
"Ibu? Rena, dia siapa?" tanya Mika menunjuk pada Ibunya Rey.
"Dia Ibunya calon suamiku, Bu!" jawab Rena.
"Calon suami? Benarkah?" Mika terlihat terkejut dengan pernyataan sang putri yang selama ini tidak ia pedulikan.
"Be-benar, Bu. Maafkan Rena. Langsung menerima lamaran Om Rey tanpa sepengetahuan Ibu," ucap Rena sembari menggenggam tangan Ibunya. Dia takut, Mika akan mengatakan sesuatu yang mungkin akan menyakiti hati Ibunya Rey.
Mika menatap Rena, semakin menguatkan genggaman mereka. "Rena, tidak apa-apa. Asalkan dia baik untukmu, itu sudah lebih dari cukup untuk Ibu. Ibu juga tidak berhak menentang dengan siapa kamu akan menikah kelak, semua itu adalah jodoh dari Tuhan. Jika baik untukmu, maka jalanilah." jawaban Mika membuat Rena tersenyum senang. Dia langsung memeluk sang Ibu dengan perasaan bahagia.
"Terima kasih, Bu. Terima kasih karena sudah mengerti keinginanku," ucap Rena. Ternyata, ini bukan hanya hari bahagia Belle, tapi juga hari bahagia untuk dirinya.
Ibunya Rey dan Amanda juga ikut tersenyum. Merasakan kebahagiaan yang ikut mengalir pada mereka.
Hanya saja, Amanda tidak tahu. Itu adalah kebahagiaan yang baru saja datang pada Rena setelah sekian lama dia mengasah hatinya untuk selalu bersabar.
Beruntung sekali Rena. Memiliki Ibu yang sangat baik.
Mereka mencari tempat duduk agar lebih nyaman untuk berbicara.
"Rena, bisakah kamu memanggil Embun dan kedua anaknya?" pinta Mika.
Rena menganggukkan kepalanya. Dia beranjak dan mencari Embun ke dalam kamarnya.
TOKK
TOKK
TOKK
"Ada apa, Rena?" tanya Embun.
"Kak, Ibu ingin bertemu denganmu, Hansel dan juga Hilsa," ucap Rena menyampaikan mandat.
"Ibu? Ibu siapa?" tanya Embun heran dengan menautkan dua alisnya.
"Ibu kita, Kak. Sekarang Ibu ada di bawah dan sedang menunggu kalian," jelasnya.
"Ibu kita? Benarkah?" tanya Embun memastikan. Wajah senangnya tak dapat dia sembunyikan.
"Benar. Ibu juga ingin bertemu dengan Hansel dan Hilsa."
"Ayo, bantu aku gendong Hansel dan bawa mereka pada Ibu," ajak Embun.
"Mau ke mana kalian?" tanya Bara saat melihat Embun dan Rena sudah menggendong kedua anaknya.
"Mau bertemu ibu. Sekarang Ibu sedang menunggu di bawah," sahut Embun.
"Ya sudah, pergilah. Nanti aku akan menyusul," ucap Bara.
__ADS_1
Karena merasa tak sabaran, tanpa menjawab apapun Embun langsung keluar kamar dengan menggendong Hilsa dan Rena mengekor dari belakang.
Dari kejauhan Embun sudah menangkap bayangan tubuh Mika. Meski itu bukanlah Ibu kandungnya, tapi dia sangat-sangat merindukan orang yang sudah merawatnya sedari kecil itu. Sungguh, dia benar-benar merindukan belaian, usapan tangan dari Mika.
Dengan bibir yang menyunggingkan senyuman bahagia, Embun berlari ke arah Mika yang sedang duduk bersama Amanda dan Ibunya Rey sembari bercengkrama.
Dia seperti lupa kalau dirinya sedang menggendong putrinya.
"Kak Embun, hati-hati! Kau sedang menggendong Hilsa, Kak!" teriak Rena yang langsung menyadarkan Embun.
Mendengar teriakan Rena yang menyebut nama orang yang dia cari, Mika langsung menoleh. Melihat Embun dari atas ke bawah.
"Embun...?" Mika merentangkan tangannya, meminta Embun masuk ke dalam pelukannya.
"Ibu...!" seru Embun, air matanya mulai tumpah setetes demi setetes. Itulah air mata kerinduan. Kerinduan seorang anak terhadap sosok Ibu yang telah lama tak ia lihat. Meski bagaimana ia berperilaku kasar padanya, namun tunas kebencian tak pernah tumbuh di hati Embun dan Rena.
Tubuh Embun luruh berhamburan ke dalam pelukan Mika, sosok yang selama ini ingin ia temui. Tak segan-segan mereka saling mengeratkan pelukan dan menumpahkan kerinduan yang telah lama mereka pendam di hati terdalam. Tak bisa dibohongi, pelupuk mata mereka sudah mengalirkan air mata kerinduan yang seperti tiada habisnya.
"Embun, maafkan Ibu yang selama ini berperilaku kasar padamu. Tidak pernah baik padamu. Ibu, ibu sangat menyesal, Embun!" Tangisan Mika seketika pecah saat tubuh mereka berbenturan, saling menautkan kerinduan terdalam yang sering mereka ukir ketika malam tiba.
Embun menggelengkan kepalanya. "Tidak, Bu. Kami lah yang bersalah padamu. Kami tidak berbakti padamu, tidak pernah menjenguk Ayah dan Ibu lagi," ucapnya yang juga ikut menangis.
"Tidak, Nak. Sikap kalian itu adalah sebuah hal yang wajar. Ibu tahu, kalian kecewa pada kami yang hanya mementingkan uang dari pada rasa kekeluargaan dan kami juga tidak pernah memberikan cinta selalu orang tua pada anak. Maafkan kami, Embun!" Mika mengaku, mengakui semua kelalaiannya selama ini. Yang mana, kelalaian yang dia dan Pras lakukan memanglah sebuah kesalahan besar sebagai orang tua.
"Tidak, Bu. Kita jangan ungkit lagi masa lalu, ya." Embun melepaskan pelukan mereka. Dia menghapus sisa air di sudut mata Mika.
"Iya, Bu. Yang ini Hilsa dan itu Hansel," Embun menunjuk ke anak laki-laki yang digendong oleh Rena.
"Sini, Sayang. Sama Oma." Mika hendak mengambil Hansel, namun belum juga tangan Mika menyentuh anak laki-laki yang baru berusia 2 tahun itu, Hansel sudah menangis.
"Ahhh, maaf. Oma menakuti kalian, ya? Ini salah Oma juga karena tidak pernah melihat kalian," cicitnya merasa bersalah.
"Embun, Rena, jika kalian punya waktu luang, datanglah jenguk Ayah kalian. Ayah kalian merindukan kalian," sarannya.
"Iya, Bu. Setelah acara ini selesai kami akan mengunjungi Ayah," jawab Embun.
Mereka kembali berbincang-bincang sambil menunggu acaranya di mulai.
"Bu, Aku ke sana ya. Sebentar lagi acara akan di mulai. Sebagai wakil dari mempelai wanita, aku harus berada di samping Bara," pamit Embun.
"Tidak apa-apa, pergilah. Jika ada waktu lain kali kita bisa bertemu di tempat lain."
Setelah menitikkan Hansel dan Hilsa pada Rena, Embun pergi menemui Bara yang sedang duduk di samping Belle.
"Kak Embun, kamu ke mana saja? Di mana Rena? aku sangat gugup," adunya sambil berdesis.
"Kamu gugup karena memikirkan malam pertama atau karena akan segera menikah?" goda Embun membuat wajah Belle langsung memerah.
"Kak...?" Belle merengek.
__ADS_1
Tiba saatnya Bara mengantarkan Belle untuk bertemu dengan Daniel. Bara menggandeng tangan adiknya itu dan mereka berjalan beriringan.
"Daniel, aku menyerahkan adik kesayanganku padamu karena aku percaya dengan cintamu padanya. Aku berdiri di sini, sebagai pengganti Ayahnya mengantarkan dia padamu. Dan jika suatu saat nanti kamu tidak lagi mencintainya, jangan sakiti dia dan jangan beritahu padanya. Beritahukan padaku agar aku segera menjemputnya untuk kembali pulang bersamaku," ucap Bara dengan mata memerah menahan tangis.
"Bara, aku berjanji padamu akan selalu menyayanginya, mencintainya dan menjaganya seumur hidupku. Tidak akan pernah menyakitinya dengan cara apapun. Jadi, izinkan aku membawanya pergi mengikat janji suci bersama agar dia bisa menjadi istriku," jawab Daniel dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Belle, pergilah dengannya. Jadilah istri yang baik untuknya. Karena surgamu berada padanya," ucap Bara lirih.
Belle mengangguk, dia melepaskan tangan Bara dan menyambut tangan Daniel yang menunggunya. Mereka melangsungkan akad nikah dan pernikahan itu sukses dijalankan dengan lancar.
Setelah semuanya selesai, saat Belle dan Daniel sedang sibuk menyapa para tamu undangan, tiba-tiba Rey naik ke atas pentas dan mengambil alih microfon dari penyanyi yang bertugas untuk menghibur para tamu undangan yang datang.
"Maaf, saya mengganggu sebentar. Bolehkah saya meminta perhatian para hadirin sebentar?" ucapnya.
Para tamu undangan langsung menoleh ke arah pentas seperti permintaan Rey.
"Saya berdiri di sini karena ingin melamar seseorang. Seorang wanita pujaan yang telah lama saya kagumi. Hanya saja, karena beberapa kendala, baru kali ini saya mendapatkan kesempatan untuk melamarnya di depan umum," tambahnya.
"Rena, bisakah kamu naik ke atas panggung?"
Sontak mata para tamu mulai liar melihat ke sana sini untuk mencari wanita bernama Rena yang dimaksud Rey. Mereka mulai berbisik-bisik saat tak ada satupun wanita yang naik ke atas panggung.
Namun, di tengah keriuhan itu, akhirnya Rena yang awalnya malu-malu. Berkat dorongan para keluarga dan Amanda, dia memberanikan diri naik ke atas panggung memenuhi undangan dari Rey.
Rey bersimpuh di hadapan Rena, memegang tangan wanita yang sedang tersenyum kikuk itu.
"Rena, tolong hilangkan kegugupanmu," Pina Rey. Dia berbicara di microfon, membuat para tamu tertawa mendengarnya.
"Om, cepatlah bicara atau aku akan turun sekarang!" bisik Rena mengancam.
Rey pasrah, dia kembali ke topik awal dan mulai memperlihatkan wajah seriusnya.
"Rena, kau pasti sudah tahu kalau aku sangat mencintaimu. Kau juga sudah tahu kenapa aku memintamu naik ke atas pentas ini. Maaf, aku tidak bisa berbuat romantis seperti orang lain. Tapi, aku akan mencintaimu lebih dari yang orang lain lakukan. Jadi, untuk membuktikan rasa cintaku itu, maukah kau menikah denganku?"
Air mata Rena menetes, dia merasa terharu dengan ucapan Rey yang ia tahu hanyalah gombalan penambah kesan.
"Maaf karena aku tidak bisa merangkai kata-kata panjang untuk membalas ucapanmu. Tapi, satu kalimat yang kuucapkan mungkin akan lebih bermakna untukmu." Rena terdiam, menarik nafas lalu membuangnya perlahan.
"Ya, aku bersedia menikah denganmu," jawabnya.
Rey langsung berdiri dan memeluk Rena. Hari ini benar-benar hari bahagia yang sangat lengkap untuk mereka.
Maaf, novel ini belum tamat ya. Soalnya ga cukup satu episode untuk tamatinnya. Mungkin butuh beberapa lagi. Yang pasti ga akan banyak lagi.
Dukung karya ini dengan berikan like, komentar, gift dan vote sebanyak-banyaknya.
Berikan juga rate 5 ya kak ❤️❤️❤️
Terima kasih untuk setiap dukungan yang kalian berikan untuk author ❤️❤️❤️❤️
__ADS_1