Istri Miskin Presdir

Istri Miskin Presdir
SUARA HATI EMBUN


__ADS_3

Pras yang semula duduk menunggu dengan tenang, kini seperti cacing yang disiram dengan air garam. Orang yang baru saja menemuinya itu duduk dihadapannya dengan tenang dan menatap Pras lekat.


Sejurus kemudian orang itu tersenyum ramah pada Pras, membuat Pras menjadi heran.


"Tuan, Pras?" Tanya pria itu.


"Ya. Si-siapa Anda?" Tanya Pras yang masih berada dalam perasaan was-was.


"Perkenalkan, aku Eson, kuasa hukum Nyonya Embun." Ucap Eson memperkenalkan diri.


Pras tersenyum. Keringat dinginnya tadi berubah jadi hangat. Tubuhnya yang tadi sempat gemetaran berubah menjadi kembali tenang. Tapi, Pras tak menerima uluran tangan Eson. Karena dia berpikir, kalau dirinya juga adalah Tuan dari Eson, sehingga dia bisa menyombongkan dirinya di depan pria paruh baya itu.


Dengan kepercayaan diri tingkat tinggi, tanpa basa basi dia langsung bertanya, "Jadi, apakah aku boleh keluar sekarang?" Tanyanya yang sudah bisa menyombongkan dirinya. Sebelumnya, masih seperti anak ayam habis masuk ******, ckck.


"Keluar?" Eson mengulangi perkataan Pras. Lalu, dia tersenyum menghina karena dia mengerti mengapa Pras bertanya seperti itu.


Ah, aku tahu! Dia pasti mengira kedatanganku kemari karena ingin membebaskannya? Tidak semudah itu, Pras. Dia tidak tahu saja, kalau Nyonya Embun lah yang membuat tuntutan untuknya.


"Maaf, Tuan Pras. Sepertinya ada kesalahpahaman yang harus kita selesaikan terlebih dahulu." Ujar Eson yang siap untuk menjelaskan semuanya.


"Tidak perlu. Langsung keluarkan saja aku dari sini. Aku tahu Embun anak yang baik." Sanggahnya cepat masih dengan wajah yang sombong.


Di luar, Embun, Bara dan Rena sedang menunggu di kursi tunggu. Mereka masih menunggu Eson menyelesaikan segalanya. Tapi, Embun merasa tidak sabaran. Dia ingin menuntut penjelasan langsung dari Pras, penjelasan yang bisa membuatnya puas.


"Bara, aku ingin menemuinya langsung." Ujar Embun sambil menggenggam tangan Bara.


"Jingga, sabarlah sebentar. Biarkan Eson yang menyelesaikannya." Jawab Bara yang tak mengizinkan Embun untuk bertemu dengan Pras secara langsung. Takut pria tua yang berstatus sebagai Ayah dari Embun itu kembali melakukan hal-hal di luar dugaan mereka.


"Bara, aku ingin menemuinya." Kekeh Embun yang membuat Bara tak bisa berbuat apa-apa lagi


"Baiklah. Jika ada sesuatu yang terjadi langsung saja panggil aku. Aku akan menunggumu di luar." Ucap Bara.


Embun langsung menghubungi Eson untuk minta di pertemukan dengan ayahnya.


KRING KRING KRING


Telepon genggam Eson berdering. Dia melihat, ternyata Embun yang menghubunginya. Dia langsung beranjak dari duduknya dan menerima panggilan dari Tuannya itu. Pras memperhatikannya dari kejauhan sambil tersenyum.

__ADS_1


Anak itu memang sangat berbakti, aku sudah mencelakainya sampai hampir merenggut nyawanya saja, dia masih akan mengeluarkanku dari rumah dingin ini.


Eson terlihat menganggukkan kepalanya beberapa kali sebelum dia menutup panggilan itu dan kembali duduk dihadapan Pras yang kini sudah membuang pandangannya ke arah lain.


"Tuan Pras, Nyonya Embun ingin menemui Anda." Seru Eson.


"Hem!" Pras hanya menjawab dengan dehemannya saja.


Tak lama setelah itu, Embun datang seorang diri. Pras langsung berdiri dan ingin memeluk Embun. Tapi, Embun langsung mengangkat tangannya yang mengisyaratkan dia tidak menerima pelukan dari Pras, dan meminta Pras untuk tidak mendekatinya.


Masih memeluk Anaknya dengan hangat. Orang yang tidak tahu pasti akan mengira kalau mereka sepasang Ayah dan anak yang sangat akur!


Pras melihat, ada yang berbeda dari Embun. Biasanya setiap bertemu dengan Ayahnya, dia akan selalu mencari objek percakapan agar dapat berbicara dengan Ayahnya meskipun Ayahnya tak pernah peduli. Matanya selalu memancarkan kelemah-lembutan, kali ini menyorot aura kebencian yang mendalam. Biasanya, bibir Embun selalu menyunggingkan senyum, tapi saat ini, wajahnya hanya datar dan tegas.


"Eson, apakah kamu sudah memberitahunya, apa alasan kita datang ke sini?" Ucap Embun pada Eson tanpa melihat lawan bicaranya.


"Belum, Nyonya." Jawa Eson hormat.


"Segera beritahukan padanya!" Titah Embun.


Cara berbicara Embun membuat Pras ternganga. Kenapa berbeda? Bukankah seharusnya Embun datang dan memeluk dirinya. Menangis dan meminta Pras untuk bersabar, karena Embun akan segera mengeluarkannya dari rumah dingin itu? Tapi, kenapa berbeda dengan yang sudah ia rangkai dalam pikirannya?


JEDARR


Pras menegang, tubuhnya seperti disambar petir. Dia langsung melihat Embun dengan tatapan garang. Merasa tidak terima dengan perlakuan Anaknya sendiri yang tega memenjarakan dirinya.


"Kami datang menemui Anda karena petugas memberitahu kami, Anda minta bertemu dengan penggugat." Imbuh Eson, yang tak merubah tatapan Pras pada putrinya. Bahkan tatapan itu semakin menajam. Namun, orang yang ditatap tak merasa gentar sedikitpun.


"Kenapa kau melakukannya? Di mana hati nuranimu?" Tanya Pras dengan berteriak. Dia seolah lupa dengan semua kesalahannya, yang menjadi alasan kenapa sekarang ia berada di sana.


Embun hanya diam. Mengatupkan kedua bibirnya rapat-rapat. Tak ada niat sedikitpun untuk menjawab pertanyaan yang dianggap aneh itu.


"Embun! Kenapa kau malah memenjarakan aku? Kau sakit hati karena aku tidak memperdulikanmu? Karena aku selalu minta uang padamu? Bukankah itu memang tugasmu, memberikan aku uang. Apa lagi sejak kau menikah dengan keluarga kaya. Jadi apa salahnya?" Pekik Pras tak terima. Dia memaparkan alasan klisenya. Menutupi alasan sebenarnya, karena dia mengira kalau Embun tak akan tahu perbuatan bejat yang sebenarnya telah ia lakukan.


Embun memejamkan matanya. Sedari tadi dia berusaha menulikan pendengarannya agar tak terpengaruh dengan amarah yang sudah bergemuruh dalam hatinya. Tapi, semakin ia menulikan pendengarannya, semakin besar suara pembelaan Pras yang menusuk gendang telinganya. Membuat ia tak tahan dengan setiap kata pembelaan yang diucapkan oleh Pras. Seolah-olah, semua kesalahannya itu harus dapat dimaklumi.


"Eson, kau tunggu di luar saja. Aku ingin berbicara dengannya sebentar." Sela Embun.

__ADS_1


"Ta-tapi, Nyonya. Tuan Bara meminta saya untuk selalu berada di samping Anda." Sahut Eson.


"Eson, tunggulah di luar!" Titah Embun lagi.


"Baik, Nyonya." Eson membungkukkan badannya dan berlalu keluar.


Bara yang sejak tadi berada di luar, terkejut melihat Eson keluar, tapi tak melihat Istrinya.


"Eson, kenapa kau keluar sendiri? Di mana, Jingga?" Tanya Bara.


"Nyonya Embun meminta saya keluar, Tuan." Jawab Eson. Bara hanya diam, dia berusaha mengerti kenapa embun meminta Eson menuggu di luar. Dia pun berusaha bersikap tenang, karena tadi dia sudah berpesan pada Embun, jika ada sesuatu yang terjadi padanya Embun pasti akan meneriaki namanya.


"Ayah...?" Panggil Embun.


"Apa? Kau sudah menyesal sekarang? Dan mau mengeluarkanku? Belum terlambat untuk kau meminta maaf dan memberikan aku uang." Ucapnya yang masih saja memikirkan uang, uang dan uang.


"Apakah kamu masih ingat, sekuat apa kamu menekan pedal gas saat mau menabrakku, tapi malah mengenai Bara?" Sungut Embun membuat Pras diam tak berkutik.


"Apakah kamu tidak tahu, ada dua kehidupan lain yang sedang bertumbuh di dalam perutku. Dan kau bisa memanggil mereka, cucu!" Imbuhnya.


"Embun, apa yang kau ka-katakan?" Pras masih saja mengelak dengan berpura-pura tidak mengerti.


"Huh!" Embun menarik nafasnya dalam-dalam sambil menahan air mata yang sudah menganak


"Aku tahu, kamu bukan tidak tahu. Tapi, berpura-pura lupa dengan hubungan kita karena dibutakan uang. Setega itu, kah? Sebenci itu kamu padaku, Ayah!" Lanjut Embun yang berusaha habis-habisan menahan gejolak di dadanya agar tak mengeluarkan nada tinggi pada Ayahnya.


"Embun, aku tidak bermaksud begitu! Cabut tuntutan mu, Embun." Pekik Pras yang enggan mengalah.


"Setelah kamu melakukan itu, tidakkah kamu berniat untuk meminta maaf padaku? Anak yang selalu kamu sia-siakan ini. Apakah, kata maaf seorang Ayah sangatlah mahal?"


"Aku tidak pernah membencimu karena kamu menelantarkanku sedari kecil. Aku bersyukur kamu masih mau menerimaku di rumah hangat itu. Meskipun kamu tak pernah mengulurkan tanganmu untuk mengusap kepalaku, menyelimutiku kala aku dingin. Aku tak pernah marah padamu, Ayah." Tutur Embun pelan.


"Namun, kali ini aku benar-benar kecewa dengan sikapmu, Ayah. Kamu malah tega melukaiku dan kedua anak-anakku yang bahkan belum pernah merasakan hangatnya sentuhan tanganku, belum pernah melihat wajahku. Bahkan, belum pernah hadir diantara kita. Apakah, jika saat itu aku yang terluka dan menghilang dari hidupmu, kau akan bahagia? Kau akan merasa puas, Yah?" Lirih Embun, hati Pras begitu terhanyut mendengar suara hati Anaknya yang selama ini terlihat kuat dan tegar. Tapi, kali ini dia merasakan kerapuhan disetiap ucapannya.


"Tidak, Embun. Itu bukan keinginan Ayah." Pras memegangi dadanya yang terasa sesak dan sakit.


"Lalu, keinginan siapa?" Tanya Embun.

__ADS_1


DUKUNG KARYA INI DENGAN LIKE, KOMENTAR, GIFT DAN VOTE. BERIKAN RATE 5 DAN MASUKKAN KE DAFTAR FAVORIT KAMU, AGAR SETIAP NOVEL INI UPDATE, KAMU SELALU DAPAT NOTIFIKASINYA.


TERIMA KASIH UNTUK DUKUNGAN KALIAN SEMUA ❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2