Istri Miskin Presdir

Istri Miskin Presdir
KEDATANGAN PENGRUSUH


__ADS_3

"Belle, Jingga mengandung baby twins?" Tanya Bara antusias.


"Benar, Kak. Seperti yang kamu baca dari hasil pemeriksaan itu." Jawab Belle sambil menunjuk dagu ke arah kertas yang dipegang oleh Bara.


Kaki Bara seketika lemas, tapi bibirnya menyunggingkan senyuman. Dia sangat bahagia karena calon anaknya adalah kembar. Tapi, di tengah bahagianya, dia juga merasa sedih karena sekarang mereka tidak ada di hadapannya.


"Belle, tolong beritahu Kakak, Jingga ada di mana saat ini?" Ucap Bara sambil tertunduk.


"Maaf, Kak. Aku juga tidak mengetahuinya. Kalau aku tahu, aku akan memberitahumu." Jawab Belle gusar. Dia sangat kasihan dengan Kakaknya, tapi dia juga harus menjaga janjinya dengan Embun.


"Apakah aku boleh minta nomor ponselnya?"


"Tentu saja!" Belle menyebutkan satu persatu nomor ponsel Embun. Setelah itu dia pamit naik ke atas dan masuk ke kamarnya.


Setelah mendapatkan nomor ponsel milik Embun, dia mencoba menghubunginya. Meskipun awalnya sempat ragu-ragu, tapi dia tetap menghubunginya.


Lama sekali entah sudah berapa kali dia mencoba menghubungi nomor Embun. Karena Embun memang bukanlah tipe orang yang mau menerima telepon dari nomor baru yang tidak dia kenali.


Setelah beberapa kali mencoba lagi, akhirnya Embun menerima telepon itu sambil memakan buah.


"Halo, siapa ini?" Tanya Embun dari balik telepon.


"Halo, apakah masih ada orang di sana?" Ucapnya lagi sambil mengunyah.


Embun heran, nomor ini dari tadi menghubunginya, tapi setelah dia mengangkatnya, kenapa tidak ada yang bicara.


"Kalau tidak ada yang orang, aku matikan sekarang!" Pungkas Embun, berhasil membuat Bara kalang kabut dan berbicara.


"Jingga, ini aku!" Ucap Bara.


DEGG


Jantung Embun langsung berpacu. Sekarang malah Embun yang terdiam, hanya terdengar seruan nafas yang beraturan.


TUTT TUTT


Embun memutuskan panggilan itu secara sepihak. Dia melemparkan ponselnya ke kasur dan dia menangkup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Jingga, kenapa kamu memutuskan panggilannya. Aku hanya ingin mendengar suaramu dan bertanya kapan kamu akan kembali ke rumah kita." Gumam Bara sendu.

__ADS_1


"Kenapa dia menghubungiku. Merusak moodku saja." Ucapnya, tidak bisa di pungkiri kalau jantungnya masih akan berdegup kencang setiap mendengar suara Bara, laki-laki yang masih menjadi suaminya itu.


"Kak, kamu tidak makan nasi? Hanya makan buah itu saja?" Tanya Rena yang baru saja pulang dari membeli makan malam mereka.


"Aku tidak berselera. Sepertinya lebih enak makan buah." Jawabnya.


Sedangkan Bara, dia juga kehilangan selera makannya karena Embun memutuskan sambungan telepon mereka tadi. Tapi tiba-tiba emosinya memuncak karena asisten rumahnya mengetuk pintu, mengatakan kalau ada seorang tamu wanita di bawah yang sedari tadi menunggunya.


Dengan langkah cepat Bara turun dari kamarnya. Dia melihat Audrey yang sudah duduk di sofa ruang tamunya. Audrey terlihat sangat lemah dan kasihan. Tapi, penampilan yang dibuat-buat itu tidak mempengaruhi Bara sama sekali.


"Katakan!" Ucap Bara yang juga duduk di sofa singlenya yang berada jauh dari jangkauan wanita ular itu.


"Bara ... kamu kenapa bisa begitu tega denganku?" Entah kapan dia bergerak. Tiba-tiba Audrey sudah melesat bersimpuh di kaki Bara.


"Menjauh dariku. Atau aku akan mengusirmu dari sini!" Ucapnya dingin.


"Bara, tolong hapus semua berita tentangku yang berasal dari Wirastama Corp. Aku mohon padamu. Karirku sudah berada diambang kehancuran karena semua ini. Tolong lihatlah hubungan masa lalu kita." Pinta Audrey dengan tangisan buayanya.


"Cih, kau minta aku menghapus semua berita tentang keburukanmu itu? Jangan pernah bermimpi!" Ucap Bara tegas.


Bagaimana pun caranya, aku harus dapat membujuknya untuk menghapus semua berita itu. Kalau tidak, aku pasti akan benar-benar hancur di tangannya, batinnya sambil mengingat kejadian pagi tadi.


Seorang pria, yang berprofesi sebagai manager Audrey, berjalan masuk ke apartemen Audrey dengan langkah cepat. Dia juga diburu oleh para wartawan yang tentu saja ingin mewawancarai Audrey.


"Audrey Valencia! Kau malah enak-enakan makan di sini?" Pekiknya marah.


"Lalu, apa yang harus aku lakukan?" Sahutnya santai.


Sang manager tampak menghela nafas keras. Dia sebenarnya juga sudah sangat muak melihat tingkah Audrey yang selalu seenaknya saja. Kalau bukan karena agensi tempatnya bernaung selalu melindunginya, dia pasti sudah mengusir artis dadakan yang sama sekali tidak berbakat seperti itu.


"Karena mu, sekarang agensi kita sedang kesusahan. Dari dulu aku sudah memperingatkanmu untuk tidak main jalan terlarang dan jangan sampai memiliki hubungan gelap dengan orang-orang tua itu. Tapi kau tidak pernah mendengar ucapanku. Kau terus saja mengobral dirimu bagaikan barang bekas dan piala bergilir!" Ucap sang manager panjang lebar.


TRINGG


Audrey melemparkan sendok yang sedang dipegangnya ke atas piring hingga berbunyi suara melengkung seperti itu.


"Kenapa kau malah menyalahkan aku? Tinggal minta orang-orang besar di belakangku untuk melakukan sesuatu saja. Mereka pasti akan membantu dan membiayai semua biayanya seperti biasa." Jawabnya santai sambil mengelap mulutnya dengan tisu.


"Ckck, apakah kau mengira kalau dirimu seberharga itu? Mereka sudah mencampakkanmu, Audrey Valencia!" Sahut sang manager.

__ADS_1


"Apa maksudmu? Jangan bicara sembarangan." Ketusnya.


"Perusahaan orang-orang yang pernah menyokongmu itu sudah ditekan habis-habisan oleh Wirastama Corp. Mereka sudah lari kocar-kacir tidak mau memperdulikan mu lagi."


"Dan kau tahu, akibat dari itu, perusahaan mereka juga berada di ambang kebangkrutan. Mereka jadi menekan agensi kita agar membayarkan kerugian mereka, huh!" Dengusnya kesal.


"Itu semua terjadi karena agensi yang tidak berkompeten dan tidak mampu. Kenapa jadi malah menyalahkan semua masalah itu padaku?" Ucapnya lalu mengibaskan rambutnya ke belakang.


"Dan gara-gara skandal rendahan mu itu, semua artis dari agensi kita juga dibatalkan kontraknya. Kau tahu, itu semua karena mu!"


"Enak saja, aku tidak ada hubungannya dengan ini." Sangkalnya.


"Sudahlah. Pak Direktur berpesan. Kau harus bisa meminta pada Bara untuk berhenti menekan kita. Dan juga menghapus berita-berita tentang hubungan gelap mu itu secepatnya, agar tidak merugikan agensi terlalu lama." Kemudian sang manager berbalik badan dan pergi .


FLASHBACK OFF


"Bara ... ku mohon padamu. Aku akan melakukan apa pun agar kau mau menghapus berita itu." Ucapnya yang kembali bersimpuh di kaki Bara.


"Hahahaha. Ternyata, ada hari juga di mana sang aktris Audrey Valencia berlutut di kaki seseorang, ya?" Terdengar tawa beserta tepuk tangan dari arah lantai atas.


"Sial! Lagi-lagi anak kecil ini." Gumamnya pelan.


"Kenapa kau menatapku seperti itu? Kau ingin mengatakan agar jangan bermusuhan denganmu, karena kamu bisa mengusirku saat kamu sudah menjadi Nyonya rumah ini?" Belle mengolok-olok Audrey, membuat wanita itu geram dan hendak menyerang Belle.


"Berhenti! Pergi dari rumahku sekarang juga!" Pekik Bara yang wajahnya sudah merah padam.


"Kak, kamu tahu tidak, tempo hari dia sempat menemui Kak Embun." Belle menjeda kalimatnya.


"Dan, dia mencampurkan obat peluruh kandungan ke dalam minuman kak Embun, agar kak Embun keguguran." Ucapnya sambil melirik ke arah Bara.


Audrey tampak terkejut, dia heran kenapa Belle bisa tahu tentang itu. Bukankah saat itu dia tidak berada di sana saat itu. Jangankan dia yang tidak ada di sana, Embun yang berada di sana pun, dia yakin kalau wanita itu juga tidak mengetahui tentang itu sama sekali.


Jadi, kenapa sekarang Belle bisa tahu?


Jangan lupa tinggalkan jejak like, komentar, gift dan vote. Follow akun author juga ya 🤭


Berikan rate 5 dan tambahkan ke daftar favorit kamu ❤️❤️❤️


Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2