Istri Miskin Presdir

Istri Miskin Presdir
BARA SADAR


__ADS_3

"Di-dia adalah Pras. Ayak kami, Ayah kandung Kak Embun!" Akunya. Akhirnya keluar juga pengakuan itu.


"Apa?" Pekik Embun yang kaget karena mendengar siapa yang telah sampai hati menabraknya.


Embun terkejut bukan main mendengar pengakuan dari Rena tersebut. Dia yang masih syok dengan kondisi Bara, sekarang bertambah syok karena mendengar pengakuan Rena tentang siapa yang sudah sengaja menabrak mereka. Hancur sudah hatinya, pertahanannya menjadi goyah.


Embun menggelengkan kepalanya beberapa kali sambil membekap mulutnya sendiri karena merasa tak percaya dengan yang baru saja dia dengar. Orang-orang itu juga terkejut saat melihat kehadiran Embun yang kaget. Sungguh mereka sangat merasa bersalah karena berbicara tidak memilih tempat.


Siapa pun pelakunya, mereka berencana untuk menyembunyikannya sementara waktu, sampai Embun, Bara dan kedua bayi mungil itu benar-benar pulih. Namun, sekarang semua sudah terlanjur. Bukan mulut mereka yang sengaja memberi tahu, tapi takdir lah yang ingin Embun segera mengetahuinya.


"Kak Embun?" Rena tergugu karena takut akan kembali terjadi sesuatu dengan Kakaknya.


"Rena, apa benar yang barusan kamu katakan?" Tanya Embun dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Kak, sejak kapan kamu di sini?" Rena mengalihkan perhatian Embun. Dia tak mau Embun terkejut dengan keadaan dan kembali koma atau mengalami hal yang semacamnya.


"Katakan, Rena! Apa benar yang kamu katakan barusan?" Tanya Embun dengan suaranya yang sedikit meninggi. Tangannya bergetar dan air mata kembali luruh dari bendung pertahanannya.


Rena temangu sesaat. Dia juga butuh waktu untuk mengatakannya. Takut, kalau-kalau nanti ada sesuatu yang tak diinginkan kembali terjadi pada Embun.


Orang-orang yang berada di sekitar sana juga terdiam. Mereka ingin mendengar kelanjutan pengakuan Rena tentang yang baru ia katakan.


"Be-benar, Kak." Jawab Rena cepat. Dia menjawab sambil menundukkan wajah dan memejamkan matanya.


"Kenapa kamu menuduh ayah, Rena?" Tanya Embun.


"Aku tidak menuduhnya, Kak. Aku mengakui itu berdasarkan bukti rekaman cctv yang diperlihatkan oleh Kak Daniel!" Ujarnya yang berusaha memberi penjelasan agar Embun tak salah paham terhadapnya.


Embun terdiam. Daniel melihat Embun yang terdiam pun langsung menyodorkan rekaman cctv itu. Dia memperlihatkan rekaman cctv yang memang memperlihatkan seorang pria yang sedang mengendarai mobil itu. Terdapat juga foto-foto yang diambil berdasarkan cctv itu. Rekaman itu memang tidak memperlihatkan wajah si pengemudi dengan terlalu jelas. Tetapi, jika mengenalnya, pasti akan tahu siapa orang itu.

__ADS_1


Embun juga mengenali pria itu. Dia memanglah, Pras, Ayah kandungnya.


Tapi, kenapa laki-laki itu tega memperlakukannya seperti ini.


Embun tak lagi bisa berkata-kata. Dia hanya bisa menangis sesegukan sambil membekap mulutnya sendiri. Sungguh miris, Ayah kandungnya sendiri berusaha untuk membunuhnya. Bukankan dalam kandungannya juga masih ada dua bayi kembar saat itu? Sebegitu tak punya hatinya kah laki-laki tua itu?


Apa yang mendasarinya melakukan itu? Uang kah, atau di dasari rasa benci? Kita pasti akan segera mendapatkan jawabannya. Namun, apa pun alasannya, tak bisa dimaklumi. Sudah membahayakan nyawa orang lain adalah sebuah kejahatan.


"Jadi, bagaimana keputusanmu Embun? Apakah kamu mau memaafkan ini atau mau melanjutkannya?" Tanya Daniel.


Jika Embun memaafkan Ayahnya, berarti semua terhenti sampai di sini. Bahkan, jika ada orang lain di belakangnya, semuanya tetap tak akan lagi tercium. Mungkin juga, bukan tak mungkin kejadian seperti ini akan kembali terulang.


Sekarang hanya mengancam nyawa karena tak sampai tujuannya. Bisa jadi, nanti akan menghilangkan nyawa karena sudah merancang rencana yang lebih matang.


"Cari dan penjarakan dia! Dia tega ingin membunuhku. Sekarang, aku juga harus mengeraskan hatiku untuknya." Sahut Embun dengan mengepalkan tangannya.


Rena begitu terkesiap. Embun yang biasanya selalu memaafkan kesalahan orang lain, tapi kali ini dia seperti sudah berubah ke mode iblis. Tapi, Rena benar-benar mendukung keputusan Embun. Orang yang tega menyakiti orang lain, apa lagi keluarganya sendiri, memang harus di hukum.


"Nyonya Embun, Tuan Bara mencari Anda," Ucap suster itu.


Semua orang terkejut mendengarnya. Mencari? Apakah Bara sudah sadar?


"Apakah Bara sudah sadar? Bantu aku ke dalam." Pintanya pada suster itu. Suster itu langsung mendorong kursi roda Embun ke dalam.


Setelah Embun masuk. Daniel kembali mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang. Dia menghubungi Eson, bawahan Bara.


"Ya, Tuan?" Tanya Eson dari balik telepon.


"Eson, selalu awasi Pras, Ayah Embun. Ikuti ke mana pun dia pergi. Perhatikan gerak-geriknya. Lapor padaku jika dia menemui atau menerima telepon dari seseorang yang mencurigakan!" Seru Daniel.

__ADS_1


"Baik, Tuan." Daniel mematikan sambungan teleponnya.


Di dalam ruangan, Embun yang baru saja masuk langsung tersenyum hangat saat melihat ke arah Bara yang terlihat sudah membuka matanya. Akhirnya, dia terbangun dari tidur nyamannya.


"Bara...?" Panggil Embun lembut sambil menggenggam tangan Bara yang kini bisa menggenggam tangan Embun kembali.


Bara menoleh ke arah Embun dan membalas senyum itu dengan senyum termanisnya.


"Terima kasih karena kamu sudah mau mengorbankan dirimu untuk kami. Terima kasih karena sudah bangun dari tidurmu dan lebih memilih berada di sisiku dan Anak-anak kita." Tutur Embun membuat senyum Bara kembali merekah.


Bara melihat ke sekeliling, seperti mencari sesuatu. Tapi bibirnya tak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Mengerti dengan sikap Bara. Embun langsung meminta kepada suster untuk segera mengambil dua buah hatinya.


"Sus, boleh tolong ambilkan dua bayiku? Pertemukan mereka dengan Daddy-nya." Pinta Embun yang direspon baik oleh suster itu.


"Tentu, Nyonya." Sahutnya tersenyum.


Sang suster kembali dengan membawa dua bayi mungil yang baru saja sehabis menyusu. Saat Bara melihat kedua anaknya, dia langsung memaksa duduk. Para suster membantunya untuk duduk, meski masih dalam keadaan lemah, dia meminta menggendong anaknya.


"Anakku...." Ucap Bara lemah sambil menangis haru. Dia sangat terharu karena sekarang sudah berubah status menjadi seorang Ayah.


Bayi mungil itu tertawa melihat Bara. Bayi yang sedang di pegangnya bayi laki-laki yang sangat mirip dengan wajahnya.


"Jingga, anak kita sangat terlihat tampan...." Ucapnya terbata-bata sambil melihat ke arah Embun yang juga sedang menggendong Anaknya yang perempuan.


Embun menanggapi dengan senyuman. Perasaan bahagianya juga sama dengan Bara. Mereka kini merasakan sangat bahagia.


"Jingga, to-tolong jangan pi-pisahkan kami." Pintanya dengan wajah murung dan lemah.


Jangan lupa tinggalkan jejak like, berikan komentar, berikan gift dan vote. Tambahkan ke daftar favorit dan rate 5

__ADS_1


Terima kasih ❤️❤️❤️


Setiap dukungan dari kalian sangat berharga untuk author.


__ADS_2