
Belle hanya terdiam. Sejujurnya dia juga bingung ingin menjelaskan jawaban dari pertanyaan Embun dari mana. Dia tidak ingin salah menjelaskan dan membuat wanita yang berada di hadapannya, yang berstatus sebagai istri dari kakaknya itu menjadi berkecil hati
"Aku, aku..." Belle masih tergugu-gugu karena masih bingung untuk menjelaskan
"Jawab saja, Belle. Aku butuh jawaban yang pasti agar aku tahu cara menghadapi Audrey dan Bara." ucap Embun sedikit memaksa
"Sebenarnya, mereka memang sudah putus, Kak. Tetapi, kak Bara memang sangat mencintai wanita ular itu. Dan setelah wanita itu kembali, kak Bara merasa senang dan ya menjadi seperti ini." jelas Belle
"Lalu, saat malam dia datang ke Club dan memperkos* ku, apakah saat itu hari dimana mereka berpisah?" tanya Embun lagi
"Iya." jawab Belle jujur
Seketika, hati Embun merasa sangat-sagat hancur. Tanpa dikatakan lagi pun, Embun sudah mengerti keadaan apa yang sedang menimpanya sekarang
Berarti, dia hanyalah pelampiasan se* Bara saat itu. Pantas saja, saat malam itu, Bara menyetubuh*nya. Tetapi, Bara terus saja meracau nama Audrey. Dan sampai beberapa kali Bara berhubungan se* dengannya pun, Bara tetap menyebutkan nama wanita lain
"Aku hanya pelampiasan! Pantas saja, sikapnya selalu kasar padaku." ucapnya sambil menangis
"Kak, jangan menangis. Aku yakin, kalau kakak terus berusaha, Kak Bara pasti akan bisa mencintaimu melebihi cintanya pada Audrey, Kak." ucap Belle
"Tapi kapan Belle? Aku merasa sangat-sagat sedih sekarang. Kau lihat, dia lebih memilih mantan pacarnya ketimbang diriku ini." ucap Embun lagi
Belle segera menarik tubuh kakak iparnya itu ke dalam pelukannya. Dia terus-menerus mengelus punggung Embun seakan sedang menguatkan
"Kak, ku mohon ... bersabarlah sebentar lagi dan teruslah berusaha untuk membuat kak Bara mencintaimu. Aku mohon, Kak." pinta Belle yang ikut menangis sambil memeluk Embun
"Tapi," ucapan Embun langsung disanggah oleh Belle
"Aku mohon, Kak. Jika nanti kamu sudah bertahan terlalu lama dan sudah terlalu tersakiti. Kamu boleh melepaskannya. Dan aku sendiri yang akan membuatmu pergi dari hidupnya, Kak. Aku berjanji padamu." pinta Belle lagi dengan sangat memelas
Embun juga merasa mulai mencintai Bara. Jadi, tidak ada salahnya jika dia mencoba sekali lagi untuk berusaha merebut cinta suaminya dari wanita lain
Embun melepaskan pelukan Belle yang sedari tadi masih mendekapnya. Dia menatap manik mata Belle dan menghapus air mata adik iparnya itu yang sudah mengalir beberapa tetes
"Baiklah. Aku akan berusaha. Demi cintaku yang sudah tumbuh dan demi rumah tanggaku yang baru seumur jagung ini." janjinya pada Belle sambil menganggukkan kepalanya
Belle langsung tersenyum senang saat mendengar ucapan Embun. Dia memang sudah menaruh harapan besar pada wanita tangguh itu. Tapi, apapun yang terjadi kedepannya nanti, dia akan menyerahkan semua keputusannya pada Embun
__ADS_1
Di sudut ruangan, Brandon melihat kejadian itu dengan wajah datarnya. Entah apa yang sedang dipikirkan anak itu sekarang. Setelah itu, dia langsung berlari masuk ke kamarnya. Tapi, mau Belle ataupun Embun, tidak ada yang menyadarkan kehadirannya anak itu sejak tadi
"Kak, aku ingin mengatakan sesuatu." ucap Belle yang sudah duduk di depan Embun
"Katakan saja."
"Dua Minggu lagi, aku akan mulai kuliah, Kak. Dan Brandon pun juga mulai masuk sekolah. Mungkin, aku akan sibuk dengan urusan-urusan kampus dan aku juga gemar masuk ke program-program kerja yang diadakan kampus." jelasnya
"Lalu?" tanya Embun
"Mungkin, aku akan jarang berada di rumah karena sibuk dengan urusanku sendiri, Kak. Bisakah kamu membantu mengurus adikku, Brandon?" tanya Belle takut-takut. Dia takut Embun tersinggung karena hanya dianggap sebagai baby sitter ataupun Embun berpikir dia hanya dimanfaatkan untuk mengurus Brandon saja
"Kenapa kamu malah meminta seperti itu?" tanya Embun dengan raut wajah datarnya
"Maaf, Kak. Aku tidak bermaksud menyinggungmu. Aku tidak bermaksud seperti yang kamu pikirkan." ucap Belle cepat berusaha untuk menjelaskan
"Berpikir apa? Tentu saja aku mau mengurus Brandon adik kita. Memang sudah tugasku untuk mengurusnya, kan? Kenapa kamu malah memintanya terlebih dahulu? Bahkan, kalau pun kamu tidak meminta, aku pasti juga akan merawatnya layaknya seperti adikku sendiri." jelas Embun dengan senang hati
"Jadi, kamu tidak keberatan untuk mengurus Brandon, Kak?" tanya Belle lagi. Dia hampir saja salah paham
"Untung saja. Kalau ada Kakak yang mengurusnya, aku bisa tenang walaupun harus pergi ke ujung dunia pun." ujar Belle sambil mengelus dadanya
TIGA HARI KEMUDIAN
Hari ini, sudah berlalu tiga hari dari hari saat suamiku lebih memilih pergi bersama dengan wanita lain. Walaupun sudah berlalu tiga hari, namun sikapnya masih belum kunjung berubah. Dia masih saja bersikap acuh tak acuh denganku
Namun, aku berusaha sebisa mungkin untuk bersikap baik dan perhatian layaknya seorang istri yang baik pada umumnya. Walaupun selama tiga hari ini dia tidak lagi menyentuhku, tapi aku tidak mempermasalahkan itu. Aku hanya ingin dia bersikap baik padaku dan mulai bisa menerimaku sebagai istrinya
Tapi, entah kapan itu semua bisa terwujud seperti yang aku inginkan. Aku hanya bisa terus-terusan berdo'a dan selalu berusaha sebisaku dan aku yakin bahwa, usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil
Kami semua sudah berada di meja makan. Seperti biasa, aku akan mengambilkan makanan untuk suamiku dan adik ipar kecilku
"Brandon, kamu ingin makan apa?" tanyaku pada Brandon yang selalu saja bersikap dingin padaku
"Brandon, kenapa kamu tidak menjawab pertanyaan dari, Kak Embun? Kamu ingin makan apa?" seru Belle yang merasa kurang senang dengan sikap adiknya
"Kau! Ambilkan aku makanan!" titahnya pada pelayan yang berdiri di belakangnya
__ADS_1
Sikapnya setiap hari selalu saja seperti itu pada Embun. Dia selalu mengabaikan ucapan Embun yang selalu berusaha untuk memberikannya perhatian. Bara juga tak pernah menegurnya, Belle selalu menegurnya tapi tidak pernah dihiraukan olehnya
"Kak, toko kue kita sudah selesai di renovasi. Besok, sudah bisa kita buka, Kak." ujar Belle kegirangan
"Benarkah? Besok kita sudah mulai bisa membukanya?" tanya Embun yang tak kalah girang
"Tentu saja, Kak. Besok adalah akhir pekan, pasti banyak orang yang akan berkunjung." jawab Belle
"Benar. Besok kita sudah bisa meresmikan toko kue kita. Akhirnya, aku bisa membuka usahaku sendiri." ucap Embun dengan wajah tersenyum
"Tapi, aku hanya bisa membantu Kakak sebentar saja. Setelah itu, aku sudah masuk waktu kuliah. Tidak seru sekali." ucapnya dengan lesu
"Tidak apa-apa. Setelah pulang dari kampus dan di akhir pekan, kamu kan bisa datang untuk membantu." usul Embun
"Benar sekali. Kakak minta Rena saja untuk membantu Kakak. Dia pasti ikut senang karena bisa membantumu."
Embun hanya mengangguk dan tersenyum. Dia memang sudah berencana untuk meminta adiknya itu untuk menolongnya kalau-kalau toko kue nya akan ramai. Tapi, dia yakin kalau tokonya akan ramai seperti keinginannya
"Tapi Belle, bisakah kamu merahasiakan tentang ini dengan Kakakmu?"
"Kenapa, Kak?" tanya Belle tak mengerti
"Aku, aku tak ingin dia salah paham." jawab Embun
"Tenang saja. Rahasia akan aman!" ucapnya
Embun tak ingin Bara salah paham lagi dan akan mengira dirinya yang memoroti Belle untuk membukakan toko kue itu untuknya. Jadi, lebih baik untuk sementara Bara tidak usah diberitahukan terlebih dahulu saja
Hai kakak-kakak
Terima kasih karena sudah mau membaca karya author remahan kerupuk sepertiku ini
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak like, komentar, berikan rate 5 ya
Jika berkenan berikan juga gift dan vote agar author lebih semangat lagi
Langsung masukkan ke daftar favorit Anda, ya!?
__ADS_1