Istri Miskin Presdir

Istri Miskin Presdir
RENCANA DANIEL


__ADS_3

"Bara, hati-hati, jangan sampai terhantuk." Embun melepaskan pangutan mereka hanya untuk mengatakan itu.


Bara tak menjawab apapun. Dia langsung menidurkan Embun di ranjang king size mereka. Lagi-lagi dia ******* bibir ranum yang membuatnya sudah candu sedari dulu.


"Jingga, bolehkah aku memasukimu sekarang?" bisik Bara lembut.


Embun mengangguk malu. Baru kali ini dia benar-benar menyerahkan dirinya pada laki-laki, dan syukurnya laki-laki itu adalah suaminya sendiri.


Tanpa menunggu lagi, Bara langsung memompa bagian bawah tubuhnya agar bisa masuk ke dalam lembah kenikmatan milik istrinya. Dalam sekali hentakan, pisang Laras panjang miliknya masuk dengan sempurna.


Kewanitaan istrinya masih terasa sempit, mungkin karena sudah lama tak terjamah oleh siapapun.


"Akhh ... Bara!" Embun mengerang lemah di bawah kukungan suaminya.


"Sssstt ... Jingga, mulai sekarang, panggil aku dengan sebutan, Sayang!" bisik Bara lembut sambil terus memompa pisangnya di dalam inti Embun.


"Mmhhhh ... Sayang!" desah Embun yang sudah terasa melayang.


"Sayang, aku hampir keluar...."


" Baiklah, kita lakukan bersamaan." Bara semakin mempercepat ritme permainannya, setelah itu mereka mengerang bersama-sama.


Bara terjatuh lemah di samping istrinya yang terlihat tak berdaya.


"Terima kasih, karena sudah mau menerimaku kembali. Setelah banyak penderitaan dan luka yang aku bawa untukmu. Terima kasih, sudah memberiku kesempatan kedua, untuk menjadi suami yang baik, dan Ayah yang bertanggung jawab. Aku sangat bahagia karena kamu tidak memisahkan aku dengan kedua anakku." Bara menarik tubuh Embun ke dalam pelukannya. Dia mengecup kening Embun, dan menyelusupkan wajah Embun ke dada bidangnya.


"Aku sangat-sangat menyayangi kalian." bisiknya parau karena menahan tangisnya. Dia kembali teringat dengan luka-luka yang pernah dia torehkan pada Istrinya.


Embun menarik wajahnya, dia memperhatikan wajah Suaminya. Di sudut mata Bara ternyata sudah ada setetes air yang siap terjatuh mengalir.


"Sayang, jangan lagi mengingat luka. Yang perlu kita lakukan sekarang, membesarkan Hansel dan Hilsa dengan penuh kasih sayang." ucap Embun membuat Bara tersenyum.


"Ya. Aku akan memberikan segalanya pada mereka. Aku akan memberikan apa yang mereka inginkan, termasuk adik-adik yang lucu untuk mereka." sela Bara tak tahu malu.


"Mendadak menyesal aku berbicara seperti itu." gerutu Embun.


Bara dan Embun memilih tidur setelah pergulatan panas mereka. Karena tubuh yang lelah, mereka memutuskan untuk melanjutkan esok saja. Toh, mereka pasangan halal, jadi mau dilakukan di mana saja dan kapan saja, sudah tentu boleh.


******


Di luar ruangan kamar Bara dan Embun, kini Daniel sedang resah. Dia bolak-balik berjalan ke sana ke sini sambil melihat jam di pergelangan tangannya, dan jam yang berada di dinding. Untuk mensinkronkan, takut kalau jam nya yang terlalu cepat. ternyata sama.


"Bi, apakah kau melihat Belle sudah pulang?" tanyanya pada ART yang kebetulan lewat.

__ADS_1


"Belum, Tuan Daniel. Nyonya Belle sekarang memang sudah terbiasa pulang telat." jawab ART itu.


"Biasanya, siapa yang mengantarnya?" tanya Daniel.


"Temannya yang bernama Kevin."


"Lalu, siapa yang menjemputnya setiap pagi?" tanya Daniel lagi.


"Temannya yang itu juga."


"Setiap hari, dia yang mengantar jemput Belle?" tanyanya yang mulai berang.


"Iya, Tuan." jawab sang ART yang mulai melihat jelas perubahan wajah Daniel.


"Kembalilah bekerja." ucapnya.


Sepemerginya sang ART, Daniel mengusap kasar wajahnya dan menghembuskan nafas panjang.


"Aku tahu, ini memang salahku yang tidak mengatakannya lebih awal. Aku takut ditolak olehnya karena dia juga memiliki tambatan hati. Tapi sekarang, aku jadi takut kalau dia dimiliki orang lain, tak peduli dengan penolakannya. Oh Daniel, apa yang harus kau lakukan, pikirkanlah!" geramnya pada diri sendiri yang menilai dirinya terlalu cuek pada princess kecilnya.


"Daniel, kau kenapa?" Rey baru saja keluar dari kamar Hansel dan Hilsa. Dia melihat Daniel seperti orang kesetanan.


Daniel mendongak karena mendengar suara Rey. Rey memang melihat Daniel yang acak-acakan, tapi dia pikir, Daniel seperti itu karena belum beristirahat dan belum mandi.


"Hey, ayo kita pulang sekarang. Mandi, minum susu dan tidur yang nyenyak." celetuk Rey sambil menggeret tangan Daniel.


"Rey, aku ingin berbicara denganmu." ucapnya menggenggam tangan Rey.


"Kenapa aku merasa jijik saat kau memegang tanganku, lepaskan!" Rey menghempaskan tangan Daniel dan mengusap-usap tangannya.


"Aku perlu bicara denganmu!" decak Daniel geram karena Rey seperti tak mempedulikannya.


"Katakan saja, tapi jangan sentuh tanganku. Kau ini, mirip seperti pria pelangi." celetuknya.


"Sialan kau! Aku serius."


"Apa? Aku dengarkan!" Rey duduk di samping Daniel.


"Rey, bagaimana caranya agar aku bisa mendekati wanita pujaanku?" tanyanya lemah, dia menunggu jawaban Rey yang di yakini bisa menenangkannya.


"Sejak kapan Bang Daniel kita jadi pria melankolis seperti ini." bukan menjawab dengan benar, Rey malah mengejeknya.


"Aku hanya butuh saranmu. Cepat katakan."

__ADS_1


"Hey, jangan bertanya padaku. Aku saja sedang mati-matian mengejar Rena yang sangat terlihat membenciku. Bagaimana bisa aku memberikanmu saran, sedangkan diriku saja sedang terancam jadi sadboy." jujur Rey yang sebenarnya juga mengkhawatirkan dirinya.


Sadboy? Apakah aku akan menjadi pria seperti itu. Karena Belle lebih memilih anak ingusan itu? Tidak bisa kubiarkan!


"Itu yang sedang Aku khawatirkan sekarang, Rey!" pekik Daniel yang wajahnya bertambah murung.


"Kau khawatir jadi sadboy? Banyak wanita yang mengincarmu. kalau kau lupa."


"Tapi, dia malah tidak memperdulikan aku. Dia malah menyukai pria lain." adunya yang semakin bersedih.


"Daniel, terkadang untuk menghadapi seseorang yang kita suka, kita tak boleh egois, gengsi atau semacamnya itulah. Kita harus mengejarnya dengan cara terbuka. Agar dia juga tahu, kalau kita sedang menyukainya." petuah Rey.


"Jika dia tak menunjukkan kalau dia menyukai kita, kita yang harus menunjukkannya. Sampai hati kita merasa lelah dan tak sanggup lagi menyamakan langkah. Barulah kita berhenti. Setidaknya, kita sudah pernah berjuang." lirih Rey. Kata-kata yang ini bukan untuk menyemangati Daniel. Tapi lebih ke menyuarakan isi hatinya sendiri.


Yang dikatakan Rey ada benarnya. Selama ini aku tidak pernah menunjukkan kalau aku menyukainya, aku selalu bersikap dingin padanya. Dia tidak tahu aku, kalau aku menyukainya sejak umurnya tujuh tahun. Aku takut mengakuinya, nanti dia berpikir aku ini pedofil.


"Rey, kau tunggu aku di luar. Nanti aku menyusul." pinta Daniel.


"Jangan lama, aku sudah sangat lelah. Kalau kau telat satu menit, aku akan meninggalkanmu."jawabnya sambil menguap.


Setelah Rey benar-benar menghilang dari jangkauan mata Daniel, Daniel langsung menghubungi Belle yang memang sedang ia tunggu namun tak kunjung pulang.


"Halo Kak, ada apa?" tanya Belle setelah menjawab panggilan Daniel.


"Kamu di mana? Kenapa belum pulang?" tanya Daniel.


"Aku sedang makan bersama Kevin, Kak."


"Siapa?" tanya Kevin dari balik telepon.


"Kak Daniel. Sebentar ya, Hehehe." jawab Belle pada Kevin.


Lagi-lagi anak itu. Aku harus merebut Belle darinya. Dengan cara apapun.


"Halo Kak?"


"Hem ya. Belle, bisa, kan. Nanti kamu datang ke rumahku."


"Untuk apa?" tanya Belle mengernyit dahinya. Karena selama ini, jika mereka mau bertemu, pasti di luar. Belle tahu rumah Daniel. Saat berumur tujuh tahun, Bara membawanya ke sana.


DUKUNG NOVEL INI DENGAN CARA LIKE, BERIKAN KOMENTAR, GIFT DAN VOTE. BERIKAN RATE 5 DAN TAMBAH KE DAFTAR FAVORIT KAMU YA.


JANGAN LUPA, UNTUK DUKUNG KARYA BARU AUTHOR YA SAHABATKU SUAMI MUHALLILKU, DIJAMIN CERITRANYA BERBEDA

__ADS_1


RAMEIN YA GUYS...


TERIMA KAKSH❤️❤️❤️❤️


__ADS_2