
"Ji-jingga, tolong ja-jangan pisahkan ka-kami." Pintanya dengan wajah murung dan lemah.
"Tidak akan pernah. Kamu Daddy-nya. Jadi, kamu lah yang harus bertanggung jawab penuh atas mereka." Jawab Embun dengan lembut, membuat senyuman manis dibibir Bara kembali merekah semanis bunga lotus.
Bara tak menjawab apa-apa lagi. Tapi, dalam hatinya, kini dia sedang bersyukur karena usahanya selama ini untuk mencari maaf dari wanita itu, sudah membuahkan hasil yang bagus. Dia kembali menatap bayi yang masih dalam dekapannya itu dengan tatapan mata lembut.
"Si-siapa namanya?" Bara menanyakan nama anak yang sedang ia gendong tanpa mengalihkan pandangannya.
"Aku belum memberikannya nama. Kuharap, kamu lah yang memberikan nama pada mereka berdua." Sahut Embun lagi dengan tersenyum manis.
Embun memang belum memberikan nama pada dua buah hatinya itu. Karena dia sudah memaafkan Bara, jadi dia berharap kalau Bara akan ikut andil dalam memberikan nama untuk bayi mereka itu. Jika ada yang bertanya kenapa, jawabannya pastilah karena Bara adalah Ayah kandung dari dua bayi mungil itu.
"Bagaimana, apakah ada saran nama yang bagus untuk anak kita?" Tanya Embun lagi.
Bara tampak berpikir sejenak. Sekarang, di ruangan itu hanya ada Bara, Embun, dan dua bayi mungil itu. Sampai terlintas lah dua nama yang menurut Bara bagus untuk dua buah hatinya itu.
"Bagaimana kalau, Hansel Smith Wirastama. Dan, Hilsa Samantha Wirastama." Dua nama itulah yang terucap dari bibir Bara. Setelah mendengarnya pun, Embun langsung menyukai dua nama itu, tanpa pikir panjang dia langsung mengangguk setuju.
"Bagus sekali! Apakah kamu sudah menyiapkan nama itu dari jauh-jauh hari?" Tanya Embun yang matanya masih berbinar-binar karena senang dengan nama kedua anaknya yang disematkan oleh Bara.
"Tidak. Aku baru saja memikirkannya, dan nama itulah yang terlintas di kepalaku. Dan menurutku, itu sangat bagus. Jadi, tidak ada salahnya kan jika kita memberikan nama itu untuk kedua buah hati kita?" Imbuh Bara lagi memberikan pertanyaan kepada embun, takut kalau-kalau Embun merasa keberatan dengan nama itu.
"Tentu saja tidak. Aku malah senang dengan nama itu. Bahkan aku pikir nama itu telah kamu siapkan dari jauh-jauh hari sehingga namanya bisa sebagus itu." Jawabnya.
*******
Pras sekarang sedang berada di sebuah kasino. Tempatnya biasa bermain judi. Tidak seperti biasanya, akhir-akhir ini dia lebih banyak termenung dan seperti ketakutan. Setiap ada orang yang mengajaknya bicara, dia pasti akan terkejut dan seperti ingin buru-buru mengakhiri itu.
__ADS_1
Anak buah Eson pun masih tetap mengawasinya, mereka juga melaporkan perubahan sikap Pras pada Daniel, membuat Daniel semakin yakin kalau ada seseorang dibalik ini semua.
KRING KRING KRING
Ponsel Pras berbunyi, anak buah Daniel yang juga berada di kasino itu, melirik ke arah Pras. Pras tampak mengernyit dahinya karena heran. Yang meneleponnya orang tak dikenal.
Siapa ini? Apakah orang itu? Tapi, sepertinya tidak mungkin. Sudah beberapa hari berlalu, kenapa dia baru menghubungiku sekarang?
Pras terus saja memperhatikan ponselnya yang masih berdering hingga diam, yang menandakan panggilan itu telah usai. Namun, setelah beberapa saat, ponselnya kembali berdering. Dengan perasaan was-was, dia mengangkat panggilan itu, dan dengan perlahan dia meletakkan ponselnya di telinganya.
"Ha-halo?" Pras memulai pembicaraan itu.
"Ini aku! Bagaimana dengan pekerjaan yang ku minta kau lakukan. Apakah berhasil?" Tanya orang di balik telepon membuat wajah Pras seketika masam dan tubuhnya ikut menegang.
DEGH!! DEGH!!
Namun, dia telah gagal menjalani misi itu. Tapi, jika dia berbohong dan mengatakan kalau dia berhasil, pasti semua uang yang telah dijanjikan itu akan benar-benar menjadi miliknya, kan? Lagi pula, orang itu siapa? Dia juga tidak akan tahu kalau Pras sudah berhasil atau tidak. Buktinya, bahkan sekarang dia masih menghubungiku untuk bertanya. Begitulah pikirnya.
"Oh, hahaha! Tentu saja aku berhasil! Embun dan bayi dalam kandungannya sudah lenyap!" Ucapnya sambil tertawa. Seolah-olah, dia memang sudah benar-benar berhasil melenyapkan Embun.
"Hahahaha!" Orang di balik telepon juga ikut tertawa menggelegar Membuat Pras sedikit merinding dibuatnya. "Kau sudah berhasil melenyapkan wanita itu seperti yang aku perintahkan?" Tanyanya lagi.
"Su-sudah." Jawab Pras tergugu. Entah kenapa, orang jahat seperti dirinya saja bisa ketakutan setiap mendengar suara orang di balik telepon itu. Seketika nyalinya menciut.
"Kau membohongiku, Pras!" Pungkas orang itu. Tidak lagi terdengar suara tawa seperti tadi. Kali ini pun, ucapannya terdengar seperti mengancam.
"Ti-tidak. Bagaimana mungkin aku membohongimu." Sela Pras membela diri.
__ADS_1
"Hem. Jadi menurutmu, akulah yang berbohong?" Tanyanya dengan suara yang terdengar datar.
"Ya. Mungkin saja, karena kau tidak mau mengeluarkan uang untuk membayarku seperti janjimu. Jadi, kau pasti sengaja tidak mengakui kinerjaku." Hardik Pras dengan suara sedikit mengejek. Tetapi sebenarnya dia sudah gemetar ketakutan dengan orang yang berada di balik telepon itu.
"Hahaha!" orang yang berada di balik telepon itu terdengar tertawa lagi. Bahkan, kini tawanya terdengar lebih menggelegar dibandingkan dengan sebelumnya. Dia seperti mengejek ucapan Pras yang tidak berdasar.
"kau ingin mati Pras? Sudah tidak becus dalam mengerjakan pekerjaanmu, sekarang kau menuduhku seperti itu. Jika kau ingin mati, katakan saja. Orang-orang ku yang berada di sana setiap hari mengawasimu, siap selalu untuk membunuhmu!" Cemooh orang itu.
Mendengar hal itu, bulu kuduk Pras langsung berdiri. Dia bergidik ngeri membayangkannya. Dia langsung menoleh ke kanan dan ke kiri berusaha mencari orang-orang suruhan yang di oleh orang yang sedang menelponnya itu. namun nihil dia tidak menemukan sesuatu apapun yang mencurigakan nya.
"kenapa kau melihat ke sekeliling kau merasa ketakutan?" Ejek orang itu. Lalu, kembali mengatakan, "Kali ini, aku memaafakanmu. Karena aku belum mengeluarkan apa pun. Tetapi lain kali, jika kau gagal lagi, aku pasti akan menghabisimu." Ancamnya.
Setelah itu orang itu langsung mematikan sambungan teleponnya. Pras seketika melemas, dia sangat menyesal karena mau bekerja sama dengan orang yang begitu mengerikan seperti itu. Tapi dia juga merasa marah karena uangnya belum di dapatkan olehnya.
"Dasar pelit! Tidak bisa menepati janji!" Geramnya.
Perlakuan dan percakapannya sedari tadi dilihat oleh orang-orang suruhan Daniel. Mereka terus mengamati Pras yang terlihat sesekali merasa takut, geram dan marah. Namun lebih banyak takut. Dari tingkah lakunya saja, mereka seperti bisa menebak, kalau itu telepon dari dalang di balik itu semua.
"Apakah orang itu? Aku harus mengecek panggilan masuknya!" Ujarnya.
Jangan lupa tap like, berikan komentar, berikan gift dan mumpung dapat vote mingguan, bisa bantu kasih vote ya. Agar author bisa lebih semangat lagi.
Maaf karena kemarin-kemarin ga bisa double update, karena author terlalu sibuk dengan real life. 🙏🙏
Semoga kalian tidak pernah merasa bosan untuk selalu mendukung karyaku ini.
Terima kasih ❤️❤️❤️
__ADS_1