
Sepertinya setelah sampai si rumah, aku harus segera minta maaf pada Jingga. Jangan sampai dia berubah menjadi singa galak dan mengamuk.
Perjalanan mereka cukup panjang, sepanjang perjalanan itu, pikiran Bara terus saja memikirkan istrinya yang pulang sendirian akibat dirinya. Dia tahu, Embun cemburu karena dirinya, dia merasa senang. Tapi, jika kembali membayangkan hal-hal di luar dugaan yang bisa dilakukan Embun saat merasa cemburu, dia menjadi takut.
Sampai di rumah, setelah turun dari mobil, Bara langsung mencari Embun, memanggil nama itu ke seluruh sudut rumah.
Tapi, orang yang dipanggil namanya tak kunjung menampakkan diri atau sekedar menyahut.
"Bi, di mana Jingga?" tanya Bara pada salah satu ART rumahnya yang kebetulan lewat.
"Maaf, Tuan. Sedari pagi saya belum melihat Nyonya." jawab ART itu dengan wajah tertunduk, takut kalau Bara tidak puas dengan jawabannya.
"Dia belum kembali?" tanyanya lagi.
"Sa-saya tidak tahu, Tuan." jawabnya terbata-bata.
"Kembalilah bekerja." titahnya, ART itu langsung melarikan diri dari hadapan Bara secepat kilat.
"Apa dia di kamar Hansel dan Hilsa?" gumamnya, kemudian dia naik ke lantai atas untuk melihat kamar anak-anaknya untuk mencari keberadaan Embun.
Saat Bara baru memutar kenop pintu, dia juga tak mendapati Embun di dalam. Hanya ada babysitter yang sedang menjaga Hansel dan Hilsa yang sedang terlelap.
Babysitter itu terlonjak kaget saat melihat Bara sedang berdiri di depan pintu.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya babysitter itu yang sudah berdiri hormat pada Bara.
"Apa kau melihat Jingga?" pertanyaan yang sama yang ditanyakan pada semua orang yang melintas di depannya.
"Tidak, Tuan. Nyonya belum datang ke sini." sahutnya.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Bara langsung menarik pintu itu menutup. Seketika babysitter Hansel dan Hilsa itu langsung mengeluarkan nafas lega.
"Fiuh ... untung saja." ucapnya sambil mengelus dada.
"Di mana dia sebenarnya? Apa belum kembali? Lebih baik aku mandi dulu. Setelah mandi, bisa mencarinya ke mana pun." Bara mencium bau tubuhnya sendiri, kemudian dia mendengus sambil memuncungkan bibirnya sampai menutupi lubang hidungnya sendiri.
"Ternyata tubuhku sangat bau." dia berkata sambil berjalan ke kamarnya.
Setelah masuk ke kamarnya, dia mengunci pintu rapat-rapat, bermaksud untuk berendam air hangat sejenak untuk menghilangkan rasa lelahnya.
Bara menanggalkan pakaiannya, dia masuk ke ruang bathtub, dan matanya terbelalak kaget saat melihat Embun yang sedang berendam, dengan aroma favoritnya, strawberry.
Embun tak melihat Bara, karena kini posisinya sedang membelakangi pintu. Lama Bara berdiri menyandar di pintu memperhatikan Embun tanpa bergerak atau bersuara sedikitpun.
Bara kini hanya menggunakan handuk putih yang lumayan mini.
"Ah, rileksnya." serunya sambil menaikan tangan ke atas, meregangkan otot-otot kakunya.
__ADS_1
Embun melepaskan penutup mata, dia berdiri dan akan turun karena sudah selesai. Tapi, sangat terkejutnya dia saat melihat ke arah pintu, terlihat Bara yang sudah berdiri di sana sambil menyilangkan tangannya di depan dada, terlihat sedang memperhatikan gerak-geriknya.
Embun kaget, namun sebisa mungkin dia menutupi rasa kagetnya. Dengan tubuh bugilnya, dengan santainya dia berjalan di depan Bara untuk mengambil handuknya yang terletak pas disamping tempat suaminya berdiri.
Embun tak sedikitpun melihat wajah Bara yang terlihat memerah menahan gairah yang sudah menggebu dalam dirinya. Bara tampak tercenung, dia menatap tubuh Istrinya yang setelah melahirkan buah hati mereka, terlihat lebih **** dan berisi. bukit kembarnya yang jauh lebih sintal dibandingkan dulu.
Bara menelan saliva-nya dengan susah payah, dia sudah membayangkan gaya-gaya apa saja yang enak dimainkan bersama Istrinya, sebagai hadiah karena dia sudah bersedia menunggu selama hampir dua bulan ini. Melewati batas waktu yang dijanjikan Embun, bisa dikatakan kalau dia sudah masuk masa tenggang.
Saat Embun hendak memakai handuknya, Bara langsung mendekap tubuh polos itu, tak memberinya kesempatan untuk menutupi setiap inci pun. Menggendongnya dan memasukkannya kembali ke dalam bathtub.
"Bara, apa yang kau lakukan?" pekik Embun marah.
"Aku memasukkanmu kembali ke bathtub." jawabnya santai sambil tersenyum.
"Aku tahu! Tapi, apa kau tidak bisa melihat kalau aku sudah selesai mandi?" Embun ingin beranjak dari sana, namun tangannya dicekal oleh Bara.
"Temani aku mandi! Dan aku belum selesai, kau harus memenuhi janjimu padaku, Istriku." bisik bara, suaranya sudah terdengar parau.
Embun melihat wajah Bara. Dia tahu suaminya sedang membutuhkannya sekarang.
Tidak semudah itu, Tuan Bara Wirastama. Aku akan memberikan sedikit pelajaran untukmu.
Embun sengaja berdiri agar Bara dapat melihat semua bagian tubuh erotisnya. Dia juga menyadari, setelah melahirkan si kembar, tubuhnya terlihat lebih berisi dan sintal.
Dia sengaja memamerkan seluruh lekuk tubuhnya.
"Aku tidak merasa punya janji apapun padamu." ketus Embun, membuat Bara berdecak.
" Kesalahan apa?" tanya Embun pura-pura tak peduli.
"Karena tadi aku sudah membuatmu cemburu." Bara mengakui kesalahannya.
"Ckck, kamu sangat yakin kalau aku memang cemburu?"
" Ya. Aku tahu itu. Jadi, aku minta maaf."
"Sudahlah, seharusnya aku yang minta maaf karena terlalu cemburu. Harusnya, aku tidak perlu peduli dengan siapa kamu dekat, dengan siapa kamu berbicara." Embun masih bertahan dengan sikap cueknya.
Kini Bara memegangi kedua tangan Embun, menarik Embun ke atas pangkuannya.
BLURBB
Embun terduduk di atas paha Bara. Matanya terbelalak saat merasa tangannya terasa memegangi benda keras, Dia langsung menarik tangannya.
"Jingga, maafkan aku." bisiknya lagi, dengan suara yang semakin parau.
Merasa kasihan dengan suaminya, akhirnya Embun menurunkan egonya dan memaafkan Bara. Tapi, sebelum itu, Embun membuat perjanjian.
__ADS_1
"Baiklah, aku memaafakanmu." ucap Embun membuat Bara merasa lega
"Tapi, kamu harus berjanji padaku. Jika ke depannya kamu masih berani berbicara pajang lebar dengan wanita lain, aku akan memotong lidahmu. Jika berani melirik melihat wanita lain, aku akan mencungkil bola matamu. Jika kau berani memegang wanita lain, aku akan memotong kedua tanganmu. Jika...."
"Ya, ya, ya. Stop it! Aku tidak akan pernah melakukan itu." sela Bara, merasa merinding dengan ancaman Embun.
"Bagus kalau begitu."
"Jadi, apa kita bisa melakukanya sekarang?" bisik Bara membuat bulu-bulu halus Embun meremang.
"Me-melakukan apa?"
"Menunaikan janjimu padaku." tanpa aba-aba, Bara langsung mencumbu bibir Istrinya, hingga mengecap beberapa kali
Posisi mereka sekarang sedang berpelukan, namun Embun duduk dipangkuan Bara. Tangan Bara pun tak diam saja, dia sibuk memainkan bukit kembar yang kini menjadi milik Hansel dan Hilsa dengan lembut, membuat Embun melenguh, Bara tersenyum.
Merasa Istrinya sudah hampir kehabisan nafas, Bara memudahkan bibirnya untuk mengecup leher jenjang istrinya. Membuat beberapa tanda kepemilikan di sana.
Tangannya yang awalnya berada di bukit kembar, kini berpindah ke bibir lembah yang berada di pangkal paha.
Bara terus menggesek-gesek jarinya di bibir lembah kenikmatan itu, bibirnya masih mengecup leher Embun, membuat sang pemilik tubuh mengerang. Tanpa terasa, tangan Embun terulur memegang benda sakti milik suaminya yang sedari tadi sudah berdiri tegak.
Tanpa kesadaran, dia memainkan benda sakti suaminya dengan gerakan maju mundur syantik, seperti memijat. Mereka sama-sama memejamkan matanya merasakan kenikmatan duniawi, yang dilakukan bersama pasangan halal mereka.
Dengan gerakan seperti itu saja, membuat mereka beberapa kali mendapat pelepasan bersama. Namun, pelepasan itu tak akan bermakna kalau benda sakti belum memasuki lembah kenikmatan.
"Jingga, kita mulai ya?"
"Di sini? Bukankah aku pernah berkata padamu, aku lebih suka gaya batu. Jika kita melakukannya di sini, aku pasti akan tenggelam." sahut Embun.
Mengerti dengan permintaan Istrinya, Bara menggendong Embun, kaki Embun melingkar di paha Bara. Selama mereka berjalan masuk ke kamar, bibir mereka terus beradu, menyicip rasa dari bibir pasangan masing-masing.
"Bara, hati-hati. Jangan sampai terhantuk." Embun melepaskan pagutan mereka hanya diam untuk mengingatkan itu.
SEKALIAN MAU PROMO NOVEL BARU AUTHOR, BARU NETES. MASIH HANGAT. YUK, RAMAIKAN 🙏🙂😁❤️
Baru dua Minggu usia pernikahannya. Tapi Ameera sudah dijatuhkan talak 3 oleh mantan suaminya. Karena suaminya lebih mendengar hasutan Ibunya.
Dan dua hari kemudian, mantan suaminya datang dan bersimpuh di kaki Ameera, meminta wanita itu untuk kembali padanya.
Dengan bimbingan sang Ayah, yang mengira kalau laki-laki itu benar-benar mencintai putrinya, Ameera memberikan satu kesempatan lagi untuk mantan suaminya.
Tapi, dalam hukum Islam, jika suami telah menjatuhkan talak 3 pada Istrinya, maka si istri harus dinikahi lebih dulu dengan laki-laki lain (Muhallil)
Sahabat Ameera yang bernama Farhan, mengajukan diri dan bersedia untuk suami Muhallil Ameera. Entah apa yang mendasarinya, entah karena cinta, atau hanya karena merasa kasihan dengan nasib sahabatnya, Ameera.
__ADS_1
Akankah dalam rumah tangga mereka yang relatif singkat itu, dapat menumbuhkan cinta diantara mereka. Sehingga dapat mempertahankan rumah tangganya.
Atau, Ameera malah memilih kembali pada mantan Suaminya, yang menjadi cinta pertamanya itu?