
"Belle, jangan seperti ini. Kamu sudah terlalu lama berendam." ucap Daniel masih memeluk Belle.
Namun, tak ada pergerakan apapun dari wanita itu. Saat Daniel melihat, ternyata mata Belle sudah terpejam.
Daniel tersenyum melihat Belle yang tertidur di dada bidangnya.
"Sepertinya dia kelelahan menangis, sampai sedang berendam pun bisa tertidur." gumamnya sambil tersenyum.
Daniel mengangkat tubuh polos Belle ala bridal style. Saat baru mengangkatnya, Daniel tercenung sejenak, merasa tidak fokus saat melihat ke arah tubuh yang polos itu.
"Sabarlah, Daniel. Kau pasti akan memilikinya sebentar lagi." ucapnya menyemangati diri sendiri. "Ah, tapi ... bukit kembarnya itu sangat menggiurkan." ucapnya lirih.
Daniel kembali menyadarkan dirinya, dia langsung merebahkan tubuh polos Belle di atas ranjang. Kemudian memakaikan baju pada tubuh polos itu agar tak kedinginan karena terlalu lama berendam.
Setelah selesai, dia pun ikut tidur di samping wanita kesayangannya.
*****
Tengah malam, Belle yang terusik dengan suara dengkuran halus seorang pria, terjaga dari tidur lelapnya. Di tambah lagi, perutnya yang terasa lapar membuat dia harus bangun dari tidur nyenyaknya.
"Ahhhh...?" Belle berteriak keras saat melihat ada seorang pria yang berbaring di sampingnya.
"Belle, ada apa?"
"Kak Daniel, kenapa kamu tidur di sini? Kenapa tidak buka kamar lain saja untukmu sendiri?" tanyanya dengan kesal sambil memicingkan mata.
"Aku pikir ada apa. Membuatku kaget saja." jawabnya santai.
Belle semakin geram. Laki-laki di sampingnya itu malah tidak mempedulikan protesnya. Dengan santai menguap dan kembali berbaring dengan memeluk guling.
"Kak Daniel...." gerutunya sambil merapatkan gigi
"Apa? Kau mau menjadi gulingku juga?" tanya Daniel tanpa melihat Belle.
Belle sangat kesal dengan pria dewasa yang sedang berbaring di sampingnya. Dia mengambil bantal dan melempar ke kepala Daniel dengan kuat.
"Kak, keluar sana! Aku tidak mau ditemani oleh siapapun." usirnya geram. "Apa kau tidak punya uang, ya? Kalau begitu biar aku yang bayar nanti. Cepat keluar sana." Belle tidak habis-habisnya mengusir Daniel dari hadapannya.
KRUYUK KRUYUK
Perut Belle berbunyi dengan sangat keras. Mungkin karena saking laparnya dia. Belle terdiam, dia merasa malu karena suara perutnya di dengar oleh Daniel.
"Kau lapar?" Daniel bangkit dan duduk di depan Belle yang sudah menutup wajahnya karena malu.
"Ti-tidak. Kakak salah dengar." Belle menggeleng kepalanya dengan cepat, membantah pertanyaan Daniel padanya.
"Oh, kalau begitu aku lanjut tidur." ucapnya dan mulai mengambil ancang-ancang untuk kembali tidur.
__ADS_1
"Eh ... eh, Kak. Aku lapar." ucap Belle lirih membuat Daniel tersenyum simpul.
"Kalau lapar katakan saja, untuk apa menutupinya. Wajar kalau manusia memiliki rasa lapar." ujarnya.
Daniel mengambil ponselnya, Belle hanya menatap gelagat laki-laki itu, Belle juga tidak tahu, siapa yang dihubunginya.
"Tunggu lima menit lagi. Kita akan makan bersama." ucapnya menenangkan Belle.
"Memangnya hotel ini punyamu? Ku bisa suka-suka mengatur waktu seperti itu!"gerutunya, mengerucutkan bibirnya sebal.
"Yap. Memang seperti itu!" jawab Daniel.
"Dasar pria pembual!" cetus Belle yang memilih tidak percaya dengan ucapan Daniel. Perutnya terasa digelitik saking merasa lucunya dengan pengakuan Daniel.
Ada lima menit tertawa, tiba-tiba pintu mereka berbunyi. Daniel segera bangkit untuk membuka pintunya.
"Eh, secepat ini?" Belle berhenti dari tawanya. "Kak Daniel tunggu!" teriaknya yang ikut berlari mengikuti Daniel.
Mereka makan dalam diam, sesekali Belle mencuri-curi pandang melihat Daniel yang sedang menikmati makanannya.
"Ja-jadi, hotel ini benar-benar milik Kak Daniel?" tanya Belle yang memperlambat makannya.
"Ya. Seperti yang kukatakan tadi." jawabnya santai, membuat Belle menelan saliva-nya dan berulang kali mengutuk dirinya sendiri.
Dasar kau Belle! Lagaknya mau melarikan diri dari pria ini. Taunya, kau sendiri yang masuk ke kandangnya. Begitu mudahnya dia menemukanku, ke mana lagi aku bisa melarikan diri. Aku lupa dengan kekuasaan yang dimilikinya. Sekarang, selain pasrah, tidak ada lagi yang bisa kulakukan.
"Kapan Kakak kembali ke Paris?"
"Tergantung dirimu." Belle hanya diam, menunggu lanjutan jawaban Daniel. "Kalau kamu memilih menetap di sini, aku juga begitu." imbuhnya, menatap Belle yakin.
"Kak, besok temani aku jalan-jalan." pinta Belle membuat senyuman terukir di bibir Daniel.
"Tentu saja. Ke mana pun kamu ingin pergi, aku pasti akan menemanimu."
"Siap! Mulai sekarang aku akan mencari tempat-tempat yang menarik. Besok, kamu jangan mengeluh lelah karena aku ajak berkeliling." ejek Belle.
"Kita lihat saja besok." jawab Daniel. Dia merasa senang karena Belle kembali seperti dulu. Tapi, urusan hati, biarkan semua berjalan dengan semestinya.
********
Rena masih berada di toko, berulang kali dia melihat ke kartu nama yang diberikan Rey tadi. Dia ragu, apakah dia harus menghubungi Rey, dan menemani pria itu. Atau, melupakan semuanya. Mulai menjauhi, dan menghilang begitu saja.
Tapi, dia kembali teringat dengan ucapan Rey tadi padanya. Dia kembali menjadi bimbang.
"Apakah aku harus memberikan kesempatan padanya? Aku memang tidak berhak menghakimi orang lain, tapi rasa kecewaku tidak bisa menghilang begitu saja." gumamnya sambil menggenggam erat kartu nama Rey.
"Kenapa aku harus sebingung ini sih? Padahal kan hanya menemaninya bertemu dengan kedua orang tuanya saja."
__ADS_1
Rena menghubungi Rey. Saat itu, Rey sedang berguling ke sana ke sini, merasa frustasi karena Rena tak kunjung menghubunginya. Saat melihat Rena meneleponnya, Rey begitu senang dan langsung menjawab panggilan Rena sambil senyum-senyum.
"Om, aku mau menemanimu bertempat dengan orang tuamu." ucap Rena, mengambil keputusan akhir.
"Benarkah?" tanya Rey memastikan.
"Ya. Hanya bertemu mereka saja, kan?" tanyanya lagi.
"Iya. Besok, jam sembilan aku akan menjemputmu."
"Baiklah. Jemput aku di toko saja. Karena sebelum pergi, ada beberapa hal yang harus aku urus terlebih dahulu." ucap Rena.
"Baiklah." Setelah mematikan sambungan teleponnya, Rey melompat kegirangan tak menentu. Dia seperti baru habis memenangkan jackpot yang nilainya luar biasa.
"Yeah! Mami, besok aku akan membawakan kalian calon menantu. Calon istri idamanku!" Rey masih melompat di atas ranjangnya. Untung ranjangnya, kualitas nomor satu.
☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️
Hari ini, cuaca tak sepanas kemarin. Hari ini, hujan mengguyur bumi. Membuat jalan yang kering, menjadi lembab, daun yang hampir layu, kembali segar seperti sedia kala. Embun di daun, sesekali menetes, memberikan air untuk tanaman yang sedang tumbuh.
Seperti janjinya, teori jam sembilan, Rey menjemput Rena di toko. Rena sudah bersiap. Dia mengenakan dress sederhana berwarna maroon. Sangat kontras dengan kulitnya, membuat penampilannya sangat segar dipandang mata.
Rey yang baru pertama kali melihat penampilan Rena yang memukau, kini ia tercenung saat Rena menghampirinya di mobil. Dia sangat takjub, seakan tak percaya, kalau wanita yang kini duduk di sampingnya itu adalah Rena.
"Rena, hari ini kamu cantik." puji Rey, matanya belum teralihkan.
"Terima kasih." jawab Rena malu-malu. Tak lupa pula, wajahnya ikut memerah.
Rey menjalankan mobilnya, sepanjang jalan, Rey selalu mencuri pandang melihat Rena, gadis idamannya.
Rena yang sadar akan sikap Rey, diam-diam tersenyum karena geli dengan tingkah laki-laki itu.
"Om, kalau kamu terus melirikku, bisa-bisa kita kecelakaan." ucap Rena.
"Aku ketahuan, ya?" dengan bodohnya, pertanyaan itu keluar dari mulut Rey yang memang tak pernah bisa dikondisikan.
Rena hanya diam sambil menyimpan senyum dalam hati.
Tak lama, mereka sampai di depan sebuah vila bernuansa putih. Banyak orang yang datang, terpasang decor yang mewah nan indah dari luar hingga ke dalam. Banyak orang-orang penting berlalu lalang di situ.
"Om, kenapa ramai sekali?" tanya Rena heran. "Bukannya hanya bertemu saja?" tanya Rena yang mulai merasa gugup.
Bukan menjelaskan agar Rena bisa sedikit tenang, Rey hanya menggenggam tangan Rena dan menjawab pertanyaan gadis itu dengan senyumannya.
DUKUNG KARYA INI DENGAN BERIKAN LIKE, KOMENTAR, GIFT DAN VOTE. BERIKAN RATE 5 DAN TAMBAH KE DAFTAR FAVORIT ❤️.
DUKUNG KARYA BARU AUTHOR YANG MASIH SEPI SAHABATKU SUAMI MUHALLILKU
__ADS_1
TERIMA KASIH ❤️❤️❤️