Istri Miskin Presdir

Istri Miskin Presdir
SEBUAH RENCANA


__ADS_3

"Kak, apakah kamu tidak ada niat untuk memaafkan kak Bara? Sepertinya dia sudah menyadari semua kesalahannya. Demi anak-anak ini, Kak. Kasihan mereka kalau harus hidup tanpa seorang Ayah." Meskipun Rena merasa kecewa dengan sikap Bara. Tapi, dia dapat melihat, kalau Embun sepertinya masih menaruh hati pada suaminya itu.


"Aku tahu, aku harus memikirkan mereka. Tapi, aku juga tidak bisa mengabaikan perasaanku sendiri, Rena. Jika berpisah darinya adalah sebuah jalan yang baik. Maka, aku akan menempuh jalan itu."


Rena hanya terpaku ditempatnya. Seharusnya dia tidak perlu sampai meminta Embun untuk memaafkan Bara. Karena tidak ada yang tahu pasti bagaimana sakitnya menjadi seorang istri yang tak dianggap.


Bukan hanya tidak diberi cinta, tapi juga tidak diberi nafkah.


" Ya sudah, kembalilah bekerja." Ujar Embun.


*********


Sudah sebulan ini, Bara memang tidak menampakkan dirinya. Dia mendengar arahan dari Daniel. Dia terus saja memantau kegiatan Embun. Kalau sedang sibuk di kantor, dia akan meminta Bram untuk mengawasi Embun.


Sampai hari ini, seperti biasanya, Bara sedang berada di dalam mobil dan memantau kegiatan Embun secara diam-diam. Pagi ini Embun terlihat sedang berjemur di depan tokonya.


"Perut itu sangat buncit dan menggemaskan. Aku ingin sekali menyentuhnya." Ucap Bara sambil tersenyum jahil.


"Tuan, kenapa Anda tidak ke sana dan mencoba menemui Nyonya saja? Mungkin saja Nyonya sudah bisa menerima kehadiran Anda." Usul Eson. Karena dia sungguh lelah kalau setiap hari harus mengintai Embun seperti ini, seperti maling yang hanya menunggu waktu untuk ditangkap.


"Lalu, kalau dia melarikan diri, dan semakin membenciku, apakah kau mau bertanggung jawab? Aku akan menumpahkan rasa kesalku dengan megirimimu ke Antartika!"


Eson hanya membungkam mulutnya. Dia melirik ke arah bosnya yang sedari tadi hanya tersenyum-senyum, seperti sedang memikirkan sesuatu.


Dia menelepon Belle, entah apa yang dibicarakannya, membuat Eson membelalakkan matanya tak percaya. Tapi, dia juga tersenyum dengan rencana jahil bosnya itu.


Sudah siang hari, Belle sudah sampai di toko. Dia langsung mencari Rena dan berbicara berdua. Mendiskusikan sesuatu, entah apa yang mereka bicarakan sambil berbisik itu.


"Rena, ayolah, semua ini juga untuk keponakan kita berdua. Kamu juga harus memikirkan keponakan kecil kita. Pasti mereka merindukan Ayahnya." Bujuk Belle, dia terus-menerus membujuk Rena, karena wajah wanita itu terlihat ragu.


"Tapi, dia tidak akan menyakiti Kak Embun, kan?" Tanya Rena lagi.


"Kau ini bicara apa? Aku dapat menjadi jaminan, dia tidak akan menyakiti Kak Embun sama sekali." Belle mengangkat dua jarinya ke atas sebagai buktinya.


"Hem, bagaimana ya?" Rena masih terlihat gusar dengan rencana Belle.


"Ayolah Rena. Kamu ingin melihat kak Embun bahagia bukan?" Belle menggoyang-goyangkan lengan Rena sambil terus membujuk.


"Baiklah. Kali ini saja, tapi jika ada sesuatu yang terjadi dengan Kak Embun, awas saja kau, Belle!" Ucapnya yang akhirnya menyetujuinya. Tapi, tetap saja dia mengancam di akhir kata-katanya.


GLEKK


Belle menelan saliva-nya dengan susah payah. Dia sedikit takut melihat raut wajah Rena yang penuh dengan ancaman.


Mengerikan sekali Rena kalau sedang mengancam seseorang. Tapi, yang penting rencanaku sudah setengah berhasil.


"Tapi, apa alasanku? Aku tidak bisa memikirkan sesuatu yang bisa dijadikan alasan yang kuat."


"Tenang saja, kalau masalah itu, serahkan saja padaku. Tentu saja aku sudah memikirkan semuanya dengan matang." Belle menjentikkan jarinya sambil mengedipkan sebelah matanya.


Rena menatap Belle sambil menaikkan sebelah alisnya. Dia melihat dengan tatapan bertanya dan menyuruh untuk segera memberitahukan alasannya.


"Dekatkan telingamu, aku akan membisikkan sesuatu." Ujarnya.

__ADS_1


Rena mendekatkan telinganya pada Belle, wanita itu mulai membisikkan rencana yang sudah disusunnya. Rena terlihat tersenyum sumringah diakhir.


"Hem! Kenapa kalian berbisik-bisik seperti itu?" Tanya Embun yang membuyarkan aksi bisik-berbisik mereka.


"Tidak apa-apa, Kak. Rena hanya sedang bertanya padaku saja." Jawab Belle santai agar tak membuat Embun curiga.


"Bertanya apa? Tumben dia bertanya padamu." Pungkas Embun.


Melihat Rena diam saja, Belle berulang kali menyenggol bahu Rena agar wanita itu segera menjawab, takut kalau Embun akan curiga kalau Rena hanya diam saja seperti itu.


"Hem ... itu, Kak. Aku ... aku bertanya tentang kado apa yang harus aku bawa untuk temanku yang sedang berulang tahun." Jawaban itu akhirnya lolos terucap dari mulut Rena. Meskipun awalnya dia sempat terbata-bata karena tak pandai berbohong.


"Temanmu yang mana yang ulang tahun? Laki-laki atau seorang wanita?" Tanya Embun seperti menyelidik.


"Ha? Itu, tentu saja seorang laki-laki, Kak." Jawab Rena cepat.


"Laki-laki?" Embun mengejek adiknya, karena baru kali ini dia mendengar Rena mau menghadiri ulang tahun seorang pria.


"Maksudku seorang wanita, Kak." Wajah Rena sudah memerah karena dia sudah berkeringat dingin karena takut ketahuan.


Embun mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti, dan berkata lagi, "Lalu, kamu mau membawa kado apa?"


"Nanti aku akan membantunya mencari yang bagus, Kak. Kakak tenang saja." Sahut Belle.


Ampuni aku Tuhan, aku sudah belajar berbohong. Semoga aku tidak terkena sial karena sudah berbohong. batin Rena meminta pengampunan.


Dasar Rena! Payah sekali dia. Untung saja aku masih berada di sini dan bisa membantunya berbicara


"Jadi, kamu jam berapa pulang?" Tanya Embun lagi.


"Jadi kamu tidur di mana, Rena?"


"Aku pulang ke ruang saja, Kak. Lagi pula, aku juga sudah merindukan Ayah dan Ibu." Jawaban jujur, dia memang merindukan orang tuanya.


Embun mengangguk. Sebenarnya dia juga sangat merindukan orang tuanya. Tapi, hatinya merasa ragu setiap kali dia ingin pulang.


"Kalau begitu, aku akan membawa Rena sekarang, Kak. Agar kami mempunyai banyak waktu untuk memilih kado." Ucap Belle.


Rena terkejut, dia mengira kalau rencananya akan dijalankan nanti malam. Ternyata harus sekarang juga? Meskipun terkejut, dia juga harus mengiyakan ajakan Belle, karena dia juga sudah mengiyakan dan ikut masuk ke dalam rencana ini. Jadi kalau dia mundur, mungkin saja rencana ini akan hancur.


"Kak, kamu tidak apa-apa kan harus tidur sendiri?"


"Aku tidak apa-apa, Rena. Cepat pergi sana. Jangan lupa bawa pulang adik ipar yang menggemaskan untukku, ya?"


"Kak, kalau ada apa-apa, segera hubungi aku. Aku pasti akan segera datang menyelamatkanmu."


"Hahaha. Tidak akan terjadi sesuatu denganku. Kamu pergilah bersenang-senang." Embun mendorong bahu Rena untuk keluar dari tempat itu.


"Kak, kami pergi!" Teriak Rena dan Belle bersamaan.


"Baiklah, hati-hati!" Pekik Embun sambil melambaikan tangannya.


"Belle, kita akan pergi ke mana?"

__ADS_1


"Duduk dan diamlah! Setelah sampai nanti kamu juga akan tahu dengan sendirinya."


Rena hanya diam, dan setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih dua puluh menit, mereka sampai di mall terbesar di kota itu, yang memang kebetulan dekat dengan toko Embun yang berada di pusat kota.


"Belle, untuk apa kita datang ke sini?"


"Kita akan menemui beberapa orang." Jawab Belle santai.


"Kak Bara!" Belle memanggil Bara yang sudah berdiri bersama Rey dan Daniel.


Melihat Belle memanggilnya, dia berjalan menuju Belle yang juga bersama Rena.


"Belle, kenapa kita bertemu dengan mereka di sini?" Bisik Rena yang heran melihat ketiga pria tampan itu.


"Siapa dia, Belle?" Tanya Rey.


"Dia Rena. Adik kak Embun. Adik ipar kak Bara." Jawab Belle. Rena hanya tersenyum sungkan padanya.


"Wah, aku tidak jadi merebut Embun darimu, Bara. Aku mau menjadi adik ipar Embun saja!" Celetuk Rey, membuat semua orang di sana tertawa. Tapi Rena malah merasa risih mendengarnya.


"Ayo kita mulai sekarang." Ajak Bara.


"Bara, kau yakin akan melakukan ini?" Tanya Daniel.


"Ya, kenapa aku yang merasa ragu, ya?"


"Sudahlah, hanya ini yang dapat kulakukan agar bisa menemui mereka." Ucap Bara yakin.


"Kita mau ke mana?"


"Memilih beberapa hadiah. Dan ini, memerlukan bantuanmu." Ucap Belle.


**********


Hari sudah mulai senja, dan sekarang waktunya toko tutup. Setelah karyawan pulang, Embun langsung menutup semua pintu tokonya. Kembali mengecek semua pintu yang terkunci untuk kembali memastikan kalau semuanya sudah aman.


Setelah memastikan semuanya aman, dia menuju ke meja kasir untuk kembali menghitung pendapatan hari ini. Dan memasukkannya ke dalam jumlah bulanan, menyisihkan sedikit untuk ditabung dan juga untuk kembali memutar modal, karena besok pasok bahan-bahan untuk kuenya akan datang.


Embun memang memesan bahan baku untuk pembuatan kuenya, karena itu akan lebih mempermudah pekerjaannya. Dari pada dia yang harus turun tangan untuk membelinya, atau meminta pegawainya. Dia merasa lebih baik memesannya saja.


"Ah, lelah sekali!" Serunya sambil merilekskan tubuhnya.


Dia naik ke lantai atas, tempat kamarnya berada. Dia sudah membuat agenda dalam pikirannya. Mungkin bisa memulai dengan mandi terlebih dahulu, kemudian masak, dan langsung tidur.


Biasanya ada Rena yang akan memasak untuknya, karena dia sudah tak kuat lagi kalau harus berdiri lama-lama. Tapi, hari ini Rena tidak ada. Jadi, mau tak mau, dia sendiri yang harus memasak makan malamnya.


Embun mulai membuka pintu kamarnya. Tapi, dipikirannya seperti ada yang berbeda.


"Kenapa seperti bau parfum laki-laki yang sangat familiar? Tapi tidak mungkin, mungkin hanya halusinasiku saja, karena sudah seharian berkutat dengan banyak orang. Mungkin juga, bawaan dari baby twins ini, karena mereka merindukan Ayahnya." Ucapnya pelan yang masih berdiri diambang pintu.


Cteekk!


Embun menghidupkan saklar lampu kamarnya, menerangi seluruh ruangan itu. Tapi, begitu terkejutnya dia karena melihat seorang sosok laki-laki yang sudah duduk di ranjangnya dengan anggunnya. Laki-laki itu tersenyum manis padanya seperti tidak merasa bersalah sama sekali karena sudah membuat Ibu hamil itu merasa terkejut.

__ADS_1


"Bara, kenapa kamu bisa berada di sini?" Embun tergugu, bibirnya terasa kelu saat kembali melihat sosok laki-laki itu di depan matanya, bahkan sedekat ini.


Jangan lupa tinggalkan like, komentar, gift dan vote agar author tambah semangat updatenya!! Berikan rate 5 dan tambahkan ke daftar favorit kamu ya. Terima kasih ❤️❤️❤️


__ADS_2