Istri Miskin Presdir

Istri Miskin Presdir
KESEMPATAN MEMBALAS


__ADS_3

Bagus juga kerjamu, Eson. Aku pasti akan memberikan bonus besar untukmu. Aku akan membuat semua orang tahu, sesungguhnya Nyonya Bara Wirastama adalah kau, Embun Jingga Prameswari. Hingga semua orang mengenalmu sebagai istriku dan kau tidak akan pernah bisa melarikan diri lagi.


"Bara, cepatlah pergi dari sini!" Embun tergesa-gesa mengusir Bara yang sedang menikmati makannya.


"Jingga, bagaimana bisa kau mengusir orang yang sedang makan? Tidak baik untuk kesehatan sehabis makan langsung bergerak." Alasan Bara.


"Aisshhh... jadi, kenapa kamu makan lama sekali? Seperti siput!"


Aku memang sengaja melakukannya, memangnya kenapa? Hahaha


"Sudah, kau bukakan saja pintunya. Kasihan pegawaimu sudah kedinginan."


Embun membenarkan ucapan Bara. Jadi, mau tak mau dia harus membukakan pintu untuk para pegawainya yang berada di luar.


CEKLEK


Embun membuka pintu untuk para pegawainya. Tapi, saat mereka masuk, tidak ada tanda-tanda kalau mereka sedang kedinginan selama berada di luar. Mereka langsung masuk berbondong-bondong.


"Kenapa kalian datang begitu cepat?" Tanya Embun. Wajahnya lebih terlihat seperti sedang menyimpan sebuah rahasia yang mungkin sebentar lagi akan meledak.


"Nona, hari ini kan masuk barang. Jadi kami memutuskan datang lebih cepat untuk membantu Nona." Jawab Ranti.


Embun hanya mengangguk, dia tidak tahu, sebenarnya alasan mereka datang cepat karena sudah diperintahkan oleh Eson. Perintah itu tetaplah turun dari Bara, dia ingin para pegawai Embun melihat dia bermalam di situ dan menyebarkan berita itu keluar, agar semua orang di seluruh dunia ini tahu, kalau Embun hanyalah miliknya seorang.


Tibalah waktunya mereka membuka toko, seperti biasanya, para pembeli juga sudah mengantri di luar toko karena mereka merasa ketagihan dengan varian rasa yang disuguhkan oleh toko roti itu.


Saat para pembeli sedang sibuk memilah-milah roti yang hendak dibelinya, Bara sengaja keluar dan menjumpai Embun.


"Jingga!"


"Bara, kenapa kau keluar? Kalau mau pergi ya langsung pergi saja. Jangan memanggilku!" Ucapnya berbisik sambil menolak Bara agar kembali ke dalam. Tapi, tubuh kekar yang ditolak itu sama sekali tak bergeming.


"Jingga, aku pamit bekerja, kau jaga anak kita baik-baik ya." Bara sengaja mengeraskan suaranya agar semua orang mengalihkan perhatian mereka padanya. Dan, cara itu benar-benar berhasil.


"Lihat itu, bukankah itu Tuan Bara? Apakah Nona pemilik toko ini adalah Istrinya?"


"Sepertinya benar, saat konferensi pers dia juga pernah mengatakan kalau Istrinya sedang hamil. Dan lihat, wanita itu sedang hamil." Mereka mulai berbisik-bisik satu sama lain. Dan tak lupa, mereka juga mengabadikan itu melalui ponsel mereka.


Sepertinya rencana mereka berhasil. Jingga, kau memang hanya ditakdirkan untuk menjadi milikku!


Banyak foto yang mereka ambil, dari Bara mencium kening Embun, mengelus perut Embun, hingga saat Bara memaksa wanita itu memeluknya. Jika ada seorang wartawan diantara mereka, bisa dipastikan beritanya akan langsung memanas hari itu juga.


Setelah membuat kegaduhan itu, Bara pergi ke kantornya dijemput oleh Eson. Setelah masuk ke dalam mobilnya, dia kembali melirik ke arah toko dan tersenyum jahil.


"Eson, berikan hadiah pada mereka yang mengabadikan foto-fotoku tadi. Dan jangan lupa, minta mereka untuk segera menyebar luaskannya juga." Titahnya.


"Baik, Tuan." Jawab Eson


Selalu saja semaunya sendiri!


Di sebuah apartemen mewah, tampak mewah di luar tapi kacau di dalam. Audrey sedang meratapi nasibnya. Selama ini, dia selalu dikejar-kejar oleh wartawan, dan yang bisa dilakukan oleh agensinya hanyalah memintanya untuk bersembunyi.


KRING KRING KRING

__ADS_1


Ponselnya berbunyi, dia langsung melihat ke arah ponselnya. Ternyata nomor yang menghubunginya, tak dikenalinya sama sekali.


KRING KRING KRING


Ponselnya kembali berbunyi. Dengan perasaan kesal, dia menjawab panggilan orang tak dikenal itu.


"Apakah ini dengan Nona Audrey?" Tanya orang dibalik telepon.


"Hem, siapa kau?" Tanyanya balik.


"Perkenalkan aku adalah Andrew. Aku dengar kau sedang terpuruk?"


"Jika kau menghubungiku hanya karena ingin mengolok-olok ku, aku akan segera memutuskan panggilan tak bergunamu!" Ujar Audrey.


"Tenang, tenang. Jangan terlalu terburu-buru. Aku bisa membantumu." Ucap Andrew terburu-buru agar Audrey tak mematikan teleponnya.


"Membantuku?" Tanya Audrey memastikan, dia takut pendengarannya salah.


"Benar! Aku bisa membantumu." Jawabnya.


"Kau yakin? Kau bisa melawan Wirastama Corp? Bahkan agensiku saja lebih memilih menyembunyikan ku karena takut ditekan habis-habisan oleh mereka."


"Tenang saja. Aku memang bukan membantumu dengan melawan mereka."


"Jadi?"


"Kau bisa menjadi partner ranjangku. Aku akan membayar mahal untuk hargamu. Dan uang itu, bisa kau gunakan untuk kembali bangkit." Seru Andrew.


Audrey langsung terkekeh pelan. Dia berpikir, memang berapa banyak uang yang diberikan oleh Andrew hingga bisa membuatnya kembali bangkit.


"Hahaha. Sekarang aku adalah seorang aktris yang terbuang. Sebenarnya, apa maumu?"


"Hahaha. Sudahlah, tidak perlu terlalu naif. Kau tahu kan, Istriku sudah cukup tua, jadi aku hanya membutuhkan daun muda untuk melayani kebutuhan biologisku." Ucap Andrew santai.


"Hem, berapa harga yang sanggup kau bayar?" Tanya Audrey yang mulai melihat secercah harapan.


"Bagaimana kalau kita membicarakannya di kamar sambil menikmati gaya erotis? Kau pasti bisa menawar sesukamu." Goda Andrew sambil tertawa.


"Baiklah. Jangan salahkan aku jika meminta bayaran tinggi." Ucap Audrey.


"Tidak masalah, asalkan kau bisa memuaskan aku!"


"Hahaha, sudah pasti. Aku pastikan Anda tidak akan melupakan rasa yang kuberikan kali ini." Ucap Audrey percaya diri.


"Hahaha. Aku akan menunggumu di hotel Andrews. Datanglah secepatnya, aku sudah tidak sabar." Seru Andrew kemudian.


Setelah memutuskan sambungan teleponnya. Audrey langsung tertawa puas sambil menggenggam ponselnya. Dia merasa puas, ternyata masih ada yang menginginkan tubuhnya.


"Tidak apa-apa jika aku tidak setenar dulu. Yang terpenting, aku memiliki uang untuk membiayai kebutuhanku ini. Tubuhku sudah terasa lengket karena sudah lama tidak ke salon." Gumamnya.


"Dan kau, Embun. Aku tetap tidak akan melepaskanmu. Karena kehadiranmu Bara jadi tidak mencintaiku lagi, dan aku terpuruk seperti ini. Tunggu saja pembalasanku!"


Dia langsung membersihkan tubuhnya, memakai wangi-wangian agar tubuhnya lebih terasa fresh. Setelah selesai, dia langsung menuju ke hotel milik Andrew dengan rasa percaya diri. Tak lupa dia juga memakai kacamata hitam agar tak terlalu dikenali oleh para wartawan yang sampai sekarang masih saja mengejarnya.

__ADS_1


"Belle, ayo temani aku mengantarkan pesanan kue ini." Ajak Embun pada Belle yang baru saja masuk ke dalam toko.


"Lokasinya di mana, Kak?"


"Hotel Andrews. Apakah kamu mengetahuinya?" Tanya Embun.


"Tahu, ayo kita pergi sekarang."


"Tapi kamu baru saja sampai dan belum makan, makan saja dulu."


"Tidak masalah, Kak. Yang terpenting kepuasan pelanggan. Sehabis pulang nanti, aku akan langsung makan." Jawab Belle.


"Hem." Embun mengangguk dan mereka pun pergi menuju ke hotel yang disebutkan oleh Embun.


Kue yang diantarkan oleh Embun adalah kue pesanan dari customernya. Kue itu dipesan oleh seorang pengusaha untuk Anaknya yang berulang tahun, dan kebetulan acara itu diselenggarakan di hotel itu. Biasanya, Embun akan meminta pegawainya yang mengantarkan, tapi kali ini dia ingin mengantarkannya sendiri, hitung-hitung sekalian jalan-jalan menenangkan pikiran.


Tapi, saat Embun hendak turun dan mengantarkan kue ke customernya. Dia menangkap seseorang yang dikenalinya sedang bergelayut manja di lengan seorang pria tua sambil tertawa bahagia.


"Belle, coba kamu lihat, bukankah itu Audrey?"


"Yang mana, Kak?" Belle belum menemukan orang yang dimaksud oleh Embun.


"Lihat itu, yang sedang berjalan di bawah pohon!" Tunjuknya lagi.


"Ah, iya itu memang benar wanita ular itu, Kak." Belle sudah melihat wanita itu.


"Sepertinya dia belum berubah. Perangainya masih sama seperti dulu." Ucap Embun menyayangkan perilaku Audrey.


"Bukankah itu, Tuan Andrew? Pemilik hotel ini." Terka Belle.


"Benarkah? Aku yakin, dia pasti sudah memiliki seorang Istri. Tapi, masih saja mencari rumput segar di luar."


"Dia memang sudah memiliki dua orang Istri, Kak. Dan salah satu Anaknya adalah temanku di kampus." Jelas Belle.


"Kau hubungi saja temanmu. Suruh dia datang untuk melihat kelakuan Ayahnya secara langsung." Usul Embun.


"Kau benar, Kak. Tapi, tujuan kali ini bukanlah Tuan Andrew. Tapi, Audrey!" Ucap Belle.


Belle langsung mengambil foto Audrey yang sedang bermesraan dengan Andrew. Dan dengan sengaja dia mengirimkannya pada temannya, yang juga anak dari Andrew.


Tidak butuh waktu lama, anak dari Andrew langsung menelepon Belle.


"Belle, apakah mereka sudah lama berada di sana?" Tanyanya tergesa-gesa.


"Aku baru saja melihat mereka masuk ke dalam hotel."


"Baiklah, aku akan segera ke sana sekarang juga."


"Baik, aku akan menunggumu!" Ucap Belle sambil tersenyum.


Jangan lupa untuk tinggalkan like, komentar, gift dan vote. Berikan rate 5 dan tambahkan ke daftar favorit kamu ya


Sekecil apa pun dukungan dari kalian, sangat berarti untuk author, loh!

__ADS_1


Terima kasih ❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2