Istri Miskin Presdir

Istri Miskin Presdir
MEMPERINGATKAN DEVA


__ADS_3

TING


Pintu lift itu terbuka. Mereka keluar dari lift secara bersamaan dan kembali jalan menyusuri koridor. Suara sepatu pantofel yang bersahut-sahutan menyentuh lantai pun menggema di seluruh koridor. Senyum Deva pun masih berkembang. Sampai, dia melihat seorang wanita yang berjalan ke arah mereka. Membuat senyuman yang sedari tadi terlukis di wajahnya lenyap seketika.


Membuat wajah Deva menjadi masam dan dari matanya memancarkan kebencian dan aura permusuhan.


"Sayang...!" Sapa Embun dari jauh yang memanggil Bara. Dia memasang senyuman termanisnya sambil melambaikan tangan agar Suaminya itu melihatnya.


Bara yang sudah berdiri di depan gedung kantornya langsung melihat ke arah Istrinya. Terlihat Embun sedang berjalan sambil tersenyum ke arahnya, tangannya mendorong stroller khusus untuk baby twins. Terlihat si kembar yang juga masih terlelap walaupun mereka sedang berada di tempat umum yang sangat riuh.


"Jingga...?!" Bara langsung berjalan ke arah Istrinya. Mengambil alih stroller anaknya dan dia berjalan beriringan dengan Embun. Terlihat gurat kebahagiaan dari wajahnya saat melihat Embun dan kedua Anaknya datang mengunjunginya di kantor. Tak seperti dulu, Bara bahkan enggan untuk melihatnya.


Raut wajah bahagia Bara tertangkap oleh Deva yang sedari tadi hanya berdiri di tempatnya dan memperhatikan mereka dari kejauhan. Tidak seperti Bara, Deva justru terang-terangan memasang wajah amarahnya pada Embun. Tapi, yang membuatnya lebih kesal adalah, setelah kehadiran Embun, Bara tak lagi melihatnya. Seperti menganggapnya tak ada di sana.


Karena ia merasa jengah dengan sikap mesra sepasang suami Istri itu, dia langsung memegang lengan Bara dan menyadarkan laki-laki itu, kalau dia masih berada di sana menyaksikan kebahagiaan mereka yang membuatnya jengah.


"Bara, ayo kita jalan sekarang. Nanti terlambat." Ajaknya yang sudah memegang lengan Bara yang masih terletak di pegangan stroller.


Embun langsung mendelik melihat ke arah tangan Deva yang tak segan menggenggam lengan Suaminya. Padahal, dia dan si kembar masih berada di sana, tidak ada kata segan sedikit pun dari wajahnya yang terlihat biasa saja.


Bahkan, wajahnya terkesan memamerkan kalau dia dan Bara sangat dekat.


Bara berniat menepis tangan Deva yang masih memeluk lengannya. Namun, Embun lebih dulu menepis tangan itu dan langsung memeluk lengan Suaminya,

__ADS_1


"Sayang, memangnya kalian mau ke mana?" Tanya Embun sambil memeluk lengan Bara.


"Aku dan Bara mau pergi menemui Ayahku. Jadi, tolong jangan menghalangi kami!" Malah Deva yang menjawab dengan ketusnya.


"Sayang, bukankah dia ini sekretarismu? Kenapa dia sangat kurang ajar, berani memanggil namamu?" Tanya Embun sambil melirik tajam ke arah Deva.


"Embun, harusnya kau sadar. Kau telah menghalangi jalan kami. Menyingkirlah, aku dan Bara harus pergi sekarang!" Ketusnya lagi sambil melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Berpura-pura kalau waktunya sudah mendesak.


"Deva! Kau harusnya sadar. Bara adalah atasanmu, tidak seharusnya kau memanggil namanya. Dan aku, aku adalah Istri dari atasanmu, seharusnya kau juga menghormatiku, tidak sepantasnya kau memanggil namaku sambil berucap kasar seperti itu!" Cecar Embun menatap Deva dengan tatapan tegas.


Bara sedikit terkejut mendengar kata-kata tegas Istrinya. Tapi dia hanya membuatkannya saja. Karena menurutnya, memang seperti itulah sikap yang harus ditunjukkan seorang Istri dari Bara Wirastama.


"Sayang, aku membawakan bekal makan siang untuk kita. Tapi ternyata kau mau pergi bersama sekretarismu ini. Jadi, sebaiknya aku pulang saja!" Gertak Embun, karena dia tahu, Bara pasti akan lebih memilihnya.


"Deva, maaf aku tidak bisa ikut denganmu. Sampaikan maafku pada Paman Albert." Ucapnya yang jelas lebih memilih Istrinya dari pada Deva. Deva langsung melihat ke arah Embun dengan tatapan tak suka. Sedangkan Embun membalas tatapan marah Deva dengan senyuman mengejek penuh kemenangan.


"Aku menunggumu di dalam." Jawab Bara yang kemudian mendorong stroller anak-anaknya.


Setelah memastikan Bara masuk, meskipun pria itu hanya dudk ditempat yang masih dapat melihat Embun, namun dapat dipastikan kalau Bara tidak akan bisa mendengar percakapan mereka.


Kini Embun mengalihkan perhatiannya pada Deva, wajah yang awalnya menunjukkan senyum semanis madu, kini langsung menghilangkan senyum itu dan menggantinya dengan wajah tegas dan tatapan mata tajamnya.


"Ada apa? Jangan berbasa-basi. Aku sibuk!" Cetus Deva yang ingin segera pergi dari sana.

__ADS_1


"Kenapa kau masih saja menggoda suami orang? Harusnya kau tahu, sesuatu yang direbut dari orang lain, tidak akan bertahan lama dan tidak akan membuatmu bahagia. Kau tidak takut, kalau akhirnya kau akan menjadi seperti Audrey?" Hardik Embun dengan wajah datarnya.


Mendengar ucapan Embun, Deva tersenyum sinis.


"Cih, jangan samakan aku dengan Audrey si bodoh itu. Aku tidak akan sepertinya. Seharusnya, aku yang harus memperingatkanmu. Bisa saja, aku lah yang akan menggantikan Audrey untuk merebut suamimu!" Sahut Deva.


Melihat kepercayaan diri Deva yang begitu tinggi, Embun malah tertawa mengejek. Dia heran, percaya diri yang sangat tinggi itu dia dapatkan dari mana.


"Kenapa kau begitu yakin? Kau tidak takut kalau aku akan melakukan sesuatu padamu? Misalnya, mengungkapkan wajah aslimu."


"Wanita lemah sepertimu, memangnya bisa melakukan apa? Lagi pula, wanita yang sudah pernah dibuang, jangan terlalu berharap terlalu tinggi!" Ejek Deva.


Embun terkekeh pelan kemudian dia maju lebih mendekat pada Deva, dia berbicara setengah berbisik sambil memperhatikan setiap inci wajah wanita yang sedang menantangnya sekarang. Tidak ada yang istimewa.


"Aku pernah ingin pergi, tapi dia sendiri yang mau memperjuangkan aku, menarikku kembali ke dalam pelukannya. Lalu, apa yang pernah kau dapat? Dari dulu selalu menggoda, tapi tak pernah mendapatkan hasil apa-apa!" Bisik Embun yang membuat wajah Deva tampak memerah karena menahan amarah.


"Pergilah, bukankah Ayahmu sudah menunggu? Katakan padanya, Suamiku tidak bisa menemuinya. Dia lebih memilih menemani keluarga kecilnya! Dan, jangan pernah bermimpi untuk bisa mengambil apa yang sudah menjadi milikku!" Celetuk Embun kemudian akan pergi berlalu.


"Embun...!?" Panggil seseorang dengan setengah berteriak.


Saat dia baru melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam kantor menemui Bara dan si kembar, ada seseorang yang meneriaki namanya dari kejauhan. Terlihat wanita itu baru saja turun dari sebuah taxi. Wanita itu langsung berlari menghampiri Embun yang masih terpaku di tempatnya karena terkejut dengan sosok wanita yang memanggil namanya.


Bara yang sedari tadi memperhatikan Embun dari tempatnya duduk, terkejut dengan kehadiran orang itu. Dia langsung kembali mendorong stroller baby nya ke arah Embun dengan terburu-buru. Dia takut ada sesuatu yang mencelakai Embun, Bara tak ingin dia terlambat dan mungkin akan kehilangan wanita yang kini sangat dicintainya itu.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like, berikan komentar, gift dan vote. Sedih aku tuh, makin lama makin sepi😭 Jadi kurang semangat 🥺


Terima kasih untuk yang telah memberikan dukungannya ❤️❤️❤️


__ADS_2