
"Sebenarnya, aku yang telah menyebarkan berita itu. Semua, aku yang mengirimkannya pada media." Ucap Daniel.
Mendengar pengakuan Daniel, Bara benar-benar terkejut. Matanya terbelalak seakan mau keluar dari tempatnya, dan jantungnya berdetak dua puluh kali lebih cepat.
"Apa? Kenapa kamu melakukan itu, Daniel?" tanya Bara dengan wajah yang tak bisa diartikan.
"Seharusnya kau tahu lebih jelas apa alasan aku melakukannya. Aku hanya ingin kau mengakui istrimu. Bukan orang lain, yang bahkan telah meninggalkanmu." Jelas Daniel.
"Tapi, kali ini kenapa wajah Jingga juga terlihat? Jika orang-orang tahu dan mulai mencari Jingga, Jingga diserang oleh orang-orang tak bertanggung jawab itu, bagaimana?"
"Kau tidak perlu khawatir, wajahnya tidak terlihat jelas." ucap Daniel.
"Jadi, kau memang benar-benar mau bercerai dengan Embun?" tanya Rey.
"Aku tidak mau menceraikannya. Tapi, dia bersikeras ingin berpisah denganku." jawabnya dengan wajah yang tertunduk.
"Mungkin, ini memang saatnya untuk kau yang gantian berjuang. Kau sudah mengecewakan perjuangannya untuk meluluhkan hatimu, dan sekarang kau yang harus membuktikan padanya kalau kau sebenernya memang sudah menyukainya." ujar Daniel panjang kali lebar.
"Tapi, aku belum yakin kalau aku mencintainya."
"Kalau itu, kami tidak bisa membantu. Hanya kau sendiri yang mengerti bagaimana perasaanmu." Jawab Rey.
"Kalau begitu, aku pulang terlebih dahulu. Terima kasih atas saran kalian." Bara menyentuh pundak Daniel, tapi tidak dengan Rey.
"Hey, kau hanya menganggap dia sebagai temanmu?" pekik Rey kesal karena dia merasa tak dianggap.
"Ya. Karena kau sudah ku diskualifikasi dari daftar temanku. Tidak ada teman yang merebut istri temannya." sungut Bara.
"Hey, kau!" Rey sudah melepaskan sepatunya hendak melempar Bara. Tapi sudah terlambat karena Bara sudah lebih dulu keluar dari ruangan itu.
Bara pulang ke rumah. Dia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh karena rasanya dia merasa merindu dengan Embun.
Tapi sesampainya di rumah, dia harus dibuat kecewa. Karena orang yang dirindukan tidak berada di rumah. Bara langsung masuk ke kamar tamu yang kebetulan tidak dikunci, dia mencari-cari tas milik Embun yang digunakan untuk menampung baju.
Hatinya merasa lega saat melihat tas itu masih ada. Karena dia memang merasa sangat takut kalau Embun tiba-tiba pergi meninggalkannya.
Dia keluar kamar, berteriak-teriak tergesa-gesa mencari pembantu siapa saja yang lewat.
"Bi, ke mana Jingga dan Belle?" tanya Bara pada asisten rumah tangganya.
"Mereka pergi, Tuan."
"Sedari pagi belum pulang?" tanya Bara lagi.
"Ya, Tuan. Biasanya mereka akan pulang sebelum Anda pulang. Tapi tetap agak sorean." jawabnya.
"Apakah setiap hari mereka pergi dan pulang sore seperti itu?" tanya Bara yang mulai penasaran.
__ADS_1
"Benar, Tuan. Kalau Nyonya Embun kurang sehat, barulah mereka tidak pergi." jawab asisten itu setahunya saja.
"Kira-kira ke mana mereka pergi?"
"Maaf, Tuan. Saya kurang tahu. Tapi mereka selalu menyebutkan nama toko kalau mau pergi."
"Kembalilah bekerja." Ucap Bara.
Ke mana sebenarnya mereka pergi. Pergi pagi dan pulang sore? Dan apa tadi, toko? Toko siapa yang dimaksud
Bara tidak mau terlalu memusingkannya lagi, dia menelepon Eson, sang asistennya.
"Eson, siapkan konferensi pers besok. Undang para wartawan lebih banyak dari saat konferensi pers biasanya." Titahnya tanpa mau dibantah.
"Baik, Bos." Jawab Eson, kemudian mematikan sambungan teleponnya. "Konferensi pers lagi? Kali ini untuk apa." Gumamnya sambil menghela nafas kasar.
Bara masuk ke kamarnya berniat mengistirahatkan dirinya sendiri. Tidak lama dia tertidur pulas.
"Rena, Belle, ayo temani kau ke salon dan beli beberapa baju." Ucap Embun pada kedua adiknya.
"Salon?" tanya Rena. Dia terheran-heran karena selama ini Kakaknya memang tidak pernah pergi ke tempat seperti itu. Bukannya cuek akan diri sendiri, hanya saja mereka tidak mempunyai uang yang cukup.
"Ayo, Kak. Aku juga sudah lama tidak ke salon. Aku ingin many pady." sahut Belle kegirangan karena akan merasa punya teman untuk nyalon bersama. Karena biasanya dia hanya pergi sendiri.
Mereka menitipkan toko pada karyawan yang sudah dipercayai. Kemudian mereka pergi ke salon dan berbelanja pakaian-pakaian yang bisa digunakan selama masa kehamilan ini.
"Sudah 10 week, kenapa?"
"Kenapa rasanya perutmu sangat besar ya, Kak? Tidak seperti kehamilan 10 week pada umumnya." Ujar Belle.
Embun spontan melihat ke arah perutnya dan mengelus perutnya perlahan. Dia juga membenarkan ucapan Belle.
"Ya. Aku juga merasa seperti itu. Besok jadwal cek kandungan. Aku akan bertanya pada dokter Livina." Ujarnya.
Setelah mendapatkan pakaian yang pas, mereka pulang karena hari sudah mulai gelap. Toko juga sudah di tutup oleh karyawan mereka.
Sesampainya di rumah, terlihat Bara yang sudah duduk di kursi seperti menunggu kehadiran mereka.
"Kak?" panggil Belle
"Kalian baru saja pulang?" tanya Bara pada Belle, tapi arah pandangan matanya ke Embun.
"Ya, Kak. Kamu kenapa di sini?"
"Tidak. Akun hanya ingin duduk di sini saja." Bohongnya. Padahal sebenarnya dia memang menunggu mereka karena merasa ingin sekali melihat Embun.
"Bi, bawakan barang-barangku ke kamar tamu." Ucap Embun. Dia tak sekali pun menoleh melihat Bara. Dia hanya berbicara dengan pembantunya lalu meninggalkan Adik Kakak yang sedang berbincang itu dengan cuek.
__ADS_1
Bara merasa kecewa dengan perubahan sikap Embun yang terlihat seratus persen. Awalnya, dia berharap kalau Embun mau kembali seperti dulu. Tapi sepertinya, harapan itu hanyalah tinggal harapan saja.
Mereka sedang makan bersama. Bara tercengang melihat Embun yang memakai baju oversize dan celana hot pant. Dan perutnya yang terlihat sedikit membuncit seakan menambah kecantikannya dan terlihat ****.
Selama makan, Embun hanya diam. Dia juga tidak menyediakan makan suaminya seperti biasanya. Setelah makan dia juga langsung kembali ke kamarnya. Bara juga kembali ke kamarnya sendiri.
"Kenapa terlihat sangat sepi ya. Sangat berbeda." Ucapnya, dia membalikkan tubuhnya kesana-kesini karena merasa tak nyaman.
Dia bangkit dari tidurnya dan pergi ke kamar tamu, tapi ternyata kamarnya dikunci oleh Embun. Tentu saja Bara tidak kehabisan ide.
TOKK TOKK TOKK
Bara mengetuk pintu kamar pembantu rumahnya. Tidak berselang lama, pintanya di buka.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya sang pembantu sembari menguap karena mengantuk.
"Apakah kamu ada memegang kunci cadangan kamar tamu yang di tempati oleh Jingga?" Tanyanya berharap.
"Jingga?" Tanya sang asisten rumah tak mengerti.
"Maksudku, Embun." jelas Bara.
"Ada, Tuan. Sebentar saya ambilkan." Asisten langsung berbalik dan mengambilkan kunci cadangan milik kamar tamu.
Setelah mengambilnya, Bara membuka kamar Embun. Perlahan dia masuk dan kembali menutup pintunya. Dia memandangi wajah Embun dengan seksama. Saat wanita itu berbaring, perutnya sudah semakin nampak membuncit.
Bara memegang perut Embun perlahan. "Nak, apakah kamu sudah bertumbuh dengan baik?" Dia berbicara sendiri dengan pelan. "Ternyata, beginilah kebahagiaan seorang Ayah." Ucapnya lagi.
Bara mengecup perut Embun berulang kali, tangannya masih mengusap perut buncit itu. Dan sebelah tangannya mengusap wajah Embun, memindahkan anak-anak rambut yang berserakan.
Ternyata hal yang dilakukan Bara membuat Embun terasa geli, dia membuka matanya dan terkejut melihat Bara yang sudah duduk di dekatnya.
"Kenapa kau bisa berada di sini?" Teriak Embun kaget.
"Maaf, aku hanya...."
Belum sempat Bara menyelesaikan ucapannya, Embun menarik dirinya menjauh dan mengatakan, "Keluar! Keluar dari sini sekarang juga!" Pekiknya marah.
"Jingga, dengarkan ucapanku dulu. Aku minta maaf, Jingga. Aku mengaku salah karena selama ini sudah sangat-sangat melukaimu. Aku sadar, aku memang bukan lelaki baik. Tapi, tolong terimalah permintaan maaf ku ini. Aku sadar sekarang. Aku benar-benar sudah mencintaimu." Ucap Bara sambil bersimpuh dan memegang kedua tangan Embun.
Jangan lupa untuk tinggalkan like, komentar, gift dan vote ya. Follow juga akun author.
Berikan rate 5 dan tambahkan ke daftar favorit kamu juga ya ❤️❤️❤️
Besok Senin, loh! Ada vote mingguan. Kalau memang suka dengan karya receh author ini, dukung karya ini dengan memberikan vote dan hadiah sebanyak-banyaknya, hehe. Sedikit memaksa ni🤭
Terima kasih
__ADS_1