
Rena terkejut.
"Kamu mau mengundangnya juga?"
...*******...
Hari sudah malam, Rena dan Belle masih berkunjung ke toko untuk menemui Amanda. Sedangkan Embun harus segera pulang karena ada dua buah hati yang masih menunggunya.
Setelah membuka pintu, mereka berdua masuk dan langsung menuju kamar atas sambil menenteng banyak belanjaan milik Amanda.
"Amanda, kamu sudah tidur?" tanya Rena saat melihat wanita itu berbaring seorang diri.
"Rena? Belum, aku belum tidur," jawabnya. Amanda bangun dan duduk di atas ranjang.
"Kami membawakan beberapa baju untuk Ibu hamil untukmu. Dan ini, ada satu gaun pesta," ucap Rena sambil menaruh paper bag di dekat Amanda.
"Wah, ini bukan sedikit, ini sangat banyak. Terima kasih Rena." wajah Amanda tersenyum senang.
"Ini, Belle. Dia membelikan gaun itu untukmu agar kamu bisa menghadiri pesta pernikahannya," ucap Rena.
"Terima kasih, Belle. Aku pasti akan datang."
Belle mengangguk sambil memperhatikan perut Amanda. Dia merasa sangat gemas.
"Amanda, kamu tidur sendiri di sini?" tanya Rena.
Amanda mengangguk.
"Ya sudah, malam ini aku akan menemanimu. Besok, minta Ranti untuk menemanimu, ya!" ucap Rena.
"Tidak usah, Rena. Aku bisa kok tidur sendirian di sini. Kamar ini juga besar, aku sangat nyaman," tolaknya halus. Dia hanya tidak ingin memberatkan Rena. Sudah menumpang, malah memberatkan Tuan rumah lagi, begitu pikirnya.
"Dalam keadaan perut besar, kamu tidak boleh sendirian. Sudahlah jangan membantahnya," ujar Belle.
"Hem baiklah," jawab Amanda pada akhirnya.
"Belle, kamu tidak apa-apa, kan?"
"Tidak apa-apa. Kak Daniel sudah menungguku di bawah. Aku pulang, ya." pamitnya pada mereka.
Rena dan Amanda kompak mengangguk sambil melambaikan tangan mengiringi perginya sang calon pengantin baru.
☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️
Pagi datang, banyak orang yang bersuka ria, banyak juga orang yang masih bermalas-malasan di bawah selimut.
"Rena, tadi aku mau membuatkan sarapan untuk kita. Tapi di kulkas cuma ada bahan kue, hehehe," ucap Amanda sambil melenggak-lenggok di depan cermin. Dia sedang mencoba baju ibu hamilnya.
"Tidak apa-apa. Lagipula, sarapan akan diantarkan oleh cafe seberang. Kami sudah memesan sarapan dan makan siang dari sana setiap harinya. Ya sudah, aku turun ya. Pasti di bawah sangat sibuk," pamit Rena yang sudah rapi dan turun ke bawah untuk membantu para pegawainya agar tidak kelimpungan.
Wanita yang masih berdiri di depan cermin itu hanya mengangguk saja. Dia masih sibuk dengan baju barunya yang sangat menonjolkan bentuk perutnya yang menurutnya sangat menggemaskan. Tak henti-hentinya dia mengusap perut yang sudah membesar itu.
"Sayang, meskipun kau tidak punya Ayah, kamu masih punya Mama. Mama akan selalu menjagamu," bisiknya.
Sudah hampir satu jam berlalu, Amanda mulai merasa lapar. Dia turun ke bawah untuk menanyakan makanan pada Rena.
Dan bersamaan dengan itu, Rey juga baru keluar dari mobilnya. Dia menenteng sebuah paper bag yang berisikan kotak bekal.
"Rey?" Rena tampak terkejut saat melihat pria itu berada di depannya saat ini. Setelah hampir tiga Minggu dia tak pernah menyambanginya lagi.
"Rena, aku membawakan sarapan untukmu," ucapnya dan menyodorkan kotak bekal.
__ADS_1
"Rena, apakah ada makanan yang bisa aku makan?" tanya Amanda yang masih berdiri di anak tangga terakhir.
Perhatian Rey langsung teralihkan saat merasa kenal dengan suara tak asing itu. Dan matanya terbelalak besar melihat Amanda yang berada di toko, memanggil dan bertanya pada Rena dengan sangat akrab. Dan terakhir, matanya terpaku pada perut yang sudah membesar itu. Rey benar-benar tergugu.
"Amanda, kenapa kau di sini?" tanya Rey. "Dan itu, apakah kau sedang hamil?" pertanyaan itu tercetus begitu saja dari mulut Rey.
Amanda hanya terdiam, untung orang-orang tak menatapnya. Mungkin tak mendengar pembicaraan mereka.
Rena menarik tangan Rey keluar toko.
"Rena, kenapa ada dia di sini?" tanya Rey yang memang belum mengerti dengan keadaan.
"Dia tinggal di toko untuk sementara waktu," jawab Rena.
Rey mendesah frustasi.
"Rena, kamu tahu, kan apa yang telah dia lakukan? Kalau bukan karena dia, kita tidak akan seperti ini," cecar Rey.
"Cukup, Om! Kamu tidak merasa kasihan padanya? Dia sedang hamil, jangan membebaninya dengan pikiran yang tak penting," sahut Rena.
"Hamil?" Rey begitu terkejut. Meskipun tadi dia melihat perut Amanda yang membesar, dia tidak mengira kalau Amanda ternyata benar-benar hamil.
"Ya. Maka dari itu aku memintanya untuk tinggal di toko ini. Aku mengerti bagaimana kesusahannya. Dia memang bersalah, tapi semua itu dia lakukan karena insting seorang ibu."
"Baiklah terserah kau saja. Tapi, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu."
"Katakan saja!"
Rey megenggam tangan Rena, menatap manik hitam Rena.
"Rena, aku sangat mencintaimu. Bisakah kita kembali seperti dulu. Dan melanjutkan hubungan kita ke jenjang pernikahan?" ucap Rey.
"Om, aku pernah bilang padamu untuk menyelesaikan segala urusan masa lalumu terlebih dahulu sebelum datang padaku. Sekarang, apakah kau yakin sudah menyelesaikan semua urusan lalu?" tanya Rena menatap manik Rey lekat.
Rena mengangguk dan tersenyum.
Senyuman Rey pun langsung merekah sempurna. Dia mengecup punggung tangan Rena berkali-kali pertanda bahagia yang tak bisa diungkapkan.
"Terima kasih karena kamu sudah mau menerimaku kembali. Setelah pernikahan Belle selesai, pernikahan kita akan segera dilangsungkan. Bagaimana, kamu setuju?"
"Setuju!" jawab Rena sembari tersenyum senang.
Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang menatap mereka dari kejauhan sambil menyunggingkan senyuman juga.
...******...
"Rena, apakah aku terlihat cantik?" tanya Amanda dengan memutar-mutar tubuhnya agar Rena dapat menilai penampilannya.
"Pas sekali! Dengan perut buncitmu itu, kau semakin seksi," goda Rena.
"Kau selalu saja menggodaku!" balas Amanda berpura-pura mengerucutkan bibirnya.
Hari ini adalah hari bahagia Belle dan Daniel. Semua orang telah berkumpul untuk ikut merayakan hari bahagia itu bersama.
"Aku bercanda. Ya sudah, ayo kita turun sekarang. Resepsi akan segera dimulai," ajak Rena.
Mereka turun bersamaan. Di bawah, sudah banyak tamu yang hadir. Melihat banyaknya makanan, mata Amanda langsung bersinar.
Karena perasaan sang Ibu bahagia, si bayi yang masih berada dalam kandungan pun bergerak-gerak.
"Kenapa? Dia bergerak sampai perutmu ngilu?" tanya Rena yang sudah mulai hafal kebiasaan Amanda.
__ADS_1
"Ya! Dan...." Amanda terdiam, kalimat yang ingin dia ucapkan tercekat di tenggorokan.
"Dan, apa?"
"Entah kenapa, aku merasa tidak bisa menjaganya untuk waktu yang lama. Jika itu terjadi, bisakah kamu membantuku untuk menjaganya, Rena?"
"Apa yang sedang kamu ucapkan? Ini adalah hari bahagia. Jangan buat hatimu kacau dengan pikiran-pikiran aneh yang tidak sengaja terlintas," tampik Rena merasa tidak senang karena menurutnya Amanda asal bicara.
"Berjanjilah padaku, Rena. Berjanjilah untuk merawat dan menjaganya jika nanti aku tiada," mohon Amanda memelas.
"Baiklah, baiklah. Aku berjanji padamu akan menjaganya seperti anakku sendiri. Kau tidak perlu khawatir dan menjadikan itu beban, mengerti? Ayo, waktunya kita bersenang-senang." Rena memegang tangan Amanda dan membawanya ke meja prasmanan.
"Aku tahu, kau pasti lapar, kan? Makanlah yang banyak. Beri bayimu gizi yang cukup," ujar Rena.
"Rena!" panggil seseorang dari arah belakang.
"Ibu....!" Rena langsung berhamburan ke pelukan Ibunya, Mika.
"Rena, maafkan Ibu. Ibu selama ini sudah menelantarkan kamu dan Embun," ucapnya di sela-sela isak tangis dalam pelukan Rena.
"Tidak apa-apa, Bu. Tidak perlu pikirkan apapun lagi. Yang penting Ibu sehat dan sudah merubah sikap Ibu."
"Bu, ini Amanda temanku." Rena memperkenalkan Amanda pada ibunya.
Mika beralih menatap Amanda, mengelus perut buncit itu.
"Wah, perutmu bulat sekali," ucap Mika gemas.
"Iya, Bu. Banyak yang bilang seperti itu," jawab Amanda.
"Dulu saat aku mengandung Rena, bentuk perutku juga mirip seperti ini," ungkap Mika.
Saat mereka masih berbincang-bincang, ada seseorang yang kembali memanggil Rena. Namun kali ini, Amanda pun turut mengenal suara orang itu.
Membuat tubuh Amanda menegang seperti sedang menahan rasa takutnya.
"Rena? Ibu sudah mencarimu kemana-mana, ternyata kamu di sini."
"Amanda, kamu tidak mau menyapa Tante?" ucap Ibunya Rey memegang lengan Amanda.
"Tan-te?" ucapnya kikuk.
"Benar kata Rey, kamu memang sedang hamil."
"Maafkan sikap Tante kemarin ya. Pasti membuat kamu tidak nyaman, ya?"
"Tidak apa-apa, Tante. Aku tahu Tante bersikap seperti itu karena salahku juga," aku Amanda.
"Hem, Bu. Perkenalkan ini Ibuku," ucap Rena memperkenalkan Mika pada Ibunya Rey.
Merasa heran dengan panggilan Rena terhadap wanita lain, Mika langsung bertanya.
"Ibu? Rena, dia siapa?" tanya Mika menunjuk pada Ibunya Rey.
"Dia Ibunya calon suamiku, Bu!" jawab Rena.
Novel ini besok bakalan tamat, dan aku udah buat novel baru untuk kisah Brandon. Kalian jangan lupa mampir ya akak-akak. Tanpa dukungan kalian semua, novelku tidak akan berjalan.
Seperti biasanya, berikan dukungan untuk karya ini dengan berikan like, komentar gift dan vote sebanyak-banyaknya. Berikan juga rate 5 ya guys ❤️❤️❤️
__ADS_1
Terima kasih atas dukungan dari kalian semua ❤️❤️❤️