
"Tidak, Bara. Jangan salahkan dia, dia hanya tidak sengaja saja. Mungkin dia terlalu marah karena aku berpacaran dengan suaminya. Tapi, tetap saja akulah yang terlalu ceroboh karena mengajaknya untuk bertemu dan berbicara baik-baik." ucap Audrey yang memelas seperti orang ketakutan dan membujuk Bara agar tidak marah pada Embun
Embun sedari tadi memperhatikan wajah Audrey yang tampak banyak sekali luka dan lebam-lebam. Dia heran, dari mana wanita itu mendapatkan luka sebanyak itu dalam satu malam.
Aku hanya menamparnya sekali, dan yang terluka juga hanya di ujung bibirnya saja. Lalu, sekarang kenapa seluruh wajahnya menjadi lebam seperti ini, batin Embun yang merasa kebingungan.
"Jingga! Apakah benar, kamu yang membuat wajah Audrey menjadi seperti ini?" tanya Bara yang melayangkan tatapan tajam pada istrinya yang juga sedang melirik mereka sambil menikmati makanannya.
"Atas dasar apa aku membuatnya menjadi seperti itu?" jawab Embun. Sebenarnya ada ketakutan juga dalam hatinya kalau sampai suaminya percaya dengan wanita lain dari pada dirinya, seperti yang sudah-sudah.
"Karena kamu cemburu denganku. Kamu memintaku untuk menjauhi Bara. Dia sampai memberikanku uang agar aku mau menjauhimu, Bara. Tapi, aku sama sekali tidak tertarik. Karena yang aku inginkan hanya kamu saja." ucap Audrey sambil terisak pilu.
"Aku memintamu untuk menjauhinya, bukankah karena ada alasan yang kuat? Dia adalah suamiku. Dan kau, adalah orang ketiga!" cetus Embun tanpa perasaan. Entah kenapa, dalam ketakutannya, ada terselimuti keberanian untuk membela diri.
"Lihat kan, Bara. Di depanmu saja, dia berani mengataiku. Aku sungguh sakit hati, Bara. Apa yang salah denganku. Apakah cintaku ini salah?" Audrey tak henti-hentinya mencari pembelaan dari Bara.
"Sudah, Audrey. Jangan menangis lagi. Maafkan lah dia, ya?" Bara memeluk wanita itu untuk menenangkannya.
Memaafkannya? Apa maksudnya. Aku tidak akan seberusaha ini kalau hanya untuk memberinya maaf. Dasar laki-laki bodoh, batin Audrey yang mengumpat Bara.
"Aku memang sudah memaafkannya, Bara. Tapi, apakah dia tidak punya niatan untuk meminta maaf padaku?" ucap Audrey. Dia tentu saja ingin membuat Embun kehilangan harga dirinya di depan semua orang.
"Dasar wanita tidak tahu malu! Kau yang datang dan mau memukul kak Embun, masih saja mengatakan kalau kau yang dipukul?" seru Belle, dia sedari tadi hanya mendengar saja. Ternyata, telinganya sudah tidak sanggup lagi mendengar ucapan ular Audrey yang semakin lama menjadi semakin keterlaluan.
"Tidak. Itu tidak benar, Bara. Lihatlah sekarang, bahkan adikmu juga sudah terpengaruh dan membenciku." Audrey kembali menangis dalam pelukan Bara.
"Memangnya, kapan aku menyukaimu? Aku tidak pernah menyukaimu, dan sekarang aku bertambah semakin membencimu!" ujar Belle sinis sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Tidak. Aku tahu kau dulu selalu menyukaiku. Belle, jangan berubah. Dukunglah aku untuk menjadi Kakak iparmu. Bukankah sedari dulu kamu juga selalu bertanya kapan kami akan menikah?" pinta Audrey dengan tak tahu malunya.
"Permintaan tidak tahu malu macam apa itu. Bahkan kau mengatakannya di depan istrinya?" Belle sudah mengepalkan tangannya ingin meninju wajah Audrey.
"Bara, apakah aku salah? Kenapa kau hanya diam saja? Apakah kamu tidak mencintaiku lagi?"
"Bukan begitu, Audrey. Aku hanya merasa kalau Jingga tidak mungkin melakukan itu semua." seru Bara yang memang hatinya sudah merasa ragu dengan apa yang diucapkan oleh Audrey.
"Kau sekarang meragukan aku? Bara, aku tidak berbohong padamu. Kamu tidak lihat, wajahku sudah penuh lebam seperti ini?" tentu saja Audrey akan berusaha semaksimal mungkin agar Bara bisa mempercayainya.
Sialan! Dasar anak kecil sialan! Dan sekarang apa, Bara bahkan sudah meragukanku? Ini semua karena hadirnya wanita sialan ini. Aku harus berusaha menyingkirkan dia dan kembali mendapatkan Bara, umpatnya.
__ADS_1
"Seingatku, kak Embun hanya memberikan sedikit sentuhan halus di wajahmu. Tapi sekarang kenapa wajahmu sudah menjadi seperti ini? Kau memang aktris yang buruk, Audrey!" ejek Belle. Belle berjalan mendekati Audrey yang berdiri di samping Bara.
"Huek!" tiba-tiba saja Embun merasakan mual. Dan dia berangsur lari ke kamar mandi.
"Huek!" Bara mengejar istrinya itu dan mengelus punggung wanita itu.
Ternyata Embun tidak muntah, dia hanya merasa mual saja. Mungkin memang wanita hamil muda akan seperti itu.
Kenapa dia? batin Audrey.
Belle tidak sengaja melihat ke arah Audrey yang memperhatikan Embun dan Bara. Wajahnya masam dan bertanya-tanya kebingungan. Belle mengerti arti tatapan Audrey.
"Kau pasti bertanya-tanya, kan. Ada apa dengan Kak Embun?" ucap Belle tiba-tiba yang membuat Audrey mengalihkan perhatiannya pada Belle.
"Tentu saja karena dia sedang hamil! Dia sedang mengandung anak kak Bara. Pewaris nomor satu dari keluarga Wirastama!" Belle mengatakan itu dengan penuh penekanan.
Audrey benar-benar terkesiap. Dia membelalakkan matanya karena terkejut, wajahnya langsung berubah menjadi masam dan merah padam karena menahan rasa marah.
"Tidak mungkin!" ucap Audrey.
"Kenapa tidak mungkin? Dia mengandung anak Kak Bara adalah sebuah kewajaran. Tapi jika kau mengatakan kalau kau yang mengandung anak kak Bara, itu barulah bukan hal yang wajar dan patut untuk dicurigai." sinis Belle sambil terkekeh pelan.
"Bukankah yang ku katakan itu sudah cukup jelas, Nona Audrey? Apakah kau dulu bersekolah di kebun binatang, jadi tidak mengerti bahasa manusia?" ejek Belle, membuat amarah Audrey semakin memuncak.
Audrey mendekati Belle yang masih berdiri di tempatnya, kemudian dia membisikkan sesuatu ditelinga Belle. "Aku kan sudah memperingatkanmu untuk tidak bermain-main denganku, anak kecil! Seharusnya, kau membantuku menyingkirkan wanita miskin itu, jadi nanti setelah aku menjadi Nyonya Bara Wirastama, kau bisa hidup dengan damai. Tapi, kenapa sekarang kau masih berani melawanku?"
"Tapi, itu semua belum tentu, wanita tua. Kau belum tentu bisa menjadi Nyonya di sini. Dan, jangan mengancam ku di rumahku sendiri." Belle membalas bisikan Audrey padanya.
Audrey baru saja ingin kembali mengatakan sesuatu untuk memperingatkan Belle. Tapi, Bara dan Embun sudah kembali dari kamar kecil.
Audrey segera berlari ke pelukan Bara dan menangis. "Bara, adikmu mengancamku agar aku tidak memperpanjang tentang masalah ini. Kenapa aku seperti ini."
Belle terbelalak dan menggelengkan kepalanya pelan.
"Tidak, Kak. Aku tidak mengatakan apa pun." bantah Belle.
"Aku takut, Bara. Aku memang tidak akan memperpanjang masalah ini karena mengingat istrimu sedang hamil. Jadi aku memakluminya." ucap Audrey sambil mengepalkan tangannya erat.
"Kau memintaku untuk minta maaf padamu?" tanya Embun sambil menunjuk dirinya sendiri.
__ADS_1
Audrey menganggukkan kepalanya pelan sambil menghapus air matanya. Embun menghela nafasnya dalam karena merasa marah dengan apa yang dilakukan Audrey.
"Baiklah jika kau memang menginginkannya." ucap Embun sendu.
Embun berjalan menuju ke arah Audrey yang sudah melipat tangannya di depan dada. Dia tersenyum penuh kemenangan. Sedangkan Belle, dia menggeleng cepat menghalangi Embun.
"Kak, apa yang kamu lakukan? Untuk apa minta maaf padanya, Kak? Kamu tidak berbuat apa pun." pekik Belle
Tapi Embun tidak mendengarkan ucapan Belle, dua terus saja berjalan ke arah Audrey yang sudah memandangnya merendahkan karena Embun hendak minta maaf padanya.
Lihatkan, aku lah yang akan selalu menjadi pemenang. Kau hanya wanita miskin, jadi tidak perlu berharap untuk mendapatkan hati Bara, walaupun dia suamimu, batin Audrey yang melihat Embun dengan tatapan merendahkan.
PLAKK
Embun langsung menampar Audrey dengan kuat hingga benar-benar meninggalkan lebam di pipinya. Audrey sampai terhuyung ke belakang karena dia tidak melakukan persiapan apa pun sebelumnya.
"Kak Embun?" teriak Belle merasa terkejut lagi. "Kau sangat keren, Kak." ucapnya kemudian.
"Kenapa kau menamparku?" tanya Audrey keras.
"Karena kau menuduhku atas apa yang tidak pernah aku lakukan. Jadi, sekalian saja aku melakukannya. Kan sama saja, aku melakukannya atau tidak!" jawab Embun santai
PLAKK
Embun kembali menampar Audrey, Audrey sampai melotot tak percaya dengan apa yang sedang dia alami sekarang.
"Dan ini untuk karena kau sudah mencoba merebut suamiku! Sadar dirilah, meskipun aku yang terlebih dahulu mengenalnya, tapi dia sudah menikah denganku. Dan kau, tetap saja menjadi orang ketiga yang terhina!" ucapnya.
"Jingga! Kenapa kamu seperti ini?" Bara menarik lengan Embun hingga Embun mundur beberapa langkah.
"Kau masih membelanya? Karena kau masih mencintainya?" tanya Embun yang sudah berkaca-kaca. Berbeda sekali dengan saat dia menampar Audrey tadi. Embun langsung berjalan cepat naik ke lantai atas untuk masuk ke kamarnya.
"Audrey kau pulanglah, nanti aku akan menghubungimu lagi." ucapnya kemudian mengejar istrinya.
Belle tertawa kencang, dia menghampiri Audrey yang masih termenung di tempatnya dan menepuk pundak wanita itu.
"Kau sudah lihatkan, Kakakku lebih memilih mengejar istrinya dari pada mengelus pipimu. Dan sepertinya aku harus memberitahumu sesuatu, mood ibu hamil itu sering berubah-ubah, sekarang dia hanya menamparmu. Tapi, aku tidak bisa menjamin kalau lain kali, mungkin saja dia akan membunuhmu!" ejek Belle
Jangan lupa tinggalkan jejak like, komentar, gift dan vote. Masukkan ke dalam daftar favorit kamu dan berikan rate 5 ya
__ADS_1
Terima kasih ❤️❤️❤️