
"Kak, kamu kenapa? Aku perhatikan, sedari tadi kamu murung. Apakah kamu tidak senang dengan kabar gembira ini?" tanya Belle yang akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.
"Tentu saja aku sangat bahagia. Wanita mana yang tidak bahagia saat mendapat kesempatan akan menjadi seorang ibu. Aku tentu sangat-sangat bahagia sekali bisa merasakan kelebihan ini." jawab Embun sambil mengelus perutnya yang masih datar.
"Lalu, apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Rena gantian.
"Aku menyayangi anak ini, tapi bagaimana dengan Ayahnya? Apakah Bara juga menginginkan dan bisa menyayangi anak ini, seperti aku?" jawan Embun lesu.
"Aku yakin Kak Bara pasti menyayanginya, Kak. Anak ini adalah darah dagingnya, jadi tidak mungkin dia menyia-nyiakan anaknya sendiri." ujar Belle, dia sudah menebak pikiran Embun. Ternyata apa yang dia pikirkan itu benar.
"Tapi aku tidak bisa sepercaya diri itu, Belle. Bahkan sampai sekarang dia belum mencintaiku. Bagaimana mungkin dia bisa menyayangi anak yang berasal dari wanita yang tidak dia cintai." jawab Embun yang kini menatap Belle, air matanya sudah tak terbendung.
"Kita bicarakan di mobil saja, Kak." ucap Rena, karena sedari tadi pandangan mata orang-orang selalu menatap ke arah mereka.
Mereka masuk ke dalam mobil, Embun masih saja diam tak berkutik. Semenjak Dokter mendiagnosa bahwa dia sedang hamil, dia menjadi diam seakan sedang menerawang masa depannya.
"Belle, bolehkah aku memohon sesuatu?" pinta Embun.
"Apa, Kak?"
"Tolong jangan beritahukan Bara tentang kehamilanku ini. Rahasiakan saja." pinta Embun, dia menatap mata Belle lekat seperti sedang sangat memohon.
"Kak Bara adalah Ayahnya, Kak. Bagaimana mungkin kamu tidak memberitahukannya." Belle langsung tak terima dengan permintaan Embun yang menurutnya tidak masuk akal.
"Tolonglah, Belle. Hanya sampai Bara mencintaiku saja. Kamu sudah berjanji padaku untuk mendukung semua keputusanku kedepannya, kan?" pinta Embun setengah memohon.
"Tapi, Kak. Apa kamu sudah memikirkannya baik-baik? Dia adalah Ayahnya." Belle berusaha membujuk Embun.
"Aku terlalu takut kehilangan bayi kecil yang bahkan belum berbentuk ini. Aku takut mereka akan melakukan yang tidak-tidak kepada bayiku ini." Embun sudah mulai kembali berkaca-kaca.
Karena teringat akan saran dari Dokter tadi, Belle berusaha untuk meredam emosi Embun. Dia mengiyakan apa yang dikatakan oleh Embun.
Sepertinya, aku memang harus mengiyakannya dulu. Tapi aku tetap harus mencari cara untuk memberitahukan Kak Bara. Kami tidak bisa menyembunyikan ini terlalu lama, batin Belle.
Mereka pergi ke mall untuk sekedar merilekskan pikiran Embun yang sedang kalut. Embun juga menggunakan kesempatan itu untuk membelikan kado untuk Bara yang beberapa lagi akan berulang tahun.
"Belle, Rena, kira-kira kado apa yang cocok untuk Bara, ya?" tanyanya mencari pendapat.
__ADS_1
"Kakak ingin memberikan apa?" tanya Rena.
"Tidak tahu. Aku bingung, dia sudah memiliki segalanya, jadi apa yang harus kuberikan untuknya?" ucapnya pasrah.
"Berikan apa yang sering dia gunakan saja, Kak." usul Rena lagi.
"Dasi? Jam tangan? Atau sepatu?" tanya Embun beruntun.
"Menurut Kakak sendiri?"
"Aku ingin memberikannya dasi." jawabnya sambil tersenyum aneh karena kembali membayangkan kejadian saat dia ingin memasangkan dasi untuk suaminya, tapi malah mencekik.
"Ayo, kita cari tokonya. Kebetulan aku punya kenalan, Kak." ujar Belle sambil menarik tangan Embun dan Rena secara bersamaan.
Setelah sampai di toko yang dimaksud oleh Belle, mereka mulai memilih-milih dasi yang bagus. Setelah sekian lama mencari karena Embun kebingungan dengan selera Bara.
"Sudah sekali, ya! Aku tidak tahu seleranya seperti apa." ucapnya yang pasrah karena sudah lelah mencari.
"Tidak perlu menuruti keinginannya, Kak. Menurut selera kamu saja. Pasti akan jadi lebih istimewa." usul Belle.
"Yang ini saja, bagaimana?" tanya Embun setelah menemukan benda yang sekian lama ia cari.
"Bagus, Kak. Kamu suka, kan?" ujar Rena.
Embun kembali melihat harganya, setelah dirasa harganya sesuai dengan uang yang berada di sakunya, Embun baru mengangguk cepat tanda mengiyakan.
"Ya sudah yang ini saja, Kak. Ayo kita lakukan pembayaran." ujar Rena
Mereka pun melakukan pembayaran, setelah itu mengisi perut dan jalan-jalan berkeliling mall sebentar untuk menghilangkan rasa gundah dihati Embun.
Setelah sudah senja, mereka memutuskan untuk pulang, mengantarkan Rena terlebih dahulu barulah mereka pulang. Setelah sampai di rumah, Embun melihat mobil Bara yang sudah terparkir rapi di garasi. Dia kembali mencekal tangan Belle.
"Belle, ingatlah jangan sampai kamu mengatakan yang tidak seharusnya kamu katakan." ujar Embun mengingatkan.
"Tenang saja, Kak. Aku akan menepati janjiku." ucapnya sambil mengulas senyum tulus berusaha membuat Embun percaya.
"Baiklah, kalau begitu aku sudah bisa tenang." jawab Embun.
__ADS_1
Mereka masuk ke dalam, terlihat Bara yang sedang bekerja di meja makan besar rumahnya. Dia tahu kehadiran Embun, tapi dia tidak melirik ke arah mereka sedikit pun.
"Aku sangat lapar sekali." ujar Embun, dia meletakkan tasnya di atas meja di samping Bara. Kemudian dia pergi mengambilkan makanan untuk dirinya sendiri.
Bara mencuri-curi pandang ke arah tas Embun. Seperti ada sesuatu yang dicarinya. Tangannya diam-diam berusaha meraih tas milik Embun, namun belum sempat tangannya mengambil tas itu, si pemilik tas itu sudah datang sambil membawa piring berisi makanan.
"Tuan, Anda sudah makan?" tanya Embun ramah.
"Hem." jawab Bara yang hanya berdehem saja.
"Kamu mau aku suapi?" tanya Embun tulus.
"Tidak. Makan saja untukmu sendiri." jawabnya cuek.
Saat Embun ingin menyuap sendok makanan ke dalam mulutnya, tiba-tiba dia merasa ingin buang air kecil. Dia kembali meletakkan sendok itu dan pergi ke kamar kecil untuk menuntaskan hajatnya.
"Ini kesempatan, aku sudah ingin sekali makan roti itu lagi." ucapnya sambil nyengir.
Bara mengambil kesempatan itu untuk cepat-cepat memeriksa tas milik Embun bertujuan untuk mencari roti yang tempo hari dimakannya. Dia yakin, kalau Embun pasti akan membawa kembali roti enak itu.
Dia merogoh tas milik istrinya itu, Tapi dia tidak menemukan roti yang dicarinya. Dia mengambil tas itu dan dengan fokus mencarinya, tapi dia malah melihat sebuah map berwarna cokelat di dalam tas milik Embun.
Entah kenapa rasa penasaran Bara menggebu-gebu, dia sempat ingin menaruh tas Embun ke tempat semulanya, tapi rasa penasarannya membuatnya mengambil map berwarna coklat itu dan membukanya.
"Apa ini?" ucapnya sambil membolak-balikkan map itu.
Bara membuka map itu secara perlahan, entah kenapa perasaannya menjadi dag dig dug, dan ketar-ketir. Setelah dia membukanya, benda yang paling pertama dia lihat adalah sebuah tespack bergaris dua. Jantungnya menjadi jedag-jedug dan tangannya mengeluarkan keringat dingin.
"Milik siapa ini?" tanyanya lagi.
Setelah itu dia membuka sebuah kertas yang berada di dalam map berwarna cokelat itu. Matanya terbelalak dan terbaca lah apa yang tertulis di selembar kertas itu.
"Milik Embun Jingga Prameswari? Hamil 6 Minggu?" itulah yang terucap dari mulut Bara.
Embun berhenti, saat setelah kembali dari kamar kecil. Dia berdiri di tempat karena tercengang melihat Bara yang sudah memegang benda yang harusnya ia rahasiakan dari pria itu.
Bagaimana ini? A,apa yang harus aku lakukan, batin Embun sambil berdiri terpaku di tempatnya.
__ADS_1