Istri Miskin Presdir

Istri Miskin Presdir
FIRASAT


__ADS_3

"Aku mohon. Hanya itu satu-satunya harapanku," Alea kembali memelas.


Pegawai toko itu merasa Iba pada Alea.


"Sebentar, aku akan meminta izin pada manager toko terlebih dahulu," ucap sang pegawai toko itu menerbitkan secercah harapan baru bagi Alea.


Saat pegawai toko itu hendak bangkit untuk menemui managernya, langkahnya kembali terhenti karena Alea menarik tangannya.


"Apakah dia ada membeli sesuatu di toko ini?" tanya Alea lagi.


"Sepertinya ada, Nyonya. Dan dia juga meminta kami untuk mengantarkan semua itu ke alamat rumahnya," jawab pegawai toko itu seadanya.


Alea kembali tersenyum sambil sesekali terisak. Merasa mendapatkan harapan yang lebih besar lagi. Apakah mungkin jalan harapan sudah terbentang di depannya?


"A-apakah aku bo-boleh meminta alamat rumahnya?" tanya Alea lagi. Sungguh dia sedang dirundung kegugupan karena semua permintaannya ini sudah termasuk melanggar aturan toko, dia tahu itu.


"Hem?" sang pegawai itu agak kikuk. "Ya sudah, nanti biar sekalian aku tanyakan pada manager kami, Nyonya. Namun, aku tidak bisa berjanji," jawabnya.


Alea mengangguk, dia melepaskan tangannya.


Tidak lama dia menunggu, ada dua orang wanita datang mendekat ke arahnya. Satu wanita sudah ia ketahui sebagai penjaga toko tadi. Dan yang satunya, dia yakini sebagai manager mereka.


"Permisi, Nyonya? Pegawai saya mengatakan Anda meminta melihat cctv di toko kami. Apakah ada sebuah alasan yang bisa Anda katakan pada kami?" tanya sang manager yang ternilai cukup ramah.


"Se-sebenarnya ini adalah alasan pribadi. Saya kehilangan Anak saya dan menemukan kemiripan wajahnya pada seorang bayi mungil. Jadi saya ingin memastikan melalui cctv di sini," tutur Alea memberikan alasan yang sebenarnya.


Sang manager menganggukkan kepalanya beberapa kali. "Apakah masih ada permintaan yang lain?" tanyanya lagi pada Alea.


"Tadi saya sempat bertanya pada pegawai toko ini, Apakah wanita yang menggendong bayi mungil tadi ada berbelanja di toko ini?"


"Lalu?"


"Apakah saya bisa meminta alamat rumah wanita itu?" tanya Alea.


Sang manager tersenyum dan menggelengkan kepalanya pelan.


"Maaf, Nyonya. Untuk permintaan Anda yang ini kami tidak bisa memenuhinya. Menurut aturan toko, privasi pelanggan harus terjaga sebaik mungkin," ucap manager itu menjelaskan.


Alea kembali terisak, dia menggelengkan kepalanya berkali-kali. Tangannya menjangkau tangan sang manager berwajah datar yang terlihat sangat tegas.


"Tolong bantu saya. Saya akan memberikan biaya berapapun yang kalian minta!" mohon Alea dengan memelas.


"Maafkan kami, Nyonya. Ini bukan soal biaya. Tapi, itu memang sudah menjadi aturan toko kami. Itu kami lakukan agar pelanggan kami merasa nyaman. Menjaga privasi adalah kewajiban kami," ucap manager toko itu tegas.

__ADS_1


"Saya mohon ... hanya kali ini saja!" Alea kembali memelas.


"Maaf! Kami tidak bisa memberikannya. Saya hanya menjalani aturan toko yang berasal dari atasan. Lagipula, semua toko juga pasti akan memberlakukan aturan yang sama. Jadi, kami tidak ingin menyalahgunakan itu," ucap sang manager lagi kembali memberikan penjelasan.


Alea sangat tahu tentang aturan-aturan seperti itu. Namun, kali ini dia bukan ingin melanggar aturan yang sudah semestinya seperti itu. Dia benar-benar sangat membutuhkan alamat yang akan membawanya bertemu dengan Anaknya yang selama ini ia cari.


Tapi, apa hendak dikata? Secercah cahaya yang menjadi harapannya telah sirna.


"Ya sudah tidak apa-apa. Saya minta lihat cctv saja," pinta Alea lagi yang sudah pasrah. Untuk mencari alamat, dia akan memikirkannya nanti. Yang terpenting sekarang dia harus memastikan penglihatannya tadi. Apakah bayi mungil itu memang mirip dengan Amanda, Anaknya? Atau dia salah melihat karena perasaan rindu yang sudah lama tersematkan?


"Baik, mari ikuti kami, Nyonya." pegawai itu mempersilahkan Alea masuk ke dalam ruangan cctv.


Petugas cctv memutar rekaman saat Rena masuk. Alea juga meminta petugas untuk men-zoom wajah bayi yang berada dalam gendongannya.


Dan benar saja, wajah bayi mungil yang sedang tertidur pulas itu sangat-sangat mirip dengan wajah Amanda, anaknya.


Dari mulai mata, hidung mancungnya dan pipi bakpaonya.


Air mata Alea menetes melihat itu, tak terasa tangan terangkat dan menyentuh layar tepat di wajah sang bayi.


"Amanda...!" ucap Alea disela-sela isak tangisnya.


Mata Alea langsung menyipit saat melihat Rey datang dan memeluk Rena. Mengecup kening bayi mungil yang sedang digendong oleh Rena.


"Aku harus segera mencari jawabannya! Bagaimanapun caranya!" ucap Alea.


"Terima kasih banyak karena sudah berkenan untuk mengizinkan saya melihat rekaman cctv itu," kata Alea pada pegawai toko yang sedari tadi memandunya.


"Sama-sama, Nyonya. Semoga Anda segera dipertemukan dengan orang yang Anda cari," balas sang pegawai toko.


Alea mengangguk. Sebelum meninggalkan toko, Alea menyempatkan diri untuk membeli beberapa keperluan bayi yang akan dijadikan hadiah untuk anak temannya nanti. Dan agar tak membuat Joana merasa curiga.


"Sekali lagi terima kasih," ucap Alea dan dibalas dengan anggukan dan senyuman ramah dari pegawai toko.


Alea sangat berterima kasih, karena rekaman cctv itu dia bisa tahu kalau wajah bayi itu sangat mirip dengan wajah Amanda. Dia juga bisa yakin untuk mencari kebenaran dan mencari keberadaan Rey dan gadis yang membawa bayi mungil yang belum ia ketahui identitasnya itu.


"Ma?" panggil seseorang sambil menepuk bahu Alea pelan.


Alea terjingkat kaget saat melihat siapa yang menghampirinya. "Joana, sudah lama kamu di sini?" tanya Alea.


"Belum, Ma. Mama lama sekali kembali. Jadi, daripada bosan menunggu, aku mencari Mama sambil berjalan-jalan," ungkapnya.


"Maaf, tadi Mama kebingungan saat memilih."

__ADS_1


Joana menautkan alisnya.


Kenapa sikap Mama hari ini begitu berbeda? Seperti ... ada yang sedang ia simpan rapat-rapat dariku.


"Joana, ayo kita pulang sekarang!" ajak Alea.


Joana langsung menggandeng tangan Alea dan jalan beriringan.


Kini mereka telah berada di dalam mobil. Roda mobil mulai membelah jalanan yang terasa lenggang itu.


Joana terus memperhatikan sikap Alea yang tak seperti biasanya. Hari ini, Alea sama sekali tak ramah padanya. Akhirnya Joana memberanikan diri untuk bertanya.


"Ma, ada apa? Apakah ada yang mengganjal?" tanya Joana.


"Tidak ada," jawab Alea.


Kenapa hari ini perasaanku sangat tidak nyaman? Perasaan sedih begitu kentara menyelimuti hatiku. Rasanya aku ingin sekali menangis saat ini. Ingin meraung, seperti sedang kehilangan sosok yang paling aku cintai. Tapi, kenapa? Siapa yang telah pergi meninggalkan aku? Kenapa perasaan sedih ini terus mengaduk-aduk batinku, membuat air mata terus menganak di pelupuk mataku.


"Mama yakin? Joana perhatikan, sedari tadi Mama hanya diam saja? Seperti sedang ... menyimpan sesuatu!" cetus Joana membuat Alea membelalak kaget.


"Apa maksud kamu, Joan?" tanya Alea menatap Joana tajam.


"Tidak, Ma. Bukankah kita keluarga? Jadi, jika ada sesuatu yang membuat Mama tidak tenang, Mama bisa memberitahukannya pada Joana, Ma. Joan siap mendengarkan," ucap Joana berusaha menjelaskan. Tak ingin sang Ibu menjadi salah paham terhadapnya.


Alea menghela nafas. Dia ingin bercerita, tapi tak tahu pada siapa dia harus meruahkan keluh kesah yang sedang mendera hatinya. Terlebih lagi tak mungkin dia mengatakannya pada Joana. Tak ada rasa percaya pada gadis itu.


"Joan, ini hari apa?" tanya Alea.


"Kamis, Ma."


"Kamis? Tanggal berapa?" tanya Alea lagi.


"Iya. Tanggal lima, Ma."


Alea tersenyum namun air mata menetes dari pelupuk matanya. Memang sejak tadi matanya sudah berkaca-kaca.


Tiga hari lagi Amanda berulang tahun. Tapi, sudah bertahun-tahun Mama tak pernah melihat dirimu lagi, Nak. Sebenarnya, ke mana kamu pergi? Kenapa susah sekali menemukan keberadaanmu yang terasa sangat misterius?


"Ma? Sebenarnya Mama kenapa?" tanya Joana sembari menggenggam tangan Alea.


Dukung karya ini dengan berikan like, komentar, gift dan vote sebanyak-banyaknya.


Berikan juga rate 5 ya guys ❤️❤️❤️

__ADS_1


Terima kasih untuk setiap dukungan yang sudah kalian berikan❤️❤️❤️


__ADS_2