
Pupus sudah harapan Embun untuk mengetahui kejelasannya dan mengobati rasa penasarannya. Setelah menyelesaikan semuanya, Embun dan Belle pun pulang. Namun, ucapan Audrey terus saja terngiang-ngiang di kepalanya. Seperti ada orang yang membisikkan kata-kata itu berulang-ulang padanya, hingga dia tidak bisa menepis semua pikirannya sendiri.
"Kak?" Suara Belle menyadarkan Embun dari lamunannya. Dia seakan tenggelam dalam pikirannya sendiri, memikirkan ucapan yang terakhir kali Audrey ucapkan padanya.
"Ya? Ada apa?" Tanya Embun yang kini sudah kembali sadar dan melihat Belle.
"Kenapa kamu termenung, Kak? Apakah ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?" Tanya Belle. Belle yakin, Embun pasti memikirkan apa yang terakhir kali dikatakan oleh Audrey. Bukan cuma Embun, Belle pun sebenarnya penasaran, apakah yang dikatakan oleh Audrey itu benar adanya? Lalu, bagaimana cara membuktikannya?
"Tidak ada. Aku hanya masih memikirkan ucapan Audrey itu. Apa kita bisa mempercayainya?" Seru Embun mengungkapkan keluhannya.
"Kita juga tidak tahu. Tapi, apa alasan dia menuduh Paman Albert dan Deva, bukankah selama ini mereka tidak terlibat dendam apa pun?" Timpal Belle.
Benar. Mereka tidak pernah terlibat masalah apa pun. Pasti ada alasan kenapa Audrey menyebutkan nama itu dan meminta aku untuk hati-hati. Aku harus mencari tahu bagaimanapun caranya!
"Nanti kita bicarakan lagi dengan Bara." Sahut Embun yang menyudahi percakapan mereka. Dia tak ingin lagi menyelam dalam pemikirannya sendiri yang hanya dipenuhi dengan praduga-praduga yang tak pasti.
Setelah sampai di rumah, Embun langsung masuk ke kamar anaknya. Tidak lagi terlihat Rena berada di kamar si kembar. Dia berniat mengambil botol susu kedua anaknya untuk membuatkan susu yang baru. Saat tangannya mau mengambil botol susu milik Hansel, tangannya tidak sengaja menyentuh benda aneh yang terletak di bawah bantal tidur Hansel di stroller.
Embun langsung mengambil benda itu. Terlihat sebuah DVD. Dia langsung membalik-balikkan DVD itu.
"Milik siapa ini? Kenapa aku baru melihatnya?" Gumamnya heran. Otaknya langsung berputar cepat, dia teringat tadi Audrey sempat menyentuh kedua bayinya karena gemas. Apa mungkin ini adalah barang yang diletakkan dengan sengaja oleh Audrey sebagai bukti. Karena takut ketahuan Deva, jadi dia meletakkannya di stroller si kembar.
Tanpa berpikir panjang, dia langsung memasukkannya ke tas miliknya, kemudian membereskan keperluan si kembar. Setelah semua selesai, dia kembali ke kamar dan bermaksud melihat apa isi dari DVD yang ditemui itu.
Embun mengunci pintu kamarnya. Tanpa mengganti pakaiannya dia langsung memutar DVD itu dengan komputer milik Bara. Setelah menekan play, terlihat wajah Audrey yang sangat pucat di layar komputer itu.
"Hai, Embun!" Sapa Audrey sambil melambaikan tangan dan tersenyum manis.
__ADS_1
"Aku ingin meminta maaf padamu. Hidupku sudah tidak lama lagi. Jadi, tolong maafkan semua kesalahanku. Mungkin, memang tidak mudah untukmu. Seharusnya, sebagai sesama seorang wanita, aku mengerti bagaimana perasaanmu. Tapi, dengan tidak punya hatinya aku membuat rumah tangga kalian retak."
"Aku hanya ingin memperingatkanmu untuk hati-hati dengan Deva, sekretaris Bara. Kau pasti kenal dengan Paman Albert, kan? Sebenarnya, aku adalah anak kandungnya." akunya.
Mendengar pengakuan Audrey, Embun semakin mempunyai banyak pertanyaan dibenaknya. Lalu, siapa Deva itu?
Kenapa Albert mengakui Deva sebagai anaknya, dan seperti tidak saling mengenal dengan Audrey? Dan, banyak pertanyaan-pertanyaan lain yang bermunculan di kepalanya.
"Aku adalah anak dari seorang wanita penghibur. Dia tidak mau menikahi Ibuku, Ibuku sakit-sakitan, jadi dia menyerahkanku pada Albert. Deva, dia adalah anak jalanan yang dibesarkan oleh Albert." Tuturnya lagi.
"Aku tahu, kamu pasti heran, kenapa Albert malah mengakui Deva sebagai Anaknya, tapi malah membuangku? Tentu saja karena Albert merasa Deva lebih pintar dariku, dan sangat penurut, mau melakukan apa pun yang diinginkan laki-laki tua itu." Imbuhnya lagi.
"Selama beberapa hari ini aku selalu mengikutimu, ingin menyampaikan rahasia yang selama ini sudah aku telan. Tapi, tak sekalipun aku menemukan kesempatan. Yang membunuh orang tua Bara adalah Albert dan Deva, mereka memanipulasi rem mobil orang tua Bara hingga mobil itu masuk ke jurang. Semua sudah diperhitungkan dengan baik oleh mereka,"
"Albert membunuh kedua orang tua Bara karena ingin membuat Bara terpuruk dan dia bisa dengan mudah menguasai perusahaan itu. Ternyata rencana mereka tidak berhasil, karena ada Rey dan Daniel yang menghalangi rencana mereka dengan membuat Bara kembali bangkit. Karena rencana mereka tidak berjalan sempurna, Albert mulai meminta Deva untuk merayu Bara. Dan Deva juga menerima dengan senang hati karena dia memang sudah mencintai Bara,"
"Mengenai bukti tentang manipulasi itu, aku tidak punya bukti apa pun. Karena aku hanya tahu, tidak sengaja mendengar." Jelasnya lagi.
Embun memijat pelipisnya, dia dibuat semakin bingung dengan permasalahan keluarga Suaminya itu. Sepertinya, semakin banyak harta yang ia miliki, belum tentu cukup untuknya. Malah membuatnya semakin haus dengan harta milik orang lain. Bahkan, menghilangkan nyawa keluarganya sendiri pun dilakukan agar tujuan liciknya tercapai. Setega itukah hati orang tanpa kasih?
*****
Malam harinya, setelah selesai makan malam, Embun, Rena, Bara, Rey, Daniel dan Belle berkumpul di ruang keluarga. Daniel dan Rey datang ke sana memang atas permintaan Bara.
"Ada yang ingin aku tunjukkan pada kalian." Seru Embun di tengah-tengah obrolan mereka.
"Apa, Jingga?" Tanya Bara yang sedang menggendong Hansel.
__ADS_1
"Sebentar aku ambilkan." Embun menitipkan Hilsa pada Belle, lalu dia langsung menuju kamarnya untuk mengambil sebuah laptop dan DVD yang diberikan Audrey tadi.
"Apa itu, Kak?" Tanya Rena.
"Lihat saja." Sahut Embun sambil memutar DVD itu.
Mereka semua menonton Vidio dari DVD itu. Kening mereka berkerut dalam terutama Bara dan Belle. Rahasia sebesar itu, mereka bisa tidak tahu. Hebat sekali Albert menutupi itu semua, sampai keluarganya sendiri pun tak bisa menciumnya.
Setelah Vidio itu habis diputar, mereka saling melempar pandang satu sama lain.
"Tidak ada bukti? Lalu, bagaimana cara kita membalas perbuatan mereka? Kita tidak bisa melaporkan perbuatan mereka kepada pihak yang berwajib." Suara Belle yang pertama kali keluar setelah mereka terdiam cukup lama. Mata Belle sudah berkaca-kaca karena dia kembali teringat dengan kenangan-kenangan saat dia masih bersama orang tuanya.
"Aku yakin, pasti ada sebuah bukti yang bisa kita gunakan untuk menahan mereka." Sahut Rena memberi pendapatnya.
"Tapi, itu terlalu lama. Saat kita sibuk mencari bukti untuk menjatuhkan mereka, mereka pasti akan merasa curiga. Dan bisa saja, mereka langsung menghapus semua bukti itu sebelum kita menemukanya." protes Belle yang dibenarkan oleh mereka semua.
"Jika mereka bisa tidak meninggalkan bukti saat melakukan kejahatan. Kita juga bisa, melakukannya." Timpal Embun membuat semua orang cengo menatapnya.
"Mak-maksudmu, bagaimana?" Tanya Rey yang seperti sudah menangkap arti dari ucapan Embun, dia bertanya hanya untuk memastikan. Apakah benar yang sedang dia pikirkan?
"Kita bisa membalas mereka dengan cara yang sama! Mereka membunuh tanpa bukti? Kita juga bisa menghilangkan nyawa mereka tanpa meninggalkan jejak!" Jelasnya membuat mata Bara melotot.
Kenapa dia jadi mengerikan seperti ini? Untung saja saat aku menyakitinya dulu, dia belum berubah menjadi psikopat dan membunuhku.
Bara memegangi jantungnya yang berdegup, bukan karena dia terkejut. Tapi karena dia takut dengan sikap psikopat Istrinya itu. Lalu, selama ini dia selalu menyakitinya, kenapa dia malah diam dan menurut saja.
DUKUNG KARYA INI DENGAN TEKAN LIKE, KOMENTAR, BERIKAN GIFT. MUMPUNG INI SENIN, AYO, JANGAN LUPA VOTE YA! GERATIS KOK😁 BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT
__ADS_1
FOLLOW DAN BERIKAN RATE 5 JUGA YA...
TERIMA KASIH❤️❤️❤️