
Tiba-tiba Daniel memeluk Belle dari belakang, dia berbisik di telinga yang sudah merona itu.
"Kamu senang?" tanyanya.
"Iya, Kak,"
"Belle, maukah kamu menikah denganku?"
"Kamu masih belum menyerah, Kak?" tanya Belle dengan wajah datar.
"Kamu tahu. Aku tidak akan pernah menyerah sampai kapanpun, kalau itu menyangkut tentangmu," jawabnya sesuai isi hatinya.
Belle membalikan tubuhnya, sekarang posisi mereka berhadapan. Netra cokelat mereka saling bertatapan dan menatap satu sama lain.
"Bagaimana kalau aku menolak?" tantang Belle. Wajahnya, tak memperlihatkan ekspresi apa-apa.
"Kalau kamu menolak, aku hanya bisa coba lagi. Memperjuangkan sampai kamu bisa benar-benar mencintaimu," jawabnya membuat Belle terkekeh dalam hati.
"Begitu?" ejek Belle.
"Ya. Aku akan kembali berusaha sekuat tenaga. Tidak akan ada kata menyerah jika memperjuangkan tentangmu." jawabnya lagi.
"Kalau begitu, cobalah berjuang untuk melamarku pada Kak Bara."
"Mak-maksudmu?" sebenarnya Daniel sudah paham. Tapi, entah kenapa kali ini otaknya tak mencerna sampai ke sana. Jadi, dia masih antara bingung dan mengerti.
"Kalau kamu masih pura-pura tidak mengerti, maka lupakan saja." Belle ingin melepaskan pelukan Daniel. Namun, Daniel tetap menahannya.
"Sepulang dari sini, aku akan memintamu pada Bara," ucap Daniel mantap.
"Kakak berani?" tentu saja itu hanya sebuah guyonan. Belle tahu, Daniel pasti berani melakukan semua hal.
"Kau menantangku, Belle?" Daniel tersenyum miring.
Belle menggeleng, "Tidak. Aku hanya bertanya saja," sangkalnya.
"Apa sudah selesai liburanmu?"
"Sudah, kenapa?"
"Kita pulang hari ini. Besok, aku akan langsung datang ke rumahmu untuk bicara dengan Bara," jelasnya membuat Belle membulatkan matanya.
"Kamu becanda, Kak," tuduh Belle sambil tertawa ringan.
"Kenapa? Kamu masih meragukan aku, dan masih berharap pada laki-laki itu? Atau, memang tidak mencintaiku?"
"Tidak," jawab Belle cepat. "Kalau begitu, aku menyerahkan semuanya padamu." Belle memeluk Daniel dan menyandarkan kepalanya di dada bidang pria itu.
"Kak, ayo kita berfoto," ajak Belle.
"Baru ingat untuk mengajakku?" canda Daniel.
Mereka pun mengambil beberapa foto. Berdua, selca, dan memfoto tangan mereka yang saling bertautan.
"Ayo kita kembali ke hotel. Agar tidak terlambat kembali ke Paris," tutur Daniel. Belle tak menanggapi apa-apa karena dia masih sibuk dengan ponselnya sendiri.
"Kamu ngapain, Belle? Kenapa tidak memperhatikan aku bicara?" wajah Daniel terlihat pias, dia sedang menahan kesal.
"Tidak ada. Ayo jalan sekarang!" Belle menggandeng lengan Daniel dan mereka pergi dari sana.
Aku sudah memposting genggaman tanganku dan Kak Daniel di Instagram. Aku ingin lihat, apa tanggapan laki-laki itu. Tunggu saja kau, Kevin!
__ADS_1
Sampai di hotel, mereka hanya mengambil koper dan langsung ke bandara. Karena sebelum mereka sampai di hotel, Daniel sudah memerintahkan bawahannya untuk mengemasi barang-barang miliknya dan Belle.
Sekarang, mereka sedang berada di pesawat. Mereka menghabiskan waktu selama empat jam itu hanya dengan tidur saja. Tapi, tangan mereka saling menggenggam.
"Kak, kita berpisah di sini?" tanya Belle yang seperti tidak rela kalau harus berjauhan.
"Ya. Kamu harus pulang dulu, anggap saja memberikan kabar pada Embun dan Bara kalau kamu sudah pulang," bujuk Daniel sambil mengelus pucuk kepala Belle. Karena dia tahu, wanita itu tidak mau berpisah dengannya.
"Tapi, Kak...."
"Sepertinya, rasa cintamu sudah kembali secepat itu ya? Sekarang aku benar-benar yakin, kalau bocah ingusan itu hanya korban pelarianmu saja. Yang benar-benar kamu cintai, tetaplah aku," akunya dengan bangga.
"Aku pulang, Kak. Kamu kapan datang ke rumah?" tanya Belle untuk mengalihkan pembicaraan. Dia sangat gugup kalau Daniel sudah mengungkit tentang perasaannya.
"Hahaha. Iya. Nanti aku akan menyusul secepatnya setelah berganti pakaian dan menyiapkan diri," jawab Daniel.
Mereka pun berpisah di bandara. Daniel pulang ke rumahnya, dan Belle juga pulang ke rumahnya di antar oleh bawahan Daniel. Keluarga Belle tidak ada yang tahu dengan kabar kepulangannya.
Sampai di rumah, seperti dugaanku, Bara sedang tidak berada di rumah. Dia sedang di kantor. Belle langsung masuk dan mencari Embun.
"Kak Embun?" panggilannya menggema seisi rumah.
"Nona Belle? Anda sudah pulang?" tanya seorang ART yang segera menghampirinya setelah mendengar suara orang yang memanggil.
"Ya. Di mana kak Embun?" tanyanya karena malas mencari.
"Sedang di taman belakang bersama Nona Rena, Tuan muda dan Nona muda," jawab sang ART.
Belle langsung berlalu mencari embun ke taman belakang. Belle memang tidak terlalu ramah dengan ART di rumahnya.
"Kak Embun...?" sapanya sambil berjalan dengan penuh senyuman.
"Iya, aku akan kembali kuliah di sini, Kak," jawabnya. Kemudian mengalihkan pandangan pada dua keponakannya yang sudah mulai bisa merangkak. "Ah, Hansel ... Hilsa ... Tante begitu merindukan kalian." Belle mengecup pucuk kepala dua keponakannya.
"Kak, ada yang ingin aku katakan padamu," ucapnya sambil mendudukan bokongnya di antara Rena dan Belle.
"Hem? Katakan saja."
"Nanti malam, ada tamu pentingku yang akan datang. Bolehkah Kakak membantuku mengurus semuanya, termasuk berbicara dengan Kak bara...." pintanya.
"Tamu penting? Siapa?"
" Nanti Kakak juga akan tahu sendiri," sedari awal bicara tadi, wajah Belle selalu tersenyum.
"Bisa pas kalian, ya? Nanti malam, Rena juga akan kedatangan tamu penting." tutur Embun.
Belle langsung melihat ke arah Rena yang sedang menundukkan wajahnya karena malu.
"Sepertinya aku tahu, siapa tamu penting yang kamu maksudkan," ucapnya menggoda Rena.
Rena hanya menjawab dengan senyuman malunya. Belle juga membagi-bagikan oleh-oleh cindera mata yang dia beli saat liburan di Turki kemarin pada Rena, Embun dan dua keponakannya.
Dia juga memperlihatkan foto-fotonya selama dia berada di sana. Membuat Embun dan Rena kagum bercampur rasa iri karena belum pernah menginjakkan kaki di negara yang indah itu.
"Nanti, aku pasti akan memaksa Bara membawaku ke sana," seru Embun antusias dan sangat menggebu-gebu.
"Kita pergi bersama-sama saja, Kak. Pasti lebih seru." sahut Belle dan disetujui oleh Rena.
Seperti permintaan kedua adiknya. Embun meminta pada pengurus rumah untuk menyiapkan segala keperluan untuk menyambut tamu penting adik-adiknya.
Meminta para koki untuk menyiapkan makanan. Dan urusan Bara, tentu Embun yang membereskannya.
__ADS_1
"Kak Embun, Kak Bara pasti tidak ke mana-mana kan malam ini?" rengek Rena dan Belle bersamaan.
"Kalian ini, seperti anak kecil. Kalian tidak percaya padaku?"
"Tentu saja percaya. Tapi, bagaimana kalau Kak Bara tiba-tiba ada meeting mendadak? Sia-sia semuanya," ucap Belle pasrah.
"Ya. Biasanya pun, jam segini Bara sudah pulang. Tapi kenapa sampai saat ini belum terlihat tanda-tandanya ya?" Embun malah menyiram minyak ke dalam Bara. Membuat api kekhawatiran mereka semakin membesar.
"Kak Embun...." seru mereka bersamaan.
Tidak lama, terdengar suara mesin mobil Bara. Membuat kegelisahan di benak dua wanita yang sedang menunggunya itu, menghilang.
Bara masuk ke dalam rumahnya seperti biasa, dengan senyum yang mengembang mencari keberadaan istri dan Anaknya yang biasanya sudah menunggunya di dalam kamar. Tapi kali ini, mereka sedang duduk bersama di ruang Tivi.
"Belle?" panggilnya saat melihat sosok orang yang dikenalinya.
"Kakak...." Belle berlari dan berhambur dalam pelukan Bara.
"Kenapa kamu sudah pulang?" pertanyaan itu yang pertama kali terlontar dari mulut Bara.
"Kenapa? Aku tidak boleh pulang?"
"Ini kan rumahmu. Tentu boleh," jawab Bara, yang kini merasa ada yang berbeda dengan suasana rumahnya.
"Sepertinya, hari ini suasana rumah kita berbeda." Bara duduk di samping Istrinya setelah mengendurkan dasi.
"Ya. Ada sesuatu yang terjadi malam ini," jawab Embun sekenanya.
Tidak lama, terdengar suara deru mesin mobil.
"Rey, kau datang? Kebetulan kami akan kedatangan tamu. Mari bergabung," ajak Bara.
"Daniel, kau juga datang? Ayo, bergabung sama-sama," ajaknya lagi.
"Hem, Bara. Ada yang ingin aku katakan padamu," ucap Rey yang kini duduk berhadapan dengan Bara.
"Aku juga!" sambar Daniel tak mau ketinggalan.
"Ada apa? Aku mandi dulu."
"Tidak perlu. Jika kami tidak mengatakannya sekarang, mungkin nanti lidah kami berubah beku karena keberanian sudah hilang." ucap mereka.
"Kalau begitu katakan saja. Apa?" tanya Bara sambil melipat lengan kemejanya dan bersandar di sofa.
"Aku mau melamar, Rena!"
"Aku ingin melamar, Belle!"
ucap mereka secara bersamaan.
Hai ... hai?!
Dukung karya ini dengan berikan like, komentar, gift dan vote. Karena tanpa itu, karya ini tak akan hidup 🤭
jangan lupa tinggalkan jejak ya 👣
Dukung juga karya baru author SAHABATKU SUAMIKU MUHALLILKU
masih anget guys...
Terima kasih ❤️❤️❤️
__ADS_1