Istri Miskin Presdir

Istri Miskin Presdir
MEREMEHKAN


__ADS_3

Embun pulang ke rumah dengan wajah yang di tekuk. Dia melewati ibunya yang sudah duduk sambil menghitung uang hasil dari Embun berjualan kue dan Rena bekerja


"Sedikit sekali. Kalau begini terus, bagaimana aku bisa membeli barang-barang mewah." ucapnya lalu mendengus kesal


Tidak lama, ayah nya juga pulang dalam keadaan kacau. Dan merampas uang yang di pegang oleh istrinya sambil marah-marah


"Apa yang kau lakukan? Kembalikan uangnya padaku!" bentak Mika


"Ini uang hasil anakku bekerja. Atas dasar apa aku harus memberikannya padamu?" balas ayahnya


"Disitu juga ada hasil anakku bekerja. Dasar laki-laki tidak berguna." cibir Mika lagi


"Kau wanita tidak berguna. Hanya tahu membeli barang-barang yang tidak penting saja, rumah ini sudah seperti tempat penampungan barang bekas saja." ucap Anton sarkastik


"Ibu, ayah, aku ingin berbicara sesuatu." ucap Embun yang tiba-tiba ikut bicara


"Ada apa? Katakan saja, drama sekali." sahut Mika


"Aku akan menikah!" Embun langsung berterus terang


"Dengan siapa? Boleh saja, tapi aku mempunyai syarat yang harus di penuhi oleh calon suami mu itu." sambung Anton, ayahnya Embun


"Syarat? Syarat apa yang ayah ingin ajukan?" tanya Embun


"Syarat nya tentu saja, dia harus bisa memberikan uang mahar sebanyak lima ratus juta!" jawab ayahnya sambil menyeringai


"Lima... Lima ratus juta? Ayah tidak salah?" tanya Embun terbelalak


"Tidak! Tentu saja aku sudah memikirkan nya dengan baik. Jadi, sanggup atau tidak, itu semua tergantung dengan kemampuan calon suami mu. Dan ingat, aku tidak menerima permintaan pengurangan mahar." Anton mengucapkan itu tanpa mempedulikan perasaan gadis muda di depannya dan berjalan masuk sambil tertawa


Ibunya melihat Embun sekilas dan menyeringai, dia juga pergi meninggalkan Embun yang sudah mematung akibat ayahnya sendiri


Kenapa ayah begitu kejam, bukannya dia meminta aku untuk memperkenalkan calon suamiku. Dia malah meminta mahar yang tinggi seperti itu. Bagaimana caranya aku mengatakannya pada tuan Bara, batin Embun


Embun sudah meremas jari jemarinya yang sudah berkeringat dan air matanya juga sudah menetes tanpa seizinnya


"Kak..."


"Hem, kamu baru pulang?" tanya Embun yang berusaha terlihat baik-baik saja


"Apa benar, kakak akan menikah?" tanya Rena


"Hem, kamu sudah mendengarnya?" tanya Embun tersenyum palsu


"Sudah. Kakak tidak perlu menunjukkan senyum palsu itu padaku, tidak perlu berpura-pura kuat lagi kak." Rena langsung memeluk kakaknya seakan memberinya kekuatan


"Apa yang kamu katakan, kakak baik-baik saja Rena. Kakak akan segera menikah, tentu saja pasti harus tersenyum kan?" bohong Embun


"Kenapa kakak tiba-tiba akan menikah? Apakah ada hubungannya dengan malam saat kakak mencari ku di Rex Club?" tanya Rena sambil menatap wajah kakaknya seakan mencari jawaban


Tapi, bukan Embun namanya jika ia tidak bisa menyembunyikan sesuatu dengan baik dan tidak menimbulkan celah sedikitpun


"Kamu dari tadi ingin mengatakan apa sih? Semuanya tidak ada hubungannya denganmu, bukankah pasangan yang saling mencintai itu harus segera menikah?" ucapnya berusaha meyakinkan


"Kakak jangan berbohong padaku. Ayolah, berkata jujur sekali saja." pinta Rena


"Kamu tidak mempercayai kakakmu ini?" tanya Embun bercanda


"Baiklah, aku akan percaya. Aku mandi dulu, kak!"


Embun mencoba menghubungi asisten Bara. Dia mendapatkan nomor ponsel asistennya karena kemarin di berikan oleh waiters yang bekerja di cafe dimana dia dan Bara bertemu

__ADS_1


Flashback on


Saat Embun sudah akan melangkahkan kakinya akan keluar dari pintu mewah cafe itu, ada seorang wanita yang memanggilnya dengan tergesa-gesa


"Nona, tunggu nona!" panggil waiters itu sambil berlari kecil


"Ada apa?" tanya Embun berusaha memasang wajahnya dengan senyuman


"Ini ada titipan dari asisten tuan Bara. Jika memerlukan sesuatu, anda bisa menghubungi nomor ponsel yang tertera di kartu nama itu."


"Ah, terima kasih. Maaf sudah merepotkan mu."


"Sudah tugasku. Jangan sungkan." jawab waiters itu dan berbalik pergi


Flashback off


"Halo, ini aku Embun."


"Ya, nona? Adakah yang bisa kami bantu?" tanya asistennya


"Bisakah aku berbicara dengan tuan Bara?"


"Maaf nona, tuan Bara sekarang sedang ada rapat." jujur asistennya


"Oh, aku hanya ingin mengatakan, aku ingin bertemu dengannya besok pagi di taman Jardin Des Tuileries."


"Besok aku akan menghubungi anda kembali."


"Baiklah, terima kasih." Embun langsung mematikan sambungan telepon nya


Hah! Aku terlalu lancang, bagaimana mungkin aku bisa berbicara dengannya


*********


"Selalu saja aku yang menunggunya. Memang, orang sibuk itu berbeda." Embun sudah duduk dan memarkirkan sepedanya di tempat yang masih bisa di jangkau olehnya


"Ada apa? Apakah kau tidak bisa membuat janji denganku di tempat yang lebih baik sedikit?" sarkas Bara


"Hem, maaf tuan. Aku tidak punya cukup uang untuk mentraktir anda di tempat mewah." jujur Embun


"Cepatlah, katakan! Ada hal penting apa? Waktuku sangat berharga. Tidak bisa jika di bandingkan denganmu." ketus Bara


"Bisakah anda berbicara dengan sedikit lebih baik?" tanya Embun hati-hati


"Memangnya siapa kau? Berani mengatai aku? Bahkan, pendidikan mu masih jauh di bawahku!" ucap Bara dengan penuh penekanan


"Maaf. Aku hanya..."


"Hanya apa? Kau mengajakku bertemu disini hanya untuk mengatakan maaf? Ingatlah air pagi, aku sangat sibuk!"


"Air pagi? Apa maksud anda tuan?"


"Bukankah itu adalah namamu? Kenapa kamu tidak mengenali namamu sendiri?" ejeknya


"Namaku Embun, bukan air pagi!"


"Aku tidak ada waktu untuk berdebat denganmu. Kau cukup senggang, tapi tidak denganku." Bara sudah berdiri dan ingin pergi


"Tunggu! Aku sudah mengatakannya pada orang tuaku."


"Lalu?" tanya Bara

__ADS_1


"Orang tuaku setuju, tetapi mereka meminta mahar sebesar lima ratus juta." jujur Embun dan menggigit bibir bawahnya karena takut


" Lima ratus juta? Kau terlalu meninggikan dirimu!" ejek Bara


"Bukan aku yang minta. Tapi orang tuaku, tuan."


"Sepertinya orang tuamu sangat tergila-gila dengan uang, ya? Bagaimana, jika aku memberi lebih dari apa yang mereka inginkan. Tapi, sebagai gantinya, putri mereka tidak akan pernah diizinkan untuk bertemu dengan mereka lagi!" sinis Bara


"Jangan seperti itu, tuan! Aku mohon." Embun sudah hampir menangis


"Jadi, kau ingin aku seperti apa? Aku bisa memberikan apa yang mereka mau. Aku tidak kekurangan uang seperti mu dan keluargamu. Tapi, apa yang aku dapat setelah itu."


"Aku akan menikah denganmu." ucap Embun


"Kau? Kau berniat menggantikan dirimu dengan uang itu? Harga dirimu masih belum sampai setinggi itu." ucap Bara sambil mengelus rambut Embun


Embun sudah ketakutan, dia meremas jari jemarinya yang sudah mengeluarkan keringat dingin sedari tadi, Tapi, dia tidak berani melawan


"Baiklah, aku akan mengantarkan uangnya malam ini. Dan kau, malam ini juga harus pindah kerumah ku!" tegasnya


"Baik, tuan."


Bara langsung pergi dari sana dengan elegannya. Banyak pasang mata yang menyoroti wajah Bara yang sangat tampan itu. Tapi, yang di perhatikan hanya berjalan dengan sombong nya tanpa mau memandang siapapun


"Kenapa dia sangat tidak menghargai aku, memangnya aku pernah menyinggungnya dimana sampai dia bisa berbuat semena-mena seperti itu padaku." Embun menyapu air matanya yang mulai menetes dengan deras


Embun kembali mengayuh sepedanya untuk kembali memperdagangkan kue-kue miliknya. Dia sangat tekun dalam mencari uang. Apapun akan dilakukannya asalkan uang yang akan didapatkan dengan cara yang benar


"Kak..."


"Rena, kenapa kamu disini?"


"Aku kebetulan lewat kak, aku ingin makan siang. Mau pergi bersama?" tanya Rena


"Baiklah, juga ada yang ingin kakak bicarakan."


"Ya, nanti saja. Ayo, kita pergi makan disana saja." Rena membantu Embun mendorong sepedanya


Setelah mereka sampai, mereka hanya memesan dua porsi makanan dan dua gelas minuman


"Apa yang ingin kakak katakan?" tanya Rena sambil menyeruput minumannya


"Nanti malam kakak akan pindah, bisakah kamu menjaga dirimu sendiri?" tanya Embun


"Pindah kemana? Kakak tidak ingin membawaku?" tanya Rena


"Kakak akan pindah ke rumah calon suami kakak. Dan, besok kami akan menikah." jawab Embun lembut


" Benarkah kak? Aku sangat bahagia mendengarnya. Tapi, apakah saat pernikahan nanti, aku tidak diizinkan untuk datang?"


Ah, aku lupa menanyakannya pada tuan Bara. Aku tidak bisa sembarangan membawa anggota keluargaku. Dia pasti tidak menyukainya


"Nanti, kakak akan menghubungimu lagi, ya!" ucap Embun


"Kakak harus jaga kesehatan ya. Dan, harus menjaga diri dengan baik." ucap Rena


Embun mengiyakan perkataan adiknya. Dia sendiri masih belum tahu, apa yang akan menanti di depannya. Dia masih meraba-raba dengan jalan kehidupannya setelah ini


Terima kasih untuk kalian yang sudah mau membaca karya baruku, semoga suka


Jangan lupa untuk tinggalkan like, vote, dan berikan komentar anda ya

__ADS_1


Tambahkan juga ke daftar favorit kamu, ya!


❤️❤️❤️


__ADS_2