Istri Miskin Presdir

Istri Miskin Presdir
TERCIDUK


__ADS_3

"Baik, aku akan menunggunya." Jawab Belle sambil tersenyum.


"Bagaimana, apakah dia mau datang?" Tanya Embun.


"Tentu saja, Kak. Tidak mungkin dia membiarkan Ayahnya dimakan oleh siluman rubah itu." Sahut Belle puas.


"Kalau begitu, aku antar pesanan ini dulu, Belle. Nanti kamu langsung menyusul ke dalam saja." Ucap Embun.


"Baik, Kak."


Embun mengantarkan pesanan kue yang berbentuk unicorn itu ke aula hotel, tempat di mana acara ulang tahun diselenggarakan.


Saat Embun masih berada di dalam, anak Tuan Andrew datang, wanita itu langsung memarkirkan mobilnya tepat di sebelah mobil milik Belle.


"Cepat juga datangnya. Audrey, aku tak sabar melihat kehancuranmu!" Sinis Belle.


Belle segera turun dari mobilnya, karena temannya itu pasti tidak mengenali mobil yang digunakannya sekarang. Karena, biasanya kalau dia ke kampus, dia menggunakan mobil yang sedikit kuno.


"Belle, di mana mereka?" Tanya Revi, anak Tuan Andrew.


"Aku tadi melihat mereka masuk ke dalam. Tapi tidak tahu di kamar yang mana. Bukankah ini hotel milik keluarga kalian, kenapa tidak langsung cari ke dalam saja?" Usul Belle.


"Tentu saja! Ayo ikut denganku." Revi langsung menarik tangan Belle untuk ikut bersamanya.


Sampai di depan resepsionis, para resepsionis yang sedang berjaga langsung panik saat melihat kedatangan Revi. Revi terlihat berapi-api.


"Berikan kunci kamar Ayahku sekarang!" Pintanya yang memerintah.


"Nona muda, Tuan tidak berada di sini." Jawab resepsionis itu sambil menunduk, menandakan kalau dia sedang gugup sekarang.


"Oh? Lalu, bagaimana dengan foto ini? Apakah kalian bisa menjelaskannya?" Revi menunjukkan foto Audrey dan Andrew yang tadi diambil Belle kepada dua resepsionis itu.


"Kami...."


"Berikan kuncinya sekarang atau kalian akan aku pecat sekarang?"


"Tapi, Nona?"


"Aku yakin, kalian pasti tahukan kalau hotel ini milik Ibuku. Laki-laki tua itu hanya mengandalkan namanya saja! Jadi, kalian pikir saja, lebih mengikuti siapa!" Pungkasnya.


"Maafkan kami, Nona. Kami hanya menjalankan perintah saja." Ucap sang resepsionis sambil menyerahkan kunci kamar VVIP.


"Karena kalian hanya menjalankan perintah, kali ini aku maafkan. Tapi lain kali, kalian bisa segera angkat kaki!" Tegasnya membuat kedua resepsionis itu langsung menunduk.


"VVIP? Cih, kau berusaha membuat wanita jalan* ini nyaman? Ayo Belle!" Lagi-lagi Revi menarik tangan Belle sesukanya karena emosi sudah menyelimutinya.

__ADS_1


Sampai di depan kamarnya, tidak terdengar apa pun karena kamar VVIP itu sudah dilengkapi dengan peredam suara.


Belle segera melepas cekalan tangan Revi yang sedari tadi menarik tangannya, karena Belle merasa dia perlu menghubungi Embun, memberitahukan di mana keberadaannya agar wanita itu tidak kelimpungan.


"Revi, kau masuk saja duluan. Aku harus menghubungi Kakak ipar ku dulu. Dia juga berada disekitar sini." Ujar Belle.


"Baiklah. Jika sudah selesai masuk lah ke dalam."


"Revi, di mana dia?" Tanya dua orang wanita yang baru saja datang.


"Di dalam, Kak. Ini aku baru mau masuk ke dalam." Sahutnya.


Ternyata tadi Revi juga menghubungi dua orang Kakaknya. Kalau dia sendiri yang masuk, pasti akan sangat berisiko. Jadi, dia menghubungi dua orang itu untuk membantunya menangkap orang yang sedang berzina.


"Kali ini, habislah kau Audrey! Tamatlah riwayat mu." Gumam Belle.


Belle kembali fokus untuk menghubungi Embun. '"Kak, aku sudah berada di kamar VVIP. Kamu segera datang ke sini. Kita lihat adegan menarik." Ucapnya antusias.


"Tentu saja aku harus menyaksikannya."


CEKLEK


Pintu kamar itu sudah terbuka, tapi tampaknya orang yang sedang memadu kasih di dalam belum menyadari kalau ada orang yang datang dan memergoki mereka.


"Ahh, Audrey! Aku tidak salah memilih. Caramu memuaskanku sangat bagus. Kau sangat hebat!" Ucap Andrew yang terasa melayang.


PLAKK


Andrew memukul bokong dan payuda** Audrey dengan telapak tangannya. Laki-laki itu memang terkenal dengan gaya bercintanya yang ngeri.


BUMM


Revi membuka pintu itu dengan kasar. Rasanya kesabarannya sudah habis tatkala mendengar percakapan menjijikan tadi. Dia membanting pintu kamar itu dan langsung menyerang Audrey secara brutal.


Revi menjambak rambut Audrey yang sedang berada di atas tubuh Andrew. Dia tidak peduli dengan tubuh bugil kedua manusia laknat itu. Yang ada dipikirannya sekarang, dia harus melampiaskan amarahnya.


Revi menarik rambut panjang Audrey dan menghempaskannya ke lantai.


"Aww, sakit! Siapa kalian?" Tanya Audrey dengan bodohnya.


"Aku adalah anak dari pria tua itu. Pria yang sedari tadi mengunkungmu di bawah tubuhnya!" Jawab Revi dengan raut menantang.


Mata Audrey terbelalak. Dia tidak habis pikir, kenapa anak dari Andrew bisa berada di sini juga. Dengan tergesa-gesa, Audrey berusaha meraih selimut untuk menutupi tubuh polosnya.


"Dasar wanita murahan! Untuk apa kau menutupi tubuhmu di depan para wanita. Sedangkan kau menjajakan tubuhmu untuk para pria hidung belang!" Sindir Kakak Revi dan menarik selimutnya.

__ADS_1


"Ayah, begini kah pembalasanmu terhadap Ibu? Yang sudah baik terhadapmu. Kau malah menuangkan kotoran ke wajahnya?" Teriak Revi pada Ayahnya. Karena bukan sekali ini dia melihat Ayahnya bersama wanita lain. Tapi baru kali ini dia menangkap perselingkuhan Ayahnya karena sudah merasa muak dengan sikap pria itu yang tidak tahu diri.


"Tidak, Revi. Ayah hanya tergoda dengan rayuannya saja. Ayah tidak berniat mengkhianati Ibumu, Nak!" Sangkal Andrew yang tak kalah panik.


"Andrew! Kenapa sekarang kau malah menyalahkan aku? Kau sendiri yang menghubungiku untuk menjadi partner ranjangmu." Balas Audrey menatap Andrew tajam.


"Mengaku kau wanita sialan! Kau yang sudah merayuku. Untuk apa aku menghubungimu. Aku masih sangat mencintai Istriku." Akhirnya mereka yang berdebat dihadapan Revi dan Kakak-kakaknya.


"Diam! Aku tidak ingin mendengar pembelaan kalian. Kau wanita murahan, tidak kah kau malu dengan leluhurmu? Kau masih muda, tapi kenapa kau malah mejual dirimu sendiri? Segitu murahnya kah harga dirimu?" Ejek Revi menatap rendah Audrey.


Audrey hanya terdiam. Dia tidak berani menjawab apa pun. Karena dia sadar, kalau dia menjawab, dia pasti akan dikeriyoki oleh anak-anak Andrew.


"Dan kau, kuharap kau bisa segera mengurus perceraian dengan Ibuku! Aku sudah tidak sanggup melihat Ibuku yang selalu membuang-buang air matanya untuk laki-laki tak berguna sepertimu." Kecamnya pada laki-laki itu.


"Berita panasmu akan segera membuatmu kembali terkenal. Kau tunggu saja, kau pasti akan banyak dipanggil oleh Varity Show." Mereka terus saja mengolok-olok Audrey yang menangis di bawah.


"Tapi, aku ragu. Mungkin saja bukan dipanggil Varity Show, tapi dipanggil polisi karena kasus perzinahan." Ejek mereka lagi.


"Keluar! Pergi kalian semua!" Audrey berteriak marah sambil menutup telinganya sendiri.


"Hahaha. Kenapa? Kau sudah mulai meratapi nasibmu?"


PLAKK


Revi menampar pipi Audrey hingga wanita itu terhantuk dengan pinggiran tembok, mengeluarkan darah segar di sudut matanya.


"Kau yang seharusnya diam. Siapa yang sedang kau marahi? Tunggu saja, kau pasti akan segera diundang ke rumah berpintu besi!" Ucap mereka sambil tertawa.


Audrey hanya diam, dia tak berani lagi mengeluarkan suaranya. Baru kali ini dia diperlukan serendah ini selama hidupnya. Dan dalam hatinya, dia terus saja mengutuk Embun karena menurutnya, wanita itulah yang menyebabkan dirinya menjadi seperti ini.


Setelah puas menertawakan dan menginjak-injak harga diri Audrey, Revi dan kedua Kakaknya pergi dari sana.


"Jika kau berani berbuat macam-macam, aku sendiri yang akan mengakhiri hidupmu!" Ancam Andrew kemudian juga berlalu pergi.


TAK TAK TAK


Bunyi sepatu seseorang yang sedang berjalan yang menghantam lantai. Audrey mendengar itu menuju ke arahnya. Tapi dia enggan untuk melihat, tanpa melihat pun dia sudah bisa menebak. Orang itu datang pasti juga untuk menertawakannya.


"Audrey, ternyata tingkah lakumu tak berubah sama sekali! Kau masih saja murahan seperti biasanya." Ucap orang itu.


Mendengar suara yang dikenalinya, Audrey menatap orang itu, matanya mulai menyipit. Tapi, dia masih tak bergeming dari posisinya. Dia melihat orang itu dengan tatapan datarnya.


Jangan lupa tinggalkan like, komentar, gift dan vote. Berikan hadiah sekuntum bunga dong biar author tambah semangat, hahaha. Maksa banget nih.


Berikan rate 5 dan tambahkan ke daftar favorit kamu ya. Karena sekecil apa pun bentuk dukungan dari kalian sangat berarti untuk author, loh!

__ADS_1


Terima kasih ❤️❤️❤️


__ADS_2