti. Pasti akan lebih menyenangkan." Belle kembali merangkai kata-kata agar Bara melirik ke arahnya dan bertanya. Tapi, bukan hanya tidak bertanya, bahkan melirik pun tidak.
"Taman bermain? Wah, pasti akan sangat asik. Aku ikut, aku ikut! Memang, ada siapa lagi di sana yang akan ikut?" Tanyanya dengan mata berbinar-binar.
"Di sana nanti ada Rena dan Kak Embun. Jadi, banyak yang akan menjagamu di sana, jadi semua wahana kamu boleh mencobanya." Ucap Belle lalu sedikit melirik ke arah Bara. Dan ternyata, berhasil dong!
Blakkk
Hahaha, kena kau Kak! Memang tidak ada yang bisa mengalahkan otakku dalam hal membuat rencana.
Wajahnya memasang tampang bodoh, dalam hatinya dia tertawa kencang karena rencananya menarik perhatian Bara benar-benar berhasil.
"Kapan kalian akan pergi?" Tanya Bara ikut menyela percakapan antara Belle dan Brandon.
"Kakak kan tidak diajak oleh Kak Belle, untuk apa bertanya?" Sahut Brandon. Dia sudah merasa kalau ada Bara, dia tidak akan bebas bermain.
"Diamlah anak kecil. Aku tidak berbicara denganmu." Balas Bara yang mulai merasa kesal. Pasalnya, dia memang sangat menggebu-gebu ingin tahu dan ikut serta agar bisa bertemu lagi dengan Embun. Karena, selama beberapa hari ini, dia selalu memikirkan bagaimana caranya agar dia bisa bertemu dengan Embun. Tapi tak pernah mendapatkan solusi.
"Kami akan pergi hari ini, Kak. Di taman bermain Park Kellerman. Kenapa? Kakak juga mau ikut?" Tanya Belle pura-pura tak tahu.
"Ya. Apakah boleh? Aku ingin bertemu dengan Jingga." Sahutnya pasrah. Dari matanya sangat terlihat kalau dia sekarang sedang berharap kalau Belle menyetujui permintaanya.
"Aku tidak tahu, Kak. Karena, kata Kak Embun kemarin tidak boleh mengajakmu." Jawabnya membuat Bara kembali melemah, harapannya hanya sia-sia sekarang. Keinginannya untuk bertemu dengan Istri dan calon anaknya, pupus sudah.
Belle menjawab seperti itu agar nanti, jika Bara ikut bersama mereka. Ketika ditanya siapa yang mengajaknya, jangan sampai Bara menyebut namanya. Bisa hancur semuanya kalau sampai itu terjadi. Bisa jadi, ketika Embun akan berpergian lagi, Embun tidak mau lagi mengajaknya.
"Tapi, aku ada satu ide untukmu, Kak. Kalau kamu mau mendengar ide dari Anak kecil sepertiku sih." Ucapnya yang terlihat biasa-biasa saja.
Ayo cepat katakan kalau kamu mau mendengar ideku. Cepat katakan, kak!
"Coba katakan. Kalau menurutku masuk akal, aku bisa mempertimbangkannya." Sahut Bara sesuai harapan Belle.
__ADS_1
"Bagaimana kalau tiba-tiba kamu datang ke sana bersama dengan Rey dan Kak Daniel. Kalau kamu sendiri yang datang ke sana, pasti akan sungkan karena hanya kamu sendiri yang laki-laki." Ujarnya hati-hati agar Bara mau menerima idenya ini.
"Kak, jangan ajak Kak Bara. Kita pergi saja tanpa dia." Pinta Brandon sedikit memaksa.
"Boleh juga. Kalau begitu, aku akan menghubungi mereka sekarang." Ucapnya bersemangat. Bara mengambil ponselnya yang terletak di dalam kamar di lantai atas. Saat dia menaiki tangga, senyuman selalu terukur di wajahnya.
"Akhirnya berhasil! aku berhasil mengajak Kak Bara, dan bisa bertemu dengan Kak Daniel. Satu lemparan, dua burung berjatuhan." Gumamnya girang.
Di kamarnya, Bara menelepon Rey lebih dulu.
TUTT TUTT TUTT TUTT
Sangat lama, barulah panggilan di jawab oleh laki-laki yang masih tidur karena sedang menikmati akhir pekan. Kalau akhir pekan, Rey memang lebih memilih tidur dari pada harus pergi ke mana pun.
"Rey, cepat bangun. Ayo temani aku." Ajak Bara. Dia sudah tahu kebiasaan laki-laki itu, yang tidur diakhir pekan.
"Kau ajak Daniel saja. Aku ingin melanjutkan tidurku." Sahutnya yang masih belum bisa melepaskan bantalnya.
"Aku juga mengajaknya. Cepatlah, temani aku menemui Jingga!" Ucapnya memaksa dan mengeraskan suaranya.
"Menemui Embun? Apakah ada Rena?" Tanya Rey yang langsung membuka matanya setelah mendengar kata Embun. Karena dia juga tahu, jika ada Embun, pasti ada Rena.
"Kata Belle sih ada. Cepat bangunlah kita pergi sekarang." Seru Bara lagi.
"Baik, aku akan langsung menemuimu nanti." Sahutnya dan langsung mematikan sambungan telepon mereka.
"Dasar pria aneh!" Umpat Bara. Setelah mematikan teleponnya dengan Rey, kini Bara menghubungi Daniel. Untung saja mengajak pria itu tidak sesusah mengajak Rey. Entah mendapatkan sentilan dari mana pria itu tiba-tiba langsung bersemangat begitu.
******
Kini Embun, Rena, Belle, dan Brandon sudah berada di depan taman bermain Park Kellermann. Sebelum tiba di sana, Belle sudah lebih dulu mewanti-wanti pada Brandon agar tak salah bicara. Bisa gawat kalau mereka tahu, dialah yang sudah mengajak tiga laki-laki itu untuk ikut serta.
Dia berulang kali mengancam Belle, kalau sampai bocah itu salah bicara, Belle tidak akan mengizinkan Brandon untuk bebas menaiki semua wahana yang dia mau.
Dan Brandon bukanlah anak kecil yang bodoh, dia adalah bocah pintar. Jadi, dia juga bisa mengunci mulutnya agar tak salah bicara.
Mereka terperangah karena melihat taman bermain yang sudah buka tapi terlihat sangat sepi. Biasanya, taman bermain ini akan sangat ramai pengunjung bila tiba akhir pekan seperti ini. Itulah alasannya kenapa mereka lebih memilih ke taman ini. Tapi, semua tak sesuai dengan kenyataan yang mereka harapkan.
"Kak, kenapa bisa sesepi ini? Apakah sudah ada orang yang membooking tempat ini? Gagal dong kita main di sini." Ucap Rena yang terlihat kecewa.
"Mungkin saja, tapi kan tidak apa-apa. Jika di sini tidak bisa, kita bisa mencari taman bermain yang lain." Sahut Embun agar Rena kembali bersemangat. Meskipun sebenarnya dia juga merasa sedikit kecewa, karena dia sudah lama ingin bermain di sini, tapi malah sudah di booking orang lain.
Belle dan Brandon tidak angkat bicara. Karena mereka tahu, ulah siapa ini. Mereka hanya menunggu waktu hingga si pembuat ulah muncul dan menampakkan dirinya pada mereka.
Aku hanya meminta Kak Bara ikut, bukan membooking seluruh area taman ini. Tapi, mungkin dia melakukan ini untuk melindungi calon Anaknya.
Saat mereka hendak pergi, ada yang memangil nama mereka dari kejauhan. Mereka langsung berbalik dan melihat siapa yang memanggil mereka.
"Jingga!" Bara senyum-senyum melihat ke arah Embun. Dan tangannya langsung mengusap perut buncit Embun.
"Apa kabar, Sayang? Sudah lama kita tidak bertemu." Dia berbicara dengan anak-anaknya di dalam perut Embun.
"Rena! Kita bertemu lagi." Ucap Rey sambil mengedipkan sebelah matanya menggoda
Jangan lupa untuk like, komentar, berikan gift dan vote ya akak-akak semuanya. Please dong, jangan pelit buat tap ❤️ dan berikan komentarnya. Padahal, kalau baca komentar kalian, aku tuh jadi tambah semangat, huhu😭
__ADS_1
Berikan rate 5 dan tambahkan ke daftar favorit kamu ya 🥺🙏
Terima kasih❤️❤️❤️