
Hai guys..
Apa kalian tertarik dengan novel bertema mafia? Kalau tertarik, mampir ke novel baruku yang berjudul ISTRI PILIHAN TUAN MAFIA, yuk!
Dijamin seru banget, loh!
Kalia bisa baca 3 bab awal dulu. Jika memang tertarik, bisa tap ❤️ untuk favorit dan berikan like ya...
Aku sangat menunggu kehadiran kalian semua untuk turut memberikan dukungan.
Jangan lupa ya☺️🙏🙏
Nih author kasih bab 1 dulu. Jangan lupa untuk mampir ya🙏🙏
DOR! DOR! DOR!
Suara tembakan begitu menggema di jalanan sempit yang hanya ada beberapa rumah di sekitarnya. Seorang pria yang sudah berlumuran darah masih saja terus berusaha sekuat tenaga untuk berjalan walau harus menyeret kakinya yang sudah mati rasa.
"Sialan!" umpat pria itu. Tenaganya sudah habis, tapi sekawanan musuhnya masih saja mengejarnya. Seakan dia dijadikan bahan mainan sekawanan orang yang sejak tadi melepaskan peluru mereka.
"Marvin Damarion …." panggilan dari para musuhnya itu membuat Marvin semakin menggila.
"Tuan Max, dari tadi Marvin terus bersembunyi. Dia terlalu hebat. Bahkan jejak darahnya saja tidak terlihat dimanapun. Bagaimana cara kita menemukannya?" tanya seorang pria berperawakan tinggi besar.
"Bodoh!" umpat Max. "Kalian harus mencarinya kemanapun. Jika Marvin sialan itu tidak ditemukan, maka kalian lah yang akan menjadi penggantinya!" seru Max, menodongkan pistol pada bawahannya dengan gigi yang terus bergemelatuk.
"B-baik, Tuan Max. Kami akan mencarinya!" bagaimana mungkin bawahan Max tidak gemetar. Jika pelatuk itu tidak sengaja tertarik, maka nyawanya pasti akan langsung melayang.
"Bergegaslah! Waktuku tidak banyak. Ini kesempatan emas untukku melenyapkan bedebah itu!" titahnya, mendorong tubuh bawahannya hingga terjerembab ke tanah.
Marvin yang sedang bersembunyi di sekitar sana juga mendengar yang dikatakan Max pada para bawahannya.
"Jika aku terus bersembunyi di sini, lambat laun aku pasti akan segera ditemukan. Aku harus mencari tempat persembunyian lain…," desis Marvin. Dengan membawa kakinya yang berat, Marvin berjalan tertatih menuju rumah warga. Namun, berulang kali dia berdecak karena tidak menemukan celah untuknya masuk dan bersembunyi di dalam sana.
"Sepertinya mereka terlalu takut dengan suara tembakan bertubi-tubi itu. Jangankan untuk memeriksa dan menolongku, untuk mengintip saja mereka tidak memiliki keberanian yang cukup!" tukas Marvin.
Marvin tak menyerah. Dia terus mencari tempat persembunyian meski terus berputar-putar di tempat yang sama hingga beberapa kali.
Sementara itu, langkah Arumi mulai memasuki rumah mertuanya itu. Di tangannya dia membawa sekotak kue yang akan menjadi simbol perayaan pernikahannya dengan sang suami.
"Mas Rafa, kamu di mana?" suara Arumi terdengar ke segala ruangan. Namun, orang yang dicarinya belum kunjung menampakkan diri.
__ADS_1
"Mas Rafa ke mana, ya? Kenapa tidak ada dimana-mana? Katanya tadi di rumah Ibu, tapi dari tadi dipanggil malah tidak ada yang menyahut," gumam Arumi kebingungan. Tempat pertama yang Arumi datangi adalah kamar yang biasa mereka tempati jika Arumi dan Rafa berkunjung ke rumah Ibunya.
"Bu?" Kini Arumi gantian memanggil Ibu mertuanya. Tapi, hasilnya sama saja. Wanita paruh baya itu tidak kunjung menemui Arumi.
Arumi terus mencari, dia berencana untuk memeriksa semua kamar di rumah itu. Sambil membawa sebuah kue coklat yang akan dijadikan sebagai kejutan romantis, langkahnya pun mulai menyusuri setiap kamar. Tepat di kamar terakhir, Arumi terpaku di depan pintu kamar. Dia menajamkan pendengarannya yang menangkap suara aneh dari dalam kamar tersebut.
"Kamar ini? Suara ******* Mas Rafa?" Arumi masih mematung, dia sedang berdiri di depan kamar maid di rumah itu. Jantungnya berpacu tidak karuan, keringat dingin mulai bercucuran. Sontak, segala pemikiran aneh pun mulai bergentayangan di benak Arumi.
"Apa mas Rafa mengkhianatiku? Dia … dengan Ratna?" Arumi menutup mulutnya.
"Arumi! Kenapa kamu di situ? Siapa yang mengizinkan kamu masuk?" Lika, Ibu mertua Arumi menarik kasar tangan Arumi.
"Bu, Mas Rafa ada di dalam. Suara-suara aneh itu sa–"
"Cukup!" Lika sengaja meninggikan suaranya supaya Rafa mendengar perseteruan mereka dan menyudahi permainan gilanya bersama seseorang.
Arumi kaget, tidak biasanya Lika berteriak seperti itu padanya. Seharusnya, Lika dan Arumi akan sama-sama memastikan siapa orang yang berada di dalam. Tapi, yang dilakukan Lika malah sebaliknya. Terlebih, sikap Lika sangat patut dicurigai.
"Ibu sedang menutupi sesuatu?" tuding Arumi, menatap lekat manik hitam Lika yang tampak gugup.
Lika gelisah, sejak tadi dia terus memperhatikan daun pintu yang tidak kunjung terbuka. Malahan, suara-suara ******* itu semakin menjadi-jadi.
"Mana mungkin. Memangnya apa yang Ibu tutupi? Kamu jangan berbicara sembarangan!" kelit Lika dengan wajah sengitnya.
"Bu-bukan kok. Sudahlah, untuk apa kamu datang ke rumahku? Pergi sana!" usir Lika.
"Ratna! Usir dia dari sini!" teriak Lika memanggil sang maid yang sedang berada di dapur.
"Bukan Ratna yang berada di dalam? Lalu, siapa?" rasa penasaran Arumi semakin menggebu-gebu. Arumi menghempaskan tangan Lika dan membuka pintu yang kebetulan tidak dikunci.
Betapa terkejutnya dia melihat Rafa sedang bersenggama bersama seseorang. Kue yang dipegangnya hampir saja terjatuh. Mata Arumi membeliak sempurna. Dia tidak menduga, Rafa bisa melakukan hal sekotor itu.
"Mas Rafa! Apa yang kamu lakukan?" air mata Arumi tumpah. Bukannya takut karena sudah ketahuan oleh Arumi, Rafa malah semakin menggerakkan pinggulnya.
"Arumi! Jangan lancang kamu, ya!" tegur Lika, berusaha menarik Arumi keluar namun langsung ditepis oleh Arumi.
"Kenapa Ibu mengusir Arumi? Harusnya, Ibu meminta mas Rafa untuk berhenti. Aku tidak menyangka, sainganku bukan hanya seorang wanita, tapi juga seorang pria!" ucap Arumi sambil geleng-geleng kepala. Kenyataan ini begitu menyakitkan untuknya.
"Halah. Untuk apa terlalu mendramatisir?" cibir Lika membuang muka.
Perhatian Arumi dan Lika tersita ketika Rafa mengerang nikmat. Seperti sedang melepaskan sesuatu.
__ADS_1
Setelah selesai, dia mengecup kening pria yang tadi menemaninya bermain. Sungguh, pemandangan di depannya membuat Arumi merasa jijik luar biasa.
"Keluarlah! Kita akan bicara di depan," titah Rafa sambil mengenakan pakaiannya.
"Aku menunggu penjelasanmu, Mas!" Arumi langsung melewati Lika begitu saja. Tidak peduli dengan mertuanya yang menggeram marah karena sikap tidak sopannya.
Hati Arumi begitu sakit. Arumi meletakkan kue coklat yang tadi dia beli di atas meja. Terdengar suara orang berjalan mendekat ke arahnya. Arumi menyeka air mata yang sejak tadi terus mengalir tanpa henti.
Rafa dan Lika duduk di depannya. Arumi terus menelisik wajah keduanya. Tidak ada rasa bersalah sedikitpun yang terpatri di wajah keduanya. Hanya ada kepuasan, karena Arumi telah mengetahui segalanya.
"Aku lega karena kamu sudah tahu semuanya. Jadi, tidak ada yang perlu aku tutup-tutupi lagi," ujar Rafa, menatap Arumi dengan wajah tenangnya.
"Kamu … benar-benar menyukai pria, Mas? Lalu, kenapa kamu menikahiku? Perlakuanmu membuatku hancur, Mas! Kamu tahu itu?" Arumi kembali terisak, dia tidak bisa pura-pura kuat.
"Tentu saja hanya untuk menutupi kekurangan Rafa saja. Sudahlah, Arumi, jangan terlalu membesar-besarkan masalah. Selama ini Rafa kan selalu bertanggung jawab sama kamu. Kamu tinggal menerima Rafa dan kalian jalani hidup seperti biasanya saja," ketus Lika, wajahnya begitu sengit ketika bersitatap dengan Arumi.
"Selama ini Ibu tahu kalau Mas Rafa menyimpang?" tanya Arumi, menuntut penjelasan dari Ibu mertuanya. Wanita yang selama ini sangat baik pada Arumi layaknya ibu kandung sendiri.
"Mana mungkin Ibu tidak tahu keadaan Rafa," sahutnya cepat.
"Ibu juga tahu, Mas Rafa menikahiku hanya untuk menutupi perilaku menyimpangnya ini? Dan ibu membiarkan semuanya terjadi begitu saja? Berpura-pura buta dan tuli? Kalian berdua terus menerus menipuku!" pekik Arumi.
"Sudah satu tahun usia pernikahan kita, Mas. Selama ini, aku selalu bertanya-tanya pada diriku, kenapa kamu selalu enggan untuk menyentuhku. Pantas saja, berdekatan denganku saja kamu terlihat malas. Selalu menundukkan kepala ketika berdekatan dengan wanita lain. Aku pikir, kamu pria baik yang pintar menjaga pandangan. Ternyata, para wanita bukanlah seleramu!" cibir Arumi, menahan sesak di dadanya. Kenapa cobaan seberat ini bisa menimpanya. Jujur, dia tidak kuat.
"Bodohnya aku selalu menyalahkan diriku yang tidak sempurna. Ternyata, suamiku lah yang telah menyimpang. Sungguh memalukan!" imbuh Arumi terlewat kesal.
"Diam Arumi! Jangan pernah kamu mencela suamimu. Berdosa kamu, Arumi. Dasar istri kurang ajar!" maki Lika, menatap berang Arumi yang tak gentar dengan perubahan sikap Ibu mertuanya yang terlalu kentara.
"Sikapnya memang pantas untuk dicela. Entah kenapa, dulu aku bisa terpedaya dengan racun pria menjijikkan seperti dia!" ketus Arumi, tidak peduli tatapan Wila yang bertambah murka.
"Setelah mengetahui ini semua, kamu memilih untuk terus bersamaku, atau bercerai? Jika memilih bercerai, tidak akan ada harta gono-gini untuk istri kurang ajar sepertimu. Jika tetap bersama, terimalah aku apa adanya. Jangan pernah mencampuri urusanku. Sebab, kau hanya aku jadikan sebagai tameng su–"
"Supaya orang-orang tidak mengetahui kelakuan menjijikanmu itu?" sanggah Arumi, tatapannya mencemooh Rafa, pria yang namanya masih diagungkan di hati Arumi.
Rafa terdiam. Menatap Arumi dengan seksama kemudian dia membuang muka.
"Maaf, Mas, aku sudah tidak bisa menjadi istrimu lagi. Aku sudah tidak mau dijadikan sebagai tameng atau alat apa pun. Tujuanku menikah denganmu karena aku mencari sosok seorang suami yang bisa memimpinku. Namun, jika seperti ini, semuanya tidak bisa aku dapatkan. Kuharap, kamu bersedia melepaskan aku. Tidak masalah jika aku tidak mendapatkan hartamu, lagipula itu semua juga milikmu, maka aku kembalikan padamu," terang Arumi sembari menahan sesak dan pilu.
"Aku memilih untuk bercerai darimu!" putus Arumi, menatap wajah Rafa, pria yang selama ini berhasil menguasai hatinya.
Covernya yang inih👇
__ADS_1