
"Selain foto, pihak kami juga mempunyai Vidio-vidionya. Kalau kalian ingin melihat yang lebih jelas, dengan senang hati, kami akan memperlihatkannya pada kalian." Ucap Daniel sambil memicingkan mata ke arah Audrey yang sudah terkesiap dan tidak bisa mengatakan apa pun lagi.
"Dasar, aku saja yang melihatnya sangat malu. Bagaimana dia yang melakukannya dengan banyak pria." Mereka mulai mencibir Audrey.
"Benar. Untung saja Tuan Bara sudah tidak lagi memiliki hubungan dengan wanita seperti dia. Kalau tidak, pasti akan sangat kasihan."
"Apakah dia tidak takut akan terkena penyakit kelamin karena berganti-ganti pasangan?" Satu persatu dari mereka mulai mencibir, dan melihatnya dengan tatapan jijik.
Para wartawan mulai menyerbu ke arahnya hingga dia terhimpit. Mereka mulai mencecarnya dengan pertanyaan-pertanyaan dan juga mengumpatnya dengan caci makian.
"Nona Audrey, apakah Anda tidak merasa malu, untuk membesarkan nama Anda, Anda memilih jalur yang salah seperti itu?"
"Nona Audrey, bagaimana tanggapan Anda mengenai foto-foto itu? Apakah Anda punya komentar tersendiri untuk melakukan pembelaan?" Ujar mereka satu persatu.
"Diam! Diam kalian semua! Pergi sana, jangan dekati aku!" Pekiknya seperti orang gila.
Karena dia berteriak histeris seperti itu, para wartawan yang mulanya rapat mengelilinginya, jadi mengendur karena takut akan perilakunya itu. Kemudian Audrey berlari keluar dari kerumunan itu.
Melihat hal aneh itu, Bara akhirnya tersenyum puas. Tidak ada rasa kasihan atau ingin membela sedikit pun dari benaknya untuk wanita yang pernah dicintainya itu. Tapi gatau juga ya, antara cinta atau obsesi, wkwk.
"Tuan, bisakah Anda memperkenalkan kami bagaimana sosok Istri anda?" Tanya mereka setelah semua kembali normal.
"Aku belum bisa memperkenalkannya ke hadapan umum. Tapi, aku yakin suatu saat nanti pasti akan tiba masanya untuk aku memperkenalkannya kepada kalian semua." Ujarnya tersenyum.
Aku saja sedang berjuang untuk mendapat kata maaf, dan agar dia menarik balik permintaan cerainya itu. Bagaimana mungkin aku bisa memperkenalkannya pada kalian. Tapi aku yakin, suatu saat, aku pasti akan memperkenalkanny pada publik dengan bangga
"Jadi, bisakah Anda menceritakan sedikit tentang Istri anda?" Tanya mereka lagi yang seolah tidak ingin kehilangan kesempatan.
"Dia adalah sosok yang baik, hangat, lembut, dan istri idaman." Jawabnya sambil menerawang ke depan.
Kau saja yang bodoh dan telat menyadarinya. batin Rey.
"Apakah ada yang ingin Anda sampaikan untuk Istri Anda, Tuan?" tanya mereka.
"Ada. Untuk Istriku yang namanya masih ku rahasiakan, aku ingin meminta maaf atas semua perlakuan buruk yang pernah aku lakukan. Ku harap, kamu berlapang hati mau memaafkan kesalahan terbesarku itu. Yang perlu kamu tahu, aku sangat mencintaimu dan calon anak kita." Ucapnya, tanpa terasa air mata jatuh membasahi pipinya.
Mereka semua terkesiap mendengar ucapan Bara. Mereka tidak menyangka ternyata Presdir yang dirumorkan berhati kejam itu juga mempunyai sisi hangat.
"Ternyata Istrinya sedang hamil."
"Semoga kandungan Istri Anda sehat-sehat, Tuan." Mereka kembali berbisik-bisik dan mengucapkan selamat.
Bara yang biasanya bersikap cuek dan dingin kepada semua orang, hari itu dia mengucapkan banyak terima kasih kepada semua orang yang berada di sana karena sudah mendoakan Istri dan calon anaknya agar senantiasa selalu sehat.
Setelah semuanya berakhir, pihak perusahaan membubarkan para wartawan yang sengaja mereka undang. Tapi, karena merasa lupa sesuatu, Bara yang sudah berjalan beberapa langkah, berhenti dan mengatakan sesuatu pada asistennya.
"Eson, bagikan hadiah kepada semua orang yang berada di sini karena sudah mendoakan Istri dan calon anakku." Ucapnya tersenyum. "Kecuali, Rey!" Sambungnya lagi.
"Kenapa lagi-lagi aku, Bara? Kau memang melupakan jasa baikku." Ucapnya berpura-pura menangis tapi masih berjalan di belakang Bara tanpa berani melakukan apa pun.
Di toko, Belle memperlihatkan ulangan rekaman dari acara konferensi pers Bara tadi. Konferensi pers itu juga diadakan secara langsung, tapi saat masih live, Belle tidak berani memberitahukan pada Embun karena takut Embun kecewa.
__ADS_1
Tapi sekarang dia sedang bersorak kegirangan karena ternyata Kakaknya mengakui pernikahannya di depan umum.
"Kak, Embun! Di mana kamu?" teriaknya mencari-cari.
"Kenapa, Belle?" tanya Rena yang sedang berada di dapur.
"Apakah kamu ada melihat Kak Embun?"
"Dia sedang beristirahat di atas." Sahut Rena.
Tanpa mengatakan apa pun, Belle langsung beranjak ke atas untuk mencari keberadaan Embun. Saat dia membuka pintu kamarnya, terlihatlah Embun yang sedang mengistirahatkan tubuhnya.
"Kak, kamu harus melihat ini." Ucap Belle antusias.
"Apa?" Tanya Embun malas.
"Vidio konferensi pers kak Bara, Kak. Kamu harus melihatnya langsung."
Embun mengambil ponsel Belle dan melihatnya. Sebenarnya, dia malas untuk melihatnya, tapi karena tidak mau mengecewakan Belle, karena Embun dapat melihat wajah antusias Belle yang berharap dirinya mau melihat Vidio itu.
Embun mulai melihat, tapi tidak ada rasa terharu darinya, dia hanya mengerutkan alisnya berulang.
Ternyata dia baru sadar kalau mencintaiku setelah menemukan keburukan Audrey, wanita idamannya? Sangat menggelikan
Dari awal sampai akhir, Embun tidak mengatakan apa pun, setelah melihatnya, dia langsung mengembalikannya lagi pada Belle.
"Kak, kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Belle. Karena dia melihat Embun hanya diam, jadi dia mengira kalau Embun mungkin saja sedang sakit.
"Katakan saja, Kak." Belle mulai memasang telinganya. Dia sangat berharap, setelah melihat Vidio itu, Embun akan mengatakan padanya kalau dia tidak jadi bercerai dengan Bara.
"Aku rasa, mulai malam ini, aku akan tinggal di sini." Ucapnya. Membuat Belle terkejut dan spontan membelalakkan matanya
"Apa, Kak? Kamu harus memikirkan kembali keputusanmu itu, Kak. Sangat berbahaya kamu tinggal sendirian di sini."
"Belle, aku sudah memikirkannya dengan matang. Nanti aku akan mengajak Rena untuk ikut tinggal bersamaku dan menemaniku di sini."
"Kak..."
"Belle, tolong mengertilah. Aku sebenarnya tidak ingin seperti ini. Tapi, aku juga tidak bisa terus-terusan tinggal bersama orang yang selalu menyakitiku. Bahaya untuk kesehatan janinku." Ucapnya, sambil memegang tangan Belle berusaha mentransfer sedikit pengertian.
"Kak, apakah kamu benar-benar mau berpisah dengan kak Bara?" Belle kembali mempertanyakan hal yang sebenarnya tak ingin dibahas lagi oleh Embun.
"Belle, hubungan tidak bisa bertahan lama kalau hanya satu orang saja yang berjuang mempertahankan. Ku harap kamu mengerti." Seru Embun.
"Baiklah kalau begitu, Kak. Aku akan mencoba mengerti demi kebaikannya." Jawab Belle sambil melihat ke arah perut Embun.
"Dan, kamu juga harus berjanji satu hal padaku."
"Hem?" Belle menaikkan dagunya.
"Jangan beritahukan Bara tentang tempat tinggalku sekarang. Karena aku ingin menenangkan diri sejenak. Ku mohon..." Ucap Embun, tampak dari tatapan matanya, dia sedang memohon dengan sangat-sangat pada adik iparnya itu.
__ADS_1
"Ya, Kak. Aku tidak akan mengatakan apa pun pada Kak Bara." Ucapnya yang sebenarnya tidak ikhlas.
"Kalau begitu, ayo temani aku cek kandungan sekarang." Ajak Embun.
"Sekarang? aku akan melihat keponakanku." Lagi-lagi Belle mengelus perut Embun.
"Ya, dong. Tidak mungkin menunggu tahun depan." Ujar embun bercanda.
Embun mengambil tasnya dan berpamitan sebentar pada Rena untuk menitipkan tokonya karena dia akan pergi ke dokter.
Sesampainya di rumah sakit, Embun langsung masuk karena sudah membuat janji temu dengan sang dokter.
"Nyonya Embun, bagaimana kabar Anda, apakah sehat-sehat saja?" tanya dokter Livina ramah.
"Sehat, Dok." Jawab Embun ramah.
"Bagaimana, apakah ada keluhan?" tanya sang Dokter.
"Keluhan banyak, Dok. Saya mengalami mual muntah dan pusing, serta mudah lelah." Jawab Embun.
"Itu adalah hal yang biasa. Tidak apa-apa, nanti saya akan meresepkan obat untuk mengurangi mual muntah."
"Dan, saya merasa perut saya lebih besar dari usia kehamilan pada umumnya, Dok." Ujar Embun. Dia menanyakan semua yang mengganjal dibenaknya agar tidak merasa cemas dan khawatir.
"Perut ibu hamil yang lebih besar, biasanya terjadi karena beberapa faktor. Dan dipengaruhi oleh tinggi dan berat badan, banyaknya air ketuban, ukuran bayi dan kehamilan kembar."
Embun dan Belle hanya menganggukkan kepalanya mengerti.
"Agar lebih pasti, kita lakukan kembali USG, ya?" Ujar Dokter Livina.
Embun mengangguk, dia langsung berbaring di ranjang. Dokter Livina mulai mengoleskan Clear Ultrasound Gel atau yang biasa disebut gel dingin, hehe. Dokter mulai mengarahkan alat Dopler untuk mulai melakukan USG.
"Ternyata, Anda akan mendengar kabar gembira lagi, Nyonya Embun." Ujar sang Dokter pada Embun sambil tersenyum.
"Kabar gembira lagi?"
"Ya, selamat atas kehamilan kembar Anda Nona." Serunya lagi.
Belle dan Embun pun kompak terkejut. Mereka heran kenapa baru ini Embun ketahuan hamil kembar, bukankah dia juga pernah melakukan USG saat awal mengetahui sedang hamil?
"Dok, kenapa baru ketahuan sekarang?"
"Karena, USG di trimester pertama belum bisa mendapatkan hasil yang tepat. Saat trimester pertama ukuran janin masih terlalu kecil dan denyut jantungnya belum terlalu terdengar."
"Dan lagi, itu karena dua bayi berbagi satu ketuban, seperti Anda ini. Karena kehamilan Anda sudah sebelas Minggu, Jadi detak jantung kedua janin sudah lebih terdengar dan terdeteksi oleh gelombang USG." Imbuhnya lagi.
Embun langsung menangis haru karena merasa sangat-sagat senang. Dia mendapatkan dua malaikat sekaligus. Dia sangat bersyukur atas berkah yang diterimanya sekarang ini.
Jangan lupa untuk tinggalkan like, komentar, gift dan vote. Berikan rate 5 dan tambahkan ke daftar favorit kamu ya. Follow akun author juga 🤭
Terima kasih ❤️❤️❤️
__ADS_1