
CUP
Tiba-tiba Rey malah menarik tengkuk Rena dan membungkam mulut wanita itu yang sedari tadi meracau tak jelas dengan cara menciumnya.
Rena membelalakkan matanya saat lidah Rey mulai menuntut meminta Rena membuka mulutnya. Rey berhasil membuka mulut Rena dan dia mulai memasukkan lidahnya dan menggerayangi setiap inci dari bibir gadis itu dan menyesapnya perlahan.
Saat Rey sedang menikmati permainannya, tiba-tiba Rena memisahkan tubuh mereka dengan menolak tubuh pria itu sekuat mungkin.
Dia langsung menutup mulutnya dan berkata, "Ciuman pertamaku!" Gumamnya pelan.
Tapi, ucapan Rena masih terdengar oleh orang yang berada di dalam ruangan itu, tak terkecuali Rey.
Rey tersenyum saat mendengar kalau itu adalah pertama kali bagi wanita itu.
"Rena, kamu tidak apa-apa, kan?" Tanya Belle, dia bukan mengkhawatirkan Rena yang tadi dicium oleh Rey, tapi dia khawatir kalau Rena akan menyalahkan dirinya sendiri karena mendengar ucapan Rey barusan.
Apa yang salah dengan diriku ini, kenapa ada perasaan berbeda. Dan jantungku, bisakah kamu memperlambat detakmu!
Rena tak mendengar ucapan Belle, dia masih sibuk dengan dirinya sendiri yang dirasa berbeda. Dia sibuk memikirkan ciuman pertamanya yang telah dirampas oleh Om-om seperti Rey.
"Belle, aku ... aku pamit pulang, ya? Kamu tidak apa-apa di sini, kan?" Rena yang baru tersadar dan kembali ke dunia nyatanya langsung izin pulang.
"Biarkan aku yang mengantarmu?" Rey mengajukan dirinya.
"Tidak usah, Tuan. Saya bisa naik angkutan umum." Sahut Rena yang langsung menggeleng kuat menolak.
Rey melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, lalu dia menunjukan jam nya pada Rena.
"Kau lihat, jam segini pasti sudah tidak ada angkutan umum yang lewat." Ucap Rey tersenyum aneh.
"Tidak apa-apa. Aku bisa meminta temanku menjemput." Ucap Rena kemudian langsung pergi dari sana karena tak ingin memanjangkan pertemuannya dengan Rey.
Tapi, yang tak disangka oleh Rena adalah, ternyata Rey mengejarnya. Entah apa yang ada dipikiran laki-laki itu hingga sangat memaksa untuk mengantarnya pulang.
"Rena, tunggu!" Teriak Rey sambil mengatur nafasnya.
"Ada apa, Tuan? Aku harus segera pulang sekarang!" Ketus Rena sambil melihat kanan-kiri.
"Biar aku yang mengantarmu. Tunggu di sini, aku akan mengambil mobilku terlebih dahulu."
"Tuan, aku bisa pulang sendiri, tidak perlu merepotkanmu."
"Kalau kau terus menolak, aku akan kembali mencium mu di sini!" Ancamnya.
Rena langsung menutup bibirnya, sungguh laki-laki ini sudah sangat gila, pikirnya.
"Tunggu aku sebentar di sini. Kalau kau berani kabur, aku akan mencarimu, dan aku pasti akan melakukan sesuatu, lebih dari menciummu!" Imbuhnya lagi yang kembali mengancam.
"Lebih dari mencium?" Tanya Rena pelan tapi masih terdengar oleh telinga laki-laki itu.
"Ya. Mungkin saja, saat pertemuan kedua kita nanti, aku akan menanam benihku di sini." Godanya sambil mengelus perut Rena yang masih datar.
"Dasar laki-laki gila!" Umpatnya sambil bergidik ngeri.
"Kalau kau tidak ingin itu terjadi, maka tunggu aku!"
"Hem!" Rena mendengus kesal. Kenapa pria itu sangat tidak tahu malu. Jelas-jelas dia sudah menolak, tapi malah mengejarnya hingga ke sini, sungguh niat yang harus diapresiasikan.
Setelah mengambil mobilnya, Rey langsung mengemudikan mobilnya ke arah Rena berdiri tadi. Dia tersenyum senang karena melihat Rena yang patuh, mau menunggunya.
Meski dengan perasaan kesal yang bercampur aduk dengan takut, Rena tetap naik ke mobil Rey yang sudah berdiri di depannya. Tetapi dia tetap berusaha menjaga jarak, dan tak mau berbicara terlalu banyak.
__ADS_1
"Bibirmu manis sekali!" Ucap Rey sambil menjulurkan lidahnya.
"Dasar pria mesum! Bisakah Anda berbicara dengan sedikit normal dan sopan?" Dengus Rena kesal.
"Ah, maafkan aku. Aku tahu kau pasti masih merasa malu, karena ini adalah kali pertama untukmu." Ejeknya yang terus menerus menggoda Adik ipar Bara itu.
"Tuan, kalau kau masih berbicara yang aneh-aneh seperti itu. Kau bisa menurunkan aku di sini saja." Pungkasnya.
"Jangan memanggil dengan sebutan aneh itu. Kau bisa memanggil namaku saja."
"Sangat tidak sopan memanggil orang tua sepertimu dengan sebuah nama."
"Jadi, menurutmu kau harus memanggilku apa?" Tanya Rey sambil menaik-turunkan alisnya.
"Menurutku, aku lebih cocok memanggilmu, Om Rey!" Ejeknya dengan wajah kesal.
Rey dan Rena memang terpaut usia yang lumayan jauh. Rena sama dengan Belle, mereka sama-sama baru tamat dari Sekolah Menengah Atas. Sedangkan, Rey, Daniel dan Bara, sudah bisa disebut dengan Om-om.
Gadis ini menarik juga. Ternyata masih ada gadis yang bibirnya masih suci selain Embun.
"Om, turunkan aku di sini saja. Rumahku sudah dekat." Ucapnya.
"Kenapa tidak sampai di rumahmu saja?"
"Turunkan di sini saja. Aku tidak mau di ghibah oleh radio bergigi karena pulang larut malam dan diantar oleh om-om sepertimu!" Tandasnya membuat Rey tak bisa berkutik.
Sampai di rumah, Mika yang tersadar karena suara dari pintunya yang baru dibuka pun terbangun, dia melihat Rena yang baru pulang dan langsung meminta jatahnya.
"Rena, mana uangnya?" Mika sudah menengadahkan tangannya.
"Uang apa, Bu?"
"Uang hasilmu bekerja! Mana gajimu selama ini? Berikan padaku!" Jelasnya.
"Kau tidak perlu rindu denganku. Aku hanya butuh uang sekarang! Sudah lama tidak pulang malah tidak membawa uang sepeserpun!" Dengusnya kesal.
"Di mana Ayah, Bu?" Rena sengaja mengalihkan pembicaraan agar dia tak mendengarkan omelan Ibunya yang membuatnya sakit hati.
"Dia belum pulang. Masih sibuk berjudi! Dan Embun, apakah dia juga tidak menitipkan uang untukku dan Ayahnya?"
"Bu, Kak Embun sekarang sedang hamil. Dia harus lebih mengutamakan untuk keperluan bayinya." Jelas Rena.
"Meskipun begitu, dia juga tidak boleh lupa dengan orang yang sudah membesarkannya. Sudah jadi istri orang kaya, tapi kenapa masih saja berlagak seperti orang miskin seperti itu. Cih, kalian sama saja, sama-sama tidak berguna!" Umpatnya kemudian kembali ke kamarnya.
Rena hanya bisa mengelus dadanya, berusaha untuk menahan sabar. Bagaimana pun, Mika adalah Ibu kandungnya, dia tak boleh menyela atau bersikap sama sepertinya.
☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️
Pagi harinya, Embun ingin membalikkan badannya, tapi ada sesuatu yang berat yang menimpanya. Begitu dia membuka matanya, dia terkejut karena melihat Bara memeluknya seperti guling.
Wajahnya pas di dada bidang pria itu, dan kaki Bara sepenuhnya berada di atas tubuhnya.
"Aduh, Bara. Sakit sekali!" Keluh Embun.
"Apa? Apanya yang sakit?" Bara terkejut karena melihat dirinya sudah menimpa tubuh Embun. Dia menggosok sana-sini karena merasa bersalah dan takut.
"Aduh, sakit sekali, Bara! Kenapa kau menimpahku seperti itu?"
"Ayo kita ke dokter sekarang. Sayang, maafkan aku!" Bara benar-benar sangat panik.
"Hahaha. Tidak apa-apa, aku hanya bercanda saja. Kalau aku tidak berteriak seperti itu, kau tidak akan bangun, kan?"
__ADS_1
"Kau mengerjaiku, ya?"
"Tidak. Hanya coba membangunkanmu saja." Sangkal Embun.
"Kau berani, ya!"
"Sekarang waktunya kau pergi, aku tidak mau pegawaiku sampai melihatmu berada di sini."
"Kenapa?"
"Bara, bukankah semalam kau sudah berjanji? Setelah malam ini, kita tidak akan bertemu lagi?" Embun kembali memperingati janji Bara.
"Jingga, bisakah kita melupakan janji itu? Tidak bisakah kalau kita mengulang semuanya dari awal?" Ucap Bara serius.
"Bara, aku sudah tidak bisa menerimamu di hatiku lagi. Jadi, kau tidak perlu berusaha apa pun lagi, karena keputusanku akan tetap sama."
"Jingga, ku mohon...."
"Bara, sudah waktunya pergi!"
"Baiklah, aku akan pergi. Tapi, izinkan aku menemanimu mandi sekali lagi. Setelah ini, aku akan menepati janjiku." Ucapnya.
Agar semuanya cepat selesai, Embun langsung menuruti keinginan pria itu. Dia langsung mengatur suhu agar menjadi air hangat. Karena hari memang masih gelap, jadi pasti masih sangat dingin.
Mereka pun memulai ritual mandi, Bara juga mulai menggosok punggung Embun dengan lembut. Tapi, ada sesuatu di bawah sana yang memaksa minta dikeluarkan. Tapi, dia berusaha menjaga janjinya agar Embun tak semakin membencinya.
"Jingga, kau masuk saja terlebih dahulu, nanti aku akan menyusul." Ucap Bara.
"Kau, kenapa tidak segera pergi dari sini?"
"Aku mau menumpang mandi terlebih dahulu. Tidak mungkin aku pergi dengan keadaan begini, kan?" Keadaan yang dimaksud adalah, dia yang baru bangun tidur.
"Ya sudah, jangan lama!"
Embun melengos pergi. Bara langsung mengunci pintu kamar mandinya.
"Terpaksa bermain solo." Gumamnya.
Embun mulai memakai pakaiannya, habis itu membuat sarapan sederhana untuk dirinya dan Bara. Dia tidak mungkin mengusir laki-laki itu begitu saja. Jadi, lebih baik sarapan bersama terlebih dahulu.
Melihat Bara yang tak kunjung turun, Embun menyusul Bara ke kamarnya. Dia melihat pria itu sudah rapi dengan setelan jas semi formalnya.
"Bara, turunlah. Aku sudah membuat sarapan untuk kita berdua. Jangan terlalu lama, sebentar lagi para pegawaiku datang. Kau harus pergi sebelum mereka datang." Kemudian tanpa menunggu, Embun kembali ke dapur.
Saat mereka sedang sarapan, ponsel Embun berbunyi. Dia melihat, tertera nama Ranti di layar benda pipihnya.
"Halo, ada apa, Ranti?" Tanya Embun sambil mengunyah sisa makanan dalam mulutnya.
"Nona Embun, cepat buku pintunya. Kami semua sudah berada di luar. Sangat dingin." Ucap Ranti, dia terlihat seperti bergetar karena menggigil.
"Apa? Kenapa kalian datang secepat ini? Bukankah waktu kalian masuk kerja masih setengah jam lagi?"
"Nona, cepat bukakan pintu." Pinta Ranti.
Bagus juga kerjamu, Eson! Aku pasti akan memberikan bonus besar untukmu.
Aku akan membuat orang-orang tahu, sesungguhnya Nyonya Bara Wirastama adalah kau, Embun Jingga Prameswari! Hingga semua orang mengenalmu sebagai istriku dan kau tidak akan bisa melarikan diri lagi.
Jangan lupa tinggalkan jejak like, komentar, gift dan vote. Hayo loh, mumpung hari Senin, sumbangin vote mingguannya untuk author, biar tambah semangat nih! Hehe, maksa dikit ya🙏🤭
Berikan rate 5 dan tambahkan ke daftar favorit kamu ya. Sekecil apa pun dukungan kalian, sangat berharga untuk author loh.
__ADS_1
Terima kasih❤️❤️❤️