Istri Miskin Presdir

Istri Miskin Presdir
GETTING CLOSER


__ADS_3

"Om, kenapa ramai sekali?" tanya Rena heran. "Bukannya hanya bertemu saja?" tanya Rena yang mulai merasa gugup.


Bukan menjelaskan agar Rena bisa sedikit tenang, Rey hanya menggenggam tangan Rena dan menjawab pertanyaan gadis itu dengan senyumannya


Rey menarik tangan Rena agar mengikuti langkahnya. Namun, kelihatannya Rena tak menuruti ajakan Rey. Dia tak bergeming sedikitpun.


"Ayo, kenapa masih diam di sini?" tanya Rey heran.


"Om, bahkan kamu masih belum menjawab pertanyaanku!" tangkas Rena menatap Rey lekat.


Rey tertawa renyah. Dia tidak menyangka, decorasi-decorasi yang sudah terpasang rapi, malah membuat Rena kepikiran. Kelihatannya, jika dia belum menjawab, mereka tidak akan masuk ke dalam.


"Kamu khawatir apa?" tanya Rey remeh.


"Ka-kamu mau melamarku?" tiba-tiba hal itu terlintas begitu saja di kepalanya, membuat kening Rey mengkerut dalam dan menahan tawanya.


"Rena...." Rey berusaha menjelaskan,


"Atau, yang lebih parahnya, kamu mau segera menikahiku?" cetus Rena lagi, menarik tangannya dari genggaman Rey sambil bergidik ngeri. Membuat Rey melepaskan tawanya yang sedari tadi sudah ia tahan.


"Hahahaha. Kau sedang sakit?" Rey meletakkan punggung tangannya di dahi Rena, mengecek suhu.


"Ja-jadi bukan?" perasaan Rena sudah mulai tak tenang, seperti pertanda kalau ia akan malu.


"Hari ini, hari ulang tahun Ibuku. Aku membawamu karena baru mau mengenalkanmu padanya. Tapi, kalau kamu minta segera aku nikahi, tidak masalah," jelas Rey sambil tertawa.


Dasar kau pikirkan sialan! Aku sangat malu sekarang! Jika dipikir-pikir, aku seperti wanita yang meminta untuk segera dinikahi.


"Tidak, aku hanya salah sangka. Maaf, aku berkhayal terlalu tinggi," jawab Rena dan berjalan duluan.


"Rena, memang kamu sudah tau, kita akan ke mana?" teriak Rey sambil berusaha menyesuaikan langkah.


"Jalan saja dulu. Jika tersesat, itu sudah nasibku, yang tidak mau mempertemukan aku dengan jalan yang benar," ketus Rena tanpa mau melihat Rey.


Rey kembali menggenggam tangan Rena, mengecup punggung tangan Rena lembut dan berkata, "Maaf. Ayo kita ke sebelah sini. Kita langsung menemui orang tuaku saja."


"Tapi, Om. Aku tidak membawa apapun sebagai hadiah. Kamu tidak memberitahuku kalau Ibumu berulang tahun. Jadi, aku tidak menyiapkan apapun sebagai hadiahku." wajah Rena tampak bersalah.


"Tidak apa-apa. Aku sengaja tidak memberitahumu. Kehadiranmu di sini saja sudah menjadi hadiah untuk Ibuku. Jadi, tidak perlu memikirkan hal-hal lain lagi," jawab Rey menenangkan.


"Ta-tapi...." Rena terlihat ragu untuk mengatakannya.


"Tapi, di dalam tidak ada teman wanitamu, kan?" tanya Rena sambil menunduk.


"Tentu tidak. Mari, kita masuk sekarang."


Rey menggandeng tangan Rena masuk ke dalam menemui kedua orang tuanya.

__ADS_1


Terlihat orang tua Rey sedang berbincang-bincang dengan beberapa kolega bisnis mereka. Sampai, pandangan mata Ibu Rey teralihkan pada Rey dan Rena.


"Maaf saya tinggal dulu ya," ucapnya pada kolega bisnisnya.


"Ahh ya. Sekali lagi, selamat ulang tahun," ucap sang kolega bisnis.


Ibu Rey hanya tersenyum, kemudian berjalan mendekati anaknya yang sedang menggandeng seorang wanita.


"Rey, siapa dia?" tanya Ibu Rey.


Ibu Rey memperhatikan Rena dari atas ke bawah, membuat Rena tak nyaman. Tapi, sedetik kemudian, Ibunya memeluk Rena dengan hangat


"Kamu, Rena?" tanya Ibu Rey yang langsung tahu nama Rena, padahal Rena belum memperkenalkan dirinya.


"I-iya Tante," jawab Rena terbata-bata.


"Kamu memang sangat cantik dan sopan. Persis seperti yang diceritakan oleh Rey," puji Ibunya Rey yang merasa senang dengan Rena.


"Ibu!" pekik Rey merasa malu, merasa Ibunya sudah membongkar kartunya.


"Calon istri kamu, kan? Untuk apa malu di depannya?" goda Ibu Rey mengolok Anaknya.


Kemudian, percakapan mereka diiringi dengan candaan dan tawa. Rena pun semakin akrab dengan kedua orang tua Rey yang sudah menganggapnya seperti putri mereka sendiri.


"Rena, kamu sangat baik. Saya harap, kamu mau sering-sering mengunjungi saya. Karena saya sering merasa kesepian. Kamu jangan sungkan, saya sudah menganggap kamu seperti putri saya sendiri," ucap Ibu Rey.


**********


"Kak Daniel, bangun!" Belle menggoyang-goyangkan tubuh Daniel agar pria itu segera bangun.


"Hem! Jangan goyangkan aku seperti itu. Aku bukan pohon pisang," gumamnya yang masih setia memejamkan matanya.


"Huh menyebalkan!" gerutu Belle. "Jika kamu tidak mau bangun, aku tidak keberatan kalau harus pergi sendiri," Belle sengaja membesarkan suaranya agar Daniel mau langsung bangun. Dan ternyata, cara itu berhasil.


Daniel langsung membuka matanya dan duduk tegak. Dia menatap Belle yang sedang menahan tawa.


"Tunggu sebentar aku mandi. Langsung kesan makanan, agar semuanya cepat," titahnya dan menuju kamar mandi.


"Kita sudah seperti pengantin baru yang belum melalui malam pertama," celetuk Belle.


"Jadi maksudmu, kamu ingin segera malam pertama denganku? Sebelum menikah?" Daniel malah berbalik dan menggoda Belle.


Belle meraih benda apapun yang berada di dekatnya dan melempar Daniel dengan benda itu.


BUKK


Benda yang di lempar Belle lagi-lagi mengenai wajah bantal Daniel.

__ADS_1


"Kenapa kau selalu menimpukku?" tanya Daniel kesal.


"Sana mandi! Jangan lupa sikat gigi, agar mulut Kak Daniel tidak bicara yang aneh-aneh," ketusnya sambil berkacak pinggang.


Daniel berlalu ke kamar mandi. Sampai di kamar mandi, dia menggerutu tak jelas.


"Apakah begitu sikapnya? Setiap kali bertengkar, selalu melempar orang lain dengan sesuatu? Tapi, sifat kekanak-kanakannya sangat menggemaskan. Membuatku semakin jatuh cinta," ucapnya sambil menikmati mandinya.


********


"Hari ini kita mau ke mana saja?" tanya Daniel sambil menyantap sarapan paginya.


"Banyak sekali tempat yang ingin aku kunjungi. Aku harap, Kak Daniel akan menepati janji."


"Aku bukan tipe orang yang mengingkari janji, seperti seseorang. Sudah berjanji, malah melarikan diri! Untung saja aku bisa menangkapnya kembali," celetuknya menyindir.


Belle mendelik. Meskipun Daniel tidak menyebutkan namanya, tapi jiwanya terasa dipanggil. Kalau yang sedang dibicarakan Daniel memanglah dirinya.


"Huh! Untuk apa membahas yang sudah berlalu?" ucap Belle lirih. "Cih, sangat kekanakan!" umpatnya kesal.


"Memang! Ini semua karena aku masih kesal padamu! Jika aku tidak bisa menemukanmu lagi, bagaimana? Apakah kau tidak berpikir sejauh itu? Apakah karena kau tidak mencintaiku lagi, jadi kau tidak pernah memperdulikan perasaanku yang mencemaskanmu?" protes Daniel yang masih tidak terima dengan sikap Belle.


"A-aku tidak...."


"Tidak apa? Sudahlah, jangan mengakuinya. Aku akan tambah terluka jika mendengarnya. Lebih baik, jangan mengatakannya sama sekali," sela Daniel memotong ucapan Belle, dan Belle hanya membuka mulutnya tercengang.


"Tapi, Kak. Aku tidak...."


"Sudahlah, Belle. Habiskan saja sarapanmu. Lebih baik, kau pikir, bagaimana caramu membalas bocah ingusan itu. Kalau kau melepaskannya begitu saja, aku akan memberitahu Bara dan Rey, agar dia merasakan pembalasan dari kami bertiga." lagi-lagi Daniel memotong ucapan Belle dan mengancamnya. Sehingga Belle hanya menggantungkan ucapannya di udara.


Belle mengepalkan tangannya kesal. Dia bangun dari kursinya dengan membanting sendok yang sedang dipegangnya.


Belle berjalan ke arah Daniel dan menarik tengkuk pria itu dan meluma* bibir pria itu sekilas.


Setelah itu melepaskannya, membuat Daniel tercengang dan menatap Belle dengan tatapan aneh.


"Kak Daniel, lain kali, izinkan orang untuk menjelaskannya terlebih dahulu." bisiknya di telinga Daniel, membuat bulu pria itu meremang. "Maksudku, aku tidak bermaksud menyakitimu. Kemarin aku hanya tidak berpikir panjang. Sekarang, maafkan aku!" imbuhnya.


"Dan untuk balas dendam, aku pasti akan melakukannya. Dan, aku juga ingin pinjam tanganmu, untuk membantuku." lanjutnya lagi.


∆°∆°∆°∆°∆°∆°∆°∆


Jangan lupa tinggalkan 👣👣


Like+komentar+gift dan vote.


Dukung juga karya baru author SAHABATKU SUAMI MUHALLILKU

__ADS_1


Terima kasih ❤️❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2