Istri Miskin Presdir

Istri Miskin Presdir
KELAHIRAN TWINS


__ADS_3

"Kami akan berusaha semaksimal mungkin." Jawab Dokter Livina dan kembali masuk.


Belle dan Rena berjalan mondar-mandir di depan pintu ruangan operasi. Mereka bukan hanya tak sabar menunggu kehadiran calon keponakan mereka, tapi juga tak sabar menunggu kabar baik dari Embun dan Bara.


"Rena, aku sangat takut." Belle kembali memegangi tangan Rena dengan erat.


"Kamu harus yakin kalau mereka pasti akan baik-baik saja, Belle. Kita tidak boleh menyerah, harus memberikan dukungan kepada mereka meski dari batin," Ucap Rena. Dia mengalahkan risau nya dan mencoba menghibur Belle. Padahal, rasa khawatirnya kini lebih besar.


"Belle, bisakah kita duduk di sana sebentar?" Tanya Rena yang mengajak Belle duduk di kursi tunggu, dia ingin menanyakan detail tentang kecelakaan Kakaknya.


"Belle, bagaimana kecelakaan ini bisa terjadi?" Tanya Rena. Seolah ingin mendengar juga, Rey dan Daniel langsung memasang telinga untuk mendengarkan. Meskipun matanya tidak melihat ke arah dua wanita itu, tapi telinga mereka cukup cakap dalam menangkap informasi.


Belle mulai menceritakan semua kejadiannya. Tapi dia tidak menceritakan bagaimana dia bisa bersama dengan Kevin. Dia hanya bercerita mulai dari saat dia melihat mobil Bara.


"Jalanan sedang senggang. Lalu, saat Embun berlari ke tengah jalan, tiba-tiba ada mobil yang melaju kencang?" Daniel menarik kesimpulan sambil bertanya pada Belle.


"Hem? I-iya, Kak." Jawab Belle terbata karena gugup. Dia baru sadar kalau ada Daniel diantara mereka.


"Sepertinya patut kita curigai." Sahut Rey melihat ke arah Daniel.


"Mungkin saja orang yang kebetulan melintas. Karena dikiranya jalanan kosong, jadi dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi," Tutur Rena.


"Aku yakin, ini tidak sesederhana itu." Pungkas Daniel. Dirinya memang sangat yakin kalau ada orang yang sengaja melakukan ini. Tujuan awalnya sepertinya Embun, karena Bara mencoba menyelamatkan wanita itu, jadinya Bara yang tertabrak.


"Oek ... oekk ... oekk." Suara tangisan menggema di dalam ruangan sampai terdengar keluar. Mereka yang sedang menerka-nerka pun tertegun karena mendengar suara tangisan bayi yang sangat keras.


"Belle, keponakan kita sudah lahir!" Belle dan Rena saling berpelukan dan kegirangan.


"Tapi, kenapa hanya satu saja?" Tanya Belle heran.


"Oekk ... oekk ... oekk." Terdengar lagi suara tangisan yang lebih memekakkan telinga dari dalam ruangan. Membuat orang yang sedang menunggu menjadi kembali bahagia.

__ADS_1


"Itu satu lagi! Ya, sudah lahir keduanya!" mata Belle terlihat berbinar kala mendengar suara tangisan keponakannya. Tapi, hatinya masih belum tenang karena belum mendengar kabar dari kedua orang tua bayi mungil itu.


Setelah setengah jam, bayi itu dibawa keluar oleh dua orang perawat. Dua bayi mungil itu akan di taruh di inkubator untuk beberapa saat, sampai keadaannya benar-benar pulih.


Di belakangnya, bad dorong Embun juga di dikeluarkan dari ruangan. Terlihat wanita itu sangat pucat dan matanya masih terpejam. Setelah Embun dikeluarkan, pintu ruangan itu langsung ditutup. Karena masih ada Bara yang masih menjalani operasi.


Rena mengikuti para perawat yang membawa keponakannya. Sedangkan Belle, mengikuti langkah Dokter yang berjalan di samping bad dorong Embun. Embun di masukkan ke ruang VVIP, ruang bersalin.


"Dok, kenapa sampai sekarang Kak Embun belum sadar?" Tanya Belle yang masih saja merasakan khawatir.


"Itu disebabkan karena tadi Nyonya Embun mengalami pendarahan. Untung bisa secepatnya ditangani. Kalau tidak, mungkin kita bisa kehilangan ketiganya,"


"Tidak tersedianya cukup sel darah merah yang mengirimkan oksigen ke otak, juga bisa menjadi alasan kenapa sampai sekarang Nyonya Embun belum sadar. Dan, ditambah pengaruh obat anestesi. Tetapi, kami sudah menstransfusi darah untuknya. Kita hanya bisa menunggu, kapan dia akan sadar." Jelas Dokter Livina. Belle hanya menganggukkan kepalanya.


Sedangkan Rena, kini sedang melihat dua keponakan imutnya. Dia mengamati dua bayi itu dengan seksama.


"Sus, sepertinya mereka sehat-sehat saja. Tapi, kenapa harus di masukkan ke inkubator?" Tanya Rena yang memang sama sekali tak mengerti tentang hal seperti itu.


"Jadi, kalian mau memberi nama apa untuk kedua anak ini?" Tanya suster yang terlihat gemas pada dua bayi kembar nan mungil itu. Kulitnya seputih salju, pipinya sangat merah dan rambutnya sangat tebal. Matanya masih terpejam karena merasa hangatnya di dalam inkubator.


"Kami menunggu orang tuanya sadar saja, Sus." sahut Rena.


Suster itu menganggukkan kepalanya lalu permisi keluar untuk melanjutkan pekerjaannya. Rena juga keluar, dia berjalan menuju kamar inap Embun, untuk bergantian dengan Belle melihat keadaan Embun.


"Rena, apa jenis kelamin keponakan kita?" Tanya Belle antusias.


"Kamu lihat saja sendiri. Aku akan bergantian menunggui Kak Embun di sini." Jawabnya sembari mengelus puncak kepala Embun lembut.


Saat Belle hendak pergi, ponselnya berbunyi, tertera nama Daniel di layar benda pipihnya.


"Belle, kamu di mana sekarang?" Tanya Daniel.

__ADS_1


"Aku masih diruangan Kak Embun." Jawab Belle.


"Cepat datang ke ruang VVIP Melati, Dokter yang menangani Bara ingin bertemu denganmu. Dia ingin menjelaskan kondisi Bara sekarang," Ucap Daniel.


"Baik, Kak. Aku akan segera ke sana."


Setelah mematikan sambungan teleponnya, Belle pamit terlebih dahulu dengan Rena. Dia tidak jadi datang untuk melihat keponakannya, sekarang dia harus segera datang ke ruangan Bara terlebih dahulu.


"Rena, aku tinggal, ya. Aku harus ke ruangan Kak Bara sekarang."


"Kak Bara sudah selesai operasi?" Tanya Rena senang.


"Hum." Belle mengangguk dan berkata lagi, "Sekarang Dokter meminta untuk bertemu dengan keluarga pasien, mau menjelaskan kondisinya sekarang."


"Pergilah, aku akan di sini menemani Kak Embun. Nanti, setelah kamu kembali, aku akan melihat Kak Bara."


Belle mengangguk dan tersenyum. Dia berbalik dan menuju ke ruangan Bara di rawat. Di sana sudah ada Daniel dan Rey yang sedang berbincang dengan sang Dokter.


"Permisi, Dok. Aku adalah Adik pasien," Kata Belle mengganggu percakapan ketiga orang itu. Belle melihat ke arah Bara yang masih terpejam dan banyak selang-selang yang tak ia ketahui terpasang di tubuh Kakaknya. Bahkan, untuk bernafas saja sekarang Bara harus menggunakan alat bantu pernapasan.


Air matanya menetes, merasa teriris kala melihat Kakaknya yang biasanya gagah dan sering tersenyum. Kini hanya terlelap dan tak ada guratan senyuman dari wajahnya.


"Sepertinya benturan di kepala Tuan Bara cukup keras. Beliau mengalami cedera otak (Traumatic Brain Injury). Biasanya, orang awam menyebutnya koma." Jawabnya.


"Lalu, kapan dia akan sadar, Dok?" Tanya Belle lagi, matanya tetap memperhatikan Bara yang masih saja nyaman dengan tidur lelapnya.


"Kita belum bisa memprediksikan itu. Dia bangun sesuai dengan keinginannya saja. Yang perlu kita lakukan adalah, selalu berbicara dengannya, sounding dia untuk segera bangun. Jika ada, perdengarkan suara orang yang dianggapnya penting. Mungkin dengan itu semua, keinginannya untuk bangun menjadi lebih besar besar." Jelas sang Dokter lagi.


Belle hanya terdiam. Dia tak menyahut apa pun. Matanya tetap tertuju pada Kakaknya yang terlihat nyaman dalam lelapnya. Meskipun terkadang laki-laki itu menyebalkan, tapi sikap itu yang membuatnya merindu. Sekarang, sikapnya lenyap untuk sementara. Saat menatapnya, hanya kesunyian yang tertinggal.


Semoga, semoga dia bisa cepat membuka matanya. Melihat kehadiran buah hatinya yang baru saja terlahir ke dunia ini. Mengecup mereka, membesarkannya dan melindunginya.

__ADS_1


Seorang manusia hanya bisa berharap. Sesungguhnya, jalan hidup ada di tangan Tuhan. Kita bisa meminta tapi tidak bisa memilih. Hanya bisa menerima dan menjalani sebaik-baiknya.


__ADS_2