
"Aku tidak akan membiarkanmu ke mana pun, aku akan selalu memelukmu seperti ini. Selamanya!" Tegas Bara.
"Bara, aku hanya mau membuat susu saja." Embun terkekeh pelan menanggapi sikap manja Bara yang terus saja bergelayut dengannya.
"Oh, biar aku buatkan." Ujarnya menawarkan diri.
"Tidak perlu. Bukankah seorang Tuan Muda Bara hanya bisa memerintah?" Ejek Embun.
"Jangan berkata begitu. Jika hanya buat susu saja, aku tentu bisa." Ucapnya sambil unjuk diri.
"Sudahlah. Biar aku saja yang buat sendiri. Kau mau juga?" Embun juga menawarkan pada Bara. Malam ini, biarlah dia melakukan yang seharusnya dilakukan sebagai seorang istri. Karena, setelah malam ini berlalu, mungkin mereka akan menjadi tidak saling mengenal lagi.
"Aku juga mau merasakan susu milikmu." Ucap Bara ambigu.
Secara spontan, Embun menutup dadanya dengan kedua tangannya. Dia mendelik ke arah laki-laki itu dengan tatapan membunuh.
"Hahaha. Kau sedang memikirkan apa, Jingga? Sepertinya sedikit kotor!" Sindir Bara.
"Aku sudah katakan, jangan berani buat macam-macam!" Ancamnya lagi yang masih menutup dadanya.
"Memang apa salahnya kalau aku ingin susu milikmu? Aku juga ingin merasakan susu Ibu hamil." Jawabnya santai.
"A,apa?" Wajah Embun langsung memerah karena malu, dia langsung membalikkan badannya dan pergi dari sana.
"Dasar laki-laki mesum! Apa tidak bisa dia mengatakan sesuatu dengan jelas? Tidak perlu ambigu seperti itu, kan?" Embun menggerutu sepanjang dia berjalan ke arah dapur.
BRAKKK
Karena asik mengomel sepanjang jalan, dia tidak memperhatikan banyak kantong plastik di depannya. Dan tidak sengaja dia menendang kantong-kantong plastik yang berukuran besar itu, isinya pun ikut berhamburan.
"Apa ini? Apakah Ranti lupa membuang sampah, tapi kenapa sampahnya bisa sebanyak ini?" Gumamnya bertanya-tanya, kemudian dia memeriksa isi dari kantong-kantong plastik yang di sana.
Begitu dia membuka semua kantong plastik itu, ternyata isinya adalah, susu Ibu hamil, berbagai merek dan berbagai varian rasa. Baju-baju berukuran besar, seperti daster dan cemilan-cemilan ringan sehat yang memang dikhususkan untuk Ibu hamil.
Tak lupa, juga banyak buah-buahan segar yang biasanya sering dimakan oleh Embun.
Kenapa aku curiga kalau dua bocah itu juga ikut berkomplot dalam rencana ini. Kalau memang benar, kalian tunggu saja nanti dua bocah!
Setelah melihat-lihat isi dari kantong plastik itu, Embun memasukkan kembali isinya ke dalam kantong plastik. Dia tetap mengambil susu miliknya sendiri dan membuatnya.
Saat Embun sedang mengaduk susunya, tiba-tiba ada tangan kekar yang memeluknya dari belakang. Tanpa dijelaskan juga, kita pasti tahu itu tangannya siapa.
__ADS_1
"Jingga, kenapa kamu tidak membuka kantong-kantong itu? Aku sengaja membelinya untukmu." Bisik Bara di telinga Embun.
"Kau yang membelinya?" Tanya Embun yang meneruskan aktivitas mengaduk susunya.
"Ya. Aku sengaja menyiapkannya untukmu. Aku tidak tahu kamu suka apa, jadi hanya bisa menyiapkan ini saja. Tapi, jika ada yang kurang, kamu bisa mengatakannya padaku. Kita akan membelinya bersama." Ucapnya kemudian mengecup bagian belakang kepala Embun.
"Kau mengajak Rena, kan?" Tanya Embun santai.
"Ya, kalau tidak, mana mungkin aku tahu kesukaanmu." Jawabnya keceplosan.
"Ternyata memang kau yang mulai mengajari adikku berbohong?" Embun berbalik badan bermaksud untuk mengomel. Tapi, secara tidak sengaja malah terjadi sesuatu yang, ahh begitulah.
CUPP
Embun tak sengaja mengecup bibir Bara. Sejenak, mereka hanya terdiam dan saling pandang. Dan, tiga detik kemudian, Embun langsung memalingkan wajahnya karena pipinya terasa panas.
"Manis sekali!" Ucap Bara sengaja ingin menggoda Embun.
Tanpa memperdulikan perkataan pria itu, Embun langsung mengambil gelas susunya dan kembali masuk ke kamarnya.
Kebiasaan Embun, setelah dia minum susu, dia pasti akan merasa kantuk yang tak bisa ditahan.
Setelah mengatakan itu, dia pun terlelap dalam tidurnya. Meskipun Embun meminta dipijat seperti mengigau. Bara tetap menurutinya, dia memijat kaki Embun dengan sangat lembut.
Setelah dikiranya cukup, dia juga ikut berbaring di samping Istrinya itu, melingkarkan tangannya ke pinggang Embun, memandangi wajah wanita yang sedang terlelap dalam tidur itu dengan intens.
"Nak, meskipun Ibumu meminta pada Ayah untuk tidak menemui kalian lagi, tapi Ayah tidak akan pernah melakukan itu. Aku tetaplah Ayah kalian, aku akan bertanggung jawab pada kalian seumur hidupku,"
"Bersabarlah sebentar, ya? Tunggu sampai Ayah bisa mendapatkan maaf dari Ibumu, kita akan segera berkumpul dan menjadi keluarga yang bahagia. Ayah berjanji, kalian tidak akan merasakan sepinya hidup tanpa kasih sayang seorang Ayah!" Bisiknya pada perut Embun. Dan bayi-bayi kecil itu langsung menendang-nendang seperti memberi respon setiap ucapan Bara.
"Sayang, jangan terlalu kuat. Ibu kalian sudah tertidur, kalian juga tidur ya. Sudah larut malam, waktunya untuk istirahat." Bisiknya lagi. Setelah itu dia mengecup perut itu dua kali.
Bara kembali menghujani wajah Embun dengan ciumannya. Dia memeluk wanita itu lagi, kemudian ikut terlelap di sampingnya.
******
Sementara di tempat lain, Belle, Rena, Rey dan Daniel sedang berkumpul di Rex Club. Mereka tampak berbincang-bincang. Biasanya, kalau sedang berkumpul, laki-laki itu akan mengeluarkan wine dan bir. Tapi kali ini, mereka terpaksa minum jus dan air mineral karena ada dua wanita di bawah umur dihadapan mereka.
Rena terlihat gelisah. Dia memang pernah masuk ke Club terkenal itu, tapi tidak berkumpul bersama orang-orang besar seperti mereka. Apa lagi, sekarang dia malah duduk bersantai bersama mantan bosnya.
Dia terlihat sangat tidak nyaman berada di tempat seperti itu, bisa dikatakan tempat yang jauh dari kata aman untuk seorang gadis.
__ADS_1
"Rena, kamu kenapa?" Tanya Rey, dia sedari tadi memang memperhatikan gelagat Rena.
"Tidak apa-apa. Bisakah aku pulang sekarang? Aku takut Kak Embun curiga kalau aku tidak ada di rumah." Alasannya.
"Tidak perlu khawatir, mungkin pun sekarang Kak Embun sudah tahu kalau sebenarnya kau tidak benar-benar menghadiri pesta ulang tahun temanmu." Sahut Belle yang tidak mengizinkan Rena pergi, karena dia masih betah di sana karena ada Daniel.
"Tapi, aku tetap ingin pulang." Pintanya.
"Tidak apa-apa, Rena. Kita tidak akan kenapa-kenapa di sini. Karena ada kak Daniel di sini." Bujuk Belle.
"Kau pernah bekerja di sini, kan?" Tanya Daniel.
"Benar, Tuan." Rena mengangguk membenarkan.
"Kau bekerja sebagai apa?" Tanya Daniel sambil meneguk air mineralnya.
"Aku bekerja di dapur, mencuci piring, Tuan."
"Apakah kau tahu, bagaimana sejarah Embun bisa bertemu dengan Bara?" Tanya Daniel, entah apa maksudnya.
"Tentu aku tahu, mereka hanya tidak sengaja bertemu dia karena tertabrak, kan?" Ucapnya dengan sorot mata penuh keyakinan.
"Apa? Bukankah mereka bertemu di Rex Club ini? Karena Embun mencarimu dan tidak sengaja masuk ke kamar Bara? Lalu, mereka."
"Rey!" Pekik Daniel.
Mengetahui dirinya sudah salah berbicara, dia langsung menutup mulutnya yang memang selalu kelepasan kalau mengetahui sesuatu. Dia langsung melirik ke arah Rena yang terlihat sendu dan ingin meledak.
"Belle, benarkah yang dikatakan olehnya?" Tanya Rena pada Belle secara spontan. Dia tidak lagi mementingkan pandangan dari orang-orang sekitarnya.
"Rena...." Belle memanggilnya pelan, berusaha untuk menenangkannya. Karena Belle tahu, Rena sangat sayang pada Embun. Dia akan terus menyalahkan dirinya sendiri kalau masa depan Embun rusak karena dirinya.
"Belle, ayo jawab aku. Kenapa diam saja?" Rena menggoyang-goyangkan tangan Belle berharap wanita itu mau menjawab langsung.
"Rena, tadi aku hanya salah bicara saja." Ucap Rey yang merasa bersalah dan juga berusaha menenangkan Rena yang tampak kecewa pada dirinya sendiri.
"Diamlah, Tuan! Aku tidak percaya dengan kata-katamu! Aku tidak percaya kau hanya salah berkata! Belle, ayo jelaskan padaku. Apakah benar yang dikatakan oleh dia barusan? Jawab Belle! Aku merasa bersalah pada diriku sendiri, karena sudah menghancurkan masa depan Kak Embun. Jika saja aku tidak bekerja di sini, dia pasti tidak akan mencariku sampai ke sini dan bertemu dengan Kak Bara. Kak Embun juga bisa mencari kebahagiaannya sendiri! Dan..." Rena sudah sesenggukan.
CUP
Tiba-tiba Rey malah menarik tengkuk Rena dan membungkam mulut wanita itu yang sedari tadi meracau tak jelas dengan cara menciumnya.
__ADS_1