Istri Miskin Presdir

Istri Miskin Presdir
KEDATANGAN TIBA-TIBA


__ADS_3

Belle tak lagi memperhatikan mobil itu, dia kembali fokus menurunkan kopernya dari dalam mobil.


Pemilik mobil itu pun turun, membuat semua orang terkesima, tapi Belle masih tidak peduli hingga seorang laki-laki memegang tangan Belle yang sedang menarik koper dari bagasi. Membuat Belle langsung menoleh.


"Kak Daniel?"


"Kamu kenapa bisa ada di sini? Bukankah kamu sedang di bandara!" hanya pertanyaan itu yang lolos dari bibir mungilnya.


"Kenapa aku di sini? Tentu ingin melihat keadaan wanitaku," bisik Daniel tepat di telinga Belle. Membuat bulunya meremang.


Daniel kembali melihat ke sekelilingnya, banyak pasang mata yang tengah menyoroti mereka sekarang dengan tatapan yang bertanya-tanya.


"Ini, yang kamu bilang pergi dengan teman-temanmu dan tidak ada pria bersama kalian?" tanya Daniel yang masih menggunakan cara berbisik.


Mendapat pertanyaan yang berbentuk ancaman, Belle seketika mundur dua langkah mengikis jarak diantara mereka. Dia hendak menjawab, tapi bibirnya tak bisa terbuka, lidahnya kelu. Otaknya juga terus berputar seperti sedang mencari alasan yang cocok untuk menjawab pertanyaan pria mengerikan di depannya dan dijamin tidak membuat pria itu marah.


Melihat Belle yang bertingkah seperti orang ketakutan, semua teman-teman Belle mendekat. Mereka langsung menarik Belle ke tengah-tengah mereka agar Belle merasa aman.


"Belle, siapa laki-laki ini?" tanya teman-temannya yang menatap Daniel lekat.


"Apa kamu mengenalnya?" tanya temannya lagi.


Belle masih diam. Dia bingung harus menjawab apa. Karena Belle hanya diam, teman-temannya langsung memanggil petugas keamanan untuk mengusir Daniel. Tapi laki-laki itu malah memasang tampang senyumannya.


"Pak!" panggil seorang temannya.


Petugas keamanan villa itu langsung berlari ke arah mereka.


"Ya, Nona?"


"Tidak-tidak." suara Belle mengagetkan semua teman-temannya. Belle langsung berlari ke samping Daniel, membuat teman-temannya bertambah heran dengan sikap Belle.


"Belle, kamu mengenal pria ini?" tanya mereka lagi.


"Kamu masih belum mau mengenalkan aku pada teman-temanmu?" tanya Daniel yang masih menggunakan mode berbisik.


"Dia, dia adalah Kak Daniel, pa...." belum sempat Belle menuntaskan kalimatnya, Daniel sudah menyela. Tak mau mendengar pengakuan Belle.


Daniel melingkarkan tangannya di pinggang Belle, membuat semua teman-teman Belle mengikuti gerakan tangan Daniel dan membulatkan mata mereka.


"Dia calon istriku!" aku Daniel membuat teman-teman Belle benar-benar tercengang.


"Belle, apakah itu benar?" tanya temannya yang masih merasa sukar untuk sekedar percaya.


"Iya. Kak Daniel memang calon suamiku!" sahutnya lugas.


"Lalu, kenapa kau mengatakan tidak punya pacar?" tanya teman Belle dan diangguki oleh teman-temannya yang lain.


"Itu karena aku sibuk, dia tidak berani mengajakku untuk ikut serta. Jadi, dia berbohong pada kalian," jelas Daniel membuat Belle seketika merasa sangat lega.


Belle menghembuskan nafas lega, Daniel tersenyum jahil karena sebuah ide tiba-tiba meluncur bebas di kepalanya.


"Kamu harus memberikan kompensasi untuk menebus kebohonganmu dan ucapan terima kasih karena aku sudah membelamu. Kalau tidak, aku akan mengungkapkan kalau kamu berbohong," ancam Daniel.


"Kompensasi apa?" tanya Belle setengah berbisik.

__ADS_1


"Nanti kita pikirkan, bagaimana?"


"Baiklah-baiklah. Tapi, jangan yang aneh-aneh, ya!"


"Hum!" Daniel tersenyum sambil memikirkan kompensasi apa yang bisa membuatnya puas.


"Kenapa kamu tidak bilang saja, Belle? Pacar tampan seperti ini kok tidak diakui sih?" goda teman Belle, Belle hanya tersenyum tidak jelas pada teman-temannya.


"Sepertinya aku mengenalmu," ucap salah seorang pria, pacar dari salah satu teman Belle.


"Ya, sepertinya aku sering melihatnya juga,"


"Kau sering bersama Tuan Bara dan Tuan Rey, kan?"


Daniel hanya diam, tak menanggapi satu pun pertanyaan yang dianggapnya tak penting itu.


"Aku ingat sekarang, dia Daniel pemilik Rex Club, kan?" tebak teman Belle dengan wajah sumringah, seakan baru mendekatkan jackpot bulan madu keliling dunia.


"Wah, benar Belle? Pacarmu keren sekali. Tapi sayang, kamu tidak mengakuinya!" cibir mereka menggoda.


"Kalau kamu tidak mau, berikan untukku saja," canda teman-temannya.


"Sepertinya kak Daniel yang tidak mau denganmu!" sahut Belle sewot, karena miliknya sedang diperebutkan oleh teman-teman wanitanya.


"Ya sudah, ayo masuk!" ajak Daniel, dia menggenggam tangan Belle dan sebelah tangannya menyeret koper milik Belle.


"Ayo, Kak!"


"Calon suaminya tampan sekali," puji teman-temannya yang memang sudah terkesima oleh Daniel.


"Di mana kamarmu?" tanya Daniel.


"Sepertinya di sana," Belle menunjuk sebuah kamar. Sebelum datang ke villa itu, mereka sudah diberitahu nomor kamarnya masing-masing.


Belle dan Daniel masuk ke sana, Daniel langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang king size yang cukup empuk. Dia memejamkan matanya sejenak karena tubuhnya memang sangat kelelahan.


"Kak, kenapa masih di sini?" tanya Belle berdecak.


"Inikan kamar milikku, kenapa kau malah bertanya?" sahut Daniel tanpa membuka matanya yang masih setia terpejam.


"Kamu cari kamar lain saja. Aku mau sendiri di sini!" decak Belle.


"Tapi semua kamarnya sudah penuh. Dan penginapan lain juga tidak ada," jawabnya enteng.


Di karenakan itu area pribadi, sangat jarang terdapat villa atau penginapan lain. Sangat jauh dari villa yang mereka tempati, baru terdapat villa yang lain.


"Ckck, sudah tahu penginapan ini penuh. Jarang mendapatkan penginapan lain karena jauh. Lalu, kenapa kamu masih datang kemari sih? Bukannya kamu sudah berangkat ke bandara?" desis Belle kesal.


Mendengar Belle berdecak kesal seperti itu,. Daniel bangun dari tidurnya dan berjalan menghampiri Belle yang sedang membuka kopernya, ingin memindahkan barang-barangnya ke almari.


"Kau masih bertanya? Ini semua karenamu! Kalau kau tidak berbohong, bisa saja aku tidak mengizinkanmu untuk pergi ke sini, aku bisa memboyong mu juga pergi bersamaku!" celetuk Daniel.


"Kakak tahu dari mana kalau aku berbohong?" tanya Belle. Itu yang sangat membuatnya penasaran, dari mana Daniel tahu kalau dia pergi, dan juga ada beberapa laki-laki.


"Dari grup chat mu itu!" ungkapnya.

__ADS_1


"Lalu, kenapa lebih mementingkan aku daripada pekerjaan? Aku sudah besar, Kak. Sudah bisa menjaga diriku sendiri di sini!"


"Karena ada laki-laki! Aku tidak suka melihatmu dekat dengan laki-laki lain, Belle! Dan aku juga ingin mengingatkanmu, tidak mudah untuk membohongiku!" ucap Daniel dengan wajah yang tak berjarak.


"Mereka itu pacar teman-temanku, Kak!"


"Lalu, apakah mereka bukan laki-laki?" pertanyaan Daniel tidak bisa dijawab atau dibantah oleh Belle. Dia skakmat!


"Apa kamu tidak senang karena aku lebih mementingkanmu? Aku hanya ingin menjagamu dan menjaga perasaanku sendiri dari rasa kecemburuan," ungkap Daniel.


"Tapi Kak, aku keberatan kalau kita harus satu kamar," ucap Belle.


"Kenapa? Bukankah kita juga sudah pernah satu kamar bersama?"


"Ya ,tapi...."


"Kenapa?" tanya Daniel lagi penasaran karena Belle tak kunjung melengkapi kalimatnya.


"Tidak apa-apa," sahutnya. Belle merasa malu kalau ia harus mengatakan apa yang ia resahkan.


Karena Belle tak jadi bicara, Daniel kembali merebahkan tubuhnya dan beristirahat.


Di dalam kamar mandi, Belle merendam tubuhnya ke dalam bathub berisi air hangat. Dia memejamkan matanya meresapi saat rasa lelahnya mengalir keluar.


"Duh, bagaimana ini? Tidak mungkin aku memakai lingerie di depan Kak Daniel. Nanti, dia mengira aku sedang merayunya!" ucapnya kebingungan.


"Ahh aku tahu!" Belle memakai lingerie nya, setelah itu dia kembali melapisi tubuhnya dengan Bathrobe.


Belle keluar dan berjalan dengan sangat percaya diri di depan Daniel. Daniel yang melihat tingkah Belle mengerutkan keningnya heran.


"Kenapa kamu memakai Bathrobe?" tanya Daniel.


"Tidak apa-apa, aku hanya nyaman saja," jawab Belle tapi tak dipercayai oleh Daniel.


"Buka saja! Untuk apa menggunakan itu!"


"Tidak, Kak. Aku sangat nyaman memakai ini," alibi Belle.


Daniel mendekati Belle, tapi Belle lebih dulu menghindar dan berlari ke sisi ruangan.


"Sial! Harusnya aku beli piyama tadi," umpatnya.


Daniel mengejar Belle. Entah kenapa, rasanya dia ingin sekali membuka Bathrobe yang dikenakan Belle itu.


"Cepat buka!" titahnya lagi.


"Tidak!" Belle memeluk dirinya sendiri agar Daniel tidak dapat membuka Bathrobenya.


Tanpa basa-basi, Daniel langsung menarik Bathrobe yang dikenakan Belle sampai terlepas. Daniel langsung tercengang melihat Belle yang menggunakan lingerie berwarna hitam, yang warnanya sangat kontras dengan kulit putihnya.


Jangan lupa berikan dukungan agar Author tambah semangat ya guys...


Berikan rate 5 juga


Dukung karya baru author SAHABATKU SUAMI MUHALLILKU

__ADS_1


Terima kasih❤️❤️❤️


__ADS_2