
"Ya, memang aku yang bernama Rena. Ada apa Anda mencariku?" Melihat lawan bicaranya tidak ramah padanya, dia juga melakukan hal yang sama.
Namun, tiba-tiba...
Byur...!
Wanita itu menyiram wajah Rena dengan segelas jus jeruk yang dipegangnya. Sepertinya, jus jeruk itu memang sudah dipersiapkan untuk mengguyur Rena.
Rena memejamkan matanya karena terkena siraman jus jeruk yang terasa dingin di kulitnya. Dia mengepalkan tangannya geram karena ulah wanita yang sama sekalian tak dikenalinya, namun berani berbuat semena-mena padanya.
"Rena?" pegawai-pegawai Rena menutup mulutnya dengan tangan, mereka juga ikut kaget dengan perlakuan wanita asing itu.
Rena membersihkan sisa-sisa jus itu dari wajahnya menggunakan tissue yang ada di sampingnya. Kemudian dia menatap wanita yang sedang tersenyum penuh kemenangan itu dengan tatapan membunuh.
"Apakah kau gila, Nona? Apa masalahmu denganku?" desis Rena sambil menahan rasa kesalnya sekuat mungkin.
"Kau telah merebut tunanganku! Ini bukanlah balasan yang setimpal untuk wanita penggoda seperti dirimu!" hardik wanita asing itu sambil menunjuk-nunjuk dada sebelah kiri Rena sampai wanita itu sedikit terhuyung, karena postur wanita itu lebih tinggi dibandingkan dengan Rena.
"Tunanganmu? Siapa? Bahkan aku tidak mengenalmu, kenapa kau langsung menuduhku sudah merebut tunanganmu? Mungkin kau salah orang," bantah Rena apa adanya.
"Kau takut? Takut aku mempermalukanmu di depan umum? Takut aku mengumumkan mu kepada orang-orang di sini kalau kau telah merebut tunanganku?" cemooh wanita itu dengan tatapan mengejek.
"Apa yang kau katakan? Memangnya siapa tunanganmu? Bahkan kau tidak bisa menyebutkan nama tunanganmu sendiri? Ckck, masih berani datang dan mengaku-ngaku," seloroh Rena membuat wanita yang berdiri dihadapannya berang.
Wanita itu menggemeretakkan giginya kesal. Dia pikir Rena adalah wanita lemah yang bisa diancam sesukanya. Namun dia salah, bahkan Rena lah yang membuatnya terdiam dan bertambah kesal.
"Kalau kau hanya mau bertemu denganku dan meluapkan emosi sesaatmu. Aku memaafakanmu, Nona. Kalau tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi, aku akan kembali ke dapur sekarang. Masih sangat banyak pekerjaan yang harus kulakukan," ucap Rena dan mulai membalikan tubuhnya hendak meninggalkan wanita yang masih berdiri mematung.
Melihat Rena berbalik dan ingin pergi, wanita itu segera menahan pergelangan tangan Rena. Membuat Rena berbalik dengan malas kembali menatap wajah wanita yang sama sekali memang tidak dikenalinya.
"Kau mau menghindar? Aku yakin, memang kau lah yang merebutnya dariku!" kekeh wanita itu.
Rena menghempaskan tangan wanita itu, kemudian dia berkacak pinggang dan menatap wanita itu tajam.
"Sedari tadi kau hanya menuduhku. Tapi, kau tidak bisa membuktikan apa yang kau katakan. Setidaknya berikan aku bukti, Nona. Sebutkan nama pria itu, atau tunjukan fotonya padaku agar aku tahu siapa orang yang kau maksudkan!" gerutu Rena geram.
Wanita itu terlihat merogoh tas jinjing yang dikenakannya, mengambil ponselnya dan mengotak-atik benda pipihnya itu. Kemudian, menunjukkan sebuah foto yang membuat Rena tercengang dan melongo.
"Rey adalah tunanganku. Aku Amanda, tunangan Rey!" ucapnya membeberkan fakta.
Rena masih belum bereaksi, Dia masih saja melihat foto yang ditunjukkan oleh wanita yang bernama Amanda dan mengaku sebagai tunangan Rey itu. Foto yang ditunjukkan itu adalah foto Rey dan Amanda yang sedang bermesraan di sebuah cafe.
__ADS_1
"A-apa ini?" tanya Rena gugup. Bukan karena dia takut karena merasa bersalah. No, dia hanya tidak menyangka dengan fakta baru yang baru terkuak.
"Inilah tunanganku, kau pasti kenal kan, Nona Rena Prameswari?"
"Di sini kau lah yang bersalah. Kau menjalin hubungan dengan tunangan orang lain. Jika aku mempermalukanmu seperti tadi, itu bukanlah kesalahanku, melainkan hukuman untukmu." Amanda menjeda kalimatnya, setelah itu kembali mencecar Rena dengan kata-kata menusuknya.
"Aku bisa melupakan semua masalah ini. Asalkan, mulai saat ini kau bisa sadar diri dan menjauh dari Rey dan keluarganya. Aku bisa memberikan bonus untukmu dengan membebaskan Ayahmu yang sedang mendekam di penjara!" celetuknya lagi.
Rena mengangkat wajahnya yang sedari tertunduk. Dia menyipitkan matanya, dan tersenyum miring pada Amanda.
"Cih, ternyata kau harus bersusah payah menyewa detektif untuk mengetahui semua urusanku? Sepenting itukah aku untukmu?" balas Rena.
"Itu juga kalau kau mau. Kalau kau tidak mau, aku bisa melakukan segala cara untuk merebut kembali tunanganku!" kecam Amanda.
"Rey?" Rena bertanya dengan alis yang naik sebelah. "Silahkan ambil kembali untukmu. Aku tidak suka merebut milik orang lain. Anggap saja, aku pernah meminjamnya padamu, sekarang telah aku kembalikan. Dan sekarang, kau bisa pergi dengan tenang," tutur Rena. Meskipun lidahnya terasa kelu, namun kata-kata itu sukses dia ucapkan sampai selesai.
Rena memang sudah mencintai pria yang selalu menemani hari-harinya itu. Pria yang awalnya membuatnya jengkel setiap kali bertemu, namun kini dapat membuat harinya yang dulu selalu kesepian, menjadi lebih berwarna.
Ibu Rey juga membuat Rena merasakan kasih sayang seorang Ibu yang sesungguhnya. Namun, dia tidak menyangka, semua kebahagiaan itu hanyalah semu dan bersifat sementara. Karena sebentar lagi dia akan kembali menjadi Rena yang dulu, yang selalu diwarnai dengan abu-abu dan selalu merasa kesepian.
Dia juga tidak tahu, apa kesalahannya dulu. Kenapa hidup bahagia yang belum lama dia temui harus kembali hilang. Air mata yang memaksa meminta turun, mati-matian ditahan olehnya. Dia tidak mau menangis dihadapka musuhnya.
"Rena?" panggil Rey saat melihat Rena sedang berdiri bersama seorang wanita. Rey berpikir wanita itu adalah seorang pelanggan. Karena posisi Rena menghadap pintu, dan Amanda membelakangi pintu.
Dengan langkah menggebu-gebu, Rey menghampiri Rena dengan senyuman merekah seperti biasanya. Namun, dia tidak memperhatikan wajah gadisnya yang terlihat sendu dan menahan tangis.
Dia berjalan mendekat dan memeluk pinggang ramping Rena dengan senyuman merekah yang tak kunjung surut.
"Hey, kenapa kamu belum bersiap? Bukankah kita sudah berjanji tadi?" tanya Rey namun tak digubris oleh Rena. Pandangan mata Rena hanya terpaku ke depan, tak sekalipun ia menoleh ke arah Rey yang sibuk berbicara padanya.
Melihat sikap Rena berbeda dari biasanya, Rey mengikuti arah pandang Rena. Matanya langsung terbelalak, jantungnya berdegup kencang dan kakinya terasa seperti tak bertulang.
"Rey...?!" sapa Amanda dengan wajah yang tak dapat diartikan.
"A-amanda?" panggil Rey tergugu.
"Ya, aku di sini," sahut Amanda.
"Kenapa kamu di sini, Amanda?" tanya Rey dengan peluh yang telah membasahi tubuhnya. Namun, Rena tak juga bergeming dari lamunannya.
"Aku mau menemui dia, wanita yang telah berani mengganggumu dan merebutmu dariku," cerca Amanda sambil menatap Rena yang masih termangu.
__ADS_1
"Re-rena? Bukan, sepertinya kau sudah salah paham, Amanda!" Rey terlihat panik. Mungkin dia bingung, seperti apa dia harus menjelaskan pada dua wanita itu dan dimulai dari mana.
"Kalau aku salah paham, lalu seperti apa yang sebenarnya? Teman-temanku mengatakan kalau kau selalu bersama dia," tukas Amanda sambil menatap Rena. "Ternyata apa yang mereka ucapkan benar adanya!" imbuhnya lagi.
"Amanda, bukan seperti itu. Kita memang benar-benar ada dalam kesalahpahaman yang besar."
"Lalu, jelaskan apa yang sebenarnya terjadi!" tuntut Amanda.
Rey melihat ke sekeliling. Banyak orang yang berlalu lalang sambil sesekali melirik ke arah mereka yang sedang berdebat.
"Lebih baik, kita cari tempat untuk bicara," ajak Rey dan hendak menarik lengan Rena agar ikut dengannya. Tapi langsung ditepis oleh wanita yang sejak tadi hanya diam saja itu.
"Lepaskan! Aku hanya mau menanyakan dan memastikan satu hal padamu, Om!" sela Rena.
"Cih, kukira sudah sedekat apa kalian. Ternyata hanya menganggap seorang keponakan!" ejek Amanda namun tak dipedulikan oleh Rena.
Mata Rena sudah memerah karena dia bersusah payah menahan tangisnya. "Om, apakah kamu mengenal wanita ini?" tanya Rena dengan menunjuk Amanda.
"Aku mengenalnya," sahut Rey pelan.
"Dia mengatakan kalau dia adalah tunanganmu. Apakah itu benar?" tanya Rena lagi.
Rey hanya bisa diam membisu. Membuat Rena berang merasa tidak sabaran dengan jawaban Rey. Karena Rey lah yang hanya bisa memperjelas situasi itu.
"Jawab aku, Om! Apakah benar apa yang dia katakan itu? Apakah kalian memang sudah bertunangan?" pekik Rena dengan air mata yang luruh. Ternyata bendungan yang ia buat tak cukup kuat.
"Rena, maafkan aku! Aku tidak bermaksud seperti itu, aku hanya...."
"Stop! Jangan pernah berkilah dan merumitkan jawabanmu. Jangan membuat aku yang bodoh ini semakin tidak mengerti. Buatlah jawaban sederhana yang dapat aku mengerti!" protes Rena.
"Rena, maafkan aku. Aku dan dia memang...."
"Cukup! Pengakuanmu sudah aku terima. Mulai sekarang, jangan pernah temui aku lagi, Om!"
Dukung karya ini dengan berikan like, komentar, gift dan vote sebanyak-banyaknya.
Berikan juga rate 5 nya ya Shay...❤️❤️❤️
Dukung juga karya author yang lain SAHABATKU SUAMI MUHALLILKU
Terima kasih untuk setiap dukungan dari kalian❤️❤️❤️
__ADS_1